Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua kali salah
Pagi ini matahari bersinar sangat cerah. Cahayanya yang hangat memberikan warna pada permukaan daun yang tertutupi embun. Tetes-tetes embun mulai menguap ke udara, memberikan aroma khas rumput basah sisa dari rintik hujan yang terjadi semalam.
Hari ini adalah hari bahagia yang telah dinanti oleh dua keluarga. Tidak, bukan seluruh anggota keluarga yang menanti... tetapi hanya Hardiman dan Persimon saja yang menanti. Selebihnya? hanya mengikuti arus rencana mereka, tanpa memiliki wewenang untuk menolak.
Di dalam kamarnya Leya sudah bangun sejak tadi. Bangun bukan karena suara alarm ponsel yang berdering. Tapi karena dirinya yang tidak mampu memejamkan mata. Ya, semakin dekat dengan hati pernikahan ibunya... Leya semakin kehilangan jiwa dan semangatnya. Bahkan nafsu makannya menghilang, begitu juga dengan nikmat tidurnya yang tidak bisa lagi ia rasakan.
Sejak pertemuan terakhirnya dengan Angkasa... Leya masih tidak memberikan keputusan yang jelas pada hubungan mereka. Putus tidak? Tapi lanjut juga tidak. Leya masih bimbang dan terlalu labil untuk menentukan perasaannya sendiri.
Saat ini ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Angkasa. Tapi di detik berikutnya... ia bisa dengan cepat berubah untuk tetap mempertahankan cintanya yang masih utuh seperti sebelumnya.
Dan... predikat sebagai ABG labil, Memeng sangat cocok untuknya.
"Loh, Non Leya kok belum siap-sia?" kata Mbak Imas, asisten rumah tangga yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
Leya menoleh, mengalihkan pandangan sejenak. "Sebentar lagi Mbak! Mama udah siap?"
Mbak Imas mengambil keranjang pakaian kotor, alasan yang membuatnya berani masuk ke kamar anak majikannya. "Lagi di makeupin Non!" jawab Mbak Imas, memperhatikan wajahnya sejenak. "Non Leya baik-baik saja? Non Leya kok nangis dan kelihatannya gak bahagia?"
Leya terkejut. Ternyata dari sekian banyaknya manusia yang ada di rumah besar itu... hanya Mbak Imas, yang benar-benar memperhatikan dan tahu tentang perasaannya.
"Aku bahagia kok Mbak!" Leya memaksakan senyum. Berusaha untuk membuat wanita itu percaya. "karena saking bahagianya akan punya Papa, aku sampai gak sadar kalau jadi menangis!"
Mbak Imas mengangguk. Entah ia percaya atau mungkin pura-pura percaya akan jawaban yang Leya katakan. Entahlah? saat ini Leya tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Karena menguatkan mental untuk melihat kekasihnya menikahi ibu kandungnya sendiri, harus ia lakukan dengan segera dan saat ini juga.
Setelah Mbak Imas keluar dengan keranjang pakaian kotor di tangannya. Leya langsung beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di atas ranjang empuknya, sudah ada set kebaya yang dipersiapkan oleh ibunya untuk ia kenakan nanti saat acara berlangsung.
Cantik. Satu kata yang menggambarkan penampilan Leya saat ini. Gadis bertubuh mungil itu memakai kebaya berwarna pink soft yang melekat sempurna di tubuhnya. Dipadukan dengan kain songket dengan warna senada, membuat penampilan Leya terlihat lebih manis, anggun dengan riasan simple dan rambut yang disanggul sederhana sebagai pelengkapnya.
Leya menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan sebelum ia keluar dari dalam kamar. Mensugesti diri sendiri terus dia lakukan sejak tadi. agar dirinya jangan sampai mengacaukan akad nikah yang seharusnya berjalan lancar.
---
Sedangkan di lantai bawah...
Ruang tamu mereka dihias sederhana dengan dekorasi akad nikah yang terlihat simple namun tidak mengurangi aura kesakralannya. Rombongan pengantin pria sudah datang beberapa waktu yang lalu.
Angkasa dengan jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, sedang duduk diam di sofa tanpa berniat untuk berbincang pada siapapun. Karena saat ini fokusnya hanya tertuju pada layar ponsel, di mana sudah banyak ia mengirim pesan untuk Leya. Namum tidak ada satupun yang mendapatkan jawaban.
