Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tembok jebol pagi buta
Pagi itu embun belum sempat kering, tapi halaman belakang kediaman Jendral sudah kayak medan latihan militer. Bedanya, yang dilatih bukan fisik. Mental.
_BRAK! BRAAAK! DOR!_
Tembok barat gudang tua yang lima tahun jadi benteng Anna, hancur dalam tiga kali hantaman balok kayu. Debu kayu lapuk ngebul, nyampur sama teriakan yang lebih nyaring dari peluit apel pagi.
"KELUAR KAU, PEL_CUR! JANGAN JADI BANGKAI PENGECUT DI DALAM!"
Suara Ratna. Tinggi. Melengking. Nusuk telinga. Gaunnya udah diganti kebaya hitam polos, rambut disanggul kencang, tanpa emas, tanpa bedak. Mode perang. Di belakangnya, barisan penuh: Widuri yang emasnya tetep aja gemerincing meski udah dikurangin, delapan selir muda Chandra yang matanya masih bengkak, dua ipar perempuan yang doyan gosip, dan 12 prajurit berseragam lengkap dengan bedil di dada.
hampir semua keluarga Minus Chandra dan kedua orang tuanya. Sengaja. Biar kalau "wanita liar" itu ketangkep, malunya ditanggung sendiri. Nggak nyeret nama Jendral.
"GELEDAH! PASTIKAN TIDAK ADA LAKI-LAKI LAIN DI DALAM!" Ratna nunjuk pondok kayu dengan dagu. "SERET WANITANYA! KITA ADILI DI DEPAN SEMUA!"
Di dalam pondok, Cikal kebangun karena jebolan tembok. "Ibu... gempa?"
Anna lagi nuang bubur ke mangkuk kecil. Tangannya nggak gemeter. Malah anteng. Dia udah simulasi adegan ini 5 tahun di kepala. Cuma waktunya aja yang nggak tau kapan.
"Bukan gempa, Sayang," jawab Anna. Dia taro mangkuk, lap tangan di celemek, terus buka lemari kayu kecil. Ngeluarin kebaya salem. Kutu baru. Mahal. Hadiah dari "Ibu Bangsawan" pasien rahasianya. "Itu suara tamu. Tamu nggak sopan."
Cikal ngangguk-ngangguk. "Tamu jahat ya, Bu? Yang suka ngintip itu?"
"Pinter," Anna nyengir. Dia lepas celemek, lepas iket rambut, sisir cepet. Nggak pake cadar. Nggak perlu. Nggak hari ini.
Di luar, Ratna udah nggak sabar. "KAU TULI YA?! KELUAR ATAU KUBAKAR PONDOK INI SEKALIAN SAMA KAU! BIAR MATI DUA KALI!"
Kata "bakar" itu yang bikin Anna berhenti nyisir rambut sedetik. Matanya ngegelap. _Oke, Ratna. Kau yang mulai pake kata itu._
_Klek._
Pintu pondok kebuka. Pelan. Nggak dibanting. Dibuka kayak tuan rumah nyambut tamu.
Dan semua suara, teriakan, bisik-bisik, gemerincing emas Widuri... berhenti.
Sinar matahari pagi yang masih malu-malu nyerong masuk lewat jebolan tembok. Jatuh pas ke satu orang yang berdiri di ambang pintu.
Anna.
Bukan Anna "gembel". Bukan Anna "mayat".
Ini Anna yang lima tahun ditempa gudang, buku, dan dendam.
Kulitnya putih bersih, nggak ada jerawat, nggak ada kusam. Pipi tirus, tapi sehat. Alis tebal alami, mata hazel tajam dengan bulu mata lentik yang nggak butuh maskara. Bibirnya nggak merah, tapi penuh, alami. Rambut sebahu, bergelombang, dikuncir setengah pake jepit mutiara satu biji. Doang. Tapi efeknya kayak mahkota.
Kebaya salem ngepas di badan yang dulu bungkuk sekarang tegak. Pinggang kecil, dada proporsional, kaki jenjang keliatan dari belahan rok. Nggak buka aurat, tapi auranya... mahal. Janda? Ini lebih kayak putri yang lagi nyamar.
Yang bikin semua orang beku itu jalannya.
Nggak nunduk. Nggak takut. Nggak gemeter.
Tegak. Dagu naik 15 derajat. Langkah pelan tapi pasti. Tiap jejak kaki telanjangnya di tanah kayak nginjek harga diri orang yang nonton.
