NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Ke Surga Kecil

Jantung Aini masih berdegup kencang. Segera ia mengumpulkan barang-barang yang sudah dipilihnya, mengikatkan karung berisi botol dan kaleng bekas ke keranjang, lalu bergegas melangkah pulang. Kakinya melaju cepat, menarik keranjang berat itu di jalanan berbatu, napasnya teratur namun pikirannya masih melayang pada sosok yang baru saja dilihatnya.

Sesampainya di depan gubuk reyot yang menjadi tempat perlindungan dan rumah bahagianya sekarang, Aini segera memasukkan keranjang itu ke sudut halaman. Ia mengibaskan debu dan kotoran yang menempel di pakaian serta tubuhnya, lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah ringan. Bu Lilis masih duduk di bangku kayu, wajahnya sudah terlihat lebih baik meski masih sedikit lemas.

"Sudah pulang ya, Nak? Cepat sekali," sapa Bu Lilis lemah sambil tersenyum.

"Iya, Bu. Kebetulan dapatnya sudah lumayan, jadi saya putuskan pulang saja," jawab Aini sambil tersenyum tipis, sengaja tidak menceritakan apa yang baru saja ia saksikan di taman. Ia tak ingin menambah beban pikiran wanita tua itu.

Aini segera bergegas ke sudut ruangan tempat kasur tipis terhampar. Di sana, matanya menatap pemandangan yang paling ia rindukan dan paling menenangkan hatinya.

 Syafa duduk bersila dengan rapi, sementara di sampingnya, Satria berbaring miring dengan semangat, kedua kakinya yang gemuk bergoyang-goyang ke udara. Anak laki-lakinya itu tampak sehat, ceria, dan sangat aktif.

Begitu melihat ibunya datang, mata Satria yang bulat dan bening itu langsung berbinar. Mulut kecilnya terbuka-tutup seolah sedang memanggil, dan suara celotehannya yang merdu terdengar riang. Aini tahu benar, anaknya itu sudah haus. Waktu menyusui memang sudah lewat, dan aktivitas pagi ini membuat bayi empat bulan itu pasti menunggu-nunggu kedatangan ibunya.

Dengan gerakan lembut dan penuh kasih sayang, Aini duduk bersandar di dinding papan. Ia membuka sedikit bajunya, lalu menggendong Satria dengan posisi yang nyaman. Begitu dada ibunya tersedia, Satria langsung mendekat dengan antusias. Mulut kecilnya menyambar puting susu ibunya dengan lahap dan nikmat. Ia menyusu dengan semangat, tangan mungilnya yang gemuk menekan-nekan lembut tubuh ibunya, seolah takut ada yang merebut kenikmatan itu darinya.

Aini memejamkan matanya sejenak, merasakan sentuhan hangat tubuh anaknya. Rasa lelah karena menarik beban berat, rasa kaget karena melihat Dimas, dan segala beban hidup yang berat... semuanya seakan luruh seketika.

Di samping mereka......Syafa. Gadis kecil itu menatap adiknya dengan tatapan penuh kekaguman dan kasih sayang. Jari-jarinya yang lentik dan bersih bergerak pelan, memainkan ujung jari tangan adiknya yang kecil mungil, seukuran kuku jari orang dewasa. Sesekali Syafa mengelus punggung tangan Satria dengan sangat hati-hati, takut melukai, sambil berbisik pelan.

"Dedek kenyang ya... enak ya susunya Ibu... Dedek jangan nakal ya... Kakak sayang Dedek..." gumam Syafa polos, membuat hati Aini meleleh penuh haru.

Di ruangan sederhana itu, di tengah kemiskinan materi namun kekayaan kasih sayang yang melimpah, Aini merasa memiliki segalanya. Ia tidak butuh rumah mewah, tidak butuh harta berlimpah, dan pastinya tidak butuh laki-laki yang berhati busuk seperti Dimas.

"Kalianlah hartaku... kalianlah hidupku," bisik Aini lirih, air mata bahagia menggenang di matanya namun kali ini bukan air mata kesedihan.

