NovelToon NovelToon
RISALAH JODOH (New Version)

RISALAH JODOH (New Version)

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Contest / Patahhati / Spiritual / Dosen / Tamat
Popularitas:78.5k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

Blurb :

"Saya harus menikahi Hanin Minggu depan," ucap Ammar dengan berat hati.

Mereka sama-sama terdiam membisu selama beberapa waktu.

"Selain itu ... saya juga mohon izin untuk menghapus kontakmu dari ponsel ini," lanjutnya seakan ingin menghapus semua jejak tentang Nadeen.

Sepintas, kita bisa memilih jodoh yang kita impikan. Menjalin hubungan dengan seseorang yang kita katakan memiliki kecocokan. Namun, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi di luar keinginan.

Jangan bersedih, Nadeen. Allah akan mengatur semua menjadi seindah-indahnya kisah cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Jawaban Hanin

Sepertinya beberapa hari ke depan, Nadeen akan sedikit kesepian. Dikarenakan di akhir pekan besok, Hanin--sahabatnya, akan pulang ke Sleman. Bu Astuti pun tak kunjung pulang sebab, menantunya sedang sangat membutuhkan kehadirannya saat ini. Ditambah lagi, Nadeen tidak akan berani menghubungi Ammar untuk sekedar bertanya sesuatu di tengah-tengah acara keluarganya.

Tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu kamar Nadeen. Hanin datang untuk menemani Nadeen, sebelum besok dia berangkat ke Sleman. Begitu masuk, dia langsung menjatuhka dirinya di tempat tidur Nadeen. Mereka sama-sama berbaring menatap langit-langit.

“Gimana sekarang, Nin? Apa keputusanmu sudah mantap?”

“InsyaAllah, Nad. Doakan aku, ya.” Hanin menjawab dengan penuh keyakinan. “Aku bisa membayangkan wajah bahagia Ayah ketika aku memberi jawaban 'ya' di telepon.” Seulas senyum Hanin terukir di wajahnya yang berseri.

“Tentu saja, Nin. Karena tidak ada hal yang lebih membuat orang tua kita lega selain melihat anaknya hidup bahagia.” Nadeen menggenggam tangan Hanin sambil tersenyum. 

“Terlebih lagi setelah putri tercintanya menikah, maka berkuranglah beban dan tanggung jawab sebagai orang tua terhadap anaknya. Karena tentunya kewajiban akan berpindah pada suami sang anak.”

▬▬▬▬▬▬▬•◇✿✿◇•▬▬▬▬▬▬▬

Berkata Anas Rodiallohuanhu. Telah bersabda Rasulullah Salallahu Alaihissalam : “Seorang anak disembelihkan aqiqah, diberi nama dan dibersihkan dari (kotoran) yang membahayakan pada usia tujuh hari. Apabila telah sampai usia enam tahun didiklah. Jika telah sampai usia sembilan tahun pisahkan tempat tidurnya. Apabila telah sampai usia tiga belas tahun telah melaksanakan shalat dan apabila telah sampai umur enam belas tahun nikahkanlah, lalu pegang tangannya dan katakan : Sungguh telah aku didik engkau dan telah kuberi ilmu dan telah aku nikahkan engkau maka aku berlindung kepada Allah dari fitnahmu di dunia dan adzabmu di akhirat.” (Ihya)

▬▬▬▬▬▬▬•◇✿✿◇•▬▬▬▬▬▬▬

 

▬▬▬▬▬▬▬•◇✿✿◇•▬▬▬▬▬▬▬

“Sebagian dari kewajiban orangtua terhadap anaknya adalah mengajarkan menulis (mendidik), memberi nama yang baik dan menikahkannya apabila sudah baligh” (HR. Ibnu Hibban).

▬▬▬▬▬▬▬•◇✿✿◇•▬▬▬▬▬▬▬

Hanin membalas genggaman tangan Nadeen lalu memeluknya.

“Aku senang kamu akan segera menikah, tapi di sisi lain, aku berduka karena akan segera kehilangan sahabat baikku.” Nadeen mengerutkan wajahnya karena sedih. “Cintamu kini bukan untukku lagi, Nin.  Akan ada suami yang lebih berhak atas dirimu seutuhnya. Semua dengan izin Allah tentunya.”

“Heyy … memangnya suamiku nanti akan sekejam itu? Hingga tega memisahkan sang istri dari sahabatnya.” 

