Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09• Celah Kecil Yang Terlihat
Jarum jam menunjuk pukul satu lebih tujuh menit ketika suara kunci pintu memecah kesunyian rumah.
Naya belum tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah pintu kamar. Tiga malam ini Arkan baru pulang lewat tengah malam. Alasannya sama, meeting, meeting, meeting.
Pintu terbuka.
Arkan masuk dengan langkah goyah. Bajunya kusut, dasinya terlepas, kemeja putihnya kini meninggalkan jejak noda kotor samar di kerah. Bau alkohol menyerbak lebih dulu dari tubuhnya, bercampur dengan aroma rokok yang menempel di rambut dan kain. Dan di sela semua itu, ada wangi lain. Wangi parfum perempuan. Manis, menusuk, asing.
Naya berdiri. Ia ingin bertanya. Tapi Arkan sudah melewatinya begitu saja, seperti bayangan yang tak sempat menoleh.
“Aku capek, Nay,” gumamnya, suaranya berat, cadel. “Habis meeting.”
Tanpa menunggu jawaban, ia menjatuhkan tubuh ke ranjang. Sepatu masih terpasang. Dalam tiga detik, napasnya sudah berubah menjadi dengkuran.
Naya mematung di tempatnya. Dadanya naik turun, bukan karena marah. Lebih seperti seseorang yang baru saja menelan bara api.
Perlahan, ia mendekat. Tangannya gemetar saat melepaskan sepatu Arkan, lalu membuka kancing kemeja yang kusut itu. Ia menggantinya dengan kaus tidur. Gerakannya hati-hati, seperti sedang mengurus orang sakit yang tak sadar sedang dilukai.
Saat ia menarik selimut hingga ke dada Arkan, ia berhenti. Matanya menatap wajah lelaki yang dulu ia kenal.
“Kok kamu jadi begini, Mas?” suaranya pecah, pelan, hanya cukup untuk dirinya sendiri. “Dulu waktu pacaran, kamu nggak pernah bau alkohol. Kamu nggak pernah tidur tanpa bilang selamat malam. Atau… aku aja yang baru tau?”
Tak ada jawaban. Hanya napas Arkan yang berat, dan wangi parfum perempuan yang masih tertinggal di kerah bajunya, seperti bukti yang sengaja tak dihapus.
Naya memejamkan mata. Tangannya terangkat, mengelus dadanya sendiri, seolah ingin menahan sesuatu agar tidak pecah.
Malam itu, ranjang yang sama terasa selebar samudra.
......................
Malam yang berat akhirnya pecah jadi pagi. Tapi rasanya tidak lebih ringan.
Jam lima lewat sedikit, Naya turun ke pantry. Kakinya pelan, seperti takut membangunkan luka semalam. Ia menuang air hangat ke gelas, berharap uapnya bisa mengusir dingin di dadanya.
“Naya.”
Suara Ibu Desy memotong sunyi. Ia baru saja lewat, lalu berbalik. Daster masih melekat di tubuh, rambut belum dirapikan.
“Bibi libur hari ini. Jadi sarapan kamu yang siapin ya. Bubur ayam.”
Bukan permintaan. Itu perintah yang dibungkus nada biasa.
Naya mengangguk. Ia tidak punya kata “tidak” di rumah ini. Ia kembali ke dapur, menyalakan kompor, mengaduk beras yang mendidih. Pikirannya masih terperangkap di bau alkohol dan parfum asing di bantal Arkan.
Pukul tujuh, semua sudah duduk di meja makan. Arkan tersenyum kecil saat melihat Naya menuang bubur ke mangkuknya. Senyum langka, yang dulu mudah ia beri saat masih pacaran. Dan senyuman itu hadir disaat setelah kejadian tanpa penjelasan yang terjadi tadi malam.
Naya menuang lagi bubur itu untuk Ibu Desy. Uap naik, tapi rasanya kosong.
Sendok pertama masuk ke mulut Ibu Desy. Wajahnya langsung mengernyit.
“Hambar,” katanya, nada meninggi. “Kamu masak pakai air doang, Naya? Nggak ada garam, nggak ada rasa?”
Mangkuk itu hampir didorong sampai jatuh. Bibir Ibu Desy terbuka, siap melontarkan marah.
Tapi Arkan mendahului.
“Udah, Ma,” katanya datar, tanpa menatap ibunya. “Mungkin lidah mama yang lagi nggak enak.”
Kalimat itu memotong udara. Ibu Desy terdiam. Arkan lalu menyendok bubur Naya, menghabiskannya perlahan.
Meja kembali sunyi. Hanya suara sendok yang beradu dengan porselen.
