Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang sebuah pengorbanan seorang gadis cantik untuk keluarganya. Ia dipaksa menikahi kekasih kakaknya sendiri untuk menyelamatkan nama baik keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Diana sudah sepenuhnya pulih, hari ini dokter sudah memperbolehkanya untuk pulang. Diana berada di ruang rawatnya sendirian, tidak ada satu orangpun datang menemani atau mengunjunginya selama 3 hari ini. Nameera dan ibunya tentu saja mereka tidak akan perduli, walaupun keadaan Diana saat ini adalah ulah dari Nameera. Alex sibuk dengan pekerjaanya, yah Diana tidak pernah sedikit pun berharap Ia akan menemaninya di rumah sakit. Sedangkan ayahnya, ayahnya tidak tahu mengenai hal ini. Tidak satupun dari mereka Alex, Nameera atau ibunya yang memberi tahu ayah Diana.
Hari sudah semakin siang, matahari juga sudah sampai di puncaknya. Kemarin malam, seorang perawat datang menemui Diana. Perawat tersebut mengabarkan padanya, bahwa hari ini Ia sudah boleh untuk pulang. Tapi, siapa yang akan menjemputnya? Tidak ada yang peduli dengannya. Apakah Diana harus membereskan masalah rumah sakit sendiri dan pulang sendirian. Pulang? Diana bahkan tidak mempunyai tempat untuk pulang.
Diana duduk melamun di atas ranjangnya, sampai seorang perawat datang menemuinya dengan membawa beberapa peralatan medis di tanganya. Seperti biasa, perawat itu datang untuk mengganti perban Diana.
"Bagaimana dengan keluargamu? Apakah mereka sudah sampai untuk menjemputmu? " Pertanyaan dari seorang perawat untuk yang sekian kalinya, kini tanganya sibuk membalut luka Diana dengan perban.
Jawaban Diana masih sama seperti sebelumnya , "Belum, Sus. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang. "
"Baiklah, jika anggota keluargamu sudah datang tolong, beritahu mereka untuk cepat mengurus adminitrasi kepulanganmu." Setelah selesai mengganti perban di luka Diana, perawat itupun pergi berlalu.
Diana hanya mengangguk menggiyakan, Ia terduduk lemas di atas ranjangnya,menatap ke arah jendela. Ruangan rawatnya berada di lantai tiga rumah sakit, hingga pemandangan kota terlihat jelas dari atas sini. Sebenarnya Diana bingung Ia tidak tahu apakah akan ada yang menjemputnya pulang atau tidak . Jika suster datang untuk menanyakan hal yang sama lagi bagaimana Ia harus menjawabnya.
"Nona Diana. "
Seseorang mengejutkan Diana dari lamunanya, Diana langsung menoleh ke tempat suara itu berasal Ia melihat itu adalah seorang lelaki berpakaian jas rapih, terlihat muda dan tampan.
"Perkenalkan saya Zeno, asisten tuan muda Alex. Saya datang kesini untuk mengurus kepulangan Nona dari rumah sakit. Tunggulah sebentar, saya akan cepat kembali. " Ucapanya sangat cepat, sehingga sulit dicerna. Diana mengerutkan dahinya lalu mengangguk mengiyakan. Kemudian Zeno bergegas untuk mengurus kepulangan Diana dari rumah sakit.
Diana turun dari ranjangnya membereskan barangnya satu persatu, tiba-tiba seorang perawat datang menemuinya lagi.
“Nona, kau sudah di jemput? Mari lepaskan dulu jarum infusmu. ” Ucap perawat itu dengan sopan.
Perawat tersebut, dengan telaten dan hati-hati, perlahan Ia melepaskan jarum infus yang melekat pada area punggung tangan Diana sesuai prosedur . Diana hanya diam dan memperhatikanya, sesaat setelah jarum infus tersebut di cabut, darah segar mengalir membasahi area punggung tanganya. Dengan sigap perawat itu pun langsung membalut itu dengan plester guna menghentikan pendarahaanya, perawat itupun tersenyum kemudian pergi berlalu.
Tidak lama setelah itu, Zeno datang. Diana tampak belum siap, Ia bahkan masih mengenakan baju rumah sakitnya. Zeno membawa sebuah kantung belanja dan di berikannya kepada Diana.
“Nona, pakailah. ” Ia menyerahkan kantung itu kepada Diana, Diana melihatnya. Isinya adalah pakaian baru untuk mengganti setelan baju rumah sakitnya.
