Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Langit di Atas Langit dan Perjamuan Persahabatan
Gong belum berbunyi.
Namun seluruh arena sudah sunyi—bukan sunyi yang terjadi saat semua orang berhenti berbicara, melainkan sunyi yang terjadi saat semua orang berhenti bernapas pada saat yang hampir bersamaan karena sesuatu yang ada di depan mereka mengambil perhatian yang seharusnya dialokasikan untuk bernapas dan menggunakannya untuk hal lain.
Di tengah arena yang lantainya penuh dengan jejak pertarungan-pertarungan sebelumnya—retakan, bekas hangus, lubang-lubang yang terbentuk dari energi yang terlalu besar untuk diserap oleh batu biasa—dua orang berdiri.
Sir Alaric von Westmark dengan pedang Langit Barat yang sudah dicabut, listrik biru menari di sepanjang bilahnya. Aura yang memancar darinya sudah tidak ditahan sama sekali—bukan penampilan, bukan demonstrasi, melainkan kondisi alami seseorang yang sudah memutuskan bahwa menyimpan sesuatu tidak lagi relevan.
Yu Fan dengan pedang hitam-perak di tangan kanannya dan aura yang, dari sudut pandang teknis, berada di Tingkat 4—namun yang dari sudut pandang kualitas mengandung sesuatu yang membuat angka itu terasa tidak lengkap sebagai deskripsi.
Alaric berbicara pertama. Nada santainya ada namun mengandung sesuatu di bawahnya yang tidak sepenuhnya santai. "Han Fei sudah mencium debu. Nomor satu akademi ini sudah jatuh di depan semuanya." Matanya abu-abu kebiruan menatap Yu Fan dengan cara yang sudah sangat berbeda dari cara ia menatap siapa pun hari ini—lebih langsung, lebih personal. "Kau—" ia sedikit berhenti, memilih kata, "—kau yang kedua. Bagaimana mungkin kau berharap mengubah apa yang sudah jelas?"
Yu Fan menatap balik. Dalam matanya tidak ada amarah atas kata-kata itu—hanya ketenangan yang sudah sangat terlatih dari dua tahun belajar bahwa amarah adalah pengeluaran energi yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih produktif.
"Nomor satu atau kedua," ucapnya, "hanyalah angka yang diberikan orang lain." Pedangnya tidak terangkat ke posisi serang—masih rileks, masih di sisi tubuhnya. "Di sini kami tidak percaya pada garis yang sudah ditentukan. Kami percaya pada pedang yang kami genggam sekarang dan tekad yang kami asah setiap hari."
Alaric menatapnya selama satu detik. Dua.
Kemudian sudut bibirnya bergerak sangat sedikit—bukan senyum merendahkan seperti yang tadi ada, melainkan sesuatu yang lebih dari itu dan lebih tulus dari itu.
Gong berbunyi.
Yu Fan melesat pertama—tidak karena tergesa, melainkan karena dalam sistem pedang yang sudah ia kembangkan selama dua tahun, menyerang pertama di fase awal memberikan data yang tidak bisa diperoleh dari menunggu. Inisiatif bukan tentang keunggulan posisi—tentang informasi.
Teknik Pedang Yin : Tebasan Sembilan Arah.
Sembilan titik serangan yang dieksekusi dalam urutan yang tidak linier—tidak dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah, melainkan dalam pola yang memotong dari diagonal ke horizontal ke vertikal dalam kombinasi yang membuat masing-masing tebasan menutup ruang penghindaran dari tebasan sebelumnya. Setiap tebasan mengandung aura Tingkat 4 yang sudah sangat solid dan terstruktur—bukan aura yang tercecer ke mana-mana melainkan aura yang terkonsentrasi tepat di titik yang diperlukan.
Alaric menghindar.
Menghindar dengan cara yang setelah tiga kali Yu Fan melihatnya sudah teridentifikasi sebagai karakteristiknya: gerakan yang sangat efisien, hampir tanpa massa yang berlebihan, seperti seseorang yang sudah bertahun-tahun berlatih untuk membuang semua gerakan yang tidak perlu hingga yang tersisa hanya esensialnya. Tubuhnya tidak melompat, tidak berlari—ia bergeser. Setiap bergeser tepat sebanyak yang diperlukan untuk membuat tebasan Yu Fan melewati ruang yang ia tinggalkan, tidak lebih.
Di antara geseran keempat dan kelima, Alaric menemukan celah yang ada karena momentum tebasan keempat membuat Yu Fan sedikit terlalu committed ke arah tertentu untuk setengah detik.
Pukulan. Tangan kosong, namun dari seseorang yang sudah sangat lama menggunakan tangan kosong sebagai senjata yang didesain dengan sangat serius. Diarahkan ke dada Yu Fan dengan sudut yang memaksimalkan transfer energi—bukan dari kekuatan otot semata melainkan dari seluruh rantai kinetik tubuh Alaric yang sudah sangat terlatih.
Yu Fan tidak menghindar sepenuhnya.
Ia memilih untuk memutar tubuhnya sehingga pukulan itu mengenai bahunya alih-alih dadanya—bahu mengandung jaringan otot yang lebih tebal dan yang bisa menyerap benturan lebih baik dari tulang dada. Dengan momentum dari pukulan itu—energi yang masuk dari luar—ia menambahkan energinya sendiri dan mengkonversi semuanya menjadi putaran.
Dari putaran itu, ujung pedangnya menemukan wajah Alaric.
Bukan dengan kekuatan besar—dengan presisi yang sangat spesifik, di jalur yang ada karena Alaric sedang dalam gerakan mundur setelah pukulannya dan gerakan mundur itu membuka sisi kirinya untuk fraksi detik.
