Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Ngapa Aku Harus Ikutan Juga Sih?!
Moiro menghela napas. Baru menerima pesanan dari pelanggan sudah semelelahkan itu. Ia sampai berharap kalau tugasnya hanya itu dan tak ada yang lain, tapi hal itu tak berpihak padanya.
"Oi, Moiro," panggil seseorang yang datang padanya dengan nada bangga, "Sebenarnya ini bukan keinginanku, tapi aku tau kamu akan membutuhkannya, jadi dengan senang hati aku akan mengajarimu hal baru."
Moiro menoleh padanya, dan menemukan senior Hikari Suzuki—senior malu-malu kucing yang panikan—berada tepat di belakangnya. Kuncir ekor kudanya yang panjang bergoyang saat dia memperbaikinya dengan satu kibasan di rambutnya.
Miro sempat bingung mengapa dia tiba-tiba bilang begitu.
Jari telunjuk seketika menghadap tepat ke wajah Moiro, membuatnya sedikit terkejut dan sontak menatap jari itu.
Hikari menunjuk Moiro, lalu berkata cepat dengan ekspresi bangga, "A-Aku tau kalo kamu akan memaksa buat diajari cara mengantar dan mengembalikan apa yang dipesan pelanggan, jadi tak ada pilihan selain aku akan mengajarimu."
"Baru kali ini aku nemu seseorang ingin mengajariku dari sudut pandang lawan bicaranya," pikirnya sambil menatap datar, "Dia gak bisa langsung jujur kalo pengen ngajarin, apa?"
Melihat Moiro yang hanya diam sambil berekspresi datar membuat Hikari banyak berpikir, yang tak sengaja dia gumamkan pelan seperti berbisik, "Ehh...? Dia gak membalas? Apa aku mengganggunya? Apa aku terlalu banyak bicara dan dia gak suka? Apa aku salah bicara?"
"Isi pikiranmu kedengeran tuh," balas Moiro datar.
"Eh...?! Ah! Itu..." sahut Hikari sambil menoleh ke sembarang tempat. Wajahnya memerah, jarinya bergerak tak karuan, terlihat cemas. Dia berusaha mencari alasan.
Dia melipat tangan dan memalingkan wajahnya dengan enggan, pipinya membulat, "H-Hmph! Ka-Kalo kamu masih bingung, aku akan mengajarimu!"
"Langsung bilang aja kalo pengen ngajarin, susah amat," balas Moiro datar, lagi.
Hikari berkacak pinggang dan tersenyum bangga, "Apa boleh buat. Aku akan mengajarimu!"
"Dia gak dengerin."
.........
"Oke! Jadi begini, Moiro. Sebagai seorang senior yang bertanggung jawab mengajarimu cara mengantar dan mengembalikan pesanan pelanggan, aku akan memberitahumu beberapa hal," jelasnya cepat, ingin terlihat sebagai senior yang dapat dibanggakan.
Moiro mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan oleh seniornya yang satu itu.
Telunjuknya diacungkan dengan cepat, menghadap ke wajah Moiro—sangat dekat yang membuat Moiro sedikit memundurkan wajahnya.
"Pertama," lanjut Hikari sedikit nyaring, "Tentu saja, kita harus ramah kepada pelanggan."
Jari tengahnya juga diangkat, "Ke dua, kita akan mengambil pesanan dari kasir dan mengantarkannya pada pelanggan dengan ramah."
Jari manis ikut diluruskan, "Dan terakhir, kita akan mengembalikan pesanan pelanggan yang sudah selesai dengan ramah. Itu saja."
Moiro menatap datar, "Penjelasan yang gak membantu sama sekali."
Hikari berkacak pinggang, sambil menunduk pelan, "Sebenarnya ini pekerjaan yang mudah, tapi bukan berarti tak ada tantangannya."
"Tantangan?" tanya Moiro, mulai bingung.
Wajah Hikari terangkat, matanya berbinar, "Benar! Misalnya ketika pelanggan meminta sesuatu untuk dilakukan, seperti meminta untuk membaca mantra yang lucu—"
Terdiam.
"Eh? Tidak, tidak! Itu tidak lucu! Jadi aku tidak menyukainya! Sudah pasti! Jangan salah paham, ya!" teriaknya tiba-tiba dengan cepat sambil menunjuk. Wajahnya terlihat memerah dan nampak panik.
"Wajahmu bilang kau menyukainya, tuh," balas Moiro pelan.
"Eh?!" sentak Hikari semakin panik dan malu, lalu memejamkan matanya rapat, "S-Sudah kubilang, jangan salah paham!"
