Setelah berhasil melarikan diri dari siksaan Om dan Tantenya, Bella Claudia remaja (13 tahun) tidak sengaja bertemu dengan sosok Andrew Permana (25 tahun) saat wanita itu ingin mengakhiri hidupnya di usia muda. namun Andrew menghalangi dan menolong Bella pada saat itu, pertemuan di antara mereka tersebut membuat Bella jatuh cinta kepada Andrew saat pandang pertama. hingga beranjak dewasa, tepatnya saat usia Bella menginjak 23 tahun. perasaan itu tumbuh semakin besar untuk pria yang selama 10 tahun dia panggil dengan sebutan paman Andrew tersebut, di saat wanita itu ingin melupakan perasaannya kepada Andrew tiba-tiba sebuah insiden panas di antara mereka terjadi dan membuat mereka terpaksa menikah. semenjak menikah sikap Andrew berubah dingin dan galak kepada Bella, namun wanita itu tidak menyerah dia akan membuat pria itu berbalik mengejarnya dan mencintainya pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indrie Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : pingsan dan di larikan ke rumah sakit
Pukul 5 pagi, Bella terlihat masih terbaring di atas tempat tidur miliknya. namun tiba-tiba ia merasakan gejolak dalam perutnya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. wanita itu segera bangun dari posisi tidurnya dan langsung berjalan dengan agak terburu-buru ke arah kamar mandi. sesampainya di dalam kamar mandi ia langsung memuntahkan semua isi perutnya di depan wastafel.
Hoek! Hoe! Hoek!
Sambil memegangi perutnya yang masih terlihat rata itu Bella terus memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan bening saja.
"Bisa mati aku kalo tiap hari begini terus!" Gerutu Bella dengan wajah lemas.
*****
Seperti biasa setiap pagi nya Bella akan sarapan bersama keluarga permana, namun pagi ini nafsu makan wanita itu seakan hilang. saat melihat di atas meja makan hanya tersedia nasi goreng seafood padahal itu salah satu makanan favorite Bella.
"Sumpah gak nafsu makan banget, tapi harus tetap ngisi perut karena harus bekerja." Batin Bella.
Di saat wanita itu tengah badmood karena tidak selera makan, tiba-tiba bi Sri datang menghampiri Bella dengan membawa semangkuk sup ayam tanpa nasi hal itu membuat Bella langsung tersenyum senang.
"Ini sop ayam pesanan non Bella semalam." Ucap Bi Sri.
Bi Sri terlihat langsung mengedipkan sebelah matanya sebagai kode kepada Bella untuk berakting agar orang-orang tidak curiga.
"Ehh...iya makasih bi Sri."
Bella terlihat langsung mengikuti sandiwara bi Sri padahal ia tidak pernah meminta untuk di buatkan sop ayam sebelumnya.
Semua orang awalnya menatap heran ke arah mereka berdua kini sudah mulai sibuk dengan makanan mereka masing-masing.
Tanpa basa-basi lagi Bella langsung mengambil sendok dan menyantap sayur sop yang di buat oleh bi Sri. seketika Bella dapat merasa segarnya kuah sayur sop tersebut saat masuk ke dalam tenggorokannya membuat rasa mualnya sedikit berkurang.
*****
Di kantor, siang ini Bella sedang rapat dadakan bersama seluruh manager di perusahaan milik pamannya tersebut.
di samping tempat duduknya kini telah ada sosok Bisma yang juga meeting bersama dirinya. saat semua orang fokus mendengarkan penjelasan Andrew yang sedang membahas proyek baru mereka, hanya Bella seorang terlihat tidak fokus sedari tadi kepalanya terasa sangat pusing dan tiba-tiba perutnya terasa kram.
"Ya tuhan, kenapa kepala ku begitu sakit dan perut ku terasa keram sekali." Batin Bella.
