NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

[21] Jangan lupa lo udah Nikah!

Sejam pasca minum obat nyeri perutnya sudah amat reda. Langit sudah kembali bisa loncat-loncat saat teman kelasnya ngajakin main tali depan kelas.

Bumi sampai heran sendiri. Di kala guru belum masuk ini. Dia malah tetap di kelas. Mengawasi Langit sejak kabur dari UKS.

"Lo beneran gak mau main Bum?"

Perhatian Bumi teralih pada ketiganya yang saat ini sedang main mobil lagends di meja Alden. Dia memberi gelengan. "Kalian aja."

Bumi lalu berdiri dan keluar ruangan. Ia melangkah ke lokernya yang tidak jauh berbeda dari ruangan kelasnya. Saat membuka pintu, banyak kertas-kertas berjatuhan.

Surat-surat dari pengemarnya.

Dia bukan tipe cowok yang akan membuang begitu saja surat dari mereka. Bumi akan mengumpulkannya. Membacanya untuk menghargai lalu menyimpannya di sebuah kotak. Setelah itu akan dia biarkan saja seperti itu.

"Wish mas mas ganteng emang beda ya isi lokernya." Langit tiba-tiba datang dan sudah mengintip loker Bumi. Cowok itu sampai terlonjok kaget.

Ia menatap tempat di mana Langit tadi masih masih tali. "Ngagetin lo Munah!"

Langit cengegesan. "Lo sibuk gak?"

"Gak lihat gue sibuk ngurus surat?"

"Itu bukan sibuk. Nyari kesibukan."

"Masih sama-sama sibuk." Bumi mengedikkan bahunya. Ia lalu berjongkok ngumpulin surat yang berjatuhan.

Langit malah ikut berjongkok samping Bumi.

"Gue gabut."

"Terus?"

"Bantuin gue yuk!"

"Apa?"

"Udah lama gak ke BK. Gue kangen di omelin Pak Ego." Pernyataan Langit membuat Bumi mendongak. Ia menatap Langit tidak percaya.

"Mending lo diem di kelas."

"Gak bisa. Kasih gue saran bagusnya ngapain biar masuk BK?"

"Soal nyari masalah, otak lo kan lancar terus. Gak usah ajak-ajak gue."

"Hish katanya lo mau jalani tanggung jawab."

"Gue ngajak lo ke jalan lurus, bukan jalan sesat Munah."

"Hish gak seru lo. Gak jadi." Langit berdiri dengan bete. Ia kemudian membiarkan saja Bumi yang masih sibuk dengan surat-suratnya dan melengang pergi begitu saja menjauhi area kelas.

"Munah balik woi!"

Langit melambaikan tangannya tanpa berbalik badan. Lorong lumayan sepi karena masih jamnya kelas. Kelas Langit itu seru. Banyak kelas kosongnya. Emang gak salah dia kemarin pilih IPS.

Langit menatap sekitarnya. Kenapa otaknya jadi buntu soal ide cari masalah. Bukan dia sekali. Pada akhirnya dia hanya melangkahkan kaki tidak tahu arah dan berakhir duduk di dekat taman abis lihat semut sedang berjalan berderetan.

"Mut. Gue mau ngobrol. Dengerin ya?"

Mungkin orang bakal ngira Langit sudah gila bicara sendiri. Tapi semut itu pasti paham kok dia lagi ngobrol.

"Sebenarnya gue tuh masih aneh kalau sama Bumi. Ya gimana.. Kalau dulu ketemu ya sebatas musuh. Tapi sekarang ada ikatan. Gue mau nurut amat jadi ngerasa gak gue banget. secara kan kita berantem mulu. Tapi kalau gak baik, gue tiba-tiba ngerasa durhaka. Kalau lo di posisi gue bingung gak sih?" menolongnya. Posisi Langit itu berjongkok.

"Tadi mana dia perhatian. Gue geli.

Seorang Bumi kayak tadi. Gak bayangin kalau serumah. Bakal akward kan?"

Seumur hidup langit gak pernah pacaran.

Ia mendengarkan peraturan orang tuanya dan juga peraturan yang sudah Tuhan atur.

Harom. Makanya Langit bingung dengan posisinya sekarang ini. Gak pacaran lagi, tapi nikah.

