NovelToon NovelToon
Nusantara Pysco

Nusantara Pysco

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Rei

Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Laboratorium Sementara

# Bab 14 — Laboratorium Sementara

**POV: Hime & KSAN**

---

## BAGIAN 1: HIME

Pagi itu, kami memutuskan untuk mendirikan laboratorium sementara di gudang tua. Bukan tempat yang ideal—atapnya bocor, lantainya berdebu, dan baunya apek. Tapi itu adalah satu-satunya tempat yang cukup terisolasi dari warga desa.

KSAN membawa peralatan dari rumahnya—laptop, monitor, kabel, dan beberapa perangkat yang tidak bisa kuidentifikasi. Aku membawa perangkatku dan fragmen-fragmen energi yang berhasil kami kumpulkan.

"Ini akan menjadi pusat operasi kita," kataku, meletakkan perangkatku di atas meja kayu yang sudah dibersihkan.

"Kedengarannya keren," kata KSAN. "Tapi kelihatannya seperti gudang biasa."

"Aku bilang 'akan menjadi.' Butuh waktu."

Kami bekerja sepanjang pagi. KSAN memasang kabel dan monitor. Aku mengkalibrasi perangkatku untuk membaca fragmen. Hubble mengirim Karmas dan Tigap 1 untuk berjaga di luar.

Reiki duduk di sudut, membaca buku catatan yang kuberikan. Sesekali ia mendongak, mengamati kami bekerja, lalu kembali membaca.

"Kau tidak membantu?" tanya KSAN.

"Aku tidak tahu cara memasang kabel," jawab Reiki. "Tapi aku bisa membaca."

"Buku catatan itu?"

"Ini tentang psikis. Tentang cara mengendalikan kekuatan."

Aku menatapnya. "Kau sudah sampai bab mana?"

"Tentang meditasi energi. Katanya, untuk mengendalikan kekuatan, aku harus bisa merasakan aliran energi di dalam tubuhku."

"Dan kau sudah mencobanya?"

"Belum. Aku takut."

"Takut apa?"

Ia menatapku. "Takut bahwa jika aku mulai merasakan energi itu, aku tidak akan bisa berhenti."

Aku berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. "Kau tidak akan kehilangan kendali selama aku di sini."

"Kau yakin?"

"Aku yakin."

Ia menarik napas dalam-dalam. Lalu ia menutup mata.

Aku mengawasinya. Wajahnya tegang, lalu perlahan rileks. Tangannya—yang awalnya mengepal—mulai terbuka.

"Aku merasakannya," bisiknya. "Energi itu. Mengalir di dalam diriku."

"Bagus. Jangan melawannya. Biarkan ia mengalir."

Ia diam beberapa saat. Lalu ia membuka mata. Matanya—biasanya ungu—kini bercahaya biru samar.

"Aku bisa melihatnya," katanya. "Energi di sekitarku. Di udara, di tanah, di dalam tubuh kalian."

Aku tersentak. "Kau bisa melihat aura?"

"Aku... aku pikir begitu."

Ini luar biasa. Kemampuan melihat aura adalah level Malaikat Psikis—level yang seharusnya butuh bertahun-tahun untuk dicapai. Tapi Reiki baru saja melakukannya secara insting.

*Dia belajar terlalu cepat.*

Tapi itu juga berarti ia semakin dekat dengan batasnya. Semakin dekat dengan perubahan.

---

## BAGIAN 2: KSAN

Sementara Hime mengajar Reiki, aku sibuk dengan peralatan. Aku memasang monitor di dinding, menghubungkannya ke perangkat Hime, dan mengkalibrasi sensor energi.

"Ini sebenarnya cukup canggih," kataku, menatap layar yang menampilkan grafik berwarna-warni. "Perangkat ini bisa membaca fluktuasi energi dalam radius satu kilometer."

"Itu buatanku," kata Hime bangga. "Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyempurnakannya."

"Kau benar-benar jenius."

"Aku hanya punya banyak waktu luang."

Aku tersenyum. Tapi senyumku memudar ketika aku melihat sesuatu di layar.

"Hei, Hime. Lihat ini."

Ia mendekat. "Apa?"

"Ada fluktuasi energi di sini." Aku menunjuk ke sebuah titik di peta digital. "Di pinggir desa. Polanya berbeda dari fragmen biasa."

Hime mengerutkan dahi. "Itu bukan fragmen. Itu... sesuatu yang lain."

"Apa?"