Goresan merah di pipi kiri Alaric.
Cukup dalam untuk terasa. Cukup tepat untuk menunjukkan bahwa ini bukan keberuntungan.
Alaric berhenti.
Tangannya naik ke pipinya—menyentuh goresan itu. Melihat darah di ujung jarinya.
Suasana tribun berubah—keheningan yang berbeda dari sebelumnya, keheningan yang mengandung keterkejutan yang tertahan.
Di balik senyum yang kini hilang dari wajah Alaric, ada sesuatu yang muncul sebagai gantinya—sesuatu yang jauh lebih kompleks dari senyum merendahkan. Matanya abu-abu kebiruan mengandung perubahan yang hanya bisa terjadi pada seseorang yang sudah sangat lama menjadi yang terkuat di ruangan apa pun yang ia masuki dan baru saja untuk pertama kalinya merasakan bahwa mungkin ia bukan yang terkuat di ruangan ini.
Kemudian ia melakukan sesuatu yang Yu Fan tidak antisipasi.
Ia tersenyum lagi. Namun senyum yang ini sangat berbeda—lebih lebar, lebih nyata, senyum seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang sudah lama ia cari.
"Baiklah," ucap Alaric, dan suaranya sudah tidak mengandung nada santai yang dibuat-buat. "Kau layak melihat ini."
Pedang Langit Barat keluar dari sarungnya sepenuhnya untuk pertama kali hari ini.
Cahaya yang keluar bukan dari bilah—dari koneksi antara bilah dan tangan Alaric, dari formasi yang sudah bertahun-tahun terbangun dalam hubungan antara ksatria dan senjatanya. Biru yang jauh lebih dalam dari listrik yang selama ini ada di permukaan tubuh Alaric—biru yang mengandung kedalaman, seperti langit di ketinggian yang sangat besar di mana udara sudah sangat tipis.
Di tribun, murid-murid yang duduk paling dekat dengan arena merasakan tekanan yang naik satu atau dua tingkat dari sebelumnya—bukan dari kekuatan Alaric saja, melainkan dari koneksi antara kekuatan itu dan senjata yang sudah menjadi medium yang sangat terlatih untuk mengekspresikannya.
Pedang Langit Barat—Excaliburine.
Nama yang, dalam bahasa Barat kuno, mengandung dua suku kata yang artinya langit dan memotong. Pedang yang tidak hanya memotong fisik melainkan—dalam tangan seseorang yang sudah cukup kuat dan cukup terlatih—memotong koneksi energi, memotong formasi, memotong hal-hal yang biasanya tidak bisa dipotong.
Alaric bergerak.
Dan kali ini, bergerak adalah kata yang terasa terlalu sederhana.
Yu Fan melihatnya di satu titik. Kemudian tidak melihatnya di sana lagi—namun juga tidak melihatnya di mana pun lain selama sepersekian detik. Kemudian ia ada di titik yang berbeda, sudah dalam gerakan yang sudah separuh selesai.
Teleportasi? Bukan. Yu Fan menganalisis sambil merespons secara instingtif. Kecepatan yang sangat tinggi dikombinasikan dengan teknik yang meminimalkan jejak energi selama perpindahan—membuat transisi tidak terdeteksi sebagai gerakan karena tidak ada sinyal di antara titik awal dan titik akhir.
Pedang Alaric datang dari sudut yang, secara geometris, tidak seharusnya ada dari posisi terakhir yang Yu Fan lacak. Sudut yang hanya bisa ada jika arah gerakannya berubah dua kali selama interval yang tidak terdeteksi.
Yu Fan memblokir dengan tenaga penuh.
KLANG.
Getaran dari benturan itu naik ke bahunya, ke lehernya, dan ada sesuatu di dalam getaran itu yang berbeda dari benturan biasa—Pedang Langit Barat tidak hanya mengandung massa dan energi kinetik, ia mengandung sesuatu yang meresap ke dalam titik kontak dan mencoba memutus hubungan antara Qi Yu Fan dan pedangnya.
Teknik Memotong Koneksi. Yu Fan mengenali ini dari cara tangannya merespons—sedikit lebih lambat dari biasanya dalam mengeksekusi gerakan berikutnya karena ada sesuatu yang mengganggu jalur antara niat dan eksekusi.
Alaric tidak memberikan waktu untuk pemulihan. Serangan kedua, ketiga, keempat—dalam interval yang semakin singkat, dari sudut-sudut yang semakin tidak terprediksi karena Alaric sekarang sudah menggunakan kemampuan perpindahannya secara penuh dan tidak lagi membiarkan dirinya terlihat di antara titik-titik itu.
Pertarungan berubah menjadi sesuatu yang berbeda.
Yu Fan bisa memblokir. Ia bisa menghindari. Namun ia tidak bisa melawan secara bermakna karena setiap kali ia memulai kontra-serangan, Alaric sudah tidak di titik yang ia tuju dan sudah ada di titik yang berbeda dengan serangan baru.
Mata batinnya bekerja keras—mengidentifikasi pola, mencari prediktabilitas dalam apa yang dirancang untuk tidak terprediksi. Ada pola. Selalu ada pola—tidak ada yang benar-benar acak, karena keacakan murni tidak efisien dan seseorang yang seefisien Alaric tidak akan memilih ketidakefisienan bahkan dalam hal ketidakprediktabilitas.
Namun mengidentifikasi pola membutuhkan waktu.
