Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA TERPENDAM
Sudah genap satu tahun lebih dua bulan Seruni bekerja di kediaman megah keluarga Wijaya. Keringat, lelah, dan kesabaran yang ia curahkan perlahan mulai membuahkan hasil. Ia tak lagi dianggap sekadar pembantu baru yang asing dan canggung. Kerajinan, ketulusan, serta kelembutan hatinya membuat Ibu Siti dan seluruh penghuni rumah itu makin menyayanginya. Bahkan Tuan Wijaya dan istrinya pun sering memuji diam-diam, merasa beruntung mendapatkan pekerja yang begitu setia dan teliti.
Namun yang paling berubah sikapnya adalah Rendra, anak tunggal keluarga Wijaya. Pemuda berusia dua puluh tahun itu tampan, cerdas, ramah, dan sangat berpendidikan. Ia baru saja pulang dari kota besar lain setelah menyelesaikan pendidikannya, dan sejak pertama kali melihat Seruni, Rendra selalu tertarik pada gadis desa yang sederhana itu. Berbeda dengan pemuda kaya lain yang sombong dan memandang rendah pembantu, Rendra selalu bersikap sopan, lembut, dan sering mengajak Seruni mengobrol sebentar setiap kali berpapasan. Ia kagum melihat ketabahan Seruni, cara gadis itu bekerja tanpa mengeluh, dan senyum tulus yang tak pernah hilang dari bibirnya meski tugasnya sangat berat.
Pagi itu, Rendra turun ke dapur belakang saat Seruni sedang sibuk mengaduk adonan kue. Ia berdiri di ambang pintu sejenak, menatap gadis itu yang berkeringat namun tetap terlihat rapi dan bersih.
"Seruni," panggil Rendra lembut.
Seruni kaget, buru-buru berhenti bekerja dan menunduk hormat. "Ada perintah apa, Tuan Muda?"
Rendra tersenyum tipis. "Sudah kubilang, jangan panggil aku begitu. Panggil saja Rendra. Ada sesuatu... besok sore ada pesta ulang tahun sahabatku, putra keluarga terpandang di kota ini. Acaranya besar, ramai, dan semua orang penting akan datang. Aku butuh teman bicara, dan aku suka caramu membawa diri... sopan, tenang, dan tidak berisik. Maukah kau menemaniku ke sana? Sebagai pendamping saja, tidak perlu melakukan apa-apa."
Seruni tertegun, matanya membelalak kaget. Ia seorang pembantu, orang desa miskin yang cuma punya satu dua baju sederhana. Bagaimana mungkin ia bisa ikut ke acara para bangsawan dan orang kaya?
"Maaf... Tuan... eh, Rendra. Saya kan hanya pembantu. Saya tak pantas ada di tempat seperti itu. Nanti Tuan yang dipermalukan karena saya," jawab Seruni pelan, menolak dengan sopan namun tegas.
Rendra menggeleng, lalu maju selangkah mendekat. "Tidak ada yang pantas atau tidak pantas. Aku yang mengajak, aku yang bertanggung jawab. Jangan khawatir soal pakaian, ibuku pasti punya baju yang pas untukmu. Kumohon, temani aku ya? Aku merasa lebih tenang kalau ada kau di sampingku."
Melihat ketulusan dan permintaan itu, serta rasa hormat yang selalu ditunjukkan Rendra padanya, Seruni akhirnya tak kuasa menolak. Ia mengangguk pelan, meski di dalam hatinya sudah penuh rasa gugup dan takut.
Keesokan sore, Seruni disiapkan dengan rapi oleh pembantu-pembantu lain. Ibu Siti memberikan sebuah kebaya sederhana namun indah berwarna biru muda, kain halus yang dulu pernah dipakai Nyonya Wijaya. Rambut panjang Seruni disanggul rapi, wajahnya dibersihkan dan dirapikan sedikit, tanpa riasan berlebih. Saat ia keluar dari kamar, bahkan Rendra pun terpaku sejenak. Seruni yang sederhana kini tampak sangat cantik, anggun, dan berwibawa, kecantikannya yang alami jauh mengalahkan gadis-gadis kota yang penuh hiasan dan riasan tebal.
