"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 ~ Mama Jahat
Waktu berlalu cepat. Hari itu telah menjelang malam saat Lulu baru kembali dari kuliah. Seperti biasa, gadis itu berjalan santai dengan tas selempang yang ia bawa asal.
"Dia?" gumam Ailin sembari menyipitkan mata. Wanita itu tengah duduk di sofa bersama sang putri yang memegang sebuah tablet.
"Dia bibi kecil, adiknya papa," jelas Lian tanpa diminta.
Ailin menoleh, mengusap kepala sang putri. "Aku tahu, sangat tahu. Bibi kecilmu itu bahkan berani berbohong padaku."
Wanita itu kembali memandang sang adik ipar, lalu menggeretakkan giginya pelan. Kedua matanya menatap Lulu dengan tajam. Sementara gadis yang merasa ada hawa tidak beres itu menoleh pada sumbernya.
"Kenapa? Tidak pernah lihat gadis secantik aku?" tanya Lulu dengan nada sombong, ia berlalu begitu saja. Tanpa menyadari ada bahaya yang mengintai.
"KAMU BERANI MEMBOHONGIKU?" Tiba-tiba sebuah teriakan yang diikuti jambakan di rambutnya membuat Lulu terperanjat kaget.
Gadis itu menoleh dan mendapati Ailin yang memasang wajah geram. "Akhh, rambutku! Lepas!" pekiknya sembari menarik tangan Ailin yang tidak mau bergerak.
Gadis itu berbalik memukul dengan tasnya hingga kali ini Ailin yang mengaduh kesakitan.
"Mama, Bibi! Jangan berkelahi." Lian yang kecil itu berusaha memisahkan, namun Ailin terus menyerang.
"Lili, mamamu sudah gilaaa, akkhhhh."
"Siapa yang menyuruhmu membohongiku, huh? Masih bilang aku gila-gilaan mengejar kakakmu sampai menyayat perut sendiri. Aku masih tidak habis pikir kenapa seorang nona muda anggun sepertiku bisa melakukan hal seperti itu. Ternyata ... kamu! Kamu berbohong sampai aku bersikap canggung tanpa alasan pada suamiku. Memalukan sekali, arghhh."
"Sialan! Sshh, kau menyalahkanku? Seharusnya kau menyalahkan diri sendiri, mudah sekali dibohongi. Bodoh! Akhh, lepas!"
"Enggak bisa begini, aku harus cali papa." Lian bergumam setelah berulang kali gagal memisahkan. Gadis kecil itu akhirnya berlari ke ruang kerja sang ayah, berniat meminta pertolongan pria itu.
Namun saat hendak mendorong, pintu itu telah terbuka dari dalam. Juan muncul lengkap dengan kursi roda yang menopangnya.
"Ribut apa?" tanya pria itu saat melihat sang putri yang panik.
"Papa, mama dan bibi sedang belkelahi. Tolong meleka!" Lian menarik tangan sang ayah, sementara pria itu segera menekan tuas kursi rodanya.
"Ailin! Lulu! BERHENTI!" Juan berteriak setelah sampai di ruang tengah. Namun dua perempuan itu tidak mengacuhkan. Masih terus saling menjambak dan memukul.
"Kalian!" Pria itu mendekat, mencoba memisahkan seperti Lian tadi.
"Haish, jangan halangi aku!" pekik Ailin dan tanpa sadar mendorong kursi roda sang suami.
BRAK.
"Papa!"
"KAKK!"
Suara yang menggema itu akhirnya membuat pertengkaran usai. Ailin tertegun sejenak saat melihat Juan yang kini tergeletak di lantai lengkap dengan roda kursi yang berputar.
"Kau!" Lulu memandang marah sang kakak ipar, sementara Ailin yang tersadar segera membungkuk untuk membantu suaminya.
"Jangan sentuh kakakku!" Lulu menepis tangan Ailin yang menyentuh lengan Juan. Sementara Lian di samping mulai menangis dengan terus memanggil papanya.
"Papa, Papa." Ailin mencoba menenangkan, namun Lian juga menepisnya.
"Mama jahat! Jangan sakiti papa lagi!"
"Aku ...." Ailin menggenggam kedua tangannya sendiri. Lidahnya terasa kaku, begitu juga tubuhnya.
Tanpa sadar air mata mulai tergenang di dalam bola matanya, ia tidak bermaksud. Benar-benar tidak bermaksud mencelakai kakak Juannya, tapi penolakan mereka seakan menyiratkan hal seperti ini sudah biasa terjadi.
Sebenarnya seperti apa dirinya di masa lalu? Sampai semua orang di rumah ini kini menatapnya marah nan asing, tidak ada tatapan dekat sama sekali.
"Bibi Yu, bantu angkat kakakku!" pinta Lulu pada pelayan yang sudah ia anggap ibu sendiri.
Wanita itu segera mendekat, membantu sang tuan bangun. Sementara Ailin dengan menahan tangis juga berusaha membantu. Wanita itu menegakkan kursi roda dan berdiri dengan gugup di belakangnya.
"Aku enggak papa." Juan akhirnya membuka mulutnya. Pria itu menundukkan kepala, mengatur napasnya yang tercekat.
"Aku mau istirahat."
"Aku bantu." Lulu hendak mendorong kursi roda, namun Juan menolak.
"Tidak perlu!" Pria itu menekan tuas, berlalu kembali ke kamar miliknya.
Sementara Ailin yang ditinggal bersama yang lain jadi bergeming. Ia menatap Lulu yang mendengus setelah menatapnya tajam dan berlalu begitu saja. Sedangkan bibi Yu menghela napas kasar dan kembali ke dapur.
Kini Ailin sendirian berdiri di ruang tengah yang terasa begitu asing. Rumah besar yang tadi tampak indah mendadak membuatnya sesak. Kali ini air matanya tak tertahan lagi, mengalir deras hingga kedua netranya merah dalam sekejap. "Maaf," bisiknya dengan napas tercekat.
.
.
.