NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 - Taman Bunga Rahasia

Naura merasa ada sesuatu yang berbeda di rumahnya.

Awalnya, ia tidak bisa memastikan apa itu. Mungkin karena Azzam pulang lebih siang dari biasanya, sekitar pukul tiga sore, bukan magrib seperti kebiasaannya. Atau mungkin karena Ibu Jamilah tampak sibuk membawa pot-pot tanah dan karung-karung berisi sesuatu yang berat ke arah belakang rumah.

Atau mungkin karena Azzam, saat pulang, tidak langsung masuk ke ruang kerjanya seperti biasa. Ia justru berjalan ke kamar, mengganti bajunya menjadi kaus dan celana pendek, pakaian yang sangat jarang ia kenakan lalu berjalan menuju pintu belakang dengan langkah yang terasa... bersemangat.

Naura, yang sedang duduk di ruang tengah membaca buku botani yang ia pinjam dari perpustakaan, menoleh dengan rasa penasaran yang tak bisa ia tahan.

"Azzam?" panggilnya. "Kamu mau ke mana?"

Azzam berhenti di ambang pintu belakang, menoleh lewat bahunya. Kaus putihnya ketat, memperlihatkan garis-garis otot di punggungnya yang lebar. Lengan-lengannya yang kekar terlihat jelas tanpa lapisan jubah atau koko. Rambutnya, yang biasanya tertutup sorban, tergerai bebas, sedikit berantakan karena angin.

Naura menelan ludah.

"Ya Tuhan," batinnya, "kenapa dia terlihat seperti baru keluar dari sampul novel romance?!"

"Aku mengerjakan sesuatu di belakang," jawab Azzam, nadanya misterius. "Tunggu di sini sebentar. Aku akan memanggilmu."

"Lagi apa? Kenapa Ibu Jamilah bawa-bawa pot tadi siang?"

"Tunggu," Azzam menyeringai tipis, senyum yang membuat jantung Naura berdebar tak teratur lalu menghilang di balik pintu belakang.

Naura menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan campur aduk. Rasa penasaran dan keinginan untuk mengintip berperang di kepalanya. Tapi ia tahu, jika Azzam berkata "tunggu", ia harus menunggu. Pria itu tidak pernah mengecewakannya.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Naura berjingkrak di kursinya, tidak bisa diam lagi. Ia meletakkan bukunya, berdiri, dan berjalan mengendap-endap menuju pintu belakang. Ia membuka pintu perlahan, mengintip keluar...

Tidak ada seorang pun di halaman belakang. Tapi... ada sesuatu yang berbeda.

Halaman belakang rumah yang biasanya kosong, dengan tanah yang gersang dan rumput liar yang tumbuh semaunya, kini terlihat... berubah. Ada bedeng-bedeng kecil yang baru saja dibangun di sudut, ada pot-pot tanah yang disusun rapi di sepanjang pagar, dan ada...

"Naura."

Suara Azzam membuat Naura melompat kecil. Ia menoleh dan mendapati suaminya berdiri di samping pintu, dengan tangan yang kotor penuh tanah, kaus yang kini berercak cokelat, dan senyum yang lebih lebar dari yang pernah ia lihat.

"Kemarilah," Azzam mengulurkan tangannya yang kotor, dengan sisa-sisa tanah di bawah kukunya.

Naura ragu sejenak, lalu meraih tangan itu. Azzam menariknya keluar, menuntunnya melewati halaman belakang yang telah berubah, dan berhenti di tengah-tengahnya.

Naura menatap sekeliling dengan mata yang melebar.

Di sana, di sudut halaman yang tadinya gersang, Azzam telah membangun sebuah taman kecil. Bedeng-bedeng kayu yang disusun rapi membentuk empat petak tanah yang sudah diisi tanah hitam yang subur. Di sepanjang pagar, pot-pot tanah berisi bibit-bibit bunga, mawar, lavender, daisy, dan beberapa tanaman yang tidak Naura kenali telah disusun dengan rapi. Di tengah-tengah, ada bangku kecil dari kayu yang tampak baru dibeli, menghadap ke arah sebuah lubang tanah yang belum diisi apapun.

Tapi yang membuat napas Naura tertahan bukanlah taman itu sendiri.

Di sudut paling terang taman, berdiri sebuah rak kayu kecil. Di atas rak itu, terdapat pot-pot kecil berisi sukulen, bukan sembarang sukulen, tapi varietas yang sama dengan terrarium yang Azzam berikan padanya beberapa minggu lalu. Dan di samping rak itu, ada meja kecil dengan kursi, tempat Naura biasa duduk membaca atau menulis.

Semuanya diatur dengan presisi yang luar biasa, seolah pria itu telah merencanakannya selama berminggu-minggu.

"Azzam..." suara Naura serak, matanya mulai memanas. "Ini... ini apa?"

Azzam mengusap tangannya yang kotor ke celana, lalu menatap Naura dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan,kelembutan yang tak tersembunyi, kerentanan yang biasanya ia simpan di balik ketenangannya.