Mereka berangkat dengan kereta kuda mewah milik keluarga Wijaya. Sesampainya di rumah tuan rumah pesta, suasana begitu meriah dan megah. Lampu-lampu gantung berkilauan, musik mengalun lembut, dan ratusan tamu berpakaian indah berbaur mengobrol dan tertawa. Saat Rendra masuk disambut teman-temannya, Seruni berjalan beberapa langkah di belakangnya, menundukkan pandangan, merasa sangat kecil dan asing di tengah kemewahan itu.
Namun, pandangan orang-orang di sekitarnya segera berubah. Awalnya mereka tersenyum ramah, tapi saat melihat pakaian Seruni yang agak ketinggalan zaman, cara berjalannya yang sederhana, dan terutama saat mendengar bisikan bahwa gadis itu adalah pembantu di rumah Wijaya... senyum-senyum itu berubah menjadi pandangan meremehkan, sinis, dan penuh ejekan.
"Lihat tuh, Rendra bawa siapa? Bukannya itu pembantu di rumahnya ya?" bisik seorang gadis cantik berpakaian merah menyala, suaranya cukup keras agar terdengar Seruni.
"Benar juga! Berani sekali dia masuk ke sini. Memangnya dia pikir dia siapa? Cuma pembantu kok sok cantik, sok ikut-ikutan masuk kalangan kita," sahut temannya sambil tertawa sinis.
Satu persatu pandangan tajam dan kata-kata pedas mulai menghujam Seruni.
"Dasar rakyat jelata."
"Kasihan sekali, muka lumayan tapi nasibnya cuma jadi pelayan."
"Jangan-jangan dia mau cari mangsa kaya di sini ya? Dasar wanita murahan."
Kata-kata itu seperti pisau tajam yang menusuk-nusuk hati Seruni. Ia menunduk makin dalam, tangannya menggenggam ujung kebaya erat-erat menahan air mata yang ingin jatuh. Ia ingin sekali lari keluar, pulang, kembali ke dapur belakang yang sederhana namun damai. Ia tahu ia tak pantas di sini, ia tahu ia cuma pembantu. Rasa malu dan sakit hati itu luar biasa besarnya.
Beberapa teman laki-laki Rendra bahkan sengaja mendekat, menggodanya dengan nada kasar dan merendahkan. "Hei cantik... kalau bosmu sudah selesai ngobrol, nanti kau layani kami ya? Kan pekerjaanmu melayani orang, kan?"
Seruni diam saja, menelan ludah pahit, tak membalas sedikit pun. Ia ingat pesan Liam, ingat janji mereka, ingat tujuan utamanya datang ke kota ini: bertahan, sabar, lunasi hutang, lalu pulang. Itulah satu-satunya hal yang membuat kakinya tetap berdiri tegak di sana.
Di sebelahnya, Rendra mendengar dan melihat semuanya dengan sangat jelas. Wajahnya memerah menahan marah yang meluap-luap. Ia ingin sekali membentak mereka, ingin sekali membela Seruni sekuat tenaganya. Tapi ia sadar, kalau ia meledak sekarang, nama baik keluarganya akan tercemar, dan nama Seruni makin dihina. Ia menggenggam tangan Seruni pelan, memberi isyarat tenang dan kekuatan. Genggaman hangat itu sedikit menenangkan hati Seruni yang hancur.
Acara berlangsung berjam-jam yang terasa seperti selamanya bagi Seruni. Ia bertahan diam, tersenyum tipis saat diperkenalkan, menjawab sopan meski dihina, dan tetap berdiri tegak di samping Rendra dengan kepala tetap terangkat, menunjukkan martabatnya yang tinggi meski miskin.
Saat perjalanan pulang di dalam kereta kuda mewah itu, suasana hening dan berat. Seruni duduk di sudut kursi, menatap ke luar jendela yang gelap, air mata akhirnya jatuh diam-diam membasahi pipinya. Ia merasa sangat menderita, merasa dirinya sangat rendah dan buruk.
"Maafkan aku, Seruni..." suara Rendra memecah keheningan, terdengar berat dan penuh rasa bersalah. "Aku tidak menyangka mereka akan sejahat itu padamu. Aku bodoh, seharusnya aku tidak mengajakmu. Kau tersakiti gara-gara aku."