Selama meeting Bella berusaha menahan rasa pusing dan kram yang ia rasakan, Bisma yang melihat Bella seperti tidak nyaman dengan posisi duduknya pria itu langsung menoleh ke arah Bella dan berbisik pelan.
"Kamu sedang sakit?" Bisik Bisma pelan.
Bella terlihat agak terkejut setelah mendengar bisikan Bisma, namun ia tidak mau memberitahu kondisinya saat ini kepada pria itu. nantinya yang ada rahasianya akan terbongkar.
"Gak kok, aku baik-baik aja." Jawab Bella berbohong.
"Oh gitu, syukur deh kalo kamu baik-baik aja."
Meeting akhirnya telah selesai, satu persatu karyawan mulai keluar dari ruangan itu hanya tingal beberapa orang saja yang berada di dalam sana.
Bisma terlihat sudah berdiri dari posisi duduknya untuk segera keluar dari ruangan tersebut, namun ia melirik ke arah Bella yang terlihat masih duduk.
"Kamu gak mau keluar?"
Bisma terlihat menatap heran ke arah Bella, apalagi saat melihat wajah wanita itu terlihat pucat dan sedikit mengeluarkan keringat di dahi.
"Ini mau keluar kok."
Namun tanpa di sadari oleh dua orang tersebut, sedari tadi ada yang terus memperhatikan interaksi mereka yaitu Andrew dan Fatir.
"Mereka cocok banget kan kalo pacaran?"
Tiba-tiba saja Fatir mengucapkan sesuatu yang membuat Andrew langsung menatap tajam ke arahnya.
"Diam, mereka gak cocok sama sekali!. Cepat beresin dokumen ini dan kita segera keluar dari sini" jawab Andrew jutek.
Seketika mulut Fatir langsung bungkam dan tidak berani mengatakan apapun lagi tentang Bella dan Bisma.
Bella yang melihat Bisma seperti sedang menunggunya untuk keluar bersama, ia segera berdiri meski rasa pusing dan sakit yang ia rasakan semakin menjadi-jadi.
"Ayo kita keluar bersama." Ajak Bella.
Bisma terlihat mengangukan kepalanya pelan dan tersenyum ke arah Bella setelah mendengar ajakan dari wanita itu.
namun baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba kepala Bella semakin terasa sakit dan seketika ia merasa pandanganya gelap.
Bruk!
Bella langsung terjatuh ke lantai, hal itu membuat Bisma dan 2 orang yang masih ada di dalam ruangan tersebut langsung menoleh ke asal suara dengan ekspresi wajah begitu terkejut.
"Astaga, Bella kamu kenapa?"
dengan panik Bisma segera berjongkok dan langsung mengendong tubuh Bella keluar dari ruang rapat, berniat langsung membawanya ke rumah sakit.
Sementara Andrew dan Fathir terlihat masih shock dengan apa yang telah terjadi dengan Bella barusan.
"Cepat siapkan mobil, kita susul Bella ke rumah sakit." Teriak Andrew begitu panik.
"Oke siap."
*******
Saat ini pria tinggi bernama Bisma itu terus mondar mandir di depan ruang pemeriksaan, Bella baru saja memasuki ruangan tersebut dan sedang di tangani oleh dokter.
Dari kejauhan Andrew dan Fatir baru saja sampai, mereka berdua terlihat berlari pelan menghampiri Bisma yang sedang mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan.
"Apakah Bella sedang di tangani oleh dokter?" Tanya Andrew saat sudah berada di hadapan Bisma.
Melihat kedatangan sang di direktur ke rumah sakit tentu saja membuat Bisma sedikit terkejut dan menatap heran ke arah Andrew dan Fatir saat ini.
"Iya pak Andrew, Bella sedang di tangani oleh dokter di dalam." Jawab Bisma.
"Syukurlah kalo begitu."
Andrew dan Fatir terlihat lega karena Bella saat ini tengah di tangani oleh dokter.
"Dasar anak bandel pasti sakit lambungnya kumat gara-gara makan gak teratur!."