"Eh gue penasaran semut ada pacarannya juga gak si? Cara kalian pdkt gimana?" Segabut itu Langit ngajak Semut ngobrol. Random pula. Dia juga heran turunin siapa sih dia sebenarnya?

"Kamu ngapain bicara sendiri di sana?"

Sebuah suara membuat dia menoleh. Mata langit membulat melihat Albiru yang berdiri dengan jasnya. Cowok itu tengah menatapnya dengan sebelah alis naik.

"Kak Biru!" Langit berdiri semangat dan tersenyum lebar. "Kok di sini? Lihatin langit karena kangen ya?"

Albiru hanya memberikan tatapan datar.

"Hehe canda. Gak dong. sejak kapan kak Biru kepo sama Langit." Langit menertawakan dirinya.

"Saya hari ini gantiin Dokter Alya di UKS."

"Loh jadi kak Biru bakal jadi dokter UKS Langit dong?"

"Hanya hari ini dan mungkin besok aja. Dokter Alya sakit. Saya hanya diminta mengantikan karena kenal."

Langit sih tidak peduli. Melihat Biru saja dia langsung sumrigah. Sepertinya Langit juga lupa kalau kemarin dia udah ganti status.

"Kok kak Biru nyasar di taman."

"Saya nyari Kantin. Tapi gak ketemu."

"Langit anter yuk!"

Dua alis Biru baik. "Gak masuk kelas?"

"Gurunya kayaknya lagi liburan. Langit gabut. Senang banget ada kak Biru."

"Beneran kosong kan? Gak bolos?"

"Ya engga dong. Kan Langit udah rajin sekarang. Yuk kak Biru ikut Langit."

Biru memberi anggukan. Keduanya berjalan bersisian. Jika bukan jam pelajaran Langit yang kaum hawa akan heboh lihat dokter seganteng Biru dengan jas kebanggaannya berkeliaran di sekolah. Apalagi bakal jadi dokter UKS. Walaupun sebentar. Bisa dipastikan sih kalau para siswi mendadak sakit semua.

Tidak ada pembicaraan selama mereka berjalan bersisian. Albiru sangat tidak mungkin ajak dia bicara. Hanya Langit yang harus memulai duluan.

"Tadi Langit di UKS bentar. Gak ada kak Biru."

"Lagi ngobrol sama kepala sekolah bentar."

Langit mengangguk paham.

"Kenapa di UKS? Masih sakit?"

Eh. Langit menatap Biru cepat. Dokter

Tampan itu menatapnya. Senyum Langit melengkung senang. "Langit lagi dapet. Perutnya kram. Biar nyerinya hilang tadi minum paracetamol."

Albiru memberi anggukan.

"Kak Biru Kak Biru."

"Hm?"

"Hadiah yang Langit taruh depan pintu. Baju kokoknya kak Biru suka enggak?"

"Hm."

Senyum Langit makin lebar saja. Sepanjang perjalanan dia senyum-senyum sendiri dan melirik Biru. Hanya jalan bareng ke kantin. Dia udah sebahagia itu.

"Sistem makan di sini itu prasmanan. Jadi kak Biru kita ke sana dulu deh ambil nampan makannya." Langit menunjuk ke meja panjang berwarna putih yang dijaga oleh satu orang pria dan dua perempuan.

Dia temani Biru yang mengambil nasi dan lauk. Langit sampai menawari makanan yang enak. Kebetulan hari ini juga ada udang sambal dan sayur bening yang jadi favorite langit. Ada daging bakar yang dipotong tipis juga.

Keduanya lalu duduk di tengah-tengah meja. Kantin sangat sepi di jam segini. Pun begitu makanan kantin masih banyak menjelang istirahat sholat makan di jam kedua. Sedangkan tadi jam istirahat pertama, pukul 10 pagi.

Langit pesan es jeruk sambil liatin Biru makan.

"Saya gak minta kamu temani makan. Balik saja ke kelas."

"Di sekolah Langit banyak cewek cantik kak Biru. Langit jagain kak Biru biar gak digodain." Langit menumpu dagunya dengan tangan di atas meja.

Di saat Langit sibuk sama Biru. Bumi lagi keliling mencarinya. Dia khawatir jika Langit yang tadinya berencana buat masalah.

Padahal baru libur tiga hari.

Karena pikirannya Langit akan membuat masalah. Kalau gak ke ruang BK langsung, atau taman belakang. Bisa juga mushalla. Tapi raib. Tidak ada tanda keberadaannya.