Seruni mengusap air matanya, menoleh dan tersenyum tipis, senyum yang tulus dan ikhlas. "Bukan salahmu, Rendra. Memang benar kata mereka... saya hanya pembantu. Saya rakyat jelata. Saya tidak pantas ada di tempat mewah itu. Terima kasih sudah mau mengajak saya, terima kasih sudah mau memandang saya setara dengan manusia lain."
Kalimat itu, ketabahan itu, dan kelembutan hati gadis itu... memecahkan sesuatu di dalam dada Rendra.
Sejak hari pertama ia melihat Seruni, ia memang tertarik. Tapi hari ini, melihat bagaimana gadis itu menahan rasa sakit, menghadapi penghinaan yang kejam dengan sabar dan rendah hati, tetap tersenyum dan tak membenci siapa pun... rasa kagum itu berubah menjadi rasa yang jauh lebih dalam, jauh lebih kuat, dan jauh lebih indah.
Rendra menyadari satu hal besar: semua gadis kaya, cantik, dan terpandang yang ia kenal di kota ini, semuanya kosong. Cantik luar saja, tapi hatinya sombong, jahat, dan penuh kepura-puraan. Sedangkan Seruni... meski bajunya sederhana, meski statusnya rendah... ia memiliki hati yang paling indah, paling murni, dan paling berharga yang pernah ada.
Rendra menatap wajah gadis itu lekat-lekat dalam remang cahaya kereta. Jantungnya berdegup kencang, rasa hangat dan ingin melindungi memenuhi seluruh dadanya. Ia mulai jatuh cinta. Ia mulai mencintai Seruni dengan sepenuh hati.
Tapi di saat yang sama, Rendra sadar akan kenyataan pahit. Ia tahu Seruni ada di sini karena hutang. Ia tahu Seruni bekerja keras demi orang tuanya. Dan yang paling penting... ia melihat kilatan mata Seruni, senyumnya saat menatap langit, cara gadis itu berbisik pelan sendiri di malam hari menyebut nama seseorang yang jauh. Rendra tahu ada seseorang yang menunggu gadis ini di desa jauh sana. Ada janji suci yang lebih besar dari apa pun.
Rendra menundukkan pandangannya, menyembunyikan rasa cintanya yang baru tumbuh itu rapat-rapat di dalam hati. Ia tak akan mengatakannya. Ia tak akan mengganggu. Ia hanya akan memendam rasa itu sendirian, menjadi rahasia hatinya sendiri selamanya. Ia bertekad akan menjaga Seruni, melindunginya dari penghinaan orang lain, membuat masa kerja gadis itu lebih ringan dan bahagia... sampai saatnya tiba Seruni pulang kembali ke tempat asalnya, ke orang yang dicintainya.
"Seruni..." ucap Rendra pelan, suaranya lembut namun ada rasa sedih yang terselip. "Mulai sekarang, tidak ada yang boleh menghinamu lagi. Selama kau ada di rumahku, di bawah perlindunganku... kau adalah tamu terhormat, bukan sekadar pembantu. Aku janji."
Seruni tersenyum haru, mengangguk berterima kasih. Ia sama sekali tak menyadari badai perasaan yang sedang bergulung di hati pemuda di sebelahnya itu. Ia hanya mengira Rendra adalah tuan muda yang sangat baik hati dan dermawan.
Kereta kuda itu melaju membelah kegelapan malam, membawa Seruni yang hati kecilnya kembali tenang, dan membawa Rendra yang kini menyimpan satu rahasia besar: rasa cinta yang tumbuh diam-diam, yang ia jaga dan pendam dalam-dalam, demi kebahagiaan gadis yang dicintainya.
Di kejauhan, ribuan kilometer jauhnya, di dekat jendela kayu gubuk tua itu, Liam masih berdiri diam menatap bulan purnama yang sama. Ia merasakan ada perubahan halus, ada rasa perhatian baru yang mengarah pada Seruni. Matanya menyala merah samar sekejap, namun kemudian kembali dingin dan tenang. Ia tahu, Seruni gadis yang baik. Siapa pun yang bertemu dengannya pasti akan menyayanginya. Dan ia percaya, hati Seruni tetap miliknya, terikat oleh janji darah yang takkan pernah putus.