"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9. Pembagian Wilayah yang mendebarkan
Hari kepindahan itu akhirnya tiba. Dua mobil boks besar terparkir di depan sebuah rumah kontrakan dua lantai bercat putih gading di kawasan pinggiran kota. Rumah itu cukup luas, dengan pekarangan kecil di bagian depan yang ditumbuhi pohon mangga rindang.
Bagi Rayhan dan Ameera, hari ini adalah babak baru yang seru menuju pernikahan mereka. Namun bagi Imam dan Habibah, melangkahi ambang pintu rumah ini rasanya seperti berjalan masuk ke dalam sangkar besi yang penuh dengan jerat kenangan.
"Kardus-kardus baju Ibu taruh di kamar sebelah kanan ya, Mas," instruksi Rayhan kepada petugas pindahan, sementara ia sendiri memanggul sebuah lemari plastik.
Ameera sibuk mengarahkan kardus buku-buku ayahnya. "Kalau yang ini masuk ke kamar sebelah kiri, dekat jendela depan!"
Lantai satu rumah kontrakan itu memiliki dua kamar tidur utama yang posisinya saling berhadapan, hanya dipisahkan oleh koridor ruang tengah yang rencananya akan diisi televisi dan sofa santai. Desain ini seketika membuat Imam dan Habibah lemas. Itu artinya, setiap kali mereka membuka pintu kamar, pemandangan pertama yang akan mereka lihat adalah pintu kamar satu sama lain.
Imam melangkah masuk ke kamarnya yang masih berantakan. Ia menghembuskan napas panjang, bersandar pada kusen jendela. Dari posisinya berdiri, ia bisa melihat pantulan bayangan Habibah di kaca jendela seberang yang sedang menyeka keringat di dahinya.
‘Tiga puluh tahun terpisah, sekarang jarak kami tidak sampai lima meter,’ batin Imam, dadanya bergemuruh hebat.
Malam harinya, setelah seluruh proses bongkar muat selesai, rumah kontrakan itu mulai terasa hidup. Aroma mi instan rebus dengan irisan cabai rawit, menu darurat andalan pindahan rumah menguar dari dapur, hasil racikan Ameera dan Rayhan.
Mereka berempat duduk lesehan di ruang tengah di atas karpet bulu yang baru digelar.
"Wah, lelah sekali hari ini, tapi seru!" seru Ameera sambil menyuap mi instan dari mangkuknya. "Pa, dicicipi mi-nya, nanti keburu dingin."
Imam mengangguk, mengambil mangkuknya. Namun, fokusnya buyar saat melihat Habibah yang duduk agak menyamping di dekat sudut ruangan. Wanita itu tampak canggung, hanya mengaduk-aduk mi di mangkuknya tanpa benar-benar memakannya.
"Ibu, dimakan dong. Capek lho dari pagi belum makan nasi," tegur Rayhan lembut.
"Iya, Ray. Ini Ibu makan," bisik Habibah, memaksakan senyum. Saat mendongak, matanya tidak sengaja beradu dengan mata Imam.
Imam yang melihat Habibah tampak pucat dan kelelahan, secara refleks menggeser segelas air putih hangat yang ada di dekatnya ke arah Habibah. "Diminum dulu air hangatnya, Jeng Habibah. Biar badannya agak enakan setelah lelah seharian."
Sentuhan formal "Jeng Habibah" itu diucapkan Imam dengan nada yang begitu lembut, nada perhatian yang tidak bisa disembunyikan.
Deg.
Habibah tertegun. Ia menerima gelas itu, jemarinya sempat bersentuhan dengan ujung jari Imam selama sedetik. Sentuhan singkat yang rasanya seperti sengatan listrik, mengirimkan debaran gila yang membuat lutut Habibah lemas.
"T-terima kasih, Mas Imam," jawab Habibah lirih, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah yang mendadak membakar pipinya.
---
Pukul dua dini hari. Rumah kontrakan itu sudah sunyi senyap. Rayhan dan Ameera yang tentu saja tidur di kamar terpisah sebelum sah, sudah terlelap karena kelelahan.
Namun tidak dengan Imam. Pria paruh baya itu telentang di ranjangnya, menatap langit-langit kamar yang asing. Tenggorokannya terasa kering dan haus. Akhirnya, dengan hanya mengenakan kaos oblong putih dan sarung kotak-kotak, Imam membuka pintu kamarnya perlahan, berniat ke dapur untuk mengambil air minum.
Klek.
Tepat saat Imam melangkah keluar, pintu kamar di hadapannya terbuka.
Sesosok wanita dengan daster rumahan longgar dan jilbab instan hitam keluar dari sana. Itu Habibah. Tampaknya wanita itu juga terbangun karena kehausan atau tidak bisa tidur.
Di bawah remang-remang lampu koridor lantai satu, kedua manusia paruh baya itu membeku di tempat masing-masing. Jarak mereka hanya dua langkah. Keheningan malam yang pekat mendadak terasa begitu intim dan menyesakkan.