"Apa kamu masih marah padaku sayang?" Angkasa khawatir. Ia sangat takut jika Leya benar-benar akan meninggalkan dirinya. jika bukan karena ancaman nyawa dari ibunya, mungkin saat ini angkasa akan lebih memilih melawan dan menentang ayahnya demi mempertahankan hubungannya bersama Leya. Tetapi lagi-lagi, permintaan dan ancaman nyawa sang Ibu tidak bisa ia abaikan. hingga saat ini ia dengan terpaksa ada di rumah ini.
10 menit kemudian...
ruang tamu sudah ramai dengan para kerabat dan saudara yang sengaja diundang untuk menyaksikan akad nikah pada hari ini. Hardiman sudah siap untuk menikahkan putrinya, bersama penghulu yang sedang mengecek kembali berkas-berkas pernikahan.
"pengantin wanita datang!" ucap salah seorang kerabat yang melihat Sukma turun dari lantai atas dengan didampingi putrinya.
Ya, leak akan menjadi pendamping ibunya. memegangi tangan wanita itu, yang dengan anggun turun menapaki anak tangga satu persatu dengan senyum manis yang menghias wajahnya.
Angkasa menoleh. Ia terpaku dan terpesona bukan karena melihat kecantikan calon istrinya. Melainkan karena melihat kecantikan kekasihnya, yang lagi-lagi selalu mampu membuatnya berdebar seperti anak remaja yang baru pertama kali mengenal cinta.
"Harleya cantik sekali!" bisik Angkasa, dengan tatapan yang tidak bisa berkedip sedikitpun.
bisik-bisik ujian akan kecantikan sang calon pengantin wanita keluar dari mulut ke mulut. sebagai bintang utama pada acara hari ini, sudah tentu Sukma yang menjadi topik utama. Namum tidak sedikit pula, mereka yang memuji kecantikan Harleya. bahkan ada beberapa pria lajang yang dengan terang-terangan berkata bahwa ia tertarik dengan Leya.
"Dasar brengsek! berani dekati wanitaku... akan ku bunuh kau!" sikap posesif dan cemburuan Angkasa keluar. Meski ia tidak bisa terang-terangan memaki pria yang menyukai Harleya. Namun dari tatapan matanya yang tajam, seolah-olah bisa membunuh pria itu.
Leya mengantarkan ibunya sampai ke meja akad. Ia tersenyum, berlaku seolah-olah bahagia atas pernikahan ibunya pada hari ini... padahal hatinya kembali terkoyak-koyak, melihat Angkasa yang sebentar lagi akan menjadi ayah tirinya.
Karena semuanya sudah berkumpul, akad nikah segera diadakan. Angkasa dan Sukma sudah duduk berdampingan di meja akad, berhadapan dengan Hardiman yang bersiap untuk menikahkan mereka.
"Angkasa Bimantara Felix, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau... dengan anak kandung saya, Sukmawati Hardiman binti Hardiman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Har...."
Angkasa mendadak diam. Ia sadar hampir mengucapkan nama yang salah.
Tamu yang hadir pada hari itu mulai berbisik. Mereka mulai menerka-nerka mengapa Angkasa bisa mengucapkan nama yang salah. Tapi untungnya tidak ada satu orang pun yang sadar, jika nama yang akan Angkasa ucapkan adalah nama dirinya.
"Ternyata kamu masih memikirkan aku, Mas?" Harleya meneteskan air mata. Sadar, jika kesalahan naka yang Angkasa lakukan bukan karena disengaja. Tapi karena hati dan otaknya terus berkata, jika hanya Harleya yang pantas menjadi istrinya.
Karena kesalahan dalam mengucapkan nama, akad nikah kembali diulang. Tapi lagi-lagi Angkasa mengucapkan nama Harleya.
"Angkasa, siapa Har?" tanya Sukma penasaran. karena sudah dua kali Angkasa mengucapkan nama yang salah.
Angkasa memilih untuk tidak menjawab.
"Ucapkan yang benar! jangan buat malu!" bisik Persimon mengingatkan.
Akad nikah kembali diulang. Ini kesempatan terakhir, karena Angkasa sudah melakukan dua kali kesalahan. Tapi untungnya yang kali ini ia melafazkan nya dengan lancar. Hingga saat ini, ia dan Sukma sudah sah menjadi pasangan suami istri.