“Suamimu mungkin tidak akan melarang kita bergaul, tapi aku tetap harus tahu diri, tentunya.”

“Kita sahabat selamanya, Nad. Suamiku harus mengerti hal ini.” Hanin kembali memeluk sahabatnya karena tiba-tiba merasa sedih.

“Jam berapa besok kamu berangkat ke  Sleman, Nin?”

“Sekitar jam 7 pagi, kamu ikut denganku saja, Nad. Dari pada liburan di sini, kamu pasti bosan.”

“Aku di sini sajalah, Nin. Jadi penunggu kamar kost,” selorohnya.

“Yakin?”

Nadeen menganggukkan kepalanya

***

Hari masih sangat gelap, semua orang masih bergumul dengan selimut hangatnya. Sebuah panggilan dari arah pintu, memaksa Nadeen untuk segera bangun. Memisahkan diri dari sang bunga tidur.

“Assalamualaikum, Nad. Nadeen …! Cepat bangun!” seru Hanin sambil menggedor pintu kamar kost--Nadeen--ketika hari masih gelap.

Nadeen membuka pintu dengan mata masih lengket.

“Astagfirullah, Nin. Jam berapa ini?” Nadeen membuka pintu dengan tubuh terseok-seok.

“Aku tahu ini masih pagi. Sekarang kamu siap-siap ikut aku ke Sleman, Nad. Ayo bersiaplah. Aku tunggu.”

“Tapi ….” Nadeen menyela.

“Gak ada tapi!”

“Cepat ya!”

Akhirnya Hanin berhasil membujuk, lebih tepatnya memaksa Nadeen untuk ikut pulang ke Sleman. Karena ada sesuatu yang ingin Hanin beritahu di sana.

“Hey, cantik... Kenapa wajahmu masih ditekuk?” canda Hanin ketika dalam perjalanan. Sementara napas Nadeen masih tersengal-sengal.

“Kamu keterlaluan, Nin. Kamu kan tahu kalau aku gak bisa berangkat kemana pun dengan cara mendadak seperti ini. Paling tidak, aku harus  mempersiapkan keberangkatanku sehari sebelumnya.”

“Iya, maaf, sayang,” ucap Hanin sambil tersenyum sambil menyipitkan matanya. “Lagi pula, aku kan sudah mengajakmu dari kemarin, Nad. Aku gak mau kalau sahabatku yang cantik ini sakit gara-gara terlalu merindukanku saat aku pulang.”

“Ish, dasar kamu, Nin.”

***

Mereka tiba di rumah Hanin saat hari sudah mulai gelap. Disambut hangat oleh kedua orang tua Hanin yang memperlakukan Nadeen seperti anak mereka sendiri.

“Kalian makanlah dulu, setelah itu istirahat yang cukup. Kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan seharian.”

“Baik, Bu.”

“Nin, tamu dari Yogja akan datang besok sekitar jam 9 pagi. Jadi ibu akan sedikit sibuk di dapur. Buatlah Nadeen senyaman mungkin di rumah kita.”

“Jangan khawatir, Bu. Nadeen ini bukan anak sultan, kok. Jadi jangan perlakukan Nadeen dengan cara yang berlebihan,” canda Nadeen yang memang anaknya pandai bergaul.

“Nadeen lebih suka kalau Ibu suruh Nadeen bantu-bantu untuk persiapan acara besok.”

“Kalau begitu, bantu ibu untuk menenangkan hati anak ibu. Saat ini perasaannya pasti tidak karuan.” Ibunya Hanin menggoda anak gadisnya yang akan segera dilamar oleh seorang laki-laki.

“Bu, jangan menggodaku seperti itu.” Wajah Hanin  bersemu merah seketika.

Nadeen pun tak henti menatap matanya seraya tersenyum.

***

Setelah selesai mandi, Hanin kembali mengetuk pintu kamar tamu yang ditempati oleh Nadeen saat ini.

“Nad, malam ini aku mau tidur di sini ya?” ucapnya sambil merebahkan diri di tempat tidur itu.

“Ini kan rumah kamu, Nin. Kenapa harus bertanya?” Nadeen membalikkan tubuhnya menghadap Hanin yang terlihat sangat gelisah. “Nin, apa kamu benar-benar belum pernah melihat laki-laki yang akan melamarmu itu?” 

“Aku benar-benar belum pernah bertemu dengannya. Tapi … aku melihatnya dalam sebuah foto yang dikirim ayah.”