Mengirim pesan jangankan dibalas. Dibaca saja tidak.

"Sumpah ganteng banget dokternya."

"Dokter baru bukan sih? Dokter Alya gak

Ada. Jangan-jangan resign."

"Kayaknya. Ganteng banget weh. Tapi gue sebal. Lah si Langit udah duluan aja ngejar dokter. Gak bisa liat yang cakep ya itu anak."

Nama Langit membuat Bumi yang tadi lewat mundur beberapa langkah. "Lo sebut Langit. Dia di mana sekarang?"

Dua siswi itu tersenyum lebar karena diajak Bumi ngobrol. "Eh Bumi. Makin cakep aja."

"Hem," angguknya. "Langit di mana?"

"Tadi ke kantin sama dokter ganteng."

Sebelah alisnya naik. Dokter Alya perempuan. Dokter ganteng siapa yang mereka sebut. Setelah mengucapkan terimakasih Bumi berjalan menuju kantin.

Benar saja. Baru dia berdiri di ambang pintu kantin. Matanya sudah melihat pemandangan Langit yang duduk berhadapan dengan laki-laki berjas putih. Dari samping dia bisa tahu itu Albiru. Dokter yang lagi Langit kejar.

"Langit masih sakit perutnya. Mumpung kelasnya kosong Langit ikut kak Biru aja di UKS. Rebahan." Alasan langit aja emang.

Bilang aja mau lihatin Biru sepanjang hari.

"Ck. Lupa status ini anak." Bumi menyandarkan sebelah bahunya ke ambang pintu kantin. Dia mengeluarkan ponsel dan menekan icon panggil. Matanya menatap lurus pada Langit yang belum menyadari keberadaannya.

Awalnya Langit belum terlihat mau mengangkat panggilan. Hingga akhirnya panggilan kedua membuat cewek itu menunduk dan mengeluarkan ponsel.

Bumi Luknut

"Lo lupa kemarin kita baru aja akad?"

Semprot Bumi begitu panggilan terhubung.

Dia sampai tidak mengucapkan salam.

"Hah?" Langit mengerjap.

"Lihat ke samping."

Langit mengedarkan pandangannya hingga netranya berselobok dengan Bumi yang menaikkan tangan dan menunjuk jarinya kirinya. Langit seketika berdiri dengan cengcesan.

"Gue lupa."

"Ck."

Biru yang melihatnya terheran.

"Kenapa?"

Langit kembali menatap Biru. "Kak Biru sampai jumpa dulu ya. Langit ada urusan mendesak." Dia melambai dan berlari pergi begitu saja. Bukannya ke tempat Bumi berdiri dia malah lari ke pintu bagian lain.

Albiru memperhatikan Langit dengan heran.

Bumi geleng-geleng kepala dan menyimpan ponselnya. Dia kemudian berlari menyusul Langit.

Bumi cukup gesit ketimbang Langit. Dia kini berdiri di lorong sebelum ke kantin dengan tangan berkacak pinggang.

Langit yang tadinya jalan kayak maling seketika menghentikan langkah seraya memamerkan gigi.

"Eh Paman."

"Paman paman," decaknya. "Dekat sama gue." Bumi memberi intruksi agar cewek itu mendekat.

"Sumpah gue lupa. Jangan galak dong."

"Siapa yang galak? Senang banget lo

Deket-dekat itu dokter."

"Senang banget Bumi. Kak Biru ganteng. Bikin gue terpesona." Bukannya merasa bersalah. Malah cerita menggebu.

Bumi berdecak. Dia menurunkan tangannya dan melangkah lebih dekat. "Siapa yang lo bilang ganteng?"

"Kak Biru dong. Lo gak ada ganteng-gantengnya."

Pletak!

Sentilan mendarat di dahi Langit. Cewek itu meringis dan mengusap dahinya sebal.

"Gak boleh gitu sama gue. Baru satu hari lo udah KDRT."

"Itu gak KDRT ya Munah."

Langit mencibir. "Lagian. Jangan-jangan lo cemburu ya gue dekat sama Kak Biru?"

Matanya menyipit. "Iya kan?"

"Pede lo. Gue cuman jaga apa yang perlu gue jaga."

"Gue gak spesial itu kali."