Fatir terlihat menggerutu seorang diri, namun dengan cepat Andrew langsung menyikut bahu Fatir pelan. karena pria itu seperti ingin membongkar tentang ikatan keluarga antara mereka dengan Bella di depan Bisma.
Fatir yang sadar jika ia sudah salah bicara buru-buru langsung diam seperti tidak pernah mengatakan apapun.
"Kok pak Fatir bisa tahu jika Bella memiliki penyakit lambung, apa mereka cukup dekat?" batin Bisma merasa agak aneh.
Bisma masih sangat penasaran dan berniat untuk bertanya kepada Fatir, namun suara pintu ruangan terbuka mengurungkan niat pria itu.
Kini ketiga pria yang sudah berdiri di depan pintu pemeriksaan langsung menatap ke arah sang dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Pasien masih belum sadarkan diri tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan pada keluarga pasien. Apakah di antara kalian adalah suami atau keluarga pasien?"
Dokter itu mulai menatap secara bergantian ketiga pria yang ada di hadapanya saat ini, siapa tahu di antara mereka bertiga adalah suami dari pasien.
"Maaf pak kami hanya atasan dan rekan kerja beliau, biar saya aja yang mengurus sebagai wali beliau." Ucap Andrew berbicara dengan dokter.
"Sangat di sayangkan sekali padahal suami pasien harus tahu tentang masalah ini." Jawab sang dokter dengan raut wajah agak kecewa.
Ketiga pria itu langsung mengerutkan kening mereka heran, karena sedari tadi dokter tersebut selalu membahas soal suami. padahal Bella sendiri masih lajang dan belum menikah.
"Maaf dok temen saya itu masih lajang, jika masalahnya memang serius saya akan mencoba menghubungi pihak keluarganya sekarang juga untuk datang kesini."
Bisma mulai buka suara, ia mulai menjelaskan kepada sang dokter jika Bella itu masih lajang.
"Pasien masih lajang?, tapi saat ini ia tengah hamil muda loh!"
Sang dokter terlihat begitu shock karena pasien yang tengah hamil tersebut ternyata belum menikah.
APA? BELLA HAMIL?! pekik ketiga pria itu bersamaan.
Andrew, Fatir dan Bisma seakan tidak percaya jika Bella tengah hamil muda saat ini seperti yang di sampaikan dokter.
Dokter itu refleks menutup kedua telinganya saat suara pekikan ketiga pria di hadapanya tersebut cukup kencang.
"Dokter serius jika Bella sedang hamil saat ini?"
Seakan tidak percaya Fatir bertanya kembali kepada sang dokter.
"Saya sangat serius, usia kandungannya sudah mamasuki 6 minggu" Beritahu sang dokter.
Fatir begitu shock sama seperti yang lain, namun sikap Fatir lebih lebay. saat ini ia langsung terduduk di atas kursi tunggu dengan tatapan kosong setelah mengetahui kehamilan Bella.
Diam-diam Andrew mengepalkan tanganya kuat dan menatap ke arah Bisma dengan tajam. Ia sangat marah saat mengetahui jika Bella tengah hamil saat ini, setahu Andrew akhir-akhir ini wanita itu hanya sedang dekat dengan satu pria saja.
"Tir, tolong urus Bella dulu ada yang ingin gua bicarakan sama Bisma."
Saat ini Andrew tiba-tiba mengunakan bahasa non formal dengan Fatir, pria itu menyuruh Fatir untuk menjadi wali Bella dan mendengarkan semua penjelasan dari sang dokter.
"Ok, gua bakalan urus Bella. Lo jangan terlalu emosi." Ucap Fatir sembari menepuk bahu Andrew pelan.
Fatir sangat tahu betul apa yang akan di bicarakan oleh Andrew kepada Bisma, ia hanya mengingatkan saja agar pria itu tidak terlalu emosi dan memukul Bisma dengan membabi buta nantinya.