"Aku tidak tahu. Tapi kita harus memeriksanya."

Aku mengangguk. "Aku akan menyiapkan peralatan."

---

Kami berjalan menuju lokasi itu—sebuah area dekat sungai di pinggir desa. Perangkatku bergetar, menandakan adanya energi yang tidak biasa.

"Di sini," kataku, berhenti di dekat sebuah batu besar.

Hime mengeluarkan perangkatnya dan mulai memindai. Layarnya berkedip merah.

"Ini... ini jejak energi psikis. Tapi bukan dari Reiki."

"Dari siapa?"

"Aku tidak tahu. Tapi jejak ini sudah ada sebelum Reiki datang."

Aku merasakan bulu kudukku berdiri. "Maksudmu, ada psikis lain di desa ini?"

"Mungkin. Dan mereka mungkin sudah ada di sini sejak lama."

Kami saling bertukar pandang. Ini bisa berarti banyak hal. Bisa jadi sekutu—atau bisa jadi ancaman.

"Kita harus mencari tahu siapa mereka," kataku.

Hime mengangguk. "Tapi kita harus hati-hati. Jika mereka bersembunyi selama ini, pasti ada alasannya."

---

## BAGIAN 3: HIME

Kami kembali ke laboratorium dengan informasi baru. Aku duduk di depan monitorku, menganalisis data yang kami kumpulkan.

Jejak energi itu samar—tapi cukup jelas untuk dikenali. Polanya berbeda dari Reiki, berbeda dari Hubble, berbeda dari siapa pun yang pernah kurekam.

Ini adalah jejak psikis level menengah. Mungkin Malaikat Psikis. Tapi yang aneh, jejak ini sengaja disembunyikan. Seperti seseorang yang tidak ingin ditemukan.

"Siapa yang bisa bersembunyi di desa ini selama bertahun-tahun?" tanya KSAN.

"Aku tidak tahu. Tapi aku punya firasat."

"Firasat apa?"

"Bahwa orang ini mungkin tahu lebih banyak tentang Reiki daripada yang kita kira."

Aku menatap layar. Jejak energi itu berdenyut pelan, seperti jantung yang berdetak.

*Siapa kau? Dan apa hubunganmu dengan semua ini?*

---

## BAGIAN 4: REIKI

Aku duduk di sudut laboratorium, mencerna apa yang baru saja terjadi. Aku bisa melihat aura. Aku bisa merasakan energi di sekitarku. Dan yang paling penting, aku bisa mengendalikannya—setidaknya, untuk sekarang.

Tapi ada sesuatu yang menggangguku. Sesuatu yang Hime dan KSAN bicarakan tentang jejak energi misterius itu.

Aku menutup mata dan mencoba merasakan. Bukan energi di sekitarku, tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang mungkin terhubung dengan masa laluku.

Dan untuk sesaat, aku merasakannya. Sebuah kehadiran. Samar, tapi nyata. Seperti seseorang yang mengawasiku dari jauh.

Aku membuka mata. "Hime."

Ia menoleh. "Ya?"

"Aku merasakan seseorang. Seseorang yang mengawasi kita."

Ia mengerutkan dahi. "Di mana?"

"Aku tidak tahu. Tapi ia ada di sini. Di desa ini."

Hime dan KSAN saling bertukar pandang.

"Kita harus mencari tahu siapa itu," kata Hime. "Sebelum ia menjadi masalah."

Aku mengangguk. Tapi di dalam hatiku, ada firasat bahwa orang ini bukanlah ancaman. Mungkin ia adalah kunci untuk membuka ingatanku.

Atau mungkin aku hanya berharap terlalu banyak.

---

Malam itu, laboratorium sementara kami sudah hampir selesai. Monitor di dinding menampilkan data dari seluruh desa. Perangkat Hime terhubung ke sensor-sensor yang kami pasang di beberapa titik strategis.

"Ini luar biasa," kata KSAN, menatap layar-layar itu. "Kami benar-benar membuat pusat komando."

"Jangan terlalu bersemangat," kata Hime. "Ini masih tahap awal. Kita butuh lebih banyak data."

"Tapi setidaknya kita punya sesuatu."

Aku berdiri di dekat jendela, menatap ke luar. Desa di malam hari terlihat tenang. Lampu-lampu rumah berkedip. Suara jangkrik terdengar dari sawah.

Tapi di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang tidak bisa kami lihat, tapi bisa kami rasakan.

"Kita tidak sendirian," bisikku.