"Kalau gue bilang lo sekarang spesial. Mau apa?" Wajah Bumi serius. Langit yang tadi masih bisa ketawa, mengatupkan bibirnya.

"Gue punya peraturan pertama." Kini Bumi memangkas jarak mereka. Langit seketika mundur ke belakang. Dia sampai nabrak dinding belakangnya.

"Peraturan apa sih. Udah kayak sekolah aja pakai peraturan." Bumi yang mulai serius membuatnya jadi canggung. Hanya saja sebisa mungkin Langit mengubah suasana agar tetap seperti biasa.

"Peraturannya... " Bumi mencondongkan wajahnya. Kornea hitam itu menatap lekat manik mata Langit yang bersih. Bulu matanya lentik.

"Tunggu dulu. Lo bisa gak sih mundurin dikit?"

"Enggak bisa. Gue punya istri bandel."

"Iya lo ngomongnya gak usah dekat-dekat."

"Gue harus mastiin lo nurut dulu."

"Lo sejak tadi ngancem mulu. Jadi apa peraturannya?" Langit memutar bola matanya jadi sebal. Berada sedekat ini dengan Bumi membuat perasannya aneh.

"Lo harus mulai move on dari Dokter Biru."

Sih?" Langit membulatkan matanya. "Kok gitu

"Kok gitu kok gitu. Apa perlu gue ingetin kemarin kita akad?"

Langit mengerucutkan bibirnya. "Iya ingat. Tapi kan gue butuh waktu."

"Iya tapi gak boleh kayak tadi."

"Iyaaa."

Bumi tersenyum puas

"Tapi belum janji ya, awal-awal bolehin dikit ya?" lanjut Langit membuatnya melotot.

"Kok lo nawar?" Kini Bumi mengunci tubuh Langit dengan kedua tangannya di kanan kiri. Dinding di belakang langit.

Bumi yang terlalu dekat membuat langit menahan nafas dengan tubuh yang membeku. Pergerakan Bumi membuatnya tidak berkutik seperti patung. Apalagi saat bicara terpaan nafas Bumi menyapu wajahnya.

Langit memejamkan matanya. "E-enggak jadi," jawabnya terbata.

Bumi tersenyum puas. Dia menatap lamat-lamat wajah Langit dari dekat. Semakin lama malah membuatnya hilang fokus. Jarak

Sedekat ini wajah Langit begitu cantik. Tidak bohong dia malah terpesona. Kulit mulus dengan pori kecil. Alus tebal lurus dan rapi. Hidung mancung. Bibir ranum dan tipis.

Bumi menelan ludah.

Saat Langit tiba-tiba membuka mata, netra mereka saling tatap. Kuping Buni panas. Dia mendadak salah tingkah.

Langit juga seketika menatap arah lain.

"Ngeselin lo," sebalnya.

Bumi menarik kedua sudut bibirnya melihat wajah sebal Langit. Tangannya naik mengusap lembut puncak kepala yang dibungkus hijab itu.

"Kalau nurut gini, lo makin manis," Bumi mengedipkan mata. Kelakuannya malah membuat jantung Langit berdetak cepat. Kenapa sentuhan Bumi menghadirkan debaran yang tidak dia mengerti?

"Geli!" Langit mendorong Bumi menjauh lalu berjalan cepat pergi dari sana. Dia menyentuh dadanya yang masih berdebar.

Gue kenapa sih?

"Langit lo ke mana ajaaa siih!" Bina tiba-tiba datang dari depan. Langit sontak berlari

Ke arah gadis itu dan menariknya menjauh.

"Eh itu Bumi. Lo tadi bareng Bumi?" Bina menunjuk Bumi yang berdiri tidak jauh dari mereka.

"Gaklah. Ya kali gue bareng musuh."

Langit melirik ke belakang sesaat dan Bumi malah melambai dengan senyum menjengkelkan. Dia mendengus dan kembali hadap depan.

"Terus?"

"Gak ada."

"Eh Ngit."

"Kenapa?"

"Katanya ada dokter ganteng. Lihat yuk!"

Langit menyembuskan nafasnya. "Engga minat," bohongnya padahal tahu yang dibilang itu Biru. Teringat peraturan pertama dari Bumi.

Gini amat udah nikah tapi sukanya sama cowok lain.

***

"Ke tempat lesnya bareng gue aja." Langit kaget Bumi tiba-tiba sudah berdiri di samping mejanya selepas bel berbunyi.