******

Suara langkah kaki berat dan berirama terdengar mendekat dari luar pintu besi yang tebal. Bunyinya bergema di dinding-dinding ruangan kosong, membuat jantung Dimas makin berdegup kencang hingga sesak napas.

Seorang laki-laki berperawakan tegap, tinggi besar, dan berjalan dengan penuh wibawa. Ia mengenakan seragam dinas berwarna gelap dengan lambang kebesaran yang terpajang jelas di bahunya. Itu adalah Komandan Sejiwa.....suami dari almarhumah Laras.

Sejiwa melangkah masuk perlahan, langkahnya tenang namun setiap gerakannya memancarkan kekuatan dan ketegasan yang tak tertandingi. Wajahnya dingin, rahangnya tegas, dan sorot matanya... matanya setajam mata elang, menembus lurus ke sasaran, seolah mampu melihat kebohongan apa pun yang tersembunyi di dalam hati orang yang dilihatnya.

Di belakangnya, dua orang anak buah yang tadi menangkap Dimas berdiri tegak di dekat pintu, diam tak bergerak.

Sejiwa berhenti tepat di ujung meja besi itu. Ia tidak langsung duduk. Ia hanya berdiri diam, menatap sosok kecil dan kotor yang meringkuk ketakutan di hadapannya. Pandangannya menyapu seluruh penampilan Dimas.....dari rambutnya yang kusut, wajahnya yang tirus dan penuh keringat dingin, hingga kakinya yang gemetar hebat di bawah meja.

Suasana hening sejenak, keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara napas Dimas yang pendek-pendek dan panik.

"Angkat kepalamu," suara Sejiwa terdengar rendah, berat, namun sangat jelas dan berwibawa. Bukan bentakan, tapi nada perintah yang mutlak dan tak bisa dibantah.

Dimas tersentak hebat. Perlahan, dengan tangan gemetar, ia mengangkat wajahnya.

"Kau Dimas?" tanya Sejiwa kembali. Suaranya tenang, namun ada getaran bahaya di setiap katanya.

"I-iya... Pak... saya Dimas..." jawab Dimas terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menelan ludah dengan susah payah.

Sejiwa perlahan memutar pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu kembali menatap Dimas lekat-lekat. Ia melipat kedua tangannya di belakang punggung, berdiri tegak bagai tiang bendera.

"Kau tahu siapa aku? Dan kau tahu kenapa kau ada di sini?" tanya Sejiwa lagi. Kali ini ia melangkah satu langkah, membuat Dimas mundur terdesak hingga punggungnya menempel kuat di sandaran kursi.

Dimas mengangguk cepat, keringat dingin membanjiri wajahnya.

"Saya... saya tahu, Pak... Saya berutang... uang 200 juta... sama Bapak Wijaya... saya minta maaf... saya belum bisa kembalikan..."

Sejiwa mendengus pelan, bukan tanda geli, tapi tanda kekecewaan dan kemarahan yang makin bertambah. Ia berjalan mengelilingi meja, langkahnya pelan namun membuat Dimas terus menoleh mengikutinya dengan pandangan penuh was-was.

"Uang? Kau pikir masalah ini cuma soal uang, ?" potong Sejiwa tajam. Matanya menyipit, memancarkan ketidaksukaan.

"200 juta itu uang kecil bagiku dan orang tuaku. Tapi apa yang kau lakukan... apa yang kau rencanakan... itu jauh lebih kotor, jauh lebih kejam, dan jauh lebih mahal harganya daripada sekadar angka di atas kertas."

Sejiwa berhenti tepat di samping kursi Dimas. Ia membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Dimas, menatap lurus ke manik mata laki-laki itu.

"Kau menjual anakmu sendiri. Kau berniat menukar darah dagingmu, bayi yang belum sempat melihat dunia, dengan uang. Kau menganggap anakmu barang dagangan. Kau menganggap istrimu... wanita yang berani berjuang mati-matian demi anaknya... kau anggap dia pembawa barang."