“Belum bertemu saja kamu sudah grogi begini. Aku benar-benar gak sabar liat wajah kamu saat bertatap muka dengannya besok.”

“Kamu jangan meledekku terus dong, Nad. Tugasmu kan menenangkanku di sini. Bantu aku supaya tidak gugup.”

“Oh ya, gimana wajahnya, dia tampan?” tanya Nadeen penasaran.

“Ya … sedikit mirip dengan adiknyalah. Lihat sendiri saja besok, aku yakin kamu akan terkejut.”

“Adiknya? Adiknya yang mana? Baik adiknya atau pun kakaknya, aku gak kenal keduanya. Dan kenapa juga harus aku yang terkejut? Yang di khitbah kan kamu?”

“Kita lihat besok saja, deh,” ucap Hanin sambil memejamkan matanya. “Besok aku boleh menatap wajahnya kan, Nad?”

“Menurut yang aku dengar, ‘Boleh’ ini kan sudah di tahap khitbah (Lamaran), calon suamimu juga pasti perlu untuk melihat calon istrinya sebelum kalian menikah.”

▬▬▬▬▬▬▬•◇✿✿◇•▬▬▬▬▬▬▬

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!”

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu pernah meminang seorang wanita, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

“Lihatlah wanita tersebut, sebab hal itu lebih patut untuk melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua.” 

Imam at-Tirmidzi rahimahullaah berkata, “Sebagian ahli ilmu berpendapat dengan hadits ini bahwa menurut mereka tidak mengapa melihat wanita yang dipinang selagi tidak melihat apa yang diharamkan darinya.” 

Tentang melihat wanita yang dipinang, telah terjadi ikhtilaf di kalangan para ulama, ikhtilafnya berkaitan tentang bagian mana saja yang boleh dilihat. Ada yang berpendapat boleh melihat selain muka dan kedua telapak tangan, yaitu melihat rambut, betis dan lainnya, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya.” 

Akan tetapi yang disepakati oleh para ulama adalah melihat muka dan kedua tangannya. Wallaahu a’lam.

▬▬▬▬▬▬▬•◇✿✿◇•▬▬▬▬▬▬▬

 

 

             

1
Azqiara
ku tunggu di saat yang tepat
Azqiara
Aku ninggalin jejak di sini ya kak. Salam kenal kak mbuna.
Mama Reni
Sangat menarik
Azqiara
Masyaaallah. keren banget ni ceritanya
Azqiara
Ceritanya bagus..
Mom Yara
bagus kak, swru ceritanya
Susana
Alhamdulillah, akhirnya bisa hadir di sini. Setelah berjuang hampir dua jam. 🤧🤧
Semangat, Kak. 😍😍
Nurma Azalia Miftahpoenya
Luar Biasa
Asma Chusna
cakep banget tor ada dakwahnya
Mari ani
aku mampir Kak.
Um_bell29
Hafidz jadi anak pertama ngga gentle😒. Berani meminang tapi enggak berani menolak. Kalo kek gini dua keluarga dipermalukan. Salah satu batalin pasti udah tercoreng nama baiknya. Hafidz... Hafidz, sini lu pulang! Adu jotos sama bapaknya Hanin!
DHurley123
berasa ketampar ini sama alur cerita nya, hijrah nua nadeen ini gila sih .. lanjutkan thor
DHurley123
wow aku baru pertama kali baca novel yang disertai ayat suci Al-Qur'an dalam penjelasan nya.. mantap thor 👍
EuRo
ceritanya bagus menginspirasi.
bung@ter@t@i
aku mampir kak
Aisyah farhana
nunggu lanjutannya kak
Nahla Zakira
subhanallah sunggu bgs cerita thorbyk ilmu yg aq petik.bukan hy skdr cerita cinta y aj yg buat aq terharu.tp setiap isi dr cerita ne byk mengandung ilmu.lanjuuut thor.semoga mangkin byk ilmh yg aq dpt
ᴹᴮ𝓕𝓐𝓜✿𝔐𝔟𝔲𝔫𝔞: Terima Kasih Kak🙏
total 1 replies
nafisa aqila
ehhh ini blom tamat ya... ceritanya masih gantung.... dilanjutin dong thoorrr....
sabar menunggu ala2 nadeen 😙😙😙
Susi Susilawati
mana lanjut nya mbu
aku menanti cepat lah cepat lah
Mami
ayo mbuna lanjut aq padamu😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!