Dan dalam waktu yang Yu Fan butuhkan untuk mengidentifikasi pola, Alaric sudah melancarkan lebih banyak serangan dari yang bisa diredam tanpa biaya.
SLASH.
Tebasan besar mendarat di dadanya—bukan fatal, tidak menembus lapisan Qi yang melindungi organ vital, namun cukup untuk membuat darah mengalir dari robekan di jubahnya. Tenaga di baliknya mendorongnya ke lutut, satu tangan mencengkeram tanah agar tidak ambruk sepenuhnya.
Pandangannya sedikit kabur di tepinya. Dadanya terasa panas dari luka itu dan dari energi yang sudah dikeluarkan selama dua pertukaran terakhir.
Dari tribun—suara yang jauh, sangat jauh, terdengar seperti di balik air.
Dari tribun VIP—suara Yuexin yang mencoba terdengar tenang namun tidak berhasil.
Alaric berdiri di depannya dengan pedangnya terangkat dan ekspresi yang sudah sangat berbeda dari cara ia masuk arena—lebih serius, lebih penuh dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa disebut dingin karena ada kehangatan di balik sesuatu itu.
"Master Timur," ucapnya, dan tidak ada nada merendahkan di dalamnya kali ini—hanya pernyataan yang ia pikir perlu diucapkan. "Kau sudah memberikan pertarungan yang tidak pernah akan aku lupakan. Tapi di sini kita sudah mencapai batas yang bisa didapatkan dari perbedaan yang ada antara kita sekarang." Pedangnya masih terangkat. "Serahkan dirimu. Tidak ada malu di dalamnya—batas itu bukan tentang siapa kau, melainkan tentang di mana kau sekarang."
Yu Fan tidak bergerak dari posisi berlututnya.
Di dalam dadanya, denyutan.
Bukan satu kali. Bukan dua kali.
Berulang—dalam ritme yang semakin cepat, seperti sesuatu yang sedang dibangunkan oleh kondisi yang ada sekarang dengan cara yang tidak bisa dibangunkan oleh kondisi di bawah itu.
Di dalam kepalanya—bukan bayangan orang dengan rambut putih yang menawarkan sesuatu. Bukan suara yang memintanya menyerahkan kendali. Hanya keheningan yang sangat dalam, dan di dalam keheningan itu, pertanyaan yang sudah sangat lama ada di sana.
Siapa aku?
Dan untuk pertama kalinya, dari kedalaman yang tidak pernah ia capai sebelumnya karena tidak pernah ada tekanan yang cukup untuk membawanya ke sana—
Sesuatu yang seperti jawaban.
Bukan kata-kata. Bukan nama. Sesuatu yang lebih dalam dari kata-kata dan lebih nyata dari nama—sebuah perasaan tentang sebuah keberadaan yang sangat besar yang sedang melihat melalui matanya dan merasakan melalui luka di dadanya dan memutuskan bahwa kondisi saat ini tidak dapat diterima.
Bukan keputusan yang dibuat oleh bagian dirinya yang sudah ia kenali selama dua tahun ini.
Keputusan yang dibuat oleh bagian yang jauh lebih tua dari itu.
Alaric merasakan sesuatu berubah sebelum ia melihat apa pun berubah.
Pertama-tama—suhu. Arena yang tadinya hangat dari sisa-sisa energi pertarungan sebelumnya turun beberapa derajat dalam interval yang tidak wajar untuk penurunan suhu alami. Bukan dingin yang datang dari angin atau dari perubahan cuaca—dingin yang naik dari tanah di sekitar titik di mana Yu Fan berlutut, seperti sesuatu yang sangat dingin merembes ke atas dari bawah.
Kemudian—keheningan di tribun yang sudah sunyi menjadi lebih sunyi lagi, dengan cara yang tidak bisa dijelaskan secara fisik namun yang sangat terasa. Seperti seluruh arena sedang menahan sesuatu.
Kemudian—cahaya yang berubah. Bukan berkurang atau bertambah—berubah kualitasnya, seperti seseorang mengganti filter di atas matahari dengan filter yang menghasilkan bayangan yang sedikit lebih dalam dan warna yang sedikit lebih jenuh.
Dan kemudian Yu Fan berdiri.
Cara ia berdiri itu sendiri sudah berbeda. Bukan cara yang ia biasanya berdiri—lebih tegak namun tanpa ketegangan, lebih hadir namun tanpa keterburu-buraan, seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa berdiri di tempat-tempat yang jauh lebih besar dari arena ini dan yang karena itu tidak perlu menyesuaikan diri.
Rambutnya berubah.
Tidak secara dramatis—tidak sekaligus seperti saat di gua itu. Dari akar ke ujung, perlahan, hitam yang sangat gelap menjadi perak yang bercahaya sangat tipis dari dalam, seperti rambut yang ditenun dari serat bulan. Prosesnya memakan waktu beberapa detik dan dalam detik-detik itu seluruh tribun yang menyaksikan tidak mengeluarkan satu suara pun.
Matanya berubah.
Iris abu-abu gelap yang sudah dua tahun menjadi cara semua orang mengenal wajah Yu Fan digantikan oleh merah tua yang jauh lebih kaya dari merah marah biasa—merah yang mengandung kedalaman, yang mengandung usia, yang mengandung sesuatu yang, jika ditatap cukup lama, terasa seperti melihat bukan ke dalam mata seseorang melainkan ke dalam jarak yang sangat jauh. Sklera yang seharusnya putih berubah hitam—hitam yang tidak kosong melainkan penuh dengan sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi.
Namun yang berbeda dari waktu-waktu sebelumnya ketika transformasi ini terjadi adalah ekspresinya.