"Lo udah kayak hantu ya muncul dadakan." Dia mengelus dada dan menyimpan semua bukunya. "Gue naik angkot aja kayak biasa."

"Bareng gue aja."

"Engga. Ntar dilihatin."

"Ya udah sih paling mikir kita pdkt."

aja." Langit menggeleng cepat. "Kayak biasanya

"Lo bandel banget."

"Itu sifat gue."

Bumi memutar bola matanya. "Langsung ke tempat les kan?"

"Iya."

"Gue mau ke rumah sakit."

Kata rumah sakit membuat Langit langsung menatap wajah Bumi. "Lihat Ibu?"

"Hem."

"Ikut!"

"Katanya les."

"Iya sih. Tapi gue mau dong lihat ibu."

"Nanti lo telat."

"Tapi gue pengen lihat ibu."

"Nanti malam abis les."

"Lo kan kerja."

Bumi teringat. "Ya udah weekend aja."

Langit mengembuskan nafasnya. "Lo pulang kerja jam berapa?"

"Jam 11 malam."

"Langsung ke rumah?"

"Iya."

"Makan malamnya apa?" Langit sudah seriuss bertanya. Bumi malah tertawa.

"Lo beneran nanya makan malam gue?"

ya." "Lo dia ajak serius malah ngetawain gue

Bumi terkekeh. "Entar aman soal makan. Jangan khawatir sama gue, oke sayang?"

"Dih geli." Langit berlagak mual akan panggilan itu. Untungnya kelas sepi hanya menyisakan mereka berdua.

Langit sengaja lama-lama keluar kelas. Sebelum bel, Bumi udah chat jangan keluar dulu. Sebagai istri yang nurut, dia sih ngikut saja.

"Gue mau tanya. Tapi jawab."

"Apa?"

"Lo pagi sarapan gak di rumah?"

"Enggak."

"Jadi makannya jam 10 aja di sekolah?"

"Hm. Kadang kalau masak. Masih bisa sarapan."

"Lo bisa masak?" Dia sedikit terkejut. Tidak menyangka saja sekelas Bumi jago masak.

"Bisa. Gue udah terlahir mandiri." Bumi menaik turunkan alisnya. Langit mengangguk. Ia jadi teringat latar belakang keluarga Bumi. Jadi tidak tega. Sebagai seorang istri dia merasa punya tanggung jawab untuk makan Bumi.

"Besok ke rumah aja. Sarapan di rumah atau mau gue bawain bekal buat sarapan di sekolah?"

"Kenapa?"

"Apanya yang kenapa?"

"Kenapa repot mikirin sarapan gue?"

Langit terdiam. Ia menatap manik mata

Bumi. "Gini gini gue tahu kewajiban gue itu apa," jelasnya.

Bumi merasa senang akan hal itu. Namun saat ini dia juga tidak mau merepotkan Langit walau itu memang udah kewajibannya.

"Gak usah. Nanti lo makin telat. Biasanya juga udah telat kan?"

"Masakan lo juga pasti gak enak."

Langit memukul lengan Bumi kesal.

Memang Bumi tidak bisa diajak serius. Ujung-ujungnya bakal begini.

"Durhaka banget lo sama gue. Cicip juga belum pernah."

"Ngambek?"

"Udah ah. Males banget sama lo. Gue lagi serius. Mending gue pergi les. Biar pinter. Gue masih punya motivasi tinggi buat ngalahin lo." Langit berdiri dari posisinya dengan wajah ditekuk. Saat hendak menarik tasnya, Bumi keburu ngambil.

"Ululu ada yang ngambek."

"Ululu ada yang ngambek." Langit mengulang dengan cibiran. "Siniin tas gue. Gue mau pergi les ih!" Ia mencoba merebut tapi Bumi menariknya tinggi.

"Kalau mau sini ambil."

"Bum gue telat niih."

"Gak apa. Paling dilihatin aja."

Dada Langit kembang kempis. "Lo ngeselinnya gak ilang ya." Ia menendang kaki Bumi hingga cowok itu meringis kesakitan. Barulah dia rebut tasnya dan pergi begitu saja.

Bumi tertawa. "Tungguin gue Muk!" Ia lekas menyusul Langit yang sudah keluar. Begitu Bumi mendekati