NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penonton tak kasat mata

### BAB 9 - Penonton Tak Kasat Mata

Malam itu, langit di atas kepala terlihat semakin kelabu pekat. Tidak ada cahaya rembulan, tidak ada pula kerlip bintang yang menemani; atmosfer malam mendadak terasa begitu senyap dan mati. Seolah-olah, alam semesta pun sengaja menutup mata karena tidak sudi melihat kegilaan apa yang akan segera terjadi di bawah sana.

Sesuai dengan janji yang telah terucap sebelumnya, malam itu juga Mbah Cahyo langsung mengantarkan Rahmat dan Ratna menuju ke tempat yang telah ditentukan. Karena letak tempat ritual tersebut berada di area pedalaman hutan yang tidak jauh dari pekarangan rumah kayu si Mbah, mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan sepeda motor mereka di sana.

Dengan hanya mengandalkan penerangan seadanya, mereka berjalan kaki membelah semak belukar yang rimbun, melangkah tertatih-tatih untuk masuk jauh lebih dalam lagi ke jantung hutan yang gelap gulita.

Tempat yang dituju si Mbah ternyata adalah sebuah pohon beringin yang ukurannya teramat besar. Juntaian akar-akar tuanya yang menjalar ke mana-mana memberikan kesan mistis yang mengerikan, mencengkeram tanah seolah siap menjerat siapa saja yang mendekat. Yang membuat bulu kuduk kian berdiri, tepat di bawah rindangnya pohon beringin itu, terdapat sebuah makam tua yang tidak diketahui asal-usulnya. Makam tak bernama itu berukuran sangat kecil, persis seperti kuburan seorang anak kecil yang baru berusia sekitar sepuluh atau sebelas tahun.

Namun, keanehan yang teramat ganjil mulai terjadi pada diri Ratna semenjak langkah kaki pertamanya melewati ambang pintu rumah kayu Mbah Cahyo. Wanita itu berjalan dengan tatapan mata yang mendadak kosong melompong, menatap lurus ke depan tanpa arah. Wajahnya berubah pucat pasi, sementara sepasang matanya mulai memerah, membuat penampilannya malam itu benar-benar mengerikan—nyaris menyerupai sesosok mayat hidup yang digerakkan oleh kekuatan gaib. Sosok Ratna yang penakut namun penuh akal sehat saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah Simbah, kini telah lenyap tanpa bekas.

Dan yang membuat atmosfer malam itu terasa kian janggal sekaligus mengerikan adalah sikap suaminya sendiri. Rahmat, yang berjalan tepat di samping Ratna, sama sekali tidak menyadari perubahan drastis yang sedang menimpa istrinya. Pria itu seolah telah dibutakan dan ditulikan oleh ambisi hitamnya, hingga abai terhadap kondisi Ratna yang sudah seperti raga tanpa jiwa.

"Di sini... Tepat di samping makam ini, lakukan semua hal yang sudah Simbah perintahkan tadi," ujar Mbah Cahyo dengan nada suara yang teramat dingin, sedingin angin malam yang berembus di antara celah pohon beringin.

"Bacakan mantra pembukanya, lalu segera kamu tunaikan syarat intim tadi. Ingat baik-baik, jangan sampai ada seulas detail pun yang terlewat sedikit saja. Kalau sampai ada yang keliru, kalian sendiri yang harus menanggung akibat mengerikannya. Tepat jam tiga pagi nanti, Simbah akan kembali lagi ke sini untuk menjemput kalian."

Setelah menyelesaikan kalimat peringatannya, Mbah Cahyo perlahan melangkah mundur, bergerak menjauh dari area sakral tersebut. Sebelum benar-benar menghilang di balik pekatnya gulita hutan, tangan keriputnya menancapkan sebatang obor minyak tanah tepat di sebelah makam kecil tak bernama itu.

Sedetik kemudian, Simbah pun pergi melenggang, meninggalkan Rahmat dan Ratna berdua saja di bawah naungan pohon beringin raksasa, dengan hanya ditemani oleh temaram pencahayaan dari kobaran api obor yang menari-nari ditiup angin malam.

Keheningan yang teramat mencekam seketika kembali menyelimuti tempat itu. Kini, hanya terdengar suara desiran angin malam yang berembus pelan di antara rimbunnya dedaunan beringin, seolah sedang bersiul sedih sekaligus mengerikan di tengah malam buta. Cahaya dari obor minyak yang bergoyang-goyang ditiup angin menciptakan bayangan hitam yang meliuk-liuk di sekeliling mereka. Rasanya begitu ganjil; sepertinya bukan cuma mereka berdua makhluk hidup yang ada di sana... tempat gelap itu rasanya sudah penuh sesak oleh para penonton tak terlihat yang sedang mengintai dari balik batang pohon.

Tanpa membuang waktu lagi, Rahmat langsung mengambil posisi di atas tanah basah tepat di samping nisan kecil itu. Dengan tatapan mata yang beralih liar, ia mulai merapalkan bait demi bait mantra kuno bahasa asing yang terdengar sangat ganjil dan aneh di telinga.

Anehnya, tidak ada gangguan gaib yang berarti saat Rahmat sedang merapalkan mantranya. Suasana justru mendadak berubah menjadi sangat senyap, seolah-olah seluruh penghuni tak kasat mata di tempat itu sedang diam membisu, memberikan jalan bagi Rahmat untuk menyelesaikan kalimat terlarangnya.

Setelah hampir satu setengah jam lamanya waktu berlalu dalam keheningan yang mencekam, Rahmat akhirnya selesai merapalkan seluruh bait mantra kuno tersebut hingga tuntas. Napasnya agak terengah. Ia lantas langsung melirik ke arah samping, tepat di tempat di mana sang istri sejak tadi berdiri mematung.

Di mata Rahmat yang sudah buram oleh kabut ambisi, sosok yang berdiri di sana memang benar-benar istrinya. Namun, pada kenyataan yang sesungguhnya, itu sama sekali bukan lagi Ratna. Jiwa asli wanita itu entah telah terlempar ke mana, digantikan oleh sesosok makhluk gaib lain yang sengaja meminjam dan mengendalikan raga Ratna malam itu.

Anehnya, entah karena pengaruh sihir mantra atau manipulasi dari makhluk halus penunggu beringin, wajah dan lekuk tubuh Ratna terlihat sungguh teramat menggoda di mata Rahmat pada malam jahanam itu. Hasrat liarnya mendadak memuncak hebat, membakar habis sisa rasa takut yang sempat tersisa di dadanya. Tanpa berpikir panjang lagi, di bawah tatapan ratusan pasang mata tak terlihat dan remang obor yang menari-nari, Rahmat pun langsung melakukan ritual intim itu di tempat itu juga, tepat di samping makam kecil yang sunyi.

Bersambung

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!