Hime mendekat. "Apa?"

"Di desa ini. Ada orang lain yang tahu tentang psikis. Mungkin bukan psikis itu sendiri, tapi seseorang yang dekat dengan dunia ini."

"Bagaimana kau tahu?"

Aku menatapnya. "Karena aku bisa merasakannya. Sama seperti aku bisa merasakan energi di sekitarku."

Hime diam. Lalu ia berkata, "Kita akan mencari tahu. Tapi untuk sekarang, kau harus istirahat."

Aku mengangguk. Tapi aku tahu aku tidak akan bisa tidur.

Karena di suatu tempat di desa ini, ada seseorang yang menungguku. Dan aku harus menemukannya.

---

Keesokan paginya, aku bangun dengan tekad baru. Aku akan mencari tahu siapa psikis misterius itu. Aku akan menggunakan kemampuanku untuk melacaknya.

Aku duduk di lantai laboratorium, memejamkan mata. Aku mencoba merasakan energi di sekitarku—aliran halus yang mengelilingi desa ini. Dan perlahan, aku mulai merasakannya.

Ada titik energi di dekat sungai. Samar, tapi konsisten. Seperti seseorang yang sedang bermeditasi.

Aku membuka mata.  "Di sungai. Ada seseorang di sana. "

Hime menatapku.  "Kau yakin? "

 "Ya. Aku bisa merasakannya. "

 "Ayo. "

Kami berjalan menuju sungai. Perangkat Hime bergetar, mengonfirmasi apa yang kurasakan. Dan ketika kami sampai di sana, kami melihat seorang gadis duduk di tepi sungai, memegang pensil dan kertas.

Dila.

Ia menatap kami dengan tenang.  "Aku sudah menunggumu. "

---

Dila adalah psikis yang bersembunyi selama 36 tahun. Ia adalah bangsawan psikis yang selamat dari pembantaian yang sama dengan Hubble. Dan ia tahu siapa aku sebenarnya.

 "Aku tahu kau adalah reinkarnasi Dewa Psikis, " katanya.  "Sejak pertama kali kau datang ke desa ini. "

 "Kenapa kau tidak bilang? " tanya Hime.

 "Karena aku takut. Tapi sekarang aku lihat, kau berbeda. Kau memiliki orang-orang yang peduli padamu. Mungkin kali ini, sejarah tidak akan terulang. "

Aku menatap Dila. Ia tersenyum tipis.

 "Aku akan membantu kalian, " katanya.  "Dengan kemampuanku, aku bisa memvisualisasikan aliran energi. Aku bisa menjadi mata kalian. "

Dan untuk pertama kalinya, tim kami bertambah.

---

Dengan bantuan Dila, laboratorium kami menjadi lebih canggih. Ia menggambar peta energi desa dengan detail yang luar biasa—setiap aliran, setiap fluktuasi, setiap titik yang mencurigakan.

 "Ini luar biasa, " kata Hime, menatap gambar Dila.  "Kau bisa melihat hal-hal yang tidak bisa ditangkap perangkatku. "

 "Aku hanya menggambar apa yang kurasakan, " jawab Dila.

Dengan peta ini, kami bisa melacak setiap pergerakan energi di desa. Dan yang lebih penting, kami bisa menemukan sumber dari jejak misterius itu.

 "Di sini, " kata Dila, menunjuk ke sebuah titik di bawah balai desa.  "Ada sesuatu di bawah tanah. Sesuatu yang besar. "

 "Apa itu? " tanya Hubble.

 "Aku tidak tahu. Tapi energinya sangat kuat. Mungkin itu adalah gerbang. "

Semua diam. Gerbang di bawah desa? Selama ini?

 "Kita harus menyelidikinya, " kataku.

 "Tapi bagaimana? " tanya KSAN.

Aku menatap peta itu.  "Kita gali. "

---

Kami menghabiskan sisa hari itu dengan mempersiapkan penggalian. KSAN membawa peralatan dari rumahnya—sekop, senter, tali, dan beberapa perangkat pendeteksi logam. Hime mengkalibrasi perangkatnya untuk membaca energi di bawah tanah. Aku dan Dila menggambar peta detail lokasi gerbang.

