NovelToon NovelToon
Kamu Satu Dari Sejuta

Kamu Satu Dari Sejuta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.

Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Ingatan Masah Lalu

Bab 9 - Ingatan Masah Lalu

"Halo..."

Suara Senopati terdengar datar dan dingin dari seberang sambungan, sama seperti yang biasa didengar Raisa selama ini.

"Sudah dengar pesan dari Bi Lastri, bukan?" tanyanya tanpa basa-basi. "Jam sepuluh Radit akan menjemputmu. Kita akan menuju tempat pelaksanaan pernikahan, kau harus ikut melihat dan memilih apa saja yang kau inginkan untuk hari itu."

Raisa terdiam sesaat, tangannya masih memegang erat ponsel di telinganya. Ia sama sekali tak membayangkan akan dilibatkan dalam persiapan itu. Selama ini ia merasa seolah hanya menjadi objek yang diatur sepenuhnya, tanpa punya hak untuk menentukan apa pun.

"Tapi Tuan... apakah perlu saya ikut? Tuan bisa memutuskan semuanya sendiri saja," jawabnya pelan, nada bicaranya terdengar ragu dan takut salah bicara.

Di seberang sana, Senopati mengerutkan dahi. Ia mengerti sikap itu—Raisa masih berusaha menjaga jarak dan menyesuaikan diri agar tidak menimbulkan kemarahan lagi.

"Ini pernikahan kita, bukan hanya milikku saja," jawab Senopati, mencoba sedikit melunakkan nada bicaranya meski masih terdengar tegas. "Kau yang akan memakainya, kau yang akan berdiri di sana. Jadi masuk akal jika kau ikut memilih. Jangan membuatku mengulangi perintah yang sama dua kali."

"Baiklah, Tuan..." jawab Raisa singkat, tidak berani membantah lagi.

"Satu hal lagi," lanjut Senopati sebelum memutus sambungan. "Pastikan kau berpakaian yang sopan dan rapi. Dan makanlah sesuatu sebelum berangkat. Aku tidak ingin mendengar laporan bahwa kau menolak makanan lagi. Mengerti?"

Jantung Raisa berdebar kencang mendengar peringatan itu. Ia segera menjawab dengan suara lebih jelas, "Mengerti, Tuan."

Sambungan pun terputus. Raisa menurunkan ponselnya, lalu menghela napas panjang. Rasanya perintah itu selalu terasa seperti tekanan, meski di balik kata-kata yang dingin itu, ia mulai menyadari ada perhatian terselubung yang sulit diakui.

Tak lama kemudian, Bi Lastri datang membawa segelas jus buah segar dan meletakkannya di atas meja kecil di kamar.

"Ini Nona, diminumlah ya. Supaya tenang dan tidak pusing nanti di jalan," ujar Bi Lastri dengan senyum lembut.

Raisa tersenyum tipis, menerima gelas itu. "Terima kasih, Bi. Kau selalu baik padaku."

"Sama-sama Nona. Semoga semuanya berjalan lancar ya. Mungkin hari ini bisa sedikit melupakan kesedihan Nona sebentar," jawab Bi Lastri sebelum berpamitan keluar.

Raisa menghabiskan jus itu sedikit demi sedikit, lalu bersiap-siap dengan tenang. Ia memilih gaun sederhana berwarna krem yang tidak terlalu mencolok, lalu merapikan rambutnya sebaik mungkin. Di hatinya masih tersimpan rasa gundah—tiga hari lagi ia akan benar-benar menjadi istri Senopati Aditama, pria yang sifatnya sulit ditebak.

Tepat pukul sepuluh pagi, suara mobil terhenti di depan pintu utama. Raisa turun ke bawah dan disambut oleh Radit yang sudah menunggu dengan sikap sopan.

"Selamat pagi, Nona. Silakan naik, Tuan sudah menunggu di lokasi," ujar Radit sambil membukakan pintu mobil.

Perjalanan menuju gedung acara berlangsung dalam keheningan. Raisa hanya menatap pemandangan di luar jendela, pikirannya melayang ke mana-mana. Ia membayangkan bagaimana rasanya nanti berdiri di hadapan banyak orang, mengucap janji suci kepada pria yang belum sepenuhnya ia kenal hatinya.

