(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Kedatangan tamu tak terduga
Tidak ada yang langsung membalas, bahkan Herman yang biasanya paling pandai menyelamatkan keadaan hanya bisa mengencangkan rahangnya sambil menahan perubahan ekspresi di wajahnya.
Raka sendiri tetap duduk tenang di tempatnya, tatapannya tidak menunjukkan kemenangan ataupun kepuasan, seolah pembicaraan tentang dirinya hanyalah sesuatu yang jauh dan tidak terlalu penting.
Hal itu justru membuat Herman semakin tidak nyaman, sorot mata pria paruh baya itu perlahan bergeser pada keponakannya. Untuk pertama kalinya sejak Raka kembali, ia benar-benar mencoba membaca sosok yang selama ini dianggap sudah tersingkir dari keluarga besar Pradipta.
Kevin terlihat menundukkan wajah beberapa saat sebelum akhirnya merapikan jasnya pelan. Meski berusaha tampak senormal mungkin, jemarinya terlihat sedikit gemetar ketika menyentuh gelas di hadapannya.
Selina menangkap itu dan tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis.
Sementara di sisi lain, Tuan Rendra menghela napas panjang lalu duduk perlahan. Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibanding beberapa menit sebelumnya.
“Audit internal dimulai hari ini,” ucapnya datar tanpa menatap Herman maupun Kevin. “Semua transaksi akan diperiksa ulang.”
Ucapan itu membuat udara terasa semakin berat.
“Dan sampai semuanya selesai,” lanjutnya tenang, “Kevin tidak akan memegang proyek manapun.”
Kevin langsung mengangkat wajahnya cepat, tetapi sebelum sempat berbicara, Herman lebih dulu membuka suara dengan nada tertahan.
Ekspresi Tuan Rendra tidak berubah sedikit pun, tatapan dinginnya membuat siapa pun sadar bahwa keputusan itu tidak sedang membuka ruang negosiasi.
Di tengah ketegangan itu, Raka justru perlahan berdiri dari kursinya, pergerakannya sederhana, tetapi cukup membuat semua perhatian beralih kepadanya.
“Aku permisi dulu,” ucapnya tenang.
Nyonya Shanum langsung menoleh cepat dengan ekspresi sedikit panik, seolah takut putranya kembali pergi tanpa kabar.
Namun Raka menatap ibunya pelan lalu tersenyum kecil, senyum sederhana yang membuat wanita itu sedikit tenang.
“Aku hanya mau melihat sekitar rumah,” ujarnya pelan.
Tanpa menunggu jawaban panjang, Raka berjalan keluar dari ruang makan.
Lorong mansion terasa sunyi ketika langkahnya menggema pelan di atas lantai marmer, potret keluarga yang tergantung di dinding menyambutnya satu per satu, beberapa di antaranya masih menampilkan dirinya saat remaja, berdiri tegak dengan ekspresi dingin khas keluarga Pradipta.
Raka berhenti di depan salah satu bingkai, foto lama itu memperlihatkan dirinya berdiri di samping Tuan Rendra dan Nyonya Shanum, lengkap dengan jas mahal dan tatapan penuh percaya diri.
Untuk beberapa detik ia hanya diam, wajah itu terasa seperti orang lain, dulu ia begitu yakin bisa meninggalkan semua ini demi cinta.
Dulu ia percaya bahwa kesederhanaan bersama orang yang dicintai akan terasa cukup. Namun sekarang, setelah semua kenyataan yang menghantam perasaannya, ia perlahan mengubur perasaannya itu.
Raka menghembuskan napas pelan lalu berjalan menuju balkon belakang mansion, udara pagi menerpa wajahnya, jauh berbeda dengan sempit dan panasnya rumah kecil tempat ia tinggal selama bertahun-tahun.
Tangannya masuk ke saku celana, tetapi gerakan itu membuatnya berhenti sesaat. Tidak ada lagi daftar belanja, tidak ada pesan tuntutan uang, tidak ada bentakan.
Entah sejak kapan hidupnya terbiasa dipenuhi tekanan sampai ketenangan seperti ini terasa asing di hidupnya, di belakangnya, langkah kaki perlahan mendekat.
Selina berhenti beberapa meter darinya sambil menyandarkan tubuh pada pintu balkon. Tidak langsung bicara, wanita itu hanya memperhatikan punggung Raka beberapa saat.
Angin pagi membuat suasana terasa lebih tenang, tetapi ada sesuatu yang berat menggantung di antara keduanya, Raka tetap menatap taman luas di bawah sana, tatapannya kosong.
Dan untuk pertama kalinya sejak pulang, ada kelelahan yang benar-benar terlihat jelas di wajah pewaris keluarga Pradipta itu.
