NovelToon NovelToon
TIDAK ADA MAAF

TIDAK ADA MAAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis Ringkas

Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.

Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.

Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.

Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.

Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.

Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.

Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Tempat Pertama Lagi

Pagi itu, suasana di dalam apartemen kembali sunyi senyap. Seolah kehangatan kecil yang sempat hadir semalam hanya sesuatu yang singgah sebentar, lalu hilang lagi begitu saja tanpa jejak.

Kayla berdiri diam di depan meja dapur, menuangkan kopi panas ke dalam cangkir kesukaan Adrian. Gerakannya lambat dan lemah. Matanya terlihat masih sedikit sembab dan bengkak, sisa dari malam yang kembali ia lalui dengan susah tidur.

Bukan karena menangis. Bukan karena meratap. Tapi karena terlalu banyak berpikir.

Berpikir tentang Adrian yang makin jauh. Tentang Bianca yang makin sering ada di antara mereka. Tentang dirinya sendiri yang makin lama makin asing. Dan yang paling melelahkan… berpikir tentang harapan yang selalu ia bangun sendiri, hanya untuk patah kembali oleh kenyataan yang sama.

 

Adrian keluar dari kamar tidur dengan wajah yang terlihat sangat lelah dan kuyu. Matanya masih berat, seolah ia pun tidak mendapatkan istirahat yang cukup semalam.

Begitu duduk di kursi meja makan, pria itu langsung sadar ada sesuatu yang berubah dari diri Kayla. Wanita itu jauh lebih diam dibanding biasanya. Gerakannya lebih hati-hati, lebih menjaga jarak, dan lebih tertutup.

Dan entah kenapa… perubahan itu justru membuat Adrian merasa frustrasi sendiri, merasa kesal yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana.

Karena setiap kali ia mencoba mendekat, setiap kali ia berniat memperbaiki keadaan, rasanya selalu ada saja hal yang salah. Selalu ada dinding yang makin tinggi.

“Kamu marah sama aku?” tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan pagi itu.

Kayla mengangkat kepalanya sebentar, menatap samar ke arah suaminya, lalu kembali menunduk ke cangkir di tangannya. “Nggak. Ngapain marah,” jawabnya datar.

Jawaban cepat itu terdengar terlalu biasa, terlalu sering ia dengar keluar dari mulut wanita itu sekarang. Sudah bukan kejujuran lagi, melainkan tameng.

Adrian mengembuskan napas kecil kasar. “Kalau ada yang mau dibahas, atau ada yang nggak kamu suka, ngomong aja. Jangan diem-dieman gini.”

Kayla hampir tertawa kecil mendengar kalimat itu. Hampir saja.

Karena setiap kali ia mencoba bicara jujur, setiap kali ia berani mengungkapkan rasa sakit atau kekhawatirannya… ujungnya selalu dianggap berlebihan, dianggap terlalu banyak berpikir, atau dianggap tidak percaya padanya.

Namun tentu saja ia tidak mengatakan itu semua. Ia sudah lelah berdebat.

“Beneran nggak apa-apa. Cuma lagi capek aja,” jawabnya pelan.

Dan lagi-lagi… mereka memilih diam dan menyembunyikan isi hati, daripada berani saling jujur.

 

Di kantor siang harinya, Adrian mencoba sekuat tenaga untuk fokus bekerja. Ia menatap tumpukan berkas di atas mejanya, namun sejak pagi pikirannya terus kacau, berputar-putar pada wajah Kayla yang muram dan diam.

Ia bahkan beberapa kali salah membaca data, salah mencatat angka, sampai membuat staf di sekitarnya saling pandang bingung.

“Bos kita lagi kenapa sih? Kok dari pagi kacau banget kerjaannya?” bisik salah satu staf di dekat pintu.

Bianca yang kebetulan lewat dan mendengar percakapan itu, hanya tersenyum samar sambil melirik ke arah ruangan kerja Adrian.

Ia tahu persis penyebabnya. Dan entah kenapa, rasa puas kecil menjalar di hatinya.

Wanita itu berjalan masuk ke ruangan Adrian sambil membawa secangkir kopi panas dan beberapa dokumen penting.

“Nih, kopi penenang. Kelihatannya butuh banget,” ucapnya santai sambil meletakkan cangkir itu di meja.

