NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:723
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 Hari Ketika Aku Beranjak Dewasa

"Ada masa ketika seorang anak ingin tetap tinggal di dunia kecilnya. Namun, kehidupan perlahan membawanya melangkah menuju babak baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya."

Setelah beberapa tahun tinggal bersama Mama dan Bapak, kehidupanku berjalan dengan begitu tenang. Hari-hariku dipenuhi sekolah, belajar, membantu pekerjaan rumah, dan berkumpul bersama keluarga. Aku menikmati semua itu tanpa pernah berpikir bahwa suatu pagi, hidupku akan memasuki fase baru yang belum pernah kupahami sebelumnya.

Pagi itu aku terbangun seperti biasa. Matahari belum terlalu tinggi ketika aku bangkit dari tempat tidur. Namun, entah mengapa tubuhku terasa sedikit berbeda. Aku tidak merasakan sakit, tetapi ada perasaan yang sulit kujelaskan. Awalnya aku menganggap semuanya biasa saja, sehingga aku tetap menjalankan rutinitas pagiku seperti hari-hari sebelumnya.

Ketika masuk ke kamar mandi, aku tiba-tiba melihat bercak merah pada pakaian dalam yang kukenakan.

Aku membeku.

Jantungku berdegup lebih cepat, sementara pikiranku dipenuhi rasa takut dan kebingungan.

"Ya Allah... kenapa ini? Apa Hitas sedang sakit?" batinku.

Aku belum pernah mengalami hal seperti itu. Tidak ada seorang pun yang pernah menjelaskan bahwa setiap perempuan akan mengalami perubahan ketika mulai beranjak dewasa. Karena itulah, saat melihat bercak merah itu, yang kurasakan hanyalah ketakutan.

Dengan langkah pelan aku keluar dari kamar mandi.

Hari itu aku tidak lagi seceria biasanya. Aku hanya duduk termenung sambil memikirkan apa yang baru saja kulihat. Wajahku yang murung rupanya disadari oleh Kak Ucaluna yang baru selesai mandi.

"Hitas, kamu kenapa? Dari tadi Kakak lihat kamu diam saja," tanyanya lembut.

Aku menoleh kepadanya. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan, tetapi rasa malu membuatku sulit membuka suara.

"Ada yang mau Hitas bilang, Kak... tapi Hitas bingung harus mulai dari mana."

Kak Ucaluna menghampiriku dan duduk di sampingku.

"Memangnya ada apa?"

Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri bercerita.

"Tadi waktu Hitas ke kamar mandi... Hitas lihat ada bercak merah di pakaian dalam Hitas."

Kak Ucaluna sempat terdiam beberapa saat. Ia kemudian bertanya dengan tenang,

"Semalam kamu makan apa?"

"Hitas tidak makan apa-apa yang aneh, Kak."

Sebenarnya Kak Ucaluna sudah memahami apa yang sedang terjadi padaku. Ia hanya ingin memastikan bahwa tidak ada penyebab lain. Setelah melihat wajahku yang masih dipenuhi kebingungan, ia segera berjalan menemui Mama dan Bapak.

"Ma, Pak... sepertinya Hitas sudah datang bulan."

Mendengar ucapan itu, Mama langsung menghampiriku. Beliau sempat terlihat terkejut, tetapi beberapa saat kemudian senyum hangat menghiasi wajahnya.

"Tidak apa-apa, Nak," ucap Mama sambil mengusap kepalaku. "Itu hal yang wajar dialami setiap perempuan. Tandanya Hitas sudah mulai beranjak dewasa."

Aku hanya menundukkan kepala.

Entah mengapa, aku belum siap mendengar kata dewasa. Bagiku saat itu, menjadi dewasa terasa aneh sekaligus memalukan. Aku masih ingin menjadi anak kecil yang bisa bermain tanpa memikirkan perubahan pada tubuhku.

Melihat wajahku yang masih dipenuhi kebingungan, Mama mulai menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Beliau juga menceritakan bahwa di keluargaku masih ada sebuah kepercayaan yang diwariskan oleh orang-orang tua. Menurut kepercayaan tersebut, anak perempuan yang baru pertama kali mengalami menstruasi tidak dianjurkan mandi dan tidak mencuci pakaian yang dikenakannya selama tujuh hari.