Naya menunduk. Tangannya masih menggenggam centong. Buburnya memang hambar. Tapi yang lebih pahit adalah sadar, pembelaan Arkan terasa seperti belas kasihan, bukan keberpihakan.
......................
Tiga hari setelah bubur hambar itu, Arkan pulang tepat waktu.
Jam enam sore, pintu depan terbuka. Naya sedang menyapu ruang tengah. Ia menoleh, Arkan membawa kantong plastik. Wajahnya lebih cerah dari biasanya.
“Nay,” panggilnya, suaranya lembut. “Aku bawain bakmi kesukaan kamu.”
Naya terdiam. Bakmi itu dulu langganan mereka waktu masih pacaran. Sudah lama Arkan tidak ingat membelikannya kembali.
Malam itu Arkan duduk di meja makan lebih lama dari biasanya. Ia bertanya bagaimana perasaan Naya, bantu membereskan piring habis makan, bahkan mengelap meja yang sebenarnya bukan tugasnya.
“Maaf ya beberapa hari lalu aku sering pulang malem,” katanya pelan sambil menyerahkan gelas ke Naya. “Meetingnya lagi padat banget. Tapi aku janji bakal usahain pulang lebih awal.”
Naya menatapnya. Tatapan Arkan teduh. Tidak ada bau rokok. Tidak ada wangi parfum lain. Hanya Arkan yang dulu pernah bilang "Kamu rumah aku, Nay.”
Malamnya, sebelum tidur, Arkan menarik selimut sampai ke dagu Naya.
“Tidur ya,” bisiknya. “Besok aku anter kamu ke pasar kalau mau.”
Naya memejamkan mata. Tapi beberapa menit kemudian ia melirik lagi. Arkan sudah membelakanginya, napasnya teratur. Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman di kening. Sejak malam pertama itu, tubuh Arkan seperti punya batas yang tak boleh Naya lewati.
Jam lima kurang sepuluh, sunyi pagi pecah.
Nada dering ponsel Arkan meraung di atas nakas, tajam dan mendadak. Bukan alarm biasa. Nada khusus.
Arkan mengerang pelan. Matanya masih lengket, napasnya berat. Tanpa membuka mata penuh, ia meraih ponsel, menggeser layar, menempelkannya ke telinga.
“Halo?” Suaranya serak, tertahan tidur.
Dari seberang terdengar suara perempuan. Jelas. Terlalu jelas untuk jam segini.
“Bar, maaf banget bangunin pagi-pagi. Ada tugas mendadak ke luar kota. Satu bulan. Kamu berangkat hari ini juga bisa kan?.”
Naya yang belum tidur pulas langsung membuka mata.
Arkan terduduk. Ia mengusap wajahnya kasar, seperti ingin membangunkan seluruh kesadarannya.
“Tugas luar kota?” ulangnya, suaranya pelan tapi tegang. “Satu bulan?”
Jeda sebentar. Lalu ia menutup telepon. Ruangan kembali sunyi, tapi udara di antara mereka terasa berubah.
Naya ikut duduk di sebelahnya. Jantungnya berdegup tidak karuan.
“Bener, Mas?” tanyanya, suaranya nyaris berbisik.
Arkan mengangguk. Tangannya masih menekan pelipis. Ia menoleh ke Naya, wajahnya kusut, matanya lelah.
“Bener, Nay. Maafin ya… kita baru nikah, udah aku tinggal.”
Kata “maaf” itu jatuh di antara mereka, berat, seperti batu yang dilempar ke air tenang.
Naya hanya bisa menatap. Di kepalanya, suara perempuan tadi masih terngiang. Dan di luar jendela, pagi mulai menyingsing, dingin dan tanpa ampun.
Arkan beranjak ke kamar mandi, ponselnya tertinggal di nakas. Layarnya masih menyala.
Naya melirik sekilas, tidak bermaksud mengintip. Tapi nama di atas dering terakhir itu terpampang jelas “Dewi.”
Dadanya menciut. Satu bulan ke luar kota. Dengan Dewi. Pagi-pagi sekali. Suara perempuan tadi bukan suara atasan. Terlalu lembut, terlalu akrab untuk sekadar urusan kerja.
Air dari kamar mandi masih mengalir. Naya menatap ponsel itu seperti menatap bara api. Tangannya gemetar, tapi ia tidak menyentuhnya. Ia takut. Takut kalau sekali ia buka, seluruh topeng manis Arkan semalam akan retak jadi debu.
Pintu kamar mandi terbuka. Arkan keluar, rambutnya masih basah. Ia mengambil ponsel tanpa curiga, memasukkannya ke saku.
Naya memejamkan mata. Dadanya sesak. Satu bulan terasa seperti hukuman yang baru saja dijatuhkan, dan hakimnya berdiri tepat di sebelahnya, tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.