Adrian mengangkat kepala sebentar, menatapnya sekilas. “Makasih.”

Bianca duduk santai di kursi depan meja kerjanya, menyandarkan punggung dengan nyaman.

“Kamu habis ribut lagi sama istri ya?”

“Nggak. Nggak ada apa-apa,” jawab Adrian singkat sambil kembali menunduk.

“Terus muka kamu kayak orang mau cerai gitu? Tekor banget lihatnya.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada bercanda, ringan seolah tidak ada beban. Namun entah kenapa, kata-kata itu justru membuat Adrian sedikit tersinggung dan tidak nyaman.

“Jangan ngomong sembarangan. Nggak lucu,” tegurnya ketus.

Bianca mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah. “Oke, oke. Maaf deh. Aku cuma nebak aja.”

Lalu beberapa detik kemudian, saat suasana hening, wanita itu berkata pelan namun penuh penekanan.

“Tapi serius lho… kamu kelihatan nggak bahagia banget akhir-akhir ini. Kayak orang terbebani berat banget gitu.”

Adrian langsung diam membeku.

Karena untuk pertama kalinya… kalimat itu benar-benar masuk ke dalam kepalanya, berputar, dan menamparnya dengan keras.

Apakah aku bahagia?

Dan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu dan menyakitkan, Kenapa akhir-akhir ini aku justru merasa lebih ringan, lebih santai, dan lebih hidup saat bersama Bianca, dibanding saat berada di rumah bersama istriku sendiri?

Pikiran itu muncul begitu saja, jelas dan nyata, dan membuat Adrian merasa sangat bersalah, sangat kotor, dan sangat bingung.

Namun bersamaan dengan rasa bersalah itu… ia juga tidak bisa menyangkal kebenarannya.

 

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, ponsel Kayla bergetar pelan di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nama yang sudah lama tidak muncul rutin,

Pesan. Julian.

"Aku jadi daftarin kamu buat datang ke reuni minggu depan ya 😄 Sudah konfirmasi nama kamu ke panitia"

Kayla langsung tersenyum kecil begitu membacanya. Senyum yang ringan dan tulus.

pesan. kayla.

"ok sepihak banget sih? Belum tentu aku bisa atau mau lho". 😂

Pesan. Julian.

"Aku tahu kamu bakal datang. Dulu kan kamu paling antusias kalau soal acara kampus. Gak mungkin nolak."

Kayla terkekeh pelan sendirian di ruang tamu.

Sudah sangat lama sekali ia tidak tertawa kecil atau tersenyum lepas hanya karena pesan singkat sederhana seperti ini.

Dan anehnya… berbicara dengan Julian rasanya begitu ringan. Tidak melelahkan. Tidak penuh kewaspadaan. Tidak harus berhati-hati mengatur kata-kata agar tidak salah paham seperti saat ia berbicara dengan Adrian sekarang.

pesan. Kayla.

"Iya deh. Aku usahain datang. Makasih ya udah ingat."

Kayla menatap layar ponselnya cukup lama setelah pesan terkirim.

Dulu.

Kata itu kembali membuatnya merindukan dirinya sendiri. Merindukan masa di mana ia masih menjadi Kayla yang ceria, berani, punya mimpi, dan punya banyak teman. Bukan hanya menjadi bayangan istri seseorang yang selalu menunggu di rumah.

 

Malam harinya Adrian pulang lebih larut lagi dari biasanya.

Saat ia masuk ke dalam apartemen, ia melihat Kayla sedang duduk di meja makan dengan laptop lama miliknya terbuka di depan wajah. Cahaya layar menerangi wajah wanita itu yang tampak serius.

Pria itu sedikit terkejut melihat pemandangan itu. Sudah lama sekali ia tidak melihat Kayla menggunakan laptopnya.

“Kamu ngapain? Lagi kerjaan rumah atau apa?” tanyanya sambil meletakkan tas.

Kayla buru-buru menutup layar laptop itu sedikit, seolah menyembunyikan sesuatu. “Nggak kok. Nggak ada apa-apa.”

Adrian berjalan mendekat dan mengintip sekilas. Matanya sempat menangkap tulisan-tulisan, dokumen, dan nama-nama mata kuliah lama di sana.

