NovelToon NovelToon
Istriku Tak Bisa Ditaklukkan

Istriku Tak Bisa Ditaklukkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Pengantin Pengganti Konglomerat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Tamat
Popularitas:186.2k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Tangan Naya melayang tepat di depan butik berlian. Satu tamparan untuk Dimas yang berani memukulnya, dan detik itu juga pernikahan mewah itu batal. Tapi nasib punya selera humor yang kejam karena keesokan harinya ia justru berdiri di altar sebagai pengantin pengganti untuk Arga Kusumaatmaja. Konglomerat dingin yang terkurung di kursi roda, pria yang tatapannya saja sanggup membekukan seluruh ruangan, dan perjanjian bisnis yang mengikat mereka lebih erat dari sumpah pernikahan mana pun.

Semula hanya transaksi di atas kertas. Namun ketika keluarga Wiratama mulai menebar fitnah dan mengirim ancaman, Naya dan Arga justru berbalik menjadi tembok bagi satu sama lain. Di tengah rahasia yang berlapis dan kebohongan yang siap meledak kapan saja, mereka menemukan sesuatu yang tidak tertulis dalam kontrak. Bahwa cinta sejati tidak pernah datang sebagai pengganti. Ia datang sebagai pilihan. Dan kali ini, Naya memilih "

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 09 - Perempuan Bernama Nadira

Naya menerima pesan dari Nadira Wicaksana tiga hari setelah akad.

Nomornya tidak asing. Dulu Dimas pernah menyimpan kontak itu dengan nama Citra, lengkap dengan emoji bunga putih yang membuat Naya ingin tertawa setiap kali tidak sengaja melihatnya di layar mobil.

Nama sebenarnya Nadira.

Citra adalah nama panggilan lama yang entah kenapa dipertahankan Dimas seperti benda keramat.

Pesan itu singkat.

Nadira: Aku tahu ini terdengar aneh, tapi aku ingin bertemu. Bukan untuk Dimas.

Naya membaca pesan itu di ruang kerjanya di Kirana Beauty. Dia baru selesai meninjau proposal kampanye serum baru dan sedang menunggu rapat berikutnya.

Dia tidak langsung membalas.

Beberapa orang mungkin akan marah jika mantan pacar calon suaminya meminta bertemu. Tapi Naya tidak punya energi untuk drama semacam itu. Dimas sudah menjadi masalah hukum dan administrasi, bukan masalah hati.

Naya: Di mana?

Nadira membalas cepat.

Nadira: Coffee shop di Senopati. Aku ikut waktu kamu.

Naya memilih pukul empat sore.

Saat dia datang, Nadira sudah duduk di sudut. Wanita itu mengenakan kemeja putih, celana bahan cokelat, dan rambut panjang yang diikat rendah. Wajahnya cantik, tapi bukan cantik yang dibuat-buat. Matanya lelah. Ada sesuatu yang tajam sekaligus rapuh di sana.

Naya duduk di depannya.

"Naya," sapa Nadira.

"Nadira."

Wanita itu tersenyum tipis. "Kamu tahu nama asliku."

"Aku membaca profilmu."

"Tentu. Kamu tipe orang yang membaca sebelum bertemu."

"Dan kamu tipe orang yang langsung ke inti?"

Nadira menghela napas kecil. "Aku harap begitu."

Pelayan datang. Naya memesan es teh tawar. Nadira sudah punya kopi hitam yang tinggal setengah.

Beberapa detik mereka saling mengamati.

Naya tidak melihat kebencian di mata Nadira. Tidak ada kemenangan. Tidak ada rasa bersaing.

Itu menarik.

"Aku tidak mencuri album Dimas," kata Naya.

"Aku tahu."

Jawaban itu terlalu cepat.

Naya mengangkat alis.

Nadira menatap cangkirnya. "Album itu tidak pernah hilang. Ibunya yang mengambil."

Naya diam.

"Bu Rina datang ke apartemen Dimas sebelum dia pulang dari Surabaya. Dia melihat albumku dan panik. Mungkin takut Dimas membatalkan pernikahan karena aku kembali ke Jakarta. Jadi dia mengambilnya."

Naya menyandarkan tubuh ke kursi. "Lalu Dimas menuduhku."

"Karena lebih mudah baginya menyalahkanmu daripada ibunya."

"Kamu datang untuk mengatakan itu?"

"Sebagian."

Naya menunggu.

Nadira mengangkat wajah. "Aku juga ingin minta maaf."

"Untuk apa?"

"Karena namaku dipakai untuk menyakitimu."

Naya menatapnya beberapa detik.

"Itu bukan salahmu."

"Aku tahu. Tapi tetap tidak enak."

Ada keheningan pendek.

Naya mengambil gelas es tehnya. "Dimas masih mencarimu?"

"Ya."

"Kamu ingin kembali?"

Nadira tertawa hambar. "Tidak. Aku meninggalkan dia karena sadar dia tidak pernah mencintaiku."