Di gua itu—ketika kekuatan ini keluar pertama kali—ada kegilaan di dalamnya. Tawa yang bukan tawa biasa. Amarah yang tidak memiliki arah yang jelas. Sesuatu yang lebih mirip dengan kekuatan yang lepas dari peti daripada kekuatan yang keluar dengan tujuan.
Sekarang wajah Yu Fan yang terangkat dari posisi berlututnya tidak mengandung kegilaan itu. Mengandung sesuatu yang jauh lebih tenang dan jauh lebih berbahaya dari kegilaan—ketenangan seseorang yang sudah sangat memutuskan sesuatu dan yang tidak perlu tergesa-gesa lagi dalam melakukannya.
Dari tubuhnya, aura merah pekat meledak keluar—bukan ledakan yang tidak terkontrol, melainkan ledakan yang sangat terkontrol dalam cara yang membuat terkontrol terasa seperti kata yang terlalu kecil untuk menggambarkannya. Ia menyebar ke seluruh arena dalam lingkaran yang sangat tepat, memaksa mundur beberapa murid junior yang tadi sudah terlalu dekat ke tepi arena karena ingin melihat lebih baik, mengangkat debu dari lantai arena dalam spiral yang tidak acak.
Kolom-kolom kristal pencatat di empat sudut arena—yang tadi sudah retak dari pertarungan sebelumnya—masing-masing memancarkan cahaya merah yang tidak seharusnya ada dalam spektrum warna yang bisa mereka rekam. Kemudian, satu per satu, mereka berhenti berfungsi. Bukan meledak. Hanya berhenti—seperti alat ukur yang menemukan bahwa apa yang diukur melebihi skala yang ada di dalam desainnya.
Di panggung kehormatan, Dekan Shen Mingzhi berdiri.
Di sampingnya, Wakil Dekan Ruan Jing berdiri juga—namun tangannya sudah dalam posisi yang menunjukkan seseorang yang sudah mempersiapkan diri untuk intervensi sambil menahan dirinya untuk tidak melakukannya dulu.
"Tunggu," ucap Dekan. Satu kata yang mengandung semua kompleksitas situasinya.
Alaric berdiri di depan Yu Fan yang sudah berdiri dengan auranya yang sudah sangat berbeda. Di dada sang ksatria yang biasanya tidak menunjukkan ketakutan karena tidak ada alasan untuk menunjukkan apa yang tidak ada—ada sesuatu yang tidak biasa. Bukan ketakutan yang biasa datang dari ancaman yang teridentifikasi. Ini adalah sesuatu yang lebih primitif—naluri yang bekerja lebih dalam dari keputusan sadar, naluri yang sudah ada jauh sebelum manusia mengembangkan kemampuan untuk menganalisis ancaman secara sadar dan yang bekerja berdasarkan pengenalan tentang sesuatu yang sangat, sangat berbeda dari apa yang seharusnya ada.
"Aura apa ini?" bisiknya—tidak keras, hampir untuk dirinya sendiri.
Yu Fan menatapnya.
Dan saat mata merah tua yang memiliki kedalaman yang tidak wajar itu bertemu dengan mata abu-abu kebiruan Alaric—Alaric yang dalam dua puluh tahun pertarungannya tidak pernah mundur karena instink mendorong, melangkah mundur setengah langkah.
Kemudian ia menyerang.
Bukan karena ketakutan membuatnya mundur melainkan karena pengalaman dua puluh tahun memberitahunya bahwa ketika ada sesuatu yang tidak dimengerti di depan, inisiatif selalu lebih baik dari menunggu.
Satu Garis Kematian.
Teknik yang tadi sudah terbukti—satu tebasan tunggal dengan seluruh kekuatan dan kecepatan yang ada, dieksekusi dengan presisi yang hanya bisa dicapai oleh seseorang yang sudah melakukan gerakan ini ribuan kali.
Pedang Langit Barat melesat ke arah leher Yu Fan.
Yu Fan mengangkat tangannya.
Tangan kiri. Kosong—tanpa pedang, tanpa energi yang terlihat, tanpa formasi yang dibangun terlebih dahulu.
Dua jari—telunjuk dan jari tengah—menutup di sekitar bilah pedang Alaric saat pedang itu tiba.
Berhenti.
Pedang itu berhenti. Bukan karena terblokir oleh energi yang lebih besar. Bukan karena momentum-nya habis. Karena dua jari yang menutup di sekitar bilahnya mengandung kepadatan yang tidak cocok dengan kecepatan pedang itu untuk diteruskan lebih jauh—seperti pedang yang ditancapkan ke dalam batu, bukan dipotong, namun berhenti karena mediumnya tidak mengizinkan.
Dari jari-jari yang menahan pedang itu, energi merah tua mengalir ke dalam logam Excaliburine. Logam itu—yang sudah sangat lama menjadi senjata dengan sejarahnya sendiri, dengan formasi-formasinya sendiri—beresonansi dengan cara yang tidak normal, seperti instrumen musik yang merasakan frekuensi yang tidak pernah ada dalam tangga nadanya.
Alaric merasakan ini melalui gagang pedangnya. Kepalanya mendongak ke arah Yu Fan.
"Hanya ini?" Suara Yu Fan mengandung resonansi yang tidak ada di sana sebelumnya—lebih dalam, seperti dua frekuensi yang bersamaan. Bukan suara dua orang yang berbicara bersamaan—suara satu orang yang memiliki kedalaman yang dua kali dari biasanya.
Kemudian tendangan mendarat di perut Alaric.
