🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9. Pesan dari Melisa
Pagi di pedesaan Garut selalu datang bersama udara dingin yang mengigit pelan kulit. Kabut tipis masih menggantung di antara hamparan sawah yang membentang luas di belakang rumah yang dihuni oleh Galang dan Sekar. Ayam-ayam milik tetangga mulai berkokok bersahutan. Dari kejauhan terdengar suara motor tua melintas pelan membawa keranjang sayur, bercampur suara sandal ibu-ibu yang baru pulang dari pasar sambil mengobrol ringan di pinggir jalan.
Jam dinding di dapur baru menunjukkan pukul enam pagi.
Sekar berdiri di depan kompor dengan rambut yang di sanggul sederhana oleh jepitan rambut berwarna merah marun. Uap hangat mengepul dari wajan di hadapannya. Jemarinya bergerak pelan menumis brokoli dan potongan ayam yang tadi subuh sudah ia cuci bersih. Aroma bawang putih dan minyak wijen memenuhi dapur kecil itu.
Matanya tampak sembab.
Semalam ia tidur terlalu larut.
Atau lebih tepatnya...tidak benar-benar tidur.
Pesan singkat dari seseorang bernama Melisa terus berputar di kepalanya.
Good night A Galang ☺️
Hanya tiga kata sederhana dan sebuah emoticon tersenyum. Namun entah kenapa terasa mengganjal di dada.
Sekar menunduk pelan sambil membalik tumisan. Bibirnya berusaha tersenyum kecil menertawakan dirinya sendiri.
Mungkin memang hanya teman kerja.
Galang seorang dokter. Wajar jika banyak perempuan mengenalnya. Lagipula, siapa dirinya sampai berhak cemburu?
Bukankah pernikahan ini terjadi karena permintaan terakhir Bu Rahman?
Perempuan itu mengembuskan napas perlahan.
Apa pun alasan Galang menikahinya, Sekar tetap berutang banyak pada almarhumah Bu Rahman. Jika bukan karena wanita tua itu, mungkin sampai sekarang ia tidak akan pernah dipertemukan kembali dengan orang tua kandungnya.
Maka setidaknya...
Sekar ingin menjadi istri yang baik.
Walaupun kadang hatinya terasa sesak sendiri.
Ia mematikan api kompor, lalu buru-buru membuka ponsel yang sejak tadi menampilkan tutorial memasak telur omelette apa restoran. Berkali-kali ia mengulang video yang sama sejak subuh.
"Kalau dilipatnya terlalu cepat nanti pecah..."
Sekar bergumam pelan sendiri.
Dengan hati-hati ia menuang telur yang sudah dikocok ke atas pan anti lengket. Tangannya sedikit gemetar saat mencoba melipat bagian tengah omelette itu seperti yang ada di video.
Sedikit sobek.
Sekar langsung mengerucutkan bibir kecewa.
"Aduh..."
Namun beberapa menit kemudian ia berhasil membuat bentuk yang lumayan rapi. Tidak sempurna memang, tapi cukup cantik menurutnya.
Diam-diam ada rasa puas kecil di hati Sekar.
"A Galang itu suka telur." Kata Teh Mila kemarin sore lewat pesan teks.
Mungkin pria itu akan senang.
Pikiran itu membuat sudut bibirnya naik tipis sebelum akhirnya kembali turun perlahan saat bayangan nama Melisa kembali muncul di kepala.
Sekar segera menepis pikirannya.
Ia mengambil piring-piring dari rak lalu mulai menata sarapan di meja makan. Nasi putih hangat, tahu goreng, tumis brokoli ayam, dan omelette yang ia beri sedikit saus tomat membentuk garis sederhana di atasnya.
Pagi itu meja makan tampak hangat.
Sehangat rumah-rumah desa lain yang mulai dipenuhi aktivitas pagi.
Dari balik jendela dapur, Sekar bisa melihat Galang tengah menyapu halaman rumah.
Pria itu mengenakan sarung kotak-kotak dan kaus cokelat lusuh yang tampak longgar di tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan terkena angin pagi.
Galang menyapu halaman dengan tenang sambil sesekali berhenti menyapa warga yang lewat.
"Berangkat, Pak Haji?" sapa Galang pada seorang lelaki tua yang memanggul cangkul menuju sawah.
"Iya, Lang. Tumben libur pagi?"
"Masuk sift malam nanti."
"Oh begitu."
Tak lama dua anak SD melintas sambil tertawa-tawa.
"Pagi Aa dokter!" seru mereka.
Galang tersenyum kecil sambil mengangguk.
"Hati-hati jalannya."