Suara Sejiwa rendah namun bergetar menahan luapan emosi. Ia ingat betul pesan terakhir istrinya, Laras. Ia ingat betul cerita Laras tentang wanita hamil yang ia lihat di halte, yang berani lari di tengah hujan demi anaknya. Wanita itu adalah istri laki-laki busuk yang sekarang ada di hadapannya ini.

"Kau tahu siapa yang paling menderita karena ulahmu?" tanya Sejiwa, nadanya makin mengancam. "Istri dan anak-anakmu. Kau tahu siapa yang menanggung malu dan dosa karena keserakahanmu? Orang tuaku, yang karena ketidaktahuan dan keinginan semu, hampir saja terjerumus ke dalam kejahatan ini. Dan kau tahu... ada wanita baik, wanita yang sangat baik, yang meninggal dengan perasaan sedih dan bersalah karena hampir saja menjadi bagian dari rencana kotormu itu. Istriku, Laras..."

Dimas ternganga, mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar. Ia sama sekali tidak tahu hubungan apa yang terjadi, ia hanya merasa semakin terjepit dan ketakutan.

Sejiwa kembali berdiri tegak, menatap Dimas dengan tatapan jijik yang nyata.

"Aku sudah tahu semuanya, Dimas. Aku tahu kau lari, aku tahu istrimu kabur membawa anak-anakmu agar selamat dari tanganmu. Dan aku tahu kau selama lima bulan ini bersembunyi dan terus berusaha mencari mereka hanya demi uang itu lagi."

Sejiwa menunjuk tepat ke dada Dimas dengan jari telunjuknya yang kokoh.

"Dengar baik-baik. Uang 200 juta itu kami anggap lunas sebagai ganti atas kebodohan kami yang mau berurusan dengan orang sepertimu. Tapi ada satu hal yang harus kau ingat sampai mati, sampai napasmu berhenti."

Suara Sejiwa menggelegar keras di ruangan itu, penuh otoritas dan peringatan yang mengerikan.

"Kau dilarang mendekati mereka. Kau dilarang mencari Istri dan anakmu. Kau tidak berhak atas mereka. Kau sudah melepaskan hakmu saat kau berniat menjual mereka demi uang. Istri dan anak-anakmu sekarang bebas. Mereka hidup jujur, mereka hidup bersih, dan mereka jauh lebih mulia daripada kau yang duduk meringkuk di sini seperti sampah."

Dimas menunduk dalam, gemetar hebat. Ia sadar, ia sudah kalah telak. Ia bukan hanya kehilangan uang, tapi ia kehilangan seluruh haknya sebagai ayah dan suami. Di hadapan laki-laki berwibawa ini, ia hanyalah serbuk debu yang tak berharga.

"Kalau sampai aku dengar atau tahu kau berani mendekat, mengganggu, atau sekadar mencari jejak mereka sedikit saja..." Sejiwa berhenti sejenak, sorot matanya kembali setajam elang, penuh ancaman maut.

"...maka kau akan tahu betapa buruknya akhir hidup seseorang saat berhadapan denganku. Aku punya kuasa, Dimas. Dan aku akan gunakan kuasa itu untuk melindungi mereka yang berjuang demi kebaikan, dan menghancurkan mereka yang berniat jahat seperti dirimu."

Sejiwa memberi isyarat singkat dengan tangannya pada kedua anak buahnya di pintu.

"Bawa dia keluar. Lepaskan dia. Tapi pastikan dia paham betul pesanku ini. Jangan sampai dia lupa siapa yang memegang nyawanya sekarang."

Sebelum berbalik badan meninggalkan ruangan itu, Sejiwa menatap sekali lagi sosok Dimas yang sudah hancur lebur tanpa harapan.

"Sadarlah, Dimas. Dan bersyukurlah mereka selamat darimu. Karena jika mereka jatuh ke tanganmu, mungkin aku takkan segan membiarkan kau binasa di sini."

Dengan langkah tegap dan penuh karisma Komandan Sejiwa berjalan keluar ruangan interogasi, meninggalkan Dimas yang kini sadar sepenuhnya bahwa masa lalunya telah habis, dan ia tidak akan pernah bisa menyentuh Aini dan anak-anaknya..... selamanya.

*****

1
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!