Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Perak di Sisi Kuali
Malam jatuh terlalu tergesa di ujung kota tua, seolah-olah kegelapan adalah sebuah selimut basah yang dilemparkan dari langit untuk memadamkan sisa-sisa api senja yang membara kemerahan di ufuk barat. Di bawah tenda terpal biru yang telah memudar digerogoti waktu dan jelaga, uap putih mengepul tebal dari sebuah kuali besi hitam yang permukaannya berkilat oleh sisa lemak. Aroma kapulaga yang getir, jintan yang sangit, dan gurih samin yang berlemak berbaur menjadi satu—menciptakan sebuah kepungan udara yang pekat, seolah takdir sengaja menyaring keagungan semesta menjadi sebungkus aroma nasi goreng kambing di pinggir jalan.
Dika duduk di atas bangku plastik hijau yang salah satu kakinya sudah agak meleyot. Di bawah siraman cahaya lampu pijar lima watt yang bergoyang ditiup angin malam, wajahnya yang tirus tampak separuh tenggelam dalam bayang-bayang. Kulitnya pucat, sewarna pualam retak yang terlalu lama terendam dalam lumpur kefanaan. Di balik kelopak matanya yang terpejam, sepasang Mata Takdir tidak lagi berdenyut kencang. Ia hanya menyisakan pendar keemasan lumat yang bergerak lambat, laksana kunang-kunang seakar yang sekarat di ujung malam.
Setiap helaan napasnya terasa berat. Tulang belakangnya—pusat jalinan energi yang di alam atas mampu menyangga beban sembilan lapis langit—kini tak lebih dari seonggok tulang ringkih yang merana akibat otot lumbar yang menegang hebat.
“Satu ketukan takdir, dibayar dengan robeknya urat pinggang bumi,” ratap sebuah suara di relung batok kepalanya, bergema sunyi dengan keagungan yang menyedihkan. “Sungguh jenaka. Penguasa anyaman benang jagat harus menukar wibawa purba demi menghindari robeknya selembar kain biru murahan di pasar loak. Jiwa-jiwa suci di stana awan akan menangis darah jika melihat penguasa mereka kini tak ubahnya karung beras yang bocor di sudut warung.”
Namun, keheningan eksistensial itu seketika pecah saat sebuah piring seng putih dengan pinggiran kembang merah pudar diletakkan di atas meja kayu yang dilapisi spanduk bekas.
Plak.
Nasi kuning kecokelatan berasap tebal menggunduk tinggi laksana bukit pasir di negeri gersang. Di atasnya, dua butir telur dadar yang tepiannya kering kecokelatan—renyah dan berminyak—terkulai megah, menyembunyikan potongan-potongan daging kambing yang dipotong tebal-tebal. Wangi kencur dan bawang merah goreng langsung menyengat, menusuk indra penciuman Dika hingga membuat sepasang matanya terbuka lebar secara paksa.
“Makan,” ucap Lina. Pendek.
Gadis itu duduk di seberangnya, melipat lengan di atas meja. Rambutnya yang sedikit acak-acakan oleh sisa angin gudang tadi bergoyang kecil. Di bawah cahaya lampu yang temaram, sepasang matanya yang jernih menatap Dika dengan kilat yang sulit diartikan—ada sisa kekaguman yang belum usai dari peristiwa jentikan jari gaib sore tadi, namun diselimuti oleh rasa gemas yang luar biasa melihat bagaimana sang 'dewa' kini menatap sepiring nasi goreng laksana seorang musafir yang menemukan oase di tengah gurun sahara.
Dika tidak menjawab dengan kata-kata fana. Jemarinya yang kurus, yang beberapa jam lalu memutus aliran tenaga dalam seorang pendekar gunung dengan keanggunan mutlak, kini gemetar kecil saat meraih sendok stainless steel yang sedikit bengkok.
Suapan pertama.