“Kamu buka-buka tugas kuliah dulu? Atau catatan lama?”

Kayla mengangguk kecil, memainkan ujung bajunya. “Lagi pengen lihat-lihat aja. Iseng aja.”

Adrian memperhatikannya beberapa detik dengan pandangan yang sulit dimengerti. Lalu tanpa sadar, pertanyaan itu meluncur keluar.

“Kamu… kangen masa kuliah ya? Kangen masa-masa itu?”

Kayla terdiam sesaat. Hening cukup lama.

“…iya,” jawabnya sangat pelan. Hampir berbisik. Namun kali ini Adrian benar-benar mendengarnya. Jelas dan penuh makna.

Dan untuk pertama kalinya malam itu… Adrian sadar ada banyak hal tentang Kayla yang selama ini tidak pernah lagi ia perhatikan, tidak pernah ia tanyakan, dan tidak pernah ia pedulikan.

Mimpi-mimpinya. Keinginannya. Dunianya. Kesepiannya.

Karena selama ini… segalanya di rumah ini hanya berpusat pada dirinya sendiri. Hanya berputar pada kebutuhan, kenyamanan, dan dunianya.

 

Beberapa saat kemudian, saat Adrian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ponselnya yang tertinggal di meja ruang tamu tiba-tiba menyala dan bergetar pelan.

Kayla yang sedang membereskan gelas refleks menoleh.

Dan begitu matanya menangkap nama pengirim pesan itu, dadanya langsung terasa dingin lagi. Seperti disiram air es.

pesan. Bianca 🌹

"Besok aku jemput kamu ya 😉 Kita langsung ke tempat acara aja."

Kayla menatap layar yang menyala itu cukup lama. Menatap nama itu, menatap emoji mawar itu, dan menatap keakraban dalam kalimat itu.

Lalu perlahan ia memalingkan wajah dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Entah sejak kapan… dirinya bukan lagi tempat pertama yang dicari Adrian. Bukan lagi orang pertama yang diajak berbagi waktu. Bukan lagi prioritas utama dalam hidup suaminya.

Dan yang paling menyakitkan… ia bahkan tidak punya hak untuk marah atau melarang, karena selama ini ia selalu mengizinkan segalanya demi mempertahankan kedamaian yang semu.

 

1
Uthie
Yaaa iya lahhh.. pantas Kayla milih keputusan itu 😏

sudah berapa banyak kesempatan yg sudah diberikan Kayla padamu Adrian, terus apa pembuktian yg kau tampakkan pada Kayla?! Hanya janji palsu yg terus akan lebih memilih si perempuan yg selalu jual kesedihan dan kesakitan nya itu kan!? 😡😡

intinya kau sdh diberikan kesempatan beberapa kali!!!! dan beberapa kali pula kau langgar janji tsb!!!! paham tak kauuu!!! 😤
Uthie
Tau tuhh cowok gak mau sadar juga apa😡