Selir-selir muda pada saling sikut. "Itu... siapa?"... " nona muda pertama?." "Katanya jelek?" "Boong banget..."
Prajurit yang tadinya siap bedil, sekarang salting, bedilnya diturunin pelan-pelan.
Ratna? Ratna kayak ditampar pake balok yang dipake jebol tembok tadi.
Otaknya nge-lag. Mulutnya mangap. Karena dia kenal muka itu. Hafal. Benci.
Itu Anna. Kakak tirinya. Anak sah Komandan Rangga. Anak dari istri pertama. Sementara dia? Anak dari istri kedua. Selalu nomor dua. Selalu dibandingin. Selalu kalah.
"K... kau..." suara Ratna akhirnya keluar. Kecil. Gagal. "Kau masih hidup?"
Anna senyum. Dikit. Nggak sampe mata. "Pagi, Dik Ratna. Tumben main ke belakang. Biasanya kan sukanya di kamar depan, nungguin suamiku main catur."
DEG.
Satu kalimat. Nampol. Nyebut "suamiku". Nyebut "kamar depan". Nyebut "main catur". Semua orang di sini tau artinya: Chandra nggak pernah nyentuh selir-selirnya. Cuma catur. Ratna yang paling sering, tapi tetep aja zonk.
Muka Ratna langsung merah padam. "JANGAN NGALIHIN! KAU JELASIN DULU! KENAPA KAU DI SINI?! KENAPA KAU NGGAK MATI?! KAU BILANG TERBAKAR!"
"Oh, kebakaran," Anna manggut-manggut. Kayak baru inget. "Kebakaran 5 tahun lalu di kamar pengantin. Yang katanya mayatku hangus di situ. Iya, aku inget. Sakit banget waktu denger kabarnya."
Dia jalan selangkah. Pasukan mundur selangkah. Auranya nggak ngotak.
"Cuma ada yang aneh, Dik," lanjut Anna. Suaranya kalem, tapi semua denger. "Katanya mayatku. Tapi rambut mayat itu panjang. Dicepol gede. Padahal rambutku..." dia ngangkat rambutnya dikit, "dari dulu segini. Pendek. Sebahu. Nggak pernah panjang."
Hening.
Info baru. Kecil. Tapi fatal.
Dayang-dayang mulai bisik-bisik. "Iya ya..." "Aku inget, Nona Anna rambutnya pendek..." "Terus mayat siapa dong?"
Widuri di barisan belakang keringet dingin. Gelangnya _kring* pelan. Kakinya mau lemes.
"JANGAN BOHONG!" Ratna jerit, panik karena narasi mulai belok. "KALAU KAU HIDUP, KENAPA SEMBUNYI 5 TAHUN?! JADI BENALU DI RUMAH SUAMIKU?!"
"Numpang?" Anna ketawa. Pendek. Ngejek. "Ratna, sayang. Kau istri kedua. Aku istri pertama. Sah. Catetan sipil ada. Surat nikah ada. Kau numpang di rumahku. Aku yang punya hak ngusir kau, bukan sebaliknya."
Skak pertama. Ratna kejedot.
"Terus... terus itu!" Ratna panik, nunjuk pondok. "KALAU KAU ISTRI SAH, NGAPAIN DI GUDANG BUSUK?! KENAPA NGGAK DI KAMAR UTAMA?!"
"Pertanyaan bagus," Anna tepuk tangan pelan. Sekali. Sarkas. "Kenapa ya? Kenapa istri sah, malam pertama habis dicekik, besoknya kamarnya dibakar, terus dikurung di gudang?" Matanya nyalang. Pelan-pelan ngelirik ke belakang. Lewatin Ratna. Nancep ke Widuri.
"Harusnya tanya sama yang punya hobi ngurung orang dan main api," ucapnya manis. "Iya kan, Ibu Widuri?"
Semua kepala, SERENTAK, noleh ke belakang.
Widuri kaget. "Sa... saya? Ti... tidak! Saya tidak tahu apa-apa! Saya di kamar saya waktu itu!"
"Benarkah?" Anna miringkan kepala. "Padahal Cikal bilang, orang yang ngurung Ibu bau minyak tanah sama... melati. Sama kayak bau Ibu hari ini."
JEDAR.
Cikal, yang dari tadi ngintip dari pintu, sekarang keluar. "Ibu!" panggilnya. Lari nyamperin Anna, langsung peluk kaki ibunya. Matanya waspada liat orang banyak. "Itu Tante yang teriak-teriak. Jelek."
