NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 - Sedikit Canggung

Roof top kembali dipenuhi angin pelan setelah itu.

Namun suasana di antara mereka bertiga terasa jauh lebih aneh sekarang.

Terutama untuk Rachael.

Beberapa detik setelah Leon mengusap kepalanya tadi, gadis itu akhirnya perlahan berdiri sambil memegang kaleng minumannya lagi.

Gerakannya sedikit kaku.

Bukan marah.

Bukan benar-benar menolak.

Namun lebih seperti seseorang yang tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap perlakuan lembut seperti itu.

“Aku mau berdiri sana sebentar,” gumam Rachael cepat sambil berjalan beberapa langkah menjauh ke dekat pagar roof top.

Leon memperhatikannya diam.

Ia langsung sadar. Rachael bukan tidak suka disentuh. Ia hanya tidak terbiasa diperlakukan hati-hati seperti tadi.

Terlebih lagi oleh laki-laki.

Dan itu membuat Leon semakin menyadari satu hal lagi— Rachael benar-benar polos soal hubungan seperti ini.

Bukan polos bodoh, tapi polos karena memang belum pernah dekat dengan siapa pun.

Ia terlalu sibuk bertahan hidup, terlalu sibuk menjaga dirinya sendiri.

Sampai hal-hal sederhana seperti diperhatikan, disentuh lembut, atau dipedulikan saja bisa membuat sistem otaknya error total.

Rachael berdiri dekat pagar sambil meminum soda pelan.

Tatapannya sengaja diarahkan ke langit siang supaya tidak perlu melihat Leon langsung sekarang.

Karena jujur saja, jantungnya belum tenang.

Pikirannya malah makin ramai sendiri.

“Kenapa dia suka elus kepala orang... Normal nggak sih itu... Kenapa aku malah jadi bingung sendiri...”

Rachael langsung menggigit kecil sedotannya sendiri frustrasi.

Sementara dari belakang—

Leon masih memperhatikannya tanpa sadar.

Dan semakin dilihat, semakin terasa jelas di matanya kalau Rachael memang lebih muda dibanding mereka.

Baru tujuh belas tahun. Satu tahun lebih muda dari dirinya dan Axel. Namun kadang cara berpikirnya terasa terlalu dewasa.

Lalu beberapa menit kemudian, ia bisa kembali jadi gadis kecil yang bingung sendiri hanya karena dielus kepala.

Kontras itu membuat Leon sulit mengalihkan perhatian.

Karena di matanya sekarang, Rachael terlihat seperti kelinci kecil yang terlalu waspada terhadap dunia.

Selalu siap lari kapan saja dan diam-diam tetap ingin didekati.

Axel yang memperhatikan Leon dari samping langsung merinding sendiri.

Serius.

Ia kenal Leon sudah lama, Leon biasanya tidak pernah tertarik pada siapa pun. Tidak peduli ada berapa banyak gadis cantik mendekat, reaksinya selalu datar.

Tapi sekarang?

Tatapan Leon ke Rachael sudah beda total.

Terlalu fokus.

Terlalu lembut.

Terlalu menjaga.

Axel bahkan yakin kalau sekarang ada orang mencoba menyakiti Rachael sedikit saja—

Leon mungkin benar-benar akan menghancurkan orang itu tanpa pikir panjang.

“Gila...” gumam Axel pelan sambil menatap Leon curiga.

Leon melirik datar. “Apa?”

“Lu serem.”

“Lu lebih serem.”

“Bukan itu.” Axel menunjuk pelan ke arah Rachael yang masih berdiri dekat pagar roof top. “Tatapan lu itu loh.”

Leon mengernyit kecil. “Tatapan apa?”

Axel langsung menirukan nada serius dramatis.

“Tatapan ‘kalau dia pergi aku ikut stres’.”

Leon terdiam sepersekian detik.

Dan sayangnya—diamnya itu sudah cukup menjadi jawaban.

Axel langsung memegangi kepalanya sendiri lebay. “Anjir. Tamat. Leon Knight de Arther beneran kena.”

Sementara itu—

Rachael yang masih berdiri membelakangi mereka sama sekali tidak sadar kalau dirinya sekarang sedang menjadi pusat krisis emosional Leon dan hiburan pribadi Axel sekaligus.

...----------------...

Rachael masih berdiri di dekat pagar rooftop.

Angin sore menggerakkan beberapa helai rambutnya yang lepas dari ikatan.

Kaleng soda dingin masih berada di tangannya.

Dan tanpa ia sadari— di belakangnya dua orang laki-laki yang sedang membahas hidup percintaan dengan sangat tidak bermartabat.

Axel masih menatap Leon penuh kemenangan.

"Gua nggak nyangka bakal hidup cukup lama buat lihat ini."

Leon mengabaikannya.

"Gua serius," lanjut Axel. "Kalau gua rekam ekspresi lu barusan terus tunjukin ke keluarga, mereka mungkin nangis haru."

Leon menoleh datar. "Diam."

"Nggak bisa."

"Kenapa?"

"Karena ini peristiwa bersejarah."

Axel menunjuk Leon seperti reporter berita.

"Tuan muda keluarga de Arther akhirnya menemukan seseorang yang bikin otaknya nggak berfungsi normal."

Leon menarik napas panjang.

"Kepala lu yang nggak normal."

Axel terkekeh puas. Semakin Leon menyangkal, semakin jelas semuanya.

Sementara itu beberapa meter di depan mereka—

Rachael akhirnya berhasil sedikit menenangkan dirinya.

Sedikit.

Karena setiap kali mengingat kejadian beberapa menit lalu, pikirannya langsung kembali berantakan.

"Kenapa sih aku malah gugup..."

Ia menekan kaleng soda ke pipinya yang terasa hangat.

Dalam pikirannya, "Konyol banget. Padahal cuma dielus kepala. Bukan dilamar. Bukan ditembak. Bukan apa-apa. Tapi kenapa reaksinya seperti habis mengalami bencana alam."

Rachael menghela napas panjang. Lalu tanpa sengaja melirik ke belakang, dan langsung menyesal.

Karena Leon sedang melihat ke arahnya. Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik.

Namun cukup membuat Rachael buru-buru memalingkan wajah lagi.

"..."

Leon yang melihat itu sedikit mengangkat alis.

Axel yang juga melihat kejadian tersebut langsung hampir tertawa. "Dia kabur lagi."

"Dia nggak kabur." sahut Leon.

"Secara mental iya."

Leon tidak membalas lagi.

Karena ia tahu Rachael benar-benar sedang menghindari kontak mata dengannya.

Dan anehnya, kesadaran itu justru membuat sudut bibirnya sedikit terangkat samar, hampir tidak terlihat.

Tapi Axel melihatnya, Axel merasa dunia sedang kiamat. "Anjir."

Leon melirik. "Apa lagi?"

"Lu senyum."

Leon langsung kembali datar.

"Nggak."

"BOHONG."

"Nggak."

"SUMPAH LU SENYUM."

Leon mengabaikannya.

Axel memegangi dadanya sendiri.

"Hari ini terlalu banyak kejadian mengejutkan."

Tak jauh dari sana, Rachael akhirnya berbalik lagi karena penasaran kenapa Axel ribut sendiri.

"Kenapa sih?"

Axel langsung menunjuk Leon.

"Dia—"

Leon menendang kaki Axel pelan.

Axel tersedak kalimatnya sendiri, ia menahan sakit.

"—dia nggak mau berbagi soda."

Rachael berkedip bingung. "Hah?"

Leon menatap Axel dengan ancaman yang sangat jelas. Axel langsung pura-pura melihat langit.

Rachael memandang mereka bergantian. Lalu menghela napas. "Kalian aneh, toh artinya kita sama-sama aneh."

"Khusus dia," jawab Leon tenang sambil menunjuk Axel.

"Eh."

"Lu juga tahu itu."

Rachael berpikir beberapa detik. "Iya sih."

Axel langsung menatap langit dengan ekspresi terluka.

"Aku dikhianati dua orang sekaligus."

Untuk pertama kalinya sejak tadi— Rachael tertawa kecil. Tapi tawa ringan yang benar-benar keluar begitu saja.

Suara itu membuat suasana mendadak hening selama sesaat.

Karena baik Leon maupun Axel sama-sama menoleh ke arahnya.

Rachael baru sadar dirinya tertawa. Ia langsung berdeham kecil dan berusaha kembali biasa.

Tapi sudah terlambat, Leon masih menatapnya.

Kali ini dengan tatapan yang jauh lebih lembut daripada sebelumnya.

Beberapa detik berlalu.

Angin siang kembali berembus pelan.

Sementara Axel yang melihat mereka saling menatap hanya bisa memejamkan mata pasrah.

Dalam hati ia sudah mengambil satu kesimpulan. "Selesai sudah. Orang ini benar-benar jatuh cinta."

...----------------...

Bel berbunyi nyaring di seluruh area sekolah.

Tanda berakhirnya jam istirahat.

Suara langkah kaki mulai memenuhi koridor, siswa-siswi yang tadi memenuhi kantin, taman, dan roof top perlahan kembali ke kelas masing-masing.

Rachael meneguk sisa soda nya sampai habis. "Lanjut jadi murid teladan lagi," gumamnya.

Axel langsung tertawa.

"Kata orang yang tiga hari lalu tidur pas pelajaran sejarah."

"Itu bukan tidur." Sahut Leon.

"Terus?"

"Aku memejamkan mata untuk menyerap ilmu." Rachael langsung menjawabnya.

"Dasar pembohong."

Rachael mengangkat bahu santai.

Leon hanya menggeleng pelan melihat tingkah mereka.

Tak lama kemudian mereka bertiga turun dari roof top dan berjalan menuju gedung kelas.

......................

Pelajaran kembali berlangsung seperti biasa.

Beberapa mata pelajaran lain yang terasa berjalan sangat lambat.

Setidaknya bagi sebagian besar siswa.

Namun untuk Rachael, hari itu terasa cukup menyenangkan.

Mungkin karena suasana hatinya sedang lebih baik.

Rachael duduk di kursinya seperti biasa di samping Leon. Awalnya ia mengira setelah beberapa menit semuanya akan kembali normal.

Sayangnya tidak.

Karena sekarang ia justru semakin sadar kalau Leon duduk tepat di sebelahnya.

Jarak yang sebelumnya tidak pernah terasa aneh, sekarang mendadak terasa sangat jelas keberadaannya.

Apalagi setiap kali Leon bergerak sedikit. Membuka buku, menulis catatan atau sekadar menyandarkan siku ke meja.

Entah kenapa otak Rachael langsung sadar. Dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri.

"Kenapa sih aku jadi aneh begini?"

Ia berusaha fokus ke papan tulis benar-benar berusaha. Namun beberapa menit kemudian—

"Buku catatan mu." Suara Leon terdengar pelan di sampingnya.

Rachael menoleh. "Hah?"

Leon menunjuk bukunya. Baru saat itu Rachael sadar ia menulis rumus di halaman yang salah selama hampir lima menit.

"..."

Rachael menatap bukunya. Lalu menutup wajah dengan kedua tangan.

"Aku menyerah."

Leon menahan senyum kecil.

"Konsentrasi."

"Aku lagi konsentrasi."

"Kamu nulis di buku fisika."

Padahal saat itu pelajaran matematika.

Rachael langsung menjatuhkan dahinya ke meja.

Leon akhirnya benar-benar tersenyum tipis.

Dan sialnya— Rachael melihatnya. Ia langsung duduk tegak.

"Tunggu."

Leon mengangkat alis.

"Tadi kamu senyum."

"Nggak."

"Kamu senyum."

"Nggak."

"Kamu senyum."

Leon kembali menulis seolah tidak terjadi apa-apa.

Rachael langsung menunjuknya.

"Nah. Itu. Reaksi orang bersalah."

Leon tetap tenang, tapi sudut bibirnya memang masih sedikit terangkat.

Dari kursi belakang baris sebelah, Axel yang melihat semuanya hampir mati menahan tawa.

Karena sekarang bukan Leon yang ketahuan memperhatikan. Melainkan Rachael yang mulai memperhatikan Leon. Dan itu jauh lebih menarik.

Jam demi jam berlalu.

Sinar matahari yang masuk dari jendela perlahan berubah lebih hangat.

Suasana kelas juga mulai semakin lelah. Beberapa siswa sudah terlihat kehilangan semangat hidup. Beberapa lainnya mulai menghitung menit menuju pulang.

Sementara itu Rachael kembali fokus mengerjakan latihan. Setidaknya sampai sesuatu menyentuh lengannya. Refleks ia menoleh.

Leon sedang mendorong selembar kertas kecil ke arahnya.

Rachael membukanya diam-diam.

Tulisan di sana sangat singkat. "Nomor tiga salah."

Rachael melihat buku latihannya. Lalu melihat jawaban Leon, lalu melihat soal lagi.

Dan akhirnya menyadari bahwa jawabannya memang salah. Ia langsung mencoret jawabannya.

Kemudian menulis balasan kecil. "Tukang ngintip."

Kertas itu kembali berpindah.

Beberapa detik kemudian Leon membalas.

"Tukang buru-buru, justru banyak salahnya."

Rachael langsung kesal.

Dari belakang, Axel yang melihat mereka saling kirim catatan hanya bisa menatap kosong ke depan.

"Gua di sini cuma jadi figuran ya?" pikirnya.

Tepat pukul 15.00.

'DING DING DONG' Bel pulang akhirnya berbunyi.

Seketika seluruh kelas hidup kembali. Suara kursi bergeser. Tas ditutup. Obrolan memenuhi ruangan.

"AKHIRNYA!"

"Aku lapar."

Rachael meregangkan tubuh sampai terdengar bunyi kecil dari punggungnya. "Aku resmi berubah jadi nenek-nenek."

Leon melirik. "Kamu baru tujuh belas."

"Tubuhku berusia tujuh puluh."

Leon menggeleng pelan.

Rachael mulai memasukkan buku ke dalam tas.

Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian di roof top tadi, suasana di antara mereka terasa jauh lebih santai.

Tidak secanggung sebelumnya. Meski sesekali saat mata mereka bertemu, Rachael tetap merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Sementara dari belakang, Axel menyampirkan tas ke bahunya sambil menatap keduanya bergantian.

Lalu menghela napas panjang. Dengan ekspresi seseorang yang sudah menerima takdir.

Karena semakin hari, ia semakin yakin bahwa dirinya sedang menyaksikan proses dua orang keras kepala yang perlahan-lahan jatuh ke dalam perasaan yang sama.

Dan yang paling lucu? Keduanya masih belum benar-benar menyadarinya.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!