"Kamu bilang kamu rindu bunga-bungamu," ucap Azzam pelan, matanya menatap Naura dengan intensitas yang membuat gadis itu sulit bernapas. "Kamu bilang kamu rindu taman di rumah orang tuamu. Kamu bilang pesantren ini terlalu kelabu, terlalu kaku, tanpa... tanpa warna."

Naura mengingat kata-katanya itu. Ia pernah mengucapkannya saat sarapan, dua hari lalu, saat ia mengeluh soal betapa gersangnya halaman belakang rumah mereka. Ia tidak menyangka Azzam mendengarkannya benar-benar mendengarkan dan menyimpannya.

"Jadi saya membuatkan ini untukmu," lanjut Azzam, melangkah mendekat ke petak tanah yang kosong di tengah. "Petak ini kosong karena saya ingin kamu yang mengisinya. Kamu bisa tanam bunga apapun yang kamu suka. Mawar putih, lavender, atau apapun. Karena ini... ini tamanmu."

Naura menatap petak tanah yang kosong itu, lalu menatap rak sukulen, lalu menatap bangku kayu, lalu menatap Azzam, Azzam yang berdiri di sana dengan kaus kotor dan tangan penuh tanah, menatapnya dengan mata yang penuh harap.

Air mata Naura jatuh. Bukan tangis kesedihan. Tapi tangis kebahagiaan yang begitu besar hingga ia tidak bisa menahannya.

"Ini... ini terlalu berlebihan, Azzam," bisik Naura, suaranya retak, air mata mengalir di pipinya yang memerah. "Kamu nggak perlu melakukan semua ini untukku. Kamu sudah... sudah melakukan banyak hal. Kamu bawaku pulang saat hujan, membuatkanku teh jahe, belain aku di depan semua orang, kamu..."

"Dan saya akan terus melakukan banyak hal untukmu," Azzam memotong lembut, melangkah mendekat, mengurangi jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangannya yang kotor tapi ia ragu, tidak ingin menyentuh wajah Naura dengan tangan yang kotor tanah, lalu menurunkannya lagi.

Tapi Naura tidak peduli.

Ia maju selangkah, meraih tangan Azzam yang kotor itu, dan meletakkannya di pipinya yang basah oleh air mata. Ia menatap mata Azzam dengan tatapan yang tidak lagi menyembunyikan apapun.

"Terima kasih," bisik Naura, suaranya bergetar. "Terima kasih sudah mendengarkanku. Terima kasih sudah menganggapku penting. Terima kasih... terima kasih karena menjadikanku warna di duniamu, bukan noda."

Azzam menelan ludah, matanya juga memanas, sesuatu yang sangat langka. Ia tidak pernah menangis di depan siapapun. Tapi saat ini, melihat Naura berdiri di depannya, di tengah taman yang ia buat dengan tangannya sendiri, memegang tangannya yang kotor dan meletakkannya di pipinya... ia merasa sesuatu di dalam dirinya retak.

Dinding yang telah ia bangun selama bertahun-tahun, dinding kesabaran, ketenangan, dan pengendalian.

Ia mengusap pipi Naura dengan ibu jarinya, menghapus air mata itu, tidak mempedulikan tanah yang mungkin menempel di kulit gadis itu.

"Kamu bukan noda, Habibti" ucap Azzam, suaranya lebih kasar dari biasanya, penuh emosi yang tertahan. "Kamu tidak pernah menjadi noda. Kamu adalah... alasan saya mulai memahami mengapa kakekku berdoa di ujung sajadahnya. Kamu adalah jawaban dari doa yang tidak pernah saya ketehui."

Naura menatapnya, bibirnya bergetar, dan tanpa berpikir,tanpa mempedulikan tanah, keringat, atau apapun ia meraih kaus Azzam dan menarik pria itu ke dalam pelukannya.

Ia memeluk Azzam erat-erat, membenamkan wajahnya di dada pria itu, menangis dengan suara yang tertahan, merasakan kehangatan dan kekokohan yang ia butuhkan selama ini.

Azzam terdiam sejenak, terkejut, lalu perlahan lengannya terulur. Ia memeluk Naura kembali, erat, seolah ingin menyembunyikan gadis itu dari seluruh dunia dan membenamkan wajahnya di leher Naura.

Mereka berdiri di tengah taman kecil itu, saling berpelukan, tanpa berkata apa-apa, karena kata-kata tidak lagi diperlukan.

.

.

.

Naura duduk di bangku yang baru, kaki telanjangnya menyentuh tanah yang masih lembap, mengamati Azzam yang sedang sibuk menanam bibit mawar putih di salah satu petak.

Ia tidak bisa berhenti menatap pria itu. Azzam, yang biasanya terlihat rapi dengan jubah putihnya, kini berlutut di tanah dengan kaus kotor, celana pendek, dan tangan yang penuh tanah. Ia menggali lubang dengan cangkul kecil, memasukkan bibit dengan hati-hati, lalu menutupinya dengan tanah dan menyiramnya perlahan.