Kalimat itu membuat Naya lebih memperhatikan.

Nadira melanjutkan, "Dulu aku pikir aku cinta pertamanya. Ternyata aku hanya mirip seseorang."

"Seseorang?"

"Perempuan sebelum aku. Namanya Laras. Dia meninggal saat Dimas masih kuliah. Aku baru tahu setelah hampir setahun bersama Dimas. Foto Laras ada di laci rahasia. Aku melihat wajahnya dan... rasanya seperti melihat bayanganku sendiri."

Naya tidak bicara.

"Dimas mengejarku bukan karena aku Nadira. Dia mengejarku karena wajahku mengingatkannya pada perempuan mati." Nadira tersenyum pahit. "Romantis sekali, kan?"

"Menjijikkan."

Nadira terkejut.

Lalu dia tertawa.

Tawa itu pendek tapi lega.

"Ya. Menjijikkan. Aku senang kamu mengatakannya."

Naya menatap wanita di depannya dengan pandangan berbeda. Jadi Nadira bukan hantu masa lalu yang kembali untuk merebut Dimas. Dia juga korban dari ego pria itu. Hanya bentuk lukanya berbeda.

"Kenapa kembali ke Jakarta?" tanya Naya.

"Pekerjaan. Aku menangani proyek restrukturisasi di perusahaan keluarga." Nadira berhenti sejenak. "Dan ada masalah keluarga yang tidak bisa kuhindari."

Mata Nadira berubah saat menyebut keluarga.

Naya mengenali perubahan itu.

Itu mata seseorang yang sedang menahan beban terlalu lama.

"Masalah serius?"

"Belum perlu dibahas."

Naya mengangguk. Dia tidak memaksa.

Nadira menatapnya. "Aku dengar kamu menikah dengan Arga Kusumaatmaja."

"Beritanya terlalu ramai untuk tidak didengar."

"Kamu baik-baik saja?"

Pertanyaan itu membuat Naya hampir tersenyum. Banyak orang bertanya tentang pernikahannya dengan nada ingin tahu, iri, atau mencibir. Nadira adalah orang pertama di luar rumah Arga yang bertanya seperti itu.

"Aku masih hidup."

"Itu standar yang rendah."

"Kadang cukup."

Nadira mengangguk pelan seolah memahami.

"Arga bukan pria mudah," kata Nadira. "Tapi dari yang kudengar, dia bukan Dimas."

"Kamu mengenalnya?"

"Tidak langsung. Dunia bisnis Jakarta kecil. Semua orang tahu Arga. Dingin, kejam di meja negosiasi, tapi tidak pernah bermain kotor pada perempuan. Itu sudah nilai plus langka."

"Standarmu juga rendah."

"Aku pernah bersama Dimas. Standarku sempat rusak."

Kali ini Naya yang tertawa pelan.

Nadira tersenyum. "Aku tidak datang untuk menjadi temanmu. Itu terlalu aneh."

"Memang."

"Aku hanya ingin memastikan kamu tahu, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Dimas. Kalau dia memakai namaku untuk mengganggumu, abaikan saja. Atau pukul lagi. Aku tidak keberatan."

"Aku sedang mengurangi kegiatan memukul orang."

"Sayang sekali. Video itu cukup memuaskan."

Naya menatapnya.

Nadira mengangkat bahu. "Maaf. Tapi melihat Dimas dipukul setelah bertahun-tahun merasa dirinya pusat dunia... itu menyenangkan."

"Kamu menyimpan dendam."

"Aku manusia."

"Benar."

Mereka diam lagi, tapi kali ini tidak kaku.

Ponsel Naya bergetar. Pesan dari Arga.

Arga: Rapatmu selesai?

Naya: Sedang bertemu seseorang.

Arga: Dimas?

Naya menatap layar, lalu mengetik.

Naya: Mantannya.

Tidak sampai lima detik.

Arga: Aku perlu khawatir?

Naya: Harusnya aku yang bertanya begitu.

Arga: Aku khawatir pada semua orang yang pernah berhubungan dengan Dimas.

Naya: Jawabanmu benar.

Arga: Aku belajar cepat.

Naya menahan senyum.

Nadira memperhatikannya. "Suamimu?"

"Ya."

"Kamu tersenyum."

Naya langsung menurunkan ponsel. "Tidak."

"Aku melihat."

"Orang-orang hari ini terlalu sering melihat hal yang tidak ada."

Nadira tertawa kecil. "Baiklah."

Pertemuan itu berakhir setengah jam kemudian. Nadira menolak diantar. Dia berkata sopirnya menunggu di dekat gedung. Sebelum pergi, dia menatap Naya dengan ekspresi lebih serius.

"Kalau suatu hari aku meminta bantuanmu, mungkin itu bukan hal kecil."

Naya memegang tasnya. "Kalau aku bisa membantu tanpa mengorbankan hidupku, aku akan pertimbangkan."

"Jawaban yang jujur."

"Aku tidak sedang melamar jadi malaikat."