udahlahh... kalau kau terus akan merasa bersalah dan kasian pada wanita lain, sehingga ketika dia panggil kau terus-terusan pula kau datang dan lebih memilih ia daripada istrimu, lebih baik kau lepaskan saja istrimu itu daripada kau siksa terus hatinya karena tingkah mu itu yg telah mendua 😡😡😡
sunaryati jarum
Cepat masalah keduanya selesai jika gugat cerai segera gugat , Adrian sudah mengakui dan kamu melihat sendiri.Adrian tak janji ,kamu ingin terus merawat Bianca ya lanjutkan.Untuk berhenti nangis dan bangkit.Jangan buat muter-muter terus,baikan , capek,baikan lagi,gitu terus cuma muter-muter gak pusing???
sunaryati jarum
Kayla cinta ya cinta tapi lihat realita.Adrian berkali-kali janji tapi juga berkali-kali mengingkari . Masa orang seperti itu kau tangisi segitunya.Ysng kau tangisi saja selalu meninggalkan kamu dan memberi perhatian dan kehangatan pada wanita lain.Maka Adrian semakin besar kepala dengan selalu ninggalin kamu demi Bianca, karena hanya janji di mulut saja kamu luluh.Jadi berhenti menangis jangan seperti wanita murahan demi suami yang hatinya plin- plan.Bangkit dan buang rasa cintamu ingat pengkhianatan Adrian dan malu menangis lagi Besok kalau masih mengandalkan tangisan tak deled kisahmu .
mama
boseeeeeeeen, boseeeeeen.. tp up cerita dan kata2 itu2 aj..bner bgt kak cerita muter2 mulu.. sampe bosen kata2 cm masih cinta,capek,minta maaf,janji.. hadeeeh gk bosen2 ny tiap bab itu2 trs kata2 ny..gk ad kata perceraian kek ato perpisahan🤣..klu gini2 trs kpn tamat ny😄.
mama
boseeeeeeeen, boseeeeeen.. tp up cerita dan kata2 itu2 aj..bner bgt kak cerita muter2 mulu.. sampe bosen kata2 cm masih cinta,capek,minta maaf,janji.. hadeeeh gk bosen2 ny tiap bab itu2 trs kata2 ny..gk ad kata perceraian kek ato perpisahan🤣..klu gini2 trs kpn tamat ny😄
Tini Uje
kpn kelar nya nih masalah..mutar2 mulu 🙄ntarr balikan lagi truss masalah lagii..itu itu mulu yg dibaca
watini
nyampe bab 100 juga gak bakalan kelar. muter ae terus. orang Kayla lagi tutor menyakiti diri sendiri.
stela aza
males bgt dr kemarin kerjaannya cuma nangis doank ,,, kalau emang mau udahan y udh tegessin langsung sama orang nya mumpung ada di depan pintu biar semua clear ,,, jangan cuma nangis doank bisanya jadi gemes 🤦🙏
mama
km bner2 suami terberengsek andrian,yg km inget2 cm saat tatapan keyla kodong ddpn apartemen Bianca..nah trs saat km ciuman dan meluk pinggang Bianca lupaaa gituuu🤣
mama
terlambsaaaaaat🤣.. nok sana ke Bianca bntar lgi psti tlp nyariin km.. dan dgn pd km Cusss pergi trs keyla bakal diam ajjj,.sekarang rasain klu keysa udh pergi😄
Uthie
Dan nyebelin juga si Kayla nya pas dia selalu aja bilang sesudah disakitin hatinya: 'Tapi aku masih aja cinta pada Andrian" 😝
nyebelin banget dehhh 😌
Uthie
Lo nyalahin si Niancay, lahhh Lo juga harus nya liat diri Lo sendiri!!!!
yg selalu bikin si Bianca bergantung diri sama.kamu siapa???!!! Lo juga kan!!! 😝
Yg selalu nyamperin dia pas di Telp atau pesan suruh datang siapa?!??? Bahkan saat Kayla pingin di dengar untuk gak pergi ke cewek itu, tapi Lo tetep no 1 tuhh cewek buat Lo sok urusin!!! sedang Lo gak pernah mikir bagaimana perasaannya Kayla saat Lakinya lebih milih cewek lain!!! 😡😡😡
Mikir dongg Lo!!! 😡😤
Uthie
Basiiij bangettttt Lo Adrian 😝😝😝😝
Uthie
Basi lahhh si Adrian 😡
sunaryati jarum
Pilihan kamu pada Kayla sudah terlambat, Adrian.Karena dengan kesadaran kamu yang lebih mengutamakan wanita penyakitan itu.Coba jika kamu milih Bianca kebahagiaan Napa yang kau dapat,kau jadi perawatnya dan sandaran hidupnya selamanya, karena kejahatan kalian pada Kayla kesehatan Bianca tidak membaik tapi memburuk karena hatinya busuk.Itu harapan emak
sunaryati jarum
Kesadaran akan banyak kesalahan kamu sudah terlambat,cinta Keyla mungkin sudah akan berubah benci,dan tidak ada maaf bagimu
Anonim
awokawok lemah anjing
sunaryati jarum
Tinggal menunggu karma Bianca dan Adrian.Walaupun Bianca meminta jika Adrian tidak datang memberi harapan maka kejadian itu terhenti.Jadi keduanya harus menerima konskueinnya
sunaryati jarum
Nah gitu masa suami seperti itu masih diberi kesempatan, biarkan mengurus wanita berprnyakitan tapi mampu menyakiti hati istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!