Imam menatap Habibah tanpa berkedip. Dalam balutan pakaian rumahan yang sederhana seperti ini, Habibah terlihat persis seperti gadis yang dulu selalu ia impikan untuk ditemui setiap kali bangun tidur. Rasa cinta, rindu, dan hasrat terpendam selama tiga puluh tahun seolah mendesak keluar dari dada Imam, meruntuhkan semua janji "tembok tebal" yang sempat mereka sepakati di telepon.
Habibah meremas botol air kosong di genggamannya. Jantungnya berdentum begitu keras di keheningan malam, sampai ia takut suaranya bisa membangunkan anak-anak di lantai atas.
"M-Mas Imam... mau ke dapur?" bisik Habibah memecah kesunyian, suaranya gemetar menahan lemas.
Imam melangkah satu kali ke depan, memotong jarak di antara mereka. Sorot matanya begitu dalam dan mengunci lekat manik mata Habibah.
"Iya, Bah. Aku haus. Kamu juga tidak bisa tidur?" tanya Imam parau, suaranya rendah namun sarat akan getaran emosi yang tertahan.
Habibah tertegun, genggamannya pada botol kosong semakin mengerat hingga plastik itu mengeluarkan bunyi derit halus. Pertanyaan Imam yang terlampau lirih itu justru terdengar seperti tuntutan di telinganya.
"Aku... aku mau ambil air, Mas," jawab Habibah terbata-bata, sengaja mengalihkan pandangan dari dada tegap Imam yang hanya terbalut kaos oblong.
"Biar aku ambilkan. Kamu tunggu di sini," potong Imam cepat.
Tanpa menunggu persetujuan, Imam mengambil alih botol plastik dari tangan Habibah. Ujung jemari mereka kembali bersentuhan, kali ini lebih lama. Dinginnya telapak tangan Habibah sangat kontras dengan sapuan hangat dari kulit Imam. Sentuhan itu seketika mengirimkan gelombang lemas yang membuat Habibah terpaksa bersandar pada daun pintu kamarnya agar tidak limbung.
Imam melangkah ke dapur yang hanya berjarak beberapa meter di sudut koridor. Di bawah temaram lampu meja makan, ia mengisi botol milik Habibah dan satu gelas untuk dirinya sendiri. Tangannya yang biasa kokoh saat menandatangani berkas proyek, malam ini bergetar hebat hanya karena menuangkan air putih.
“Bukan hanya pernah, Bah. Tapi sampai saat ini.” Kalimat yang tempo hari hanya berani ia gaungkan di dalam hati, malam ini mendadak mendesak ingin dilontarkan. Kehadiran fisik Habibah yang begitu nyata di dalam rumah yang sama benar-benar mengikis kewarasan paruh bayanya.
Imam kembali ke koridor, mengulurkan botol yang sudah penuh. Habibah menerimanya dengan gumaman terima kasih yang nyaris tak terdengar. Namun, alih-alih langsung berbalik masuk ke kamar, kedua manusia paruh baya itu justru memaku kaki mereka di atas lantai tegel yang dingin.
"Mas..." lirih Habibah akhirnya, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap lurus ke manik mata Imam. "Tembok yang kita janjikan... kenapa rasanya runtuh bahkan sebelum semen rumah baru kita diaduk?"
Imam memejamkan mata sesaat, meresapi kepedihan dari kalimat Habibah. Ia maju selangkah lagi, memangkas jarak hingga aroma melati sabun mandi Habibah terhirup jelas di indra penciumannya.
"Karena kita membohongi takdir, Bah," bisik Imam parau, suaranya sarat akan rasa frustasi. "Kita berpura-pura menjadi orang tua yang bijaksana demi kebahagiaan Rayhan dan Ameera. Tapi di sini..." Imam menyentuh dadanya sendiri dengan gusar, "...ada rindu tiga puluh tahun yang menolak mati. Aku tersiksa setiap kali harus memanggilmu 'Jeng' di depan mereka."
Air mata Habibah lolos satu tetes, membasahi pipinya yang mulai berkerut halus. "Jangan katakan itu, Mas. Tolong, jangan. Ingat anak-anak... dua bulan lagi mereka menikah. Kalau kita goyah sekarang, masa depan mereka taruhannya."
"Aku tahu," Imam menghembuskan napas berat, tangannya bergerak ragu di udara, ingin sekali menghapus air mata di pipi cinta pertamanya, namun logika melarangnya dengan keras. "Aku tahu, Bah. Makanya aku minta kamu masuk kamar sekarang. Sebelum aku khilaf dan melupakan status kita sebagai calon besan."
Habibah tertegun, merasakan ketegangan emosional yang teramat pekat di antara mereka. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia membalikkan badan, membuka pintu kamarnya, dan menyelinap masuk tanpa menoleh lagi.
Klek.
Pintu tertutup. Habibah langsung menyandarkan punggungnya di balik pintu, merosot duduk di lantai sambil membekap mulutnya agar tangisnya tidak pecah dan terdengar hingga lantai atas. Di luar, Imam masih berdiri mematung di koridor yang sepi, menatap pintu kayu di hadapannya dengan hati yang hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya.
Malam pertama di rumah kontrakan sukses dilewati dengan ketegangan yang menyiksa. Mereka berdua tahu, sarapan pagi beberapa jam lagi akan menjadi panggung sandiwara yang jauh lebih berat.
****