Aku langsung memandang Mama dengan wajah khawatir.

"Kalau Hitas tidak mandi, nanti Hitas bau."

Mama dan Kak Ucaluna saling berpandangan, lalu tertawa kecil mendengar kepolosanku.

"Tidak apa-apa," jawab Mama sambil tersenyum. "Dulu Kak Ucaluna juga melewati hal yang sama."

Meskipun masih belum benar-benar memahami semuanya, aku memilih mengikuti apa yang diajarkan oleh Mama. Hari-hari berikutnya terasa begitu panjang. Aku terus menghitung waktu sambil menunggu hari ketujuh tiba karena aku ingin semuanya segera kembali seperti semula.

Akhirnya, hari yang kutunggu pun datang.

Sejak pagi suasana rumah sudah begitu ramai. Aroma berbagai masakan memenuhi setiap sudut rumah.

Mama sibuk di dapur bersama ibu kandungku dan beberapa kakakku yang datang untuk membantu menyiapkan hidangan. Saat itulah aku mengetahui bahwa di kampungku terdapat sebuah tradisi sederhana yang biasa dilakukan ketika seorang anak perempuan pertama kali mengalami menstruasi. Acara itu tidak dihadiri banyak orang. Hanya keluarga dan kerabat terdekat yang berkumpul untuk memberikan doa serta nasihat.

Ketika melihatku duduk di ruang tengah, ibu kandungku tersenyum bangga.

"Anakku sudah besar, ya."

Kakak-kakakku pun ikut tersenyum.

"Iya, Dek. Tidak terasa sekarang kamu sudah beranjak dewasa."

Aku hanya membalas senyum mereka sambil menundukkan kepala. Kata dewasa masih terasa asing di telingaku. Dalam hati, aku masih ingin tetap menjadi anak kecil yang bebas bermain tanpa memikirkan hal-hal seperti ini.

Tidak lama kemudian, datang seorang ibu yang sudah lama dipercaya oleh masyarakat di kampungku untuk memimpin prosesi tersebut. Sesuai tradisi yang masih dijaga oleh keluargaku, beliau memandikanku menggunakan air kelapa sebagai bagian dari adat yang diwariskan secara turun-temurun. Setelah prosesi itu selesai, beliau mengoleskan bedak basah ke wajah dan kedua tanganku, lalu mengajakku keluar menuju ruang depan rumah.

Di ruang itu beberapa orang tua dan anggota keluarga telah berkumpul. Mereka duduk sambil menikmati teh hangat dan hidangan yang telah disiapkan. Aku diminta duduk di hadapan mereka, kemudian satu per satu mulai memberikan nasihat. Mereka mengatakan bahwa mulai hari itu aku harus belajar menjaga sikap, menghormati orang yang lebih tua, berhati-hati dalam bergaul, dan tidak lagi terlalu banyak bermain seperti anak kecil karena aku telah memasuki tahap kehidupan yang baru.

Aku mendengarkan setiap nasihat itu dengan saksama. Meskipun belum sepenuhnya memahami maknanya, aku dapat merasakan bahwa semua yang mereka sampaikan lahir dari rasa sayang dan harapan agar aku tumbuh menjadi perempuan yang baik.

Setelah prosesi selesai, anggota keluarga yang hadir secara bergantian memberikan beberapa lembar uang kepadaku. Tradisi itu telah lama dilakukan di keluargaku sebagai bentuk doa dan ungkapan syukur atas bertambahnya satu fase dalam kehidupan seorang anak perempuan. Aku menerimanya dengan kedua tangan sambil mengucapkan terima kasih kepada mereka satu per satu.

Hari itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain. Namun bagiku, hari itu menjadi tanda bahwa masa kecilku perlahan mulai kutinggalkan. Meskipun hatiku masih ingin tetap menjadi anak-anak, aku mulai menyadari bahwa kehidupan akan terus membawaku bertumbuh, siap ataupun tidak.

Saat malam tiba dan semua tamu telah kembali ke rumah masing-masing, aku duduk sendirian di beranda sambil memandangi langit yang mulai dipenuhi bintang. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah setelah hari ini hidupku akan benar-benar berubah. Aku belum mengetahui jawabannya, tetapi tanpa kusadari, perubahan itu ternyata baru saja dimulai.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!