"Nona tidak perlu khawatir tentang Tuan, sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik, hanya saja di terdidik memiliki sikap tegas dan dingin. Apalagi semenjak kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan, itu merubah semua sifat seorang Senopati." Radit tiba-tiba berbicara soal Senopati, ia hanya ingin agar Raisa mulai lebih tenang. "Saya sudah mengenalnya selama lima belas tahun."

Raisa hanya terdiam bingun harus menjawab apa, karena ia baru mengenal seorang Senopati baru dalam hitungan hari, jadi ia belum bisa mengatakan apapun dari cerita Radit. Tapi ia juga berempati mendengar kisa kedua orang tua calon suaminya yang telah tiada.

Sesampainya di lokasi, Raisa tertegun melihat gedung besar yang sudah mulai dihias sebagian. Suasananya megah, elegan, dan terasa sangat mewah—sesuai dengan nama besar keluarga Aditama. Di tengah ruangan itu, Senopati berdiri berbincang dengan seorang perancang acara, tampak lebih tenang dibandingkan saat di rumah kemarin malam.

Begitu mendengar langkah kaki, Senopati berbalik menatap Raisa. Pandangannya menyapu sejenak dari ujung kepala hingga kaki wanita itu, lalu mengangguk pelan seolah setuju dengan penampilan yang dipilihnya.

"Datanglah mendekat," panggilnya singkat.

Raisa melangkah perlahan mendekat, jantungnya kembali berdegup kencang.

"Ini dia calon istri saya, Raisa," kata Senopati memperkenalkannya kepada sang perancang. "Mulai sekarang, diskusikan semuanya dengan dia juga. Jika ada yang tidak disukainya, katakan saja padaku."

Raisa terkejut mendengar kalimat itu. Ia menoleh sebentar ke arah Senopati, namun pria itu hanya menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya.

"Silakan Nona, mari kita lihat pilihan warna bunga, tata letak tempat duduk, dan juga model lainnya." ajak perancang acara itu ramah.

Saat mereka mulai membahas satu per satu, Raisa sempat merasa canggung dan takut mengeluarkan pendapat. Namun setiap kali ia ragu, Senopati diam-diam mendorongnya dengan kalimat sederhana, "Katakan saja apa yang kau rasa tepat."

Di sisi lain, Senopati memperhatikan setiap gerak dan ekspresi Raisa. Ia melihat sedikit cahaya lain muncul di mata wanita itu saat melihat rangkaian bunga dan desain ruangan yang lembut. Mungkin ini cara terbaiknya—memberikan sedikit kendali, agar Raisa merasa bahwa pernikahan ini bukan sekadar perjanjian kering semata.

Namun di sela-sela perhatian itu, di dalam saku jas Senopati masih tersimpan rapat amplop surat dari Kelvin. Ia belum memutuskan kapan dan bagaimana cara menyampaikannya, atau apakah sebaiknya surat itu tetap tidak dibagikan agar tidak mengganggu ketenangan yang baru mulai terbentuk sedikit demi sedikit.

Senopati hanya takut kali surat itu di serahkan akan mengganggu pikiran Raisa dan berniat membatalkan pernikahan.

Sebenarnya Senopati sudah mengenal Raisa jauh sebelum mereka ketemu karena pernikahan mereka. Dulu Senopati pernah mengalami kecelakaan dan tebak siapa yang ada disana untuk membantunya, ya dia adalah Raisa. Saat itu Raisa mungkin baru masuk kuliah untuk pertama kali.

Lalu tanpa sengaja menemukan Senopati dalam keadaan babak belur, wajahnya di penuhi luka sehingga Raisa tidak mengenali Senopati sekarang karena dulu saat menolongnya Senopati memiliki banyak luka yang tidak bisa di kenali. Raisa juga membawa Senopati kerumah sakit.

Makanya waktu Senopati melihat Raisa lagi ia terkejut karena ia sudah mencari lama namun tak pernah menemukan sosok gadis yang menolongnya.

Ingatan itu melintas kembali dengan jelas di benak Senopati, seolah baru terjadi kemarin. Malam hujan lebat, jalanan licin dan sepi, hingga mobilnya tergelincir dan menabrak pembatas jalan. Ia terjebak di dalam kabin, kesadarannya mulai menghilang, hingga sesosok gadis muda muncul dari kegelapan. Tanpa ragu, gadis itu berusaha keras membantunya keluar, lalu memapahnya menuju rumah sakit terdekat meski hujan terus membasahi tubuh keduanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!