Seorang ibu-ibu yang baru pulang dari pasar juga sempat berhenti di depan pagar membawa kantong plastik besar berisi sayuran.
"Mau nitip mangga nanti sore, Lang. Pohon belakang lagi banyak buahnya."
Galang terkekeh pelan. "Siap, Bu."
Sekar memandangi semua itu dalam diam.
Apakah pria itu selalu seperti ini? Tenang, ramah, disukai banyak orang.
Sederhana.
Tidak pernah terlihat seperti dokter yang bekerja di rumah sakit besar. Dan entah kenapa, semakin melihat Galang itu seperti itu, dada Sekar justru semakin terasa penuh.
Karena semakin baik Galang, semakin takut ia kehilangan. Sekar cepat-cepat mengalihkan pandangan lalu melepas celemeknya.
"A...sarapan dulu..." gumamnya pelan sebelum melangkah keluar dari dapur.
Namun langkahnya terhenti begitu melewati ruang tamu.
Bzzzttt...
Ponsel Galang yang tergeletak di atas meja bergetar pelan. Sekar refleks menoleh, ponsel itu menyala terang dan nama itu lagi.
Melisa.
Jantung Sekar mendadak berdetak lebih cepat.
Panggilan masuk.
Sekar menatap layar itu tanpa bergerak. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.
Panggilan itu berhenti.
Namun beberapa detik kemudian layar kembali menyala menampilkan pesan baru.
[ Belum bangun ya, A? ]
Napas Sekar tercekat kecil.
"A..." gumamnya.
Sekar mematung.
Cara perempuan itu memanggil Galang terdengar lebih dekat. Begitu akrab. Seolah sudah terbiasa.
Sekar menunduk pelan.
Tiba-tiba ia merasa asing di rumahnya sendiri.
Padahal tadi pagi ia bangun sebelum subuh untuk memasak. Belajar membuat omelette agar Galang senang.
Memikirkan menu sarapan kesukaan pria itu.
Sementara ada perempuan lain yang menghubungi suaminya begitu pagi.
Jari Sekar bergerak pelan mendekati ponsel itu. Namun belum sempat menyentuhnya, suara langkah sandal terdengar dari luar.
Sekar buru-buru menarik tangannya.
Galang masuk sambil membawa satu buah mangga yang jatuh dari pohonnya semalam.
"Kok berdiri di sini?"
Sekar tersentak kecil lalu menoleh cepat.
"Eh...itu... sarapannya udah siap, A."
Galang mengangguk sambil menyodorkan buah mangga itu kepada Sekar.
"Kayanya semalam jatuh, tapi kelihatannya nggak busuk." Ucapnya.
Sekar meraih buah mangga tersebut dari tangan Galang.
"Aku cuci tangan dulu."
Pria itu sama sekali belum melihat ponselnya.
Sekar memandangi Galang yang berjalan menuju kamar mandi belakang. Tatapannya perlahan turun ke ponsel yang masih menyala redup di meja.
Pesan dari Melisa masih terlihat jelas. Entah kenapa tenggorokannya terasa pahit. Padahal belum tentu ada hubungan apa-apa.
Belum tentu Galang menyembunyikan sesuatu.
Namun hati perempuan memang aneh. Kadang bisa terluka hanya dari satu nama yang muncul di layar ponsel. Sekar memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berjalan menuju meja makan.
Ia menarik kursi pelan lalu duduk sambil merapikan ujung taplak yang sebenarnya sudah rapi.
Beberapa menit kemudian Galang datang dan langsung duduk di hadapannya. Pria itu terlihat segar setelah mencuci muka.
Pandangan Galang jatuh pada telur omelette di piring. Alisnya sedikit terangkat.
"Kamu bikin ini?"
Sekar mengangguk kecil.
"Belajar tadi subuh."
Galang memotong sedikit omelette itu lalu memasukkannya ke mulut. Sekar diam-diam memperhatikan wajah suaminya dengan jantung berdebar kecil menunggu komentar.
"Hm."
Galang mengunyah pelan lalu menatap Sekar.
"Enak."
Hanya satu kata sederhana.
Namun itu cukup membuat hati Sekar menghangat.
Keduanya menikmati sarapan sederhana tanpa perbincangan. Sesekali Sekar tersenyum kecil kala melihat Galang menambah nasi, itu artinya Galang menyukai pasakan yang ia sediakan.
Tepat saat mereka tengah menikmati sarapan ponsel Galang berdering di meja ruang tamu. Dan mereka berdua sama-sama mendengarnya.
.
.
.
Hai...
Apa kabar?
Jangan lupa like, komen, vote, subscribe dan bintang limanya 🫶
Eh eh jangan lupa follow ya😉
Bersambung...