"Bagus. Aku tidak percaya malaikat di Jakarta."

Mereka berpisah di depan coffee shop.

Naya masuk ke mobil. Sopir kantor sudah menunggu karena hari itu mobil pribadinya dibawa servis. Saat mobil bergerak, dia melihat dari kaca spion Nadira masih berdiri di trotoar, menatap ponselnya dengan wajah berubah tegang.

Seseorang meneleponnya.

Naya tidak tahu siapa.

Tapi dia tahu ekspresi itu.

Ekspresi orang yang mendapat kabar buruk dan tidak boleh panik di tempat umum.

Malamnya, Naya menceritakan pertemuan itu pada Arga.

Mereka duduk di balkon kamar. Arga dengan teh hangat, Naya dengan laptop yang akhirnya ditutup setelah Arga menatapnya terlalu lama.

"Jadi Dimas memakai Nadira sebagai pengganti perempuan lain?" tanya Arga.

"Begitu katanya."

"Pria itu lebih rusak daripada perkiraanku."

"Aku juga baru tahu masih ada ruang lebih rendah."

Arga menatapnya. "Kamu tidak terganggu bertemu Nadira?"

"Kenapa harus?"

"Sebagian orang akan cemburu."

"Pada perempuan yang juga korban Dimas? Tidak."

"Kamu terlalu rasional."

"Itu keluhan?"

"Itu kekaguman."

Naya menatapnya sebentar. "Kamu mudah sekali memuji."

"Aku hanya mengatakan fakta."

"Fakta menurutmu."

"Fakta yang bisa kupertanggungjawabkan."

Angin malam bertiup pelan. Dari balkon, lampu taman terlihat hangat. Untuk sesaat, dunia terasa tidak terlalu berisik.

Lalu ponsel Naya bergetar.

Pesan dari nomor tidak dikenal.

Isinya foto lama Dimas dan Nadira, diikuti kalimat:

Istri baru Arga Kusumaatmaja ternyata masih sibuk mengurus mantan suaminya dan mantan pacar mantannya. Mau kami unggah?

Naya menatap layar.

Arga melihat perubahan wajahnya. "Apa?"

Naya menyerahkan ponsel.

Arga membaca pesan itu. Matanya berubah dingin.

"Deepfake, gosip, ancaman. Cepat juga mereka bergerak," kata Naya.

Arga menatapnya. "Boleh aku urus?"

Naya mengambil kembali ponselnya.

"Tidak."

"Naya."

"Aku yang jadi target. Aku ingin tahu siapa yang memulai."

Arga diam sebentar.

Lalu dia berkata, "Baik. Tapi kali ini aku ikut menunggu di sampingmu."

Naya menatapnya.

Dia tidak berkata akan mengambil alih.

Dia berkata akan menunggu di sampingnya.

Perbedaannya cukup besar untuk membuat Naya mengangguk.

"Baik."

1
WHATEA SALA
Betul....baru ketemu keluarga sudah di jadikan alat tukar,sementara orang lain merawat dengan tulus,klu gitu gak perlu lagi keluarga kandung
Lilik 383
aku meweqq😭😭
Lilik 383
sy selalu suka percakapannya
setiap pemeran memiliki karakternya kuat .
authornya the best
sukensri hardiati
masih bingung aku....siapa sih anaknya maya...? sekar...?...kinan...?...naya...? sekar dan naya kan sepupu...
sukensri hardiati
rafi yg ini beda dengan rafi di perusahaan kosmetik ya....ada juga laras pengacara naya sama laras mantan dimas yg dah meninggal...
sukensri hardiati
binguuung....mana nama ibunya berubah....ratna adisatria apa maya adisatria...
sukensri hardiati
👍
Trisna Yogantari05
membaca karya mu seperti melihat cara robot bercerita, tapi aku suka😍
ina
best citanya😍😍😍
Hariyanti
cerita yg menarik dgn ungkapan kata yg sederhana dan datar tp seringkali bikin gemes dan baper🤗🤗🤗🤗😘😘
Permata_tanty
maaf thor bukannya pasangannya rendra aurelia ya knpa jd aisha
Hariyanti
pasangan aneh🤦🤦🤦 harus ijin dulu hanya untuk menyebut status😏
Hariyanti
aku bingung loh🤦🤦🤦
Hariyanti
asli...part ini bikin baper🥰 sederhana dan bisa bikin hati ikut tersenyum 👍👍👍
vitrienoor99
udah tamatkan kk
vitrienoor99
Arga ma naya bikin anaknya kapan ya, kan mereka berdua sibuk kerja terus🤣🤣, tau tau udah positif garis dua😄
vitrienoor99
ternyata rumit ya orang orang kaya itu
Zaenab 1122
ak masih blom ngerti sama posisi kinan
Siti Nurani
mantap 🤣😄😄😄😄
Zareenakim🥰
Naya kapan romantisnya bersama arga, kok pada sibuk sm urusan org sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!