Selina memperhatikan Raka beberapa saat tanpa bicara, biasanya pria itu selalu terlihat sulit disentuh, terlalu dingin untuk menunjukkan apa pun di wajahnya. Namun pagi itu berbeda, ada kelelahan yang begitu jelas meski berusaha disembunyikan.
Wanita itu akhirnya melangkah mendekat perlahan, berhenti tidak terlalu jauh dari sisi Raka sambil ikut memandang taman belakang mansion yang luas.
“Kau masih belum terbiasa ya?” tanyanya pelan.
Raka tersenyum tipis tanpa benar-benar terlihat tersenyum. “Aku bahkan lupa rumah ini sebesar apa.”
Selina terkekeh kecil, tetapi ekspresinya segera kembali serius. “Bukan rumahnya,” ucapnya lirih. “Ini soal hidupmu.”
Kalimat itu membuat Raka terdiam, angin pagi kembali berhembus pelan, membawa aroma rumput basah dan bunga yang tertata rapi di taman.
Raka menundukkan pandangannya beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
“Jujur saja,” tanyanya pelan.
Selina mengangguk kecil.
“Aku lelah.”
Jawaban itu keluar begitu saja, sederhana tetapi terasa jauh lebih berat daripada apa pun, Raka mengusap wajahnya kasar lalu menyandarkan tubuh pada pagar balkon.
“Selama ini aku pikir semua bakal berubah kalau aku cukup sabar,” lanjutnya lirih. “Aku pikir selama aku bekerja lebih keras, lebih mengalah, lebih mengerti... semuanya bakal baik-baik saja.”
Tatapannya kosong menatap kejauhan. “Tapi ternyata tidak ada yang berubah.”
Untuk beberapa detik Selina tidak menjawab, ia hanya diam sambil memperhatikan pria di sampingnya, sudah lama sekali ia tidak melihat Raka berbicara sejauh ini tentang dirinya sendiri.
“Kenapa kau tidak pernah pulang?” tanyanya akhirnya dengan suara lebih pelan. “Setidaknya untuk melihat kondisi Tante Shanum?”
Raka tersenyum pahit. “Karena aku terlalu malu,” jawaban jujur itu membuat Selina sedikit terdiam.
“Aku meninggalkan rumah dan bilang kalau aku pasti bisa hidup bahagia tanpa semua ini,” lanjut Raka pelan. “Kalau aku pulang setelah hidup berantakan seperti ini... rasanya seperti mengakui jika Papa memang benar.”
Rahangnya mengeras sesaat sebelum kembali rileks. “Dan semakin lama aku bertahan, semakin susah untuk pulang.”
Selina memalingkan wajah beberapa detik, seolah menahan sesuatu sebelum akhirnya kembali menatapnya.
“Kau terlalu bodoh Raka, aku benar-benar mencintaimu, kenapa kau memilih wanita jalang seperti dia,” ucap Selina dengan kesal.
Raka melirik sekilas sambil terkekeh pelan.
Selina menarik napas pendek. “Setidaknya sekarang kau sudah pulang.”
Di bawah sana, beberapa pelayan mulai terlihat sibuk menata taman. Mansion besar itu perlahan hidup kembali setelah pagi yang menegangkan.
Bayangan tentang Rasti yang masih berputar di kepalanya seperti pecahan kaca yang belum selesai ia susun rapih.
Raka menutup matanya sesaat, entah kenapa, bukannya marah ia justru terasa mati rasa, tepat ketika suasana kembali tenang, suara langkah cepat terdengar dari belakang.
Jack muncul dengan ekspresi serius, sesuatu yang jarang terlihat bahkan sejak pagi tadi.
“Tuan muda,” panggilnya hati-hati.
Raka langsung menoleh. “Ada apa?”
Jack mengangguk pelan. “Tuan Rendra meminta Tuan segera ke ruang kerja.”
Ekspresinya berubah sedikit lebih serius.
“Direksi utama datang mendadak. Dan...” Jack berhenti sesaat sebelum melanjutkan, “mereka meminta bertemu langsung dengan tuan muda.”
Udara pagi yang semula terasa tenang mendadak berubah lebih berat, Selina langsung melipat tangan di dada sambil menghela napas pendek.
“Cepat juga mereka,” gumamnya pelan.
Sementara itu, Raka hanya berdiri diam beberapa detik, tatapannya perlahan berubah, Kelelahan di wajahnya belum hilang sepenuhnya, tetapi ada sesuatu yang mulai kembali muncul di sorot matanya.
Sosok Raja yang dulu sebelum mengenal Rasti. Hal itu, membuat Jack menelan ludahnya pelan, sorot mata yang selama ini hilang telah kembali.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km