Zirah ringan di dada Alaric tidak rusak dari tendangan itu. Namun tekanan yang menembus zirah itu—energi merah tua yang mengalir bersama kontak fisik dari kaki Yu Fan—memaksa seluruh sistem pertahanan energi Alaric untuk merespons sekaligus, dan dalam merespons sekaligus, sistem itu kelebihan beban dalam interval yang sangat singkat.
Alaric terbang.
Bukan sedikit—jauh, dalam jalur yang sangat flat dan sangat jauh dari titik kontak. Ia memutar tubuhnya di udara—refleks yang sudah sangat terlatih—dan mendarat di kaki serta satu tangan, berguling, kembali berdiri.
Darah di sudut bibirnya.
Pertama kalinya hari ini.
Di tribun, suara yang pecah—bukan sorak-sorai, lebih seperti gelombang napas yang dilepaskan sekaligus oleh ribuan orang yang sudah menahannya.
Alaric menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangannya. Matanya tidak meninggalkan Yu Fan. "Teleportasi."
Ia menghilang.
Dan muncul di titik yang berbeda—di belakang kiri Yu Fan, sudut yang dalam pertarungan normal sangat sulit dicover.
Yu Fan sudah ada di sana.
Bukan berlari ke sana, bukan melompat ke sana—sudah ada, berdiri menghadap ke arah Alaric muncul, seperti ia sudah tahu ke mana Alaric akan pergi sebelum Alaric sendiri memutuskan ke mana akan pergi.
Alaric teleportasi lagi—ke titik yang sepenuhnya berbeda, titik yang dipilih bukan berdasarkan logika pertarungan melainkan berdasarkan ketidakprediktabilannya.
Yu Fan sudah ada di sana.
Sekali lagi. Dua kali. Tiga kali.
Setiap titik yang Alaric pilih untuk muncul, Yu Fan sudah berdiri di sana dengan aura merah tua yang sekarang terasa seperti bukan hanya dari satu tubuh melainkan dari sesuatu yang jauh lebih besar yang mengekspresikan dirinya melalui satu tubuh.
"Bagaimana—" Alaric menghentikan kalimatnya. Di matanya, sesuatu berubah—pertanyaan menggantikan analisis, dan di balik pertanyaan itu, pengakuan yang tidak pernah ia harapkan perlu ia buat hari ini.
"Teleportasimu," ucap Yu Fan—atau apa yang mengisi suaranya sekarang, dengan resonansi yang masih sama namun dalam yang berbeda—"bukan perpindahan posisi. Ia adalah pergerakan melalui jalur yang melewati lapisan di antara ruang. Dan jalur itu—" matanya yang merah tua bergerak ke arah yang berbeda dari arah Alaric seolah ia melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh yang lain—"meninggalkan jejak. Jejak yang bisa dibaca oleh sesuatu yang sudah cukup lama ada di tempat yang kau lewati."
Alaric menatapnya. Perlahan—sangat perlahan, dengan cara seseorang yang sedang memverifikasi sesuatu yang terasa tidak mungkin namun yang semua data yang ada menunjukkan bahwa itu nyata—ia berkata: "Kau tidak memprediksi ke mana aku pergi. Kau membaca jalur teleportasinya sebelum aku membuka jalurnya."
"Ya."
Keheningan selama dua detik.
Kemudian Alaric melakukan sesuatu yang tidak satu pun orang di tribun—termasuk yang sudah sangat mengenalnya—mengantisipasi. Ia menggabungkan semua yang ia punya ke dalam satu serangan yang tidak dirancang untuk menang melainkan dirancang untuk mendapatkan data.
Seluruh cadangan energinya yang tersisa mengalir ke dalam Excaliburine—bukan dalam satu waktu melainkan dalam ledakan yang terkompresi, membuat bilah pedang itu menjadi konduit yang menyalurkan lebih dari kapasitas normalnya dan memancarkan cahaya putih yang jauh lebih terang dari sebelumnya. Dari formasi-formasi di bilah itu, simbol-simbol Barat muncul dalam cahaya yang sangat jelas, membentuk pola yang sudah ada di sana sejak pedang itu pertama kali ditempa.
"Tebasan Cahaya Suci—Satu Garis Kematian, Pengulangan Penuh!"
Bukan satu tebasan. Satu tebasan yang dieksekusi sepenuhnya, kemudian dieksekusi lagi dari posisi berikutnya yang terbuka oleh momentum pertama, kemudian lagi dari posisi berikutnya—dalam pengulangan yang membentuk rangkaian seperti tangga, setiap anak tangga lebih cepat dari sebelumnya karena menggunakan momentum yang sudah dibangun oleh yang sebelumnya.
Yu Fan mengangkat pedangnya untuk pertama kalinya dalam modus ini.
Teknik Tangan Asura : Tebasan Mengakhiri Satu Ranah.
Satu gerakan. Sangat sederhana untuk sesuatu yang menghasilkan apa yang kemudian terjadi—diagonal dari kanan atas ke kiri bawah, dengan seluruh energi merah tua yang sudah terakumulasi dilepaskan bukan secara bertahap melainkan sekaligus.
Garis merah tua yang sangat dalam terbentuk di udara dari jalur tebasan itu—bertahan selama beberapa detik, seperti seseorang memotong kain dan kain itu terlambat merespons.
Rangkaian tebasan Alaric menyentuh garis merah itu.