Diana terdiam, kemudiam menatap Zeno. “Terima kasih. ”
“Tuan Alex, yang sengaja membelikannya untukmu. Nona, bersiaplah. Saya yang akan membereskan barang-barang anda. ” Diana mengangguk perlahan, kemudian melangkah memasuki kamar mandi.
Beberapa menit, Diana telah siap. Ia telah selesai mengganti pakaiannya, pakaiannya terlihat sangat cantik ketika Ia kenakan.
Zeno membantu membawakan barang bawaan Diana, mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Sesampainya di area parkir, Zeno menyimpan barang-barang Diana di bagasi mobil dan Ia langsung membukakan pintu mobil untuk Diana.
Di sepanjang perjalanan pulang, Diana hanya melamun menatap ke arah luar jendela, Ia melihat jalananan yang begitu padat, kepalanya masih terasa sedikit pusing. Matanya mengedar ke seluruh area, sehingga Ia menemukan tempat yang dahalu memang sering Ia kunjungi. Yaitu, sebuah taman.
“Bisakah, kita menepi sebentar? ” pinta Diana sopan kepada Zeno. Zeno mengiyakan dan tak lama mobilnya menepi lalu kemudian berhenti, “Terima kasih, ”
Diana hanya menatap taman itu dari balik kaca jendela mobilnya, Ia tidak turun karena matahari sedang berada di titik puncaknya. Taman itu tampak sangat indah, beberapa pohon yang tertanam di sana, dan ada danau di tengah-tengahnya. Diana hanya menatap dan mengingat kenangan yang pernah Ia buat di taman tersebut.
Menunggu terlalu lama, Zeno heran dengan gadis yang sedang duduk di belakang kursinya malah melamun melihat ke arah luar jendela mobil. Karena Zeno bukan seseorang yang mempunyai waktu luang, Ia juga tangan kanan Alex sehingga tidak bisa berlama-lama berada di luar dari batas jam kerjanya. Walaupun mengantarkan Diana pulang adalah bagian dari pekerjaanya, namun pekerjaan yang lebih penting lainya tengah menunggunya di kantor.
“Nona, bisa kita jalan sekarang? ” ucapnya membuyarkan lamunan Diana.
Diana terperanjak, “Ya, baiklah. ”
Mobil melaju sesuai rutenya, mata Diana tiba-tiba terasa berat, membuatnya tak kuasa menolak godaan untuk memejamkan mata dan larut dalam tidur lelap. Tidak menyangka Ia malah tertidur sepanjang perjalanan pulang.
_ _ _
Diana membuka matanya perlahan, Ia terkejut melihat Ia sudah berada si dalam kamar Alex. Matanya melihat arah jendela, tampak sudah gelap, kini bulan telah terjaga menggantikan matahari. Diana terperanjak, ternyata Ia sudah tertidur selama itu.
"Unghh ... " Lenguhnya sambil merentangkan kedua tanganya.
DUGH!!! Diana sontak terkejut, lengan kananya seperti memukul sesuatu yang keras. Jantungnya langsung berdegup dengan cepat, nafasnya tersenggal senggal dan tubuhnya bergetar keringat dingin membasahi dahinya. Ia mencoba memberanikan diri untuk menolehkan wajahnya ke sebelah kanan.
"Aaaaaaaaaah... "
Teriaknya lantang, Diana langsung terperanjak turun dari tempat tidurnya. Ia terkejut ketika Ia menolehkan wajahnya, Alex dengan mata melototnya dan mengerutkan dahi ke arah Diana sontak Diana yang terkejut langsung turun dari ranjangnya. Nafasnya tersenggal senggal Ia sangat terkejut melihat Alex yang tertidur di sampingnya bukan tertidur Alex sudah terjaga mungkin saat Diana memukulnya dengan keras.
"Sangat berisik! "
BUGH!!! Sebuah bantal di lempar ke arah Diana, Diana yang terlihat masih sangat syok hanya terdiam dan mencoba mengatur nafasnya. Diana yang masih menatap Alex dengan tatapan terkejut itu membuat Alex tidak nyaman.
"Hei tidurlah! " teriaknya, Diana menurut kemudian Ia berjalan mendekat ke arah ranjang dan duduk di samping Alex.
"Tidur di tempatmu! " teriaknya lagi sembari menunjuk ke arah sofa.
Diana berjalan ke arah sofa dan membaringkan tubuhnya di sana. Karena merasa lelah, Ia langsung memejamkan matanya dan langsung tertidur dengan sangat pulas. Alex yang masih terjaga berjalan mendekati sofa, Ia terus menatap wajah Diana
"Gadis bodoh."
Bersambung....