 "Ini gila, " kata KSAN, sambil mengikat tali.  "Kita akan menggali di bawah balai desa. Jika ayahku tahu... "

 "Ia tidak akan tahu, " kataku.  "Kita akan melakukannya malam ini, saat semua orang tidur. "

 "Dan jika kita menemukan sesuatu? "

 "Kita akan menghadapinya. "

KSAN menghela napas.  "Kau tahu, ketika aku pertama kali bertemu kalian, aku pikir hidupku akan menjadi lebih menarik. Tapi ini... ini di luar ekspektasiku. "

Aku tersenyum.  "Selamat datang di tim. "

---

Pukul sebelas malam, kami berkumpul di balai desa. Gelap. Sepi. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari sawah.

Hime memimpin, diikuti oleh aku, KSAN, dan Dila. Hubble dan Karmas berjaga di luar, memastikan tidak ada yang mengganggu.

Kami membuka pintu tua di belakang balai desa. Tangga batu menurun ke dalam kegelapan. Udara di sini dingin—lebih dingin dari luar. Dan ada bau aneh, seperti tanah basah bercampur logam.

 "Di sini, " bisik Dila.  "Aku bisa merasakannya. "

Kami turun. Tangga itu berkelok-kelok, semakin dalam. Dan semakin ke bawah, semakin kuat energi yang kurasakan.

Kami sampai di sebuah ruangan bawah tanah. Di tengahnya, ada sebuah gerbang batu—tingginya sekitar tiga meter, diukir dengan simbol-simbol yang sama seperti di pulau. Tapi gerbang ini tertutup. Terkunci.

 "Ini dia, " kata Hime.  "Gerbang antar-dimensi. "

 "Tapi kenapa ada di sini? " tanya KSAN.

 "Mungkin ini adalah pintu belakang. Atau mungkin ini adalah gerbang utama, dan yang di pulau itu hanya replika. "

Aku mendekati gerbang itu. Aku meletakkan tanganku di permukaan batunya. Dingin. Tapi di dalamnya, ada denyut—seperti jantung yang berdetak.

 "Ia hidup, " bisikku.

Reiki mendekat. Ia juga meletakkan tangannya di gerbang itu. Dan untuk sesaat, gerbang itu bercahaya—biru terang—lalu meredup.

 "Ia mengenalimu, " kataku.

 "Atau ia menungguku. "

Kami berdiri di depan gerbang itu, tidak tahu harus berbuat apa. Tapi satu hal yang pasti: ini baru awal.

---

Kami kembali ke laboratorium dengan informasi baru. Gerbang di bawah balai desa—itu adalah penemuan yang mengubah segalanya.

 "Jika gerbang itu terbuka, " kata Hime,  "entah apa yang bisa keluar dari sana. "

 "Atau masuk, " tambah Hubble.

Aku duduk di sudut, menggambar peta energi yang lebih detail. Dila duduk di sampingku, membantuku dengan gambar-gambar yang lebih rumit.

 "Kau tahu, " katanya pelan,  "aku sudah bersembunyi selama 36 tahun. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku melakukan sesuatu yang berarti. "

 "Kau tidak perlu bersembunyi lagi, " jawabku.  "Kau bagian dari tim sekarang. "

Ia tersenyum.  "Terima kasih. "

 "Sama-sama. "

Malam itu, kami memutuskan untuk menjaga gerbang itu—setidaknya, sampai kami tahu cara menanganinya. Hubble dan Karmas berjaga secara bergantian. Hime terus menganalisis data. Dan aku, KSAN, dan Dila menyusun strategi.

Ini baru awal. Tapi untuk pertama kalinya, kami memiliki tujuan yang jelas.

Dan itu sudah cukup.

---

Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Lebih ringan. Seperti beban yang selama ini kupikul mulai berkurang.

Aku berjalan menuju laboratorium. Hime sudah ada di sana, sibuk dengan perangkatnya. KSAN sedang mengecek monitor. Dila menggambar di sudut.

 "Selamat pagi, " sapaku.

Mereka menatapku dan tersenyum.

 "Selamat pagi, " jawab Hime.  "Kau tidur nyenyak? "

 "Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ya. "

Aku duduk di kursiku. Di depanku, ada peta energi yang digambar Dila. Titik di bawah balai desa masih menjadi pusat perhatian.

 "Apa rencana kita hari ini? " tanyaku.

Hime menatapku.  "Kita pelajari gerbang itu. Dan kita cari tahu cara menutupnya—atau membukanya dengan aman. "

 "Kedengarannya berbahaya. "

 "Memang. Tapi itulah satu-satunya cara. "

Aku mengangguk.  "Aku siap. "

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar siap menghadapi apa pun yang akan datang.

---

**— Bersambung —**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!