Setelah Fatir mengikuti sang dokter masuk ke dalam ruangan, kini Andrew mulai menatap dingin dan tajam ke arah Bisma yang terlihat sedang bengong seperti orang bodoh. sepertinya pria itu masih sangat shock dengan berita kehamilan Bella barusan.
"Ayo kita keluar, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." Ajak Andrew.
Seakan tersadar jika ada yang mengajaknya berbicara, Bisma langsung menoleh ke asal suara itu.
"Iya ayo pak." Sahut Bisma.
Kini Andrew dan Bisma mulai berjalan keluar dari area rumah sakit menuju halaman, Bisma tidak merasa curiga sama sekali tiba-tiba bos nya itu mengajaknya keluar untuk berbicara. karena pikirannya saat ini tengah tertuju kepada Bella, Bisma masih belum percaya jika Bella tengah hamil saat ini.
Kini pria itu mulai berpikir jika sebenarnya Bella telah diam-diam menikah namun wanita itu merahasiakan tentang pernikahannya tersebut di kantor.
"Apa jangan-jangan BELLA sebenarnya sudah menikah dan memiliki suami?" Batin Bisma mulai penasaran.
Tanpa terasa kini mereka berdua telah berada di halaman rumah sakit. Andrew terlihat berjalan terlebih dahulu dari Bisma, sementara pria bernama Bisma itu terlihat berjalan sambil melamun mengikuti Andrew.
BUGH!
tanpa aba-aba Andrew langsung membalikan tubuhnya dan memberikan bogem mentah kepada Bisma.
BRUK!
tubuh Bisma langsung terjatuh ke atas tanah setelah mendapatkan pukulan kuat dari Andrew, pria itu begitu shock karena ia tiba-tiba saja di hajar oleh bos nya sendiri tanpa tahu kesalahan ia apa.
"Arggghttt.... sakit!"
Bisma terlihat tengah meringis kesakitan sembari memegangi sudut bibirnya yang terlihat mengeluarkan darah.
DASAR BAJINGAN! KENAPA KAMU MENGHAMILI KEPONAKAN KU HAH?!, KAMU MAU CARI MATI?!
amarah Andrew terlihat sudah sangat memuncak, ia sudah tidak memikirkan lagi jika Bisma akan mengetahui hubungan kekeluargaannya dengan Bella. di pikiran Andrew saat ini hanya ingin menghajar habis-habisan Bisma yang telah menghamili Bella.
"Hah keponakan?" kaget Bisma, lebih kagetnya lagi dia di tuduh telah menghamili Bella.
"Iya Bella itu adalah keponakan ku, jadi cepet katakan bagaimana kamu bisa meniduri keponakan ku?. apa jangan-jangan kamu memasukan obat tidur ke dalam minumanya hah?" desak Andrew.
Pria itu langsung meraih kerah kemeja Bisma siap untuk mengajar pria itu kembali, namun tiba-tiba saja Bisma melawan dengan mendorong tubuh Andrew ke belakang.
"Jangan tuduh orang sembarangan pak, saya tidak pernah tidur dengan Bella atau pun menghamili wanita itu. dari pada anda marah-marah dan memukuli orang yang tidak bersalah, kenapa anda tidak menanyakan secara lansung kepada keponakan anda sendiri tentang siapa ayah dari anak yang sedang ia kandung!"
Bisma terlihat meluapkan amarahnya tanpa bermain kasar kepada Andrew, karena bagaimana pun pria yang barusan telah memukulnya adalah bosnya sendiri di kantor.
Andrew langsung diam setelah mendengar ucapan Bisma barusan, kini pria itu agak merasa bersalah karena ia pikir pria yang telah menghamili Bella adalah Bisma ternyata ia salah menuduh.
Melihat boss nya hanya terduduk diam dia atas tanah, Bisma langsung pergi dari sana karena ia pikir bos nya itu perlu waktu untuk menenangkan diri.
"Kalo bukan Bisma lalu siapa pria yang telah menghamili Bella?" batin Andrew.
*****