NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 9

Prang!

Gelas itu pecah menghantam lantai. Suaranya menggema, memecah keheningan yang sebelumnya terasa menyesakkan.

Alya membeku di tempat. Tidak… tidak mungkin. Apa ia salah dengar? Pria itu… ingin menikahinya?

Tidak! Itu tidak masuk akal. Ia pasti salah menangkap ucapan tadi. Bagaimana mungkin pria itu ingin menikahinya—dirinya yang masih seperti anak-anak ini?

Ia bahkan masih duduk di bangku SMA. Perjalanannya masih panjang. Masa depannya masih terbentang luas. Mana mungkin ia harus menikah sekarang?

“Jangan bercanda, Max. Dia itu masih anak-anak. Masa kau ingin menikahi seorang anak kecil?” ucap Ella, membuat Alya refleks mengangguk setuju.

Bukan hanya Alya yang terkejut. Semua orang di ruangan itu turut dilanda keterkejutan yang sama. Bahkan kedua orang tuanya pun tak kalah terkejut.

Bagaimana bisa bujang lapuk itu justru ingin menikahi seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah?

“Max! Jangan bercanda. Kau tidak ingin disebut sebagai pedofil, kan?” bisik Isabella pelan.

Max melirik ke arah ibunya dengan tatapan datar. “Pedofil? Usianya sudah 18 tahun. Di usia itu, dia bukan anak-anak lagi, Mah. Dia itu anak-anak yang bisa membuat anak.”

Ucapan ceplas-ceplos itu membuat Ethan langsung menahan wajahnya sendiri, seolah menanggung malu atas mulut anaknya.

Dalam hati, Ethan mengutuk. Entah apa yang merasuki Max malam ini. Ke mana perginya sosok dingin yang biasanya seperti kulkas tujuh pintu itu?

“T-Tuan Max… sungguh, candaan Anda tidak lucu sama sekali… hehe…” Tyo tertawa garing, mencoba mencairkan suasana.

“Saya tidak sedang bercanda, Tuan,” jawab Max santai. “Apa Anda lupa dengan syarat yang saya ajukan? Atau Anda memang sengaja melupakannya? Tidak masalah… kalau begitu, mungkin saya juga akan melupakan bantuan saya kepada Anda.”

Nada bicaranya terdengar ringan, namun terselip ancaman yang begitu jelas.

Tyo terdiam. Pikirannya berkecamuk. Memilih anaknya… atau menyelamatkan dirinya sendiri?

Waktu yang ia miliki tidak banyak. Hanya satu hari sebelum ia benar-benar berada di balik jeruji besi.

Ia dilanda dilema yang begitu berat.

Di satu sisi, ia tidak rela melepaskan Alya menikah di usia muda. Putrinya itu masih memiliki masa depan panjang—bahkan bercita-cita menjadi dokter ternama di kota mereka.

Namun di sisi lain… bagaimana dengan dirinya?

Kepalanya terasa berat. Dunia seolah berputar. Ia oleng, hampir terjatuh.

Berbeda dengan Tyo yang kacau, keluarga Wijaya justru duduk tenang, menunggu keputusan.

Ethan bukan orang bodoh. Ia paham betul maksud Max. Melihat kondisi keluarga itu yang di ambang kebangkrutan saja sudah cukup memberi jawaban.

Karena itu, ia memilih diam dan membiarkan Max mengambil alih. Ia yakin, anaknya punya alasan memilih putri kedua keluarga Gabrielsen.

Helena meremas ujung gaunnya kuat-kuat. Kebingungan bercampur kecemasan memenuhi pikirannya.

Kenapa keluarga Wijaya tiba-tiba berubah pikiran? Apa yang sebenarnya mereka lihat?

'Aku tidak bisa membiarkan pernikahan ini batal... 'batinya panik

Meskipun bukan Ella yang mereka inginkan, setidaknya gadis itu harus menerima lamaran ini. Aku tidak bisa jatuh miskin!

Tanpa banyak bicara, Helena bangkit dan menarik tangan Alya menuju halaman belakang.

Alya terkejut. Bingung. Tarikan itu begitu kuat hingga pergelangan tangannya memerah.

“Aw… sakit, Mah! Kenapa Mama tiba-tiba narik Alya seperti ini?” keluhnya.

Helena tidak menjawab. Ia baru berhenti setelah mereka sampai di belakang rumah.

“Mama mau kamu menerima lamaran ini,” ucapnya langsung, tanpa basa-basi.

Alya melotot. “Apa?! Kenapa harus Alya?! Bukannya dari awal mereka mau melamar Kak Ella? Alya nggak mau, Mah! Alya masih sekolah… jalan Alya masih panjang!”

“Plak!”

Tamparan keras mendarat di pipinya.

“Berani kamu melawan Mama, ha?!” bentak Helena. “Ini satu-satunya cara menyelamatkan Papa kamu supaya tidak masuk penjara! Waktunya cuma tinggal satu hari lagi! Tidak ada alasan untuk kamu menolak!”