Hikari langsung berpaling dan menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya sambil bergumam sendiri.
Moiro yang menatap dari belakang hanya bisa heran dengan kelakuan seniornya ini, "Jadi ini yang namanya mau tapi malu? Sebenarnya suka, tapi disangkal? Ini merepotkan sih. Ditambah lagi dia kayaknya panikan."
Iya sih. Tapi aku suka!
.........
"Me-Mending langsung kasih contoh. Ya kan, Moiro?" ucap Hikari sambil berjalan menuju kasir untuk mengambil pesanan. Moiro mengikuti di belakangnya.
"Terserah ajalah," balas Moiro dalam batinnya, "Tapi emang bener sih, kalo dikasih contoh bakal lebih mudah paham. Tapi liat dulu aja dah."
Di meja kasir, sebuah pesanan sudah disediakan di atas nampan—lengkap dengan catatan kecil semacam struk dan nomor dari mejanya—siap diantar menuju meja nomor lima. Hikari mengambilnya, lalu mengajak Moiro mengikutinya.
"Lihatlah bagaimana seniormu bekerja!" ujarnya sedikit dibangga-banggakan.
Moiro hanya diam, tak membalas, tapi tetap memerhatikan.
Mereka sampai di meja nomor lima.
Kalo meja nomor delapan, Moiro langsung keringat dingin tuh pasti.
Hikari mengatakan pada dua orang pelanggan di sana kalau pesanan mereka sudah tiba dengan enggan—seperti perannya.
Dia juga berkata sambil meminta maaf dengan sopan kalau dirinya sedang mengajari anak baru—Moiro—tentang pekerjaan ini, dan para pelanggan malah kagum. Mereka bahkan terpesona saat menatap Moiro, dan itu malah membuat Moiro menjadi malu sedikit panik yang membuat mereka semakin menyukainya.
Hikari meletakkan nampannya di atas meja, lalu menyuguhkan pesanan pelanggan dengan hati-hati—dua nasi omurice dengan saus tomat berbentuk hati di atas telurnya, satu mocca latte, dan satu milk tea.
Hikari kembali mengangkat nampannya, memeluknya rendah dan tersenyum kaku dengan pipi yang memerah pada mereka, dan itu malah membuat perannya terasa sangat natural.
Salah satu pelanggan tiba-tiba memintanya untuk membacakan mantra—moe~ moe~ kyun!—pada omurice pesanannya. Dan pelanggan satunya juga ingin hal yang sama.
"M-Moe...?!" jerit Hikari pelan tiba-tiba. Dia tak sengaja mengulang kata yang diucapkan oleh pelanggannya. Wajahnya langsung memanas—memerah—karena malu.
Hikari menunduk, melirik ke samping sambil memainkan semua jari di kedua tangannya dengan gerakan kaku, menandakan dirinya yang jadi sedikit cemas dan malu, "A-Anu... Itu..."
Diam sejenak.
Dia langsung melipat tangannya sambil terus memegang nampan, dan membuang mukanya yang memerah, "H-Hmph! Bukan berarti aku mau melakukannya, ya!"
"Pembohong publik," sahut Moiro dalam hatinya.
Emang gitu kali sifatnya?
"I-Ingat, ya! Ini cuma karena kalian yang memaksaku...!" lanjut Hikari mengomel malu.
"Baik!" balas kedua pelanggan dengan semangat. Mereka langsung menjadi antusias, bahkan sampai melakukan tos.
"Apa peran senior memang begini?" pikir Moiro kemudian. Dan sebenarnya, ia juga ingin melihat seniornya melakukan itu.
Hikari meletakkan nampannya. Tangannya membentuk simbol hati dengan jari telunjuk dan jari tengah dari kedua tangannya yang disatukan. Kaku. Wajahnya sangat merah seperti tomat matang.
Dia melakukannya sambil melirik ke samping, tak berani menatap mata pelanggannya karena malu.
Hikari menggerakkan tangannya perlahan, ke kiri, lalu ke kanan sambil berucap pelan, "M-Moe... Moe..."
Suaranya terdengar bergetar halus.
Matanya terpejam rapat, bibirnya mengerucut. Tangannya dimajukan dengan cepat sambil berseru, "Kyun! Hmphh!"
Kedua pelanggan itu seketika berseru kegirangan karena salting, sedikit ditahan karena sedang ada di kafe.
GYAAAAAHHH! AKU JUGA SALTING, WEEH!
Di samping, Moiro tak kalah terkesimanya.
Pipinya memerah, matanya membulat seketika.
Ia segera memalingkan wajahnya sambil menutup mulut.
"Ternyata... dia cukup imut," ujarnya dalam hati.