Satu halaman. Mati lagi.
Anak. Bocah. Usia 4 tahun. Bersih. Ganteng. Dagu lancip, mata biru... samar.
Persis Chandra versi mini.
Selir-selir muda pada nutup mulut. Nenek buyut tepuk jidat. "Ya Allah... Cancan kecil..."
"ANAK HARAM!" Ratna udah nggak punya rem. "KAU TIDUR SAMA SIAPA DI GUDANG INI HAH?! NGAKU! JANGAN-JANGAN SAMA PRAJURIT! SAMA TUKANG KEBUN!"
Anna nggak marah. Dia malah jongkok. Nyamain tinggi sama Cikal. Ngusap kepala anaknya.
"Cikal, Sayang," bisiknya. Tapi kenceng. "Kasih tau tante-tante galak itu, siapa yang kurung Ibu di sini pas Ibu lagi bawa Cikal di perut?"
Cikal mikir. Kerut jidat. "Yang bawa obor, Bu. Yang rambutnya digelung gede, pake emas banyak. Bilang 'bakar aja sekalian bayi haramnya'."
Satu halaman. Nafasnya. Berhenti.
Bayi. Hamil. Bakar sekalian bayi.
Semua mata balik lagi ke Widuri. Nggak ada yang ngomong. Tapi tatapannya... vonis.
Widuri lemes. Jatuh terduduk. "Ti... tidak! Anak kecil bohong! Dia diajarin! Fitnah!"
"Bukti," potong Anna. Dia berdiri. Gendong Cikal. "Buktinya aku hidup. Buktinya anakku hidup. Buktinya aku 5 tahun di sini nggak mati kelaparan. Kenapa? Karena ada yang ngirim makan. Ada yang takut aku mati beneran, terus dosanya nggak ketutup. Iya kan, Ibu?"
Widuri nangis. Beneran nangis. "Aku... aku nggak... nggak ada bukti... kalian nggak ada bukti aku yang bakar..."
Anna senyum. Senyum kemenangan. "Betul. Nggak ada bukti. Kan mayatnya rambut panjang. Bukan aku. Kasus ditutup 5 tahun lalu."
Skak mat.
Widuri lolos dari hukum. Nggak ada bukti fisik. Tapi dia nggak lolos dari tatapan satu keluarga besar yang sekarang tau dia dalangnya. Karir sosialnya, tamat. Harga dirinya, ancur. Jantungnya? Deg-degan sampe mau copot.
Ratna liat itu semua. Liat Widuri ancur. Liat Anna gendong anak yang mirip Chandra. Liat dirinya... nggak ada apa-apanya. Nggak punya anak. Nggak punya pembelaan. Nggak punya suami yang dateng.
Dia kalah. Telak. Di depan semua orang.
"Kau..." Ratna nunjuk Anna, tangannya gemeter. "Kau... kau bakal nyesel..."
"Yang nyesel itu kau, Dik," balas Anna santai. "Nyesel dobrak pagiku. Sekarang satu kota bakal tau Jendral Chandra punya anak. Dari istri pertama yang kalian kira mati. Kira-kira, rebutan takhta selir nomor 1 sampai 10 bakal kayak apa ya?"
Checkmate. Plus rokade. Plus promosi pion jadi ratu.
Anna gendong Cikal, balik badan. "Udah, Sayang. Buburnya keburu dingin. Biarin tante-tante itu beresin tembok yang mereka jebol. Kan tenaganya banyak."
Dia masuk pondok. Ninggalin halaman yang isinya: Ratna jatuh lemes, Widuri pingsan, selir-selir nangis, prajurit bingung mau hormat ke siapa, dan gosip yang 5 menit lagi bakal nyampe pasar.
Misi pagi ini: bukan nangkap basah. Tapi kebongkar basah.
Dan Anna menang tanpa keluarin jarum bius satu pun. Cukup pake mulut sama anak 4 tahun.
Di kejauhan, mobil jip berhenti. Chandra baru nyampe. Telat. Dia liat tembok jebol, liat istrinya lemes di tanah, liat mertuanya pingsan.
Terus dia liat pintu pondok nutup pelan.
Dia tau. Dia telat 5 tahun. Dan telat 5 menit pagi ini.
Perang di rumahnya... baru aja dimulai. Dan dia bahkan nggak megang peta.
cikal udah lapar pengen bubur, author ngantuk pengen kopi, aunty, uncle. laper bab selanjutnya?.
lnjut thor