Alya terdiam, napasnya tercekat.

“Awalnya memang mereka datang untuk kakakmu,” lanjut Helena dingin. “Tapi entah kenapa mereka memilih kamu. Dan dengar baik-baik—tidak ada bedanya antara kamu dan kakakmu!”

Helena menatapnya tajam.

“Buang jauh-jauh pikiran tentang sekolah itu! Mau kamu sekolah atau tidak, kamu tetap akan menikah! Dan ingat—ini soal hidup mati Papa kamu.”

Air mata Alya jatuh tanpa bisa dibendung. Bibirnya berdarah akibat tamparan tadi.

“Kenapa…?” suaranya bergetar. “Kenapa dari dulu Mama nggak pernah adil sama Alya dan Kak Ella? Mama selalu mengutamakan Kak Ella… Mama tahu nggak apa yang Alya inginkan? Bukannya didukung, Mama justru mematahkan mimpi Alya…”

Tangisnya pecah.

“Kenapa, Mah? Kenapa?! Apa karena mereka kaya? Karena Mama takut miskin? Jadi Mama memanfaatkan ini untuk mempertahankan gaya hidup Mama dan Kak Ella yang selalu mewah itu?!”

“Cukup!” bentak Helena. “Jangan banyak drama! Kamu tidak punya hak untuk menolak! Jawaban kamu cuma satu—iya!”

Ia melangkah pergi, meninggalkan Alya sendirian.

Alya menatap kepergiannya dengan mata kosong.

Lihat… bahkan ibunya sendiri tak pernah benar-benar mengerti dirinya.

Atau mungkin… memang tidak pernah peduli.

Di pikiran wanita itu hanya ada satu nama—Ella. Selalu Ella.

Sementara dirinya? Seolah tak pernah ada.

Kenangan lama menyeruak.

Saat kecil… ketika Ella jatuh ke kolam dan hampir tenggelam. Semua orang panik. Semua orang khawatir… pada Ella.

Dan saat Ella selamat?

Alya yang disalahkan.

Ia dikurung di gudang selama dua hari. Tanpa makan. Tanpa minum.

Hanya ditemani lantai dingin dan gelapnya malam.

Sejak dulu… memang seperti itu.

Ella adalah anak emas.

Sedangkan dirinya? Tak lebih dari bayangan.

Namun… ia masih memiliki satu orang.

Tyo.

Ayahnya yang diam-diam selalu menyayanginya.

Yang selalu datang diam-diam, membawakan makanan, menghiburnya saat ia dihukum.

Tapi sekarang…

Waktu ayahnya hanya tersisa satu hari.

Apa yang harus ia lakukan?

Ia tidak ingin kehilangan ayahnya.

Namun ia juga tidak ingin kehilangan masa depannya.

Langkahnya mondar-mandir. Pikirannya kacau.

Kenangan bersama Tyo terus bermunculan. Tawa. Kebersamaan. Kasih sayang.

Air matanya kembali jatuh.

Jika… jika dengan menikah ia bisa menyelamatkan ayahnya…

Maka ia akan melakukannya.

“Huft…” Alya menarik napas panjang. “Baiklah… demi Papa.”

Ia menghapus air matanya, mencoba terlihat tegar, lalu kembali ke dalam.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Alya tersenyum pada Tyo.

“Jadi bagaimana?” tanya Max santai, melirik jam di pergelangan tangannya.

Tyo ragu. “Maafkan saya, Tuan Max. Sepertinya lamaran ini tidak bisa dilan—”

“Bisa!” potong Alya tegas. “Saya setuju dengan lamaran ini.”

“Alya!”

“Tenang, Pah,” ucapnya lembut. “Alya menerima ini dengan sadar. Alya masih ingin bersama Papa… Alya nggak mau kehilangan Papa.”

Suaranya terdengar begitu dewasa.

“Kalau ini satu-satunya cara… biarkan Alya berkorban. Lagi pula… ini hanya pernikahan, bukan perpisahan selamanya. Kita masih bisa bertemu.”

Air mata Tyo jatuh.

“Tapi, Nak… sekolah kamu…”

“Nggak masalah, Pah. Alya sudah memikirkan semuanya. Yang penting Papa selamat dulu.”

Tyo memeluknya erat, penuh haru.

Max memberi kode pada Jayden. Sebuah kotak perhiasan tambahan dikeluarkan.

“Karena sudah sepakat,” ujar Max santai, “ini tambahan dari saya. Kalau begitu, saya pamit.”

Ia pergi begitu saja.

Mengabaikan panggilan Isabella.

Wanita itu hanya menggeleng, lalu mengambil cincin dan menggantikan Max untuk memasangkannya di jari manis Alya.

1
Neng Nosita
apa yg drencanakan max? apakah pernikahan hanya dijadikan alat bagi mereka yg berkuasa?
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!