Kesabarannya dalam menanam bunga sama dengan kesabarannya saat ia mengaji, penuh perhatian, dan dengan kelembutan yang luar biasa.

"Kamu udah terbiasa tanam bunga?" tanya Naura, suaranya sudah kembali normal, meski matanya masih sedikit bengkak.

Azzam menoleh, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya. "Tidak. Saya belajar dari buku yang kamu pinjam dari perpustakaan kemarin. Saya membacanya semalam setelah kamu tidur."

Naura terkesima. "Kamu baca buku botani?! Karena aku?!"

"Iya. Karena Istriku..," jawab Azzam sedikit jail. "Jika kamu suka bunga, saya harus tahu cara merawatnya. Karena taman ini... milik kita. Saya yang buat, tapi kamu yang rawat. Dan saya harus bisa membantumu."

Naura membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tidak tahu harus berkata apa. Pria ini... Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren besar, ustaz yang diidolakan ribuan orang, membaca buku botani di malam hari agar bisa merawat bunga untuk istrinya.

Ini bukan lagi green flag. Tapi hutan hijau.

"Cipa akan pingsan kalau denger ini," bisik Naura pelan.

Azzam menatapnya dengan alis terangkat. "Cipa?"

"Sahabatku," Naura tersenyum tipis, lalu menghela napas. "Azzam, aku... aku mau jujur."

Azzam meletakkan cangkulnya, menatap Naura dengan perhatian penuh. "Bicaralah."

"Aku dulu... aku dulu nolak perjodohan ini karena aku takut," akui Naura, matanya menatap tanah di bawah kakinya. "Aku takut kehilangan kebebasanku. Takut dikurung. Takut jadi orang yang bukan diriku. Tapi sejak datang ke sini... sejak mengenalmu... aku sadar bahwa kamu bukan penjara. Kamu..."

Ia menoleh, menatap Azzam dengan mata yang jujur dan rapuh.

"Kamu justru orang yang membuatku ingin menjadi versi terbaik dari diriku sendiri. Bukan karena dipaksa. Tapi karena kamu membuatku merasa bahwa versi terbaik itu... layak dicapai."

Azzam menatap Naura lama-lama, dan untuk sesaat, senyum itu menghilang dari wajahnya, bukan karena tidak senang, tapi karena ia sedang berjuang menahan sesuatu yang sangat kuat di dalam dadanya.

Ia berdiri, berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Naura yang duduk di bangku. Posisi mereka terbalik biasanya Naura yang berlutut menatap Azzam, kali ini Azzam yang berlutut menatap Naura, dengan tangan yang kotor dan mata yang lebih lembut dari cahaya bulan.

"Naura," bisik Azzam, suaranya bergetar sedikit. "Jangan pernah berubah menjadi orang lain karena siapapun. Jangan berubah karena saya. Kamu sudah cukup sempurna apa adanya. Dan jika ada hari di mana kamu merasa pesantren ini terlalu sempit, atau saya terlalu kaku, ataupun... aturan-aturan ini terlalu berat... kamu tidak perlu berjuang sendirian. Kamu bisa berteriak padaku, marah padaku, meninggalkanku. Dan saya akan tetap di sini, menunggumu."

Ia mengulurkan tangannya masih kotor.

Naura menatap tangan itu, lalu menatap mata Azzam, dan merasa sesuatu di dalam dirinya akhirnya menemukan tempatnya.

Ia meletakkan tangannya di atas tangan Azzam.

"Bersihkan tanganmu dulu, Gus," bisik Naura dengan senyum getir, matanya masih basah. "Nanti tanahnya menempel ke mukaku."

Azzam tertawa, tawa yang membuat bahunya bergetar dan matanya berkilat. Ia berdiri, menarik Naura bersamanya, dan bersama-sama mereka berjalan menuju keran air di sudut halaman.

Di bawah keran itu, Azzam mencuci tangannya, dan Naura membantunya, menyiram air ke tangan suaminya, mengusap tanah yang menempel di sela-sela jarinya, merasakan kulitnya yang kasar oleh kerja keras namun hangat oleh kelembutan.

Mereka tidak menyadari bahwa dari jendela asrama putri di kejauhan, sepasang mata sedang menatap mereka dengan kebencian yang semakin dalam.

Zahra Humaira berdiri di sana, memegang kerudungnya, menatap Naura yang sedang tertawa sambil menyiramkan air ke tangan Azzam, sebuah pemandangan yang sangat intim, dan sangat menyakitkan bagi gadis yang telah mencintai pria itu sejak bertahun-tahun.

"Naura mencuri Azzam dariku," bisik hati Zahra, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga berdarah. "Dan sekarang dia bertindak seolah dia berhak mendapatkan kebahagiaan itu."

Zahra berbalik, berjalan menjauh dari jendela, dengan tekad yang semakin gelap.

Jika dia tidak bisa mendapatkan cinta Azzam dengan cara yang benar, maka dia akan menghancurkan siapa pun yang menghalanginya.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!