Butiran nasi yang pera dan berlapis minyak samin itu menyentuh lidahnya. Ledakan rasa gurih yang kasar, tajam, dan tanpa kompromi langsung menjajah seluruh rongga mulutnya. Saraf-saraf lambungnya yang sejak siang melilit kosong kini bergetar penuh sukacita, seolah menerima kucuran nektar surgawi tingkat tinggi. Di mata batinnya yang monokrom, jalinan benang takdir di dalam tubuhnya yang semula layu dan berwarna kelabu kusam, mendadak memercikkan warna jingga hangat yang perlahan mengalir mengisi lambung hingga ke ujung-ujung jemari kakinya.
“Oh, keajaiban rempah fana...” lenguh batin Dika, meliuk-liuk dalam kepuasan yang mistis. “Lemak kambing ini... ia meresap ke dalam pori-pori spiritual gue yang kering! Sial, ini jauh lebih padat energi daripada batu spiritual tingkat rendah di Sekte Langit Sembilan. Telur dadar ini... pinggirannya yang garing adalah puncak penciptaan rasa di dunia manusia! Lina, lo resmi jadi pendeta wanita pertama di kuil lambung gue!”
Lina yang sedang meneguk teh tawar hangat hampir saja tersedak. Kemampuan bawaannya sebagai korban kebocoran takdir membuat jeritan batin Dika yang konyol itu bergaung jernih di dalam kepalanya. Semburat merah tipis muncul di pipinya, bukan karena malu, melainkan karena menahan tawa yang begitu mendesak di tenggorokan.
“Pelan-pelan, kaisar naga,” sindir Lina, nadanya rendah namun tajam, seolah sengaja memotong suasana khusyuk Dika. Ia mengetukkan jemarinya pada tas kain kumal yang kini tergeletak di sampingnya—tas yang berisi tumpukan uang tunai ratusan ribu rupiah sisa rampasan dari saku Pak Johan yang terjatuh estetis di gudang tua. “Polisi sudah menahan si gemuk Johan dan pendekar bau minyak anginnya. Uang ini... sebagian besar akan diserahkan sebagai barang bukti besok pagi. Tapi, untuk malam ini, sepasang porsi kuli ini sudah dipotong dari dana darurat takdir.”
Dika menghentikan sendoknya sejenak, tepat beberapa senti di depan mulutnya. Ia menatap selembar daging kambing yang menggantung di ujung sendok dengan tatapan filosofis yang mendalam.
“Uang, dokumen, jeruji besi,” ucap Dika, suaranya mendadak berubah—rendah, berat, penuh wibawa purba yang memantul di antara deru mesin motor yang lewat di jalan raya. “Semua itu hanyalah lembaran perak di sisi kuali semesta, Lina. Manusia fana mengumpulkan jelaga, mengiranya sebagai emas kemuliaan. Mereka membangun menara dari kebohongan, tanpa sadar bahwa satu jentikan angin dari langit luar sanggup meruntuhkan seluruh pondasi keserakahan mereka.”
Lina memutar matanya, bersedekap. “Filsafat lo bagus, Dika. Tapi kalau filsafat itu keluar dari mulut orang yang mulutnya masih belepotan minyak samin, wibawanya turun setengah tingkat, tahu gakk?”
Dika terbatuk kecil, getaran di dadanya kembali memicu rasa linu di pinggang bawahnya. Ia buru-buru menelan nasi di mulutnya, lalu mendesah pelan. Atmosfer keagungan seketika luntur, digantikan oleh raut wajah pemuda kos-kosan yang sedang meratapi nasib.
“Aduh, Lin, jangan diingetin soal wibawa kenapa sih,” keluh suara hatinya yang merana, terdengar begitu kontras dengan wajahnya yang mencoba tetap tenang. “Gue ini cuma mencoba bertahan hidup. Lo nggak tahu rasanya jadi mantan dewa yang energinya sisa lima persen. Ini pinggang kalau digerakin ke kiri sedikit lagi, bisa bunyi 'krak' kayak kerupuk mlempem. Boro-boro mikirin menara keserakahan Johan, gue sekarang cuma mikirin gimana caranya pulang ke kosan tanpa harus mendorong motor bebek lo yang akinya udah mati itu.”