Bukan dipotong—ditelan. Energi dari setiap tebasan Alaric diserap ke dalam garis itu dengan cara yang membuat efeknya tidak bisa dilihat dari luar melainkan hanya dirasakan oleh Alaric yang energinya kembali kepadanya dalam bentuk yang berbeda—dalam bentuk getaran yang mengalir balik ke tangannya melalui gagang pedangnya, terlalu cepat dan terlalu besar untuk sistem pertahanan Alaric yang sudah sangat terkuras untuk menerimanya dengan cara yang terkontrol.
Alaric terdorong mundur.
Bukan dari serangan Yu Fan yang langsung mengenainya. Dari energinya sendiri yang dikembalikan kepadanya.
Ia mendarat di satu lutut—postur yang sama dengan postur Yu Fan beberapa menit yang lalu, namun dalam kondisi yang sudah sangat berbeda. Zirah di bahunya retak di beberapa tempat. Excaliburine di tangannya mengandung retakan sangat tipis di sepanjang bilahnya—bukan rusak, namun terluka, seperti senjata yang merasakan bahwa ia baru saja bersentuhan dengan sesuatu yang berada di atas pemahamannya.
Alaric berlutut di arena.
Menatap ke atas ke arah Yu Fan yang berdiri di depannya.
Aura merah tua mulai mereda—perlahan, ditarik kembali ke dalam dengan cara yang jauh lebih terstruktur dari cara ia keluar. Rambut perak perlahan kembali ke hitam, dimulai dari akar. Mata merah tua yang sangat dalam perlahan memudar ke abu-abu gelap yang biasa.
Dan ekspresi yang muncul di wajah Yu Fan saat transformasi itu mereda—bukan ketenangan kosong seperti yang biasanya ada setelahnya. Kali ini ada kelelahan yang nyata, kelelahan yang jelas dari menampung sesuatu yang jauh lebih besar dari kapasitas tubuh Tingkat 4, namun di dalam kelelahan itu ada sesuatu yang baru yang tidak ada setelah gua itu atau setelah lembah itu.
Ketenangan yang sadar. Bukan ketenangan yang datang karena kekuatan sudah padam, melainkan ketenangan yang datang karena seseorang yang sudah memahami sesuatu tentang dirinya yang sebelumnya belum ia mengerti.
"Jangan pernah meremehkan orang Timur, Alaric." Suaranya sudah kembali ke kualitas normalnya—tidak bergema ganda, tidak mengandung resonansi yang tidak manusiawi. Hanya suara Yu Fan biasa, namun yang sekarang mengandung bobot yang berbeda dari sebelumnya. "Di dunia kami, di atas langit masih ada langit."
Alaric menatap tangan yang diulurkan ke arahnya.
Tangan dengan goresan dari pertarungan ini, dengan lebih banyak bekas dari dua tahun sebelumnya yang tidak sepenuhnya hilang, dengan cincin dimensi di jari keempat yang berdenyut dengan cara yang tidak satu pun orang di sini bisa melihatnya kecuali Alaric yang kini menatap dari jauh sangat dekat.
Ia mengambil tangan itu.
Berdiri.
"Kau kalah dari orang yang benar," ucap Alaric—bukan kepada penonton, bukan untuk efek dramatis. Kepada Yu Fan secara pribadi, dengan cara seseorang yang sudah sangat lama tidak perlu mengatakan hal seperti ini karena tidak pernah perlu. "Aku sudah bertarung dengan banyak orang luar biasa. Namun yang ada di dalam dirimu—" ia menatap mata abu-abu gelap yang kini sudah kembali normal namun yang baru saja ia lihat mengandung sesuatu yang sangat, sangat berbeda—"bukan dari dunia kultivasi mana pun yang aku kenal."
"Aku tahu," jawab Yu Fan.
"Jika kau ke Barat," ucap Alaric, dan suaranya sudah kembali ke kualitas yang lebih santai namun yang kali ini santai yang sesungguhnya bukan yang dibuat-buat, "carilah aku. Aku sendiri yang akan menyambutmu. Bukan sebagai lawan—sebagai saudara yang ingin melihat ke mana kekuatan itu membawamu."
Dari panggung kehormatan, Dekan Shen mengangkat suaranya.
"Pemenangnya adalah Yu Fan dari Akademi Langit Biru!"
Empat hari setelahnya, Aula Utama Akademi Langit Biru sudah berbeda dari biasanya—meja-meja panjang menggantikan barisan kursi latihan, lampion emas bergantung di antara pilar-pilar biru akademi, dan aroma makanan yang sangat beragam mengisi seluruh ruangan dari berbagai sumber karena tim dapur sudah bekerja keras selama dua hari penuh untuk mempersiapkan perjamuan yang tidak akan mudah dilupakan.
Dekan Shen berdiri dari kursinya di meja utama dan mengucapkan beberapa kata—kata-kata tentang jembatan yang dibangun di atas arena, tentang bagaimana memahami seseorang yang berbeda cara berpikirnya dari kamu lebih sulit dan lebih berharga dari mengalahkan mereka, tentang bagaimana hari-hari ini sudah membuktikan bahwa kekuatan bukan milik satu cara berpikir saja.
Kata-kata yang pendek dan yang mengandung lebih dari panjangnya.
Di salah satu meja panjang di tengah aula, konfigurasi tempat duduk yang terbentuk bukan karena direncanakan melainkan karena masing-masing orang duduk di tempat yang terasa paling alami menghasilkan pemandangan yang, dari perspektif seseorang yang mengenal semua orang yang duduk di sana, mengandung lebih dari satu lapisan dinamika.