Ya kan? Eh—! JANGAN AMBIL DIA DARIKU!
Moiro kembali menatap ke depan dengan ekspresi biasa, seolah yang tadi hanya angin lewat.
Ia terdiam. Mata para pelanggan yang kegirangan sebelumnya kini malah mengarah padanya.
"K-Kenapa ini...? Kenapa mereka menatapku?!" batin Moiro kebingungan, mulai cemas.
"Permisi," ucap salah satu pelanggan, "Apa kami juga boleh memintamu melakukannya?"
Hening sejenak.
"EH?!" teriak Moiro dalam hati, wajahnya membiru, "Aku... melakukannya...? MELAKUKAN ITU?!"
"Semangat, Moiro! Aku tau kamu bisa!" seru Hikari memberikan semangat di sebelahnya.
"Kenapa malah menyemangatiku...?!" sahut Moiro dalam hati setelah menoleh cepat padanya.
Hikari melanjutkan, sambil memegang sesuatu di tangannya, "Aku juga sudah siap. Tak perlu khawatir."
"Kenapa malah megang tisu?" tanya Moiro datar, pelan.
"U-Untuk jaga-jaga! Dan ini bukan berarti aku menunggumu melakukannya, ya!"
Moiro hanya diam mendatar mendapati jawaban itu.
Ia menoleh ke arah para pelanggan. Mereka masih menatapnya penuh harap.
Moiro ingin menolaknya, tapi jika itu membuat pelanggan kecewa, maka ia bisa kena masalah. Lagipula, pelanggan tidak meminta hal yang aneh di kafe maid ini.
Moiro menunduk halus, tubuhnya bergetar ringan, isi kepalanya penuh dengan pikiran, "Yang bener aja...? Aku melakukan itu...? Ini memalukan!"
Huahaha! Rasain tuh malu sampe ubun-ubun!
Moiro mengangkat wajahnya. Matanya melirik ke samping, memperlihatkan jelas pipi hingga telinganya yang memerah.
"B-Baiklah kalo gitu..." jawab Moiro, suaranya terdengar pelan dan bergetar halus.
Para pelanggan langsung tercengang melihat keimutannya. Mereka semakin tak sabar melihat Moiro juga membacakan mantra!
Pundak Moiro yang bergetar halus dipegang oleh seniornya.
Hikari langsung berkata—terdengar tak sabar—dengan mata yang berbinar, "Ingat ini, Moiro. Jadilah dirimu sendiri!"
Yang dikatakan seniornya benar. Ia tak perlu menahan rasa malunya. Biarkan mereka meluap-luap semaunya. Yang tidak bisa dilakukannya hanyalah menolak permintaan pelanggan.
Moiro dengan kaku membentuk simbol hati dengan kedua tangannya—dua ibu jarinya lurus ke bawah dan saling menyentuh, jari yang lain melengkung di atas.
Moiro menunduk, wajahnya memerah hingga telinga. Ia juga tak berani menatap langsung para pelanggan.
Ia mengerakkan tangannya pelan, ke kiri, ke kanan sambil berucap pelan, "Moe~ moe~ ..."
Bibirnya mengerucut. Matanya menyipit, terangkat menatap pelanggan.
Tangannya dimajukan perlahan, lalu berucap sedikit gugup, "K-Kyun..."
DUAR!
Satu pelanggan jatuh dari kursinya ke belakang dan langsung kejang-kejang. Satunya lagi tertunduk sambil menggebrak meja, tubuhnya bergetar menahan kejang seperti temannya.
Melihat mereka yang seperti itu, Moiro yang terkejut dengan wajah memerah langsung menoleh pada seniornya karena panik.
Tak disangka, seniornya juga terbaring sambil menyumpal hidungnya dengan tisu yang mulai memerah. Ujung bibirnya terlihat sedikit terangkat menandakan senyum kebahagiaan terpancar dari sana.
Ketiganya seketika tumbang melihat keimutan Moiro.
Bahkan yang lebih mengejutkannya lagi, beberapa orang yang ada di meja lain malah ikutan salting sebab tak sengaja melihat Moiro melakukannya, meski tak separah tiga orang sebelumnya.
Moiro seketika bingung. Perasaannya campur aduk antara malu level dewa dengan panik yang absolut.
Ia tanpa sadar menunduk dan langsung menutup wajahnya yang sudah semerah jambu, lalu menyesal dalam batinnya, "KENAPA AKU MALAH NGELAKUIN ITUUU?! PENGEN HILANG AJA!"
Aku juga sampe gak nyangka kau seimut itu, padahal kau cowok. Aduh, hampir pingsan...