Malam kian larut, dan sudut jalanan tua itu kian sunyi. Penjual nasi goreng di depan mereka terus mengayunkan sodet besinya pada permukaan kuali, menciptakan ritme konstan—tring, tring, prok—yang membelah keheningan malam laksana detak jam dinding tua di ruang kosong. Asap masakan yang membubung tinggi ke langit-langit terpal tampak seperti awan hitam kecil yang menyimpan badai rasa.
Di tengah kesunyian yang magis itu, Mata Takdir di balik mata Dika tiba-tiba bergetar halus. Bukan getaran panik seperti saat menghadapi Ki Bersam, melainkan seutas denyutan lembut yang dingin.
Dika mengalihkan pandangannya dari piring seng. Sepasang matanya menembus kegelapan di luar tenda terpal, menatap lurus ke seberang jalan yang sepi, di mana jajaran ruko tua berarsitektur kolonial berdiri kokoh dengan pintu-pintu besi yang tertutup rapat. Di sana, di balik bayang-bayang tiang listrik yang berkarat, Dika melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa.
Selembar benang takdir berwarna ungu kelam—warna yang melambangkan karma pengkhianatan yang pekat—meliuk-liuk di udara malam, bergerak dari arah utara dan perlahan menjalar menuju ke arah tempat mereka duduk. Benang itu tebal, berpilin dengan energi dingin yang memancarkan aroma busuk yang jauh lebih tajam daripada bau minyak angin Ki Bersam.
Mata Dika menyipit. Pendar emas purbanya menyala tipis, membaca aliran jalinan takdir yang dibawa oleh angin malam tersebut.
“Karma yang belum tuntas,” bisik suara batinnya, kali ini tanpa nada komedi, murni dingin dan tak tersentuh. “Johan hanyalah kerikil kecil yang terlempar dari roda kereta yang lebih besar. Pengkhianatan di kantor itu memiliki akar yang lebih dalam... menjalar hingga ke tangan-tangan yang menggenggam belati di balik jubah sutra. Mereka yang merancang kejatuhan Dika yang asli... mereka sedang berjalan mendekat.”
Lina merasakan perubahan atmosfer itu. Udara di dalam tenda terpal mendadak terasa lebih dingin beberapa derajat, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia menatap Dika, melihat bagaimana pemuda yang tadinya sibuk meratapi pinggang encoknya kini berubah kaku, dengan tatapan mata yang begitu tajam hingga sanggup membelah kegelapan malam.
“Ada apa, Dika?” tanya Lina, suaranya mengecil, ada nada cemas yang menyelinap di antara desau angin malam.
Dika menurunkan sendoknya, meletakkannya perlahan di atas piring yang kini sudah bersih tak bersisa. Ia mengambil selembar tisu murah yang kasar, menyeka sudut bibirnya dengan gerakan yang lambat dan penuh keanggunan seorang kaisar yang telah menyelesaikan perjamuan agung.
“Badai yang baru sedang mengumpulkan awan-awannya, Lina,” ucap Dika tenang, sepasang matanya kembali normal, namun sisa-sisa ketegasan langit masih tertinggal di sana. “Johan sudah tumbang, tapi mereka yang memberi Johan panggung tidak akan tinggal diam melihat bidak mereka hancur dalam semalam. Besok, kota ini tidak akan lagi terasa sama bagi kita.”
Dika berdiri perlahan, bertumpu pada meja kayu untuk menyembunyikan linu yang kembali menggigit tulang belakangnya. Ia menatap jalanan malam yang panjang dan sunyi, tahu bahwa lembaran pertama dari takdir barunya di bumi baru saja dimulai di sisi kuali yang berjelaga ini.