Alaric duduk di sebelah kanan Yu Fan—posisi yang ia pilih sendiri, dengan cara yang sangat langsung dan tanpa banyak pertimbangan tentang protokol sosial, yang ternyata adalah cara Alaric melakukan hampir semua hal. Garrick di sebelahnya, dengan postur yang tidak berubah dari postur pertarungannya karena tubuh yang sudah terbiasa sangat kaku tidak langsung melembutkan dirinya hanya karena situasinya berbeda. Seraphina di seberang Garrick, freckles-nya terlihat lebih kontras dari biasanya di bawah cahaya lampion yang hangat, membaca sesuatu dari kitabnya meski di tengah perjamuan—kebiasaan yang jelas tidak dianggap tidak sopan di lingkungan akademinya.
Dari sisi Timur: Han Fei yang sudah cukup pulih untuk hadir meski tidak untuk meminum arak, dengan postur yang sedikit lebih hati-hati dari biasanya karena ada beberapa bagian yang masih dalam proses pemulihan. Mo Han di sebelahnya dengan cara duduk yang sedikit berbeda dari biasanya—kurang keangkuhan, lebih sesuatu yang, jika diamati cukup lama, terasa lebih seperti seseorang yang sedang memproses sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Fa Hai yang tasbihnya masih berputar bahkan di perjamuan, dengan cara berkomat-kamit pelan yang sudah menjadi cara ia memproses dunia—mendoakan makanan, mendoakan orang-orang di sekitarnya, mungkin mendoakan situasi yang ia saksikan dari kursinya.
Garrick menepuk bahu Yu Fan dengan cara yang membuat beberapa murid yang lewat di dekat meja itu berhenti karena suaranya bergema cukup keras. "Aku belum pernah melihat Alaric ketakutan seperti itu di arena!" suaranya mengandung kekaguman yang sangat tulus dan tidak ditutupi oleh apa pun. "Di Barat, kami punya cerita tentang hal-hal yang bisa membuat Tangan Kanan Dewa mundur setengah langkah. Kami pikir itu hanya cerita."
"Bukan mundur karena takut," koreksi Alaric—dengan nada datar yang sudah akrab sebagai cara ia berbicara tentang fakta. "Mundur karena perlu lebih banyak ruang untuk berpikir." Ia mengangkat gelasnya ke arah Yu Fan. "Persahabatan untuk kekuatan, kawan."
Yu Fan mengangkat gelasnya.
Di sebelah kirinya—konfigurasi yang tidak sepenuhnya disengaja namun yang sudah membentuk dirinya selama perjamuan berlangsung—Yuexin duduk dengan cara yang sudah sangat berbeda dari cara ia duduk di tribun selama kompetisi. Kehadiran orang-orang dari Barat di sebelah kanan Yu Fan sudah cukup untuk mengalihkan sebagian dari kapasitas perhatiannya yang biasanya ia arahkan penuh ke satu titik.
Namun di seberang meja—posisi yang juga tidak sepenuhnya disengaja, yang terbentuk karena Yan Er duduk di sana dan Xueru kemudian duduk di samping Yan Er karena tidak ada tempat lain yang tersisa dengan jarak yang sama dari Yu Fan tanpa terlihat terlalu jauh atau terlalu dekat—konfigurasi yang ada mengandung dinamika yang sangat berbeda dari dinamika antara Garrick dan Han Fei yang membicarakan teknik pertarungan dengan cara dua orang yang menemukan kesamaan yang tidak terduga.
Yan Er—dengan jubah biru Akademi Saint-Aurelius yang masih ia kenakan karena belum ada alasan untuk menggantinya—duduk dengan liontin bulan sabit pemberian Yu Fan tergantung di lehernya. Cara ia duduk sudah berbeda dari cara ia duduk di ranjang rumah sakit beberapa hari lalu—lebih tegak, lebih siap, namun tidak dengan ketegangan yang sama.
Di sebelahnya, Xueru—jubah putih yang sudah kembali sempurna, rambut yang sudah kembali dikuncir ke belakang dengan sangat rapi, anting giok di telinganya yang mengeluarkan kilau sangat tipis dari batu yang mengandung kemampuan stabilisasi Qi.
Antara dua orang ini, percakapan yang berlangsung tidak terdengar dari jarak meja yang menjadi tempat diskusi tentang teknik pertarungan yang jauh lebih aman—namun yang terlihat dari cara keduanya berbicara adalah percakapan yang berlangsung jauh lebih serius dari yang terlihat dari luar.
"Bakat pedang gandamu," ucap Xueru, suaranya sangat pelan—hanya cukup untuk Yan Er mendengar dan tidak lebih dari itu—"berasal dari warisan yang sangat kuno. Suku Ular Putih pernah memiliki teknik pedang ganda yang—dalam catatan yang ada di arsip Sekte kami—disebut sebagai salah satu dari tiga sistem pedang tertua di dunia."
Yan Er menatapnya. Ini adalah informasi yang tidak ia harapkan dari Xueru. "Sekte Teratai Putih menyimpan catatan tentang Suku Ular Putih?"
"Catatan yang sangat sedikit. Dan sangat tidak lengkap." Xueru mengambil satu gigitan dari makanan di depannya—cara yang sangat terstruktur bahkan dalam hal makan. "Namun cukup untuk mengetahui bahwa Suku Ular Putih ada sebelum banyak hal yang sekarang ada di dunia ini ada. Sebelum sistem kultivasi Qi seperti yang kita kenal. Sebelum tujuh sekte besar. Sebelum—" ia berhenti sebentar. "Sebelum banyak hal yang seharusnya sebelum itu ada."
"Kau tidak menyebut ini di mana pun dalam dua hari terakhir."
"Tidak ada konteks yang tepat." Xueru menatap ke arah yang berbeda dari Yan Er—ke arah meja di mana Dekan dan Wakil Dekan duduk, di mana percakapan yang berlangsung terlihat lebih serius dari percakapan perjamuan biasa. "Sekarang ada konteks."
Yan Er mengikuti pandangannya. Kemudian, dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah memproses banyak hal dalam beberapa hari terakhir dan sudah sampai di kesimpulan tertentu: "Kau sudah memutuskan sesuatu tentang Yu Fan."
Xueru tidak langsung menjawab. Cara ia tidak menjawab sudah menjadi jawaban tersendiri bagi seseorang yang cukup pandai membacanya.
"Aku sudah memutuskan sesuatu tentang apa yang ada di sekitar Yu Fan," ucapnya akhirnya. "Yang bukan hal yang sama."
Di seberang mereka, di sisi kanan meja, Yuexin yang tadi sedang berbicara dengan Caelum tentang teknik bidikan—percakapan yang ternyata jauh lebih menarik dari yang ia antisipasi karena Caelum ternyata menangani topik teknik dengan cara yang sangat berbeda dari cara pria-pria di akademi membahasnya—menoleh ke arah sisi seberang meja dan melihat percakapan antara Xueru dan Yan Er yang ia tidak dengar namun yang, dari cara keduanya duduk dan cara ekspresi keduanya bergerak, jelas bukan percakapan ringan.
Matanya bergerak ke Yu Fan yang sedang berbicara dengan Alaric tentang sesuatu yang melibatkan banyak gerakan tangan dari Alaric dan sedikit gerakan dari Yu Fan.
Kemudian kembali ke Xueru dan Yan Er.
Kemudian ke Yu Fan lagi.
Kemudian ia mengambil kue osmanthus dari piring di depannya dan memakannya dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sedang memikirkan sesuatu.
Saat perjamuan mulai mereda—saat makanan di meja sudah lebih banyak yang habis dari yang tersisa dan saat percakapan mulai terbagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil—Alaric memundurkan kursinya dan berdiri.
Ia menoleh ke Yu Fan. "Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Bukan sebagai ksatria Barat kepada perwakilan akademi Timur—sebagai seseorang yang sudah melihat sesuatu yang baru hari ini kepada seseorang yang masih perlu mengetahui bahwa ia sudah dilihat."
Yu Fan menatapnya.
"Di Barat, kami punya istilah untuk apa yang mengalir di dalam dirimu." Alaric berbicara sangat pelan—cukup untuk didengar Yu Fan, tidak lebih jauh dari itu. "Bukan dalam bahasa kultivasi. Dalam bahasa yang jauh lebih tua dari sistem kultivasi mana pun. Istilah itu—dalam terjemahan yang paling dekat dengan bahasa yang kita gunakan sekarang—artinya sesuatu yang tidak bisa dihapus meskipun semuanya sudah diambil." Matanya abu-abu kebiruan menatap langsung. "Ingat itu. Karena apa yang akan datang kepadamu—berdasarkan apa yang aku lihat hari ini dan berdasarkan informasi yang aku bawa dari Barat—akan mencoba mengambil sisanya."
Yu Fan tidak langsung merespons.
Di dalam dadanya, denyutan yang menjadi semakin tidak asing dari waktu ke waktu namun yang malam ini terasa lebih dalam dari biasanya.
"Siapa yang akan mencoba mengambil sisanya?" tanya Yu Fan pelan.
Alaric menatapnya selama tiga detik.
"Yang memulai semuanya," jawabnya akhirnya. "Yang berada di balik hilangnya sejarah lima puluh ribu tahun yang lalu. Yang punya kepentingan sangat besar dalam memastikan bahwa apa yang ada di dalam dirimu tidak pernah ingat sepenuhnya siapa dirinya."
Ia membungkuk satu kali—bukan penghormatan yang dibuat-buat, melainkan penghormatan yang sangat tulus dari seseorang yang tidak sering memberikannya. Kemudian berjalan ke arah kelompoknya.
Di panggung kehormatan yang sudah berubah menjadi meja perjamuan Dekan, Wakil Dekan Ruan Jing menatap ke arah meja di mana Yu Fan duduk. Di bibirnya, ekspresi yang tidak bisa dibaca dengan mudah—campuran dari terlalu banyak hal yang berbeda untuk bisa dikategorikan sebagai satu.
Ia membisikkan sesuatu ke telinga Dekan.
Dekan mengangguk—sangat kecil, sangat pelan, dengan cara seseorang yang sudah memutuskan sesuatu jauh sebelum momen ini namun yang baru sekarang mengkonfirmasinya kepada orang yang perlu mengetahuinya.
Yu Fan, dari posisinya di meja yang jauh, tidak mendengar bisikan itu.
Namun sesuatu di dalam tubuhnya—sesuatu yang malam ini sudah jauh lebih sadar akan dirinya sendiri dari sebelumnya—merasakan bahwa sesuatu berubah di ruangan itu.
Bukan dari arah ancaman. Bukan dari arah bahaya.
Dari arah sesuatu yang sedang dipersiapkan.
Sesuatu yang akan membutuhkannya—bukan Yu Fan yang Tingkat 4, bukan Yu Fan yang tidak ingat siapa dirinya—melainkan sesuatu yang lebih lengkap dari keduanya.
Di dalam cincin dimensinya, telur emas-putih-biru yang sudah dua bulan ia bawa berdenyut tiga kali berturut-turut—ritme yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, cepat dan sangat pasti, seperti sesuatu yang baru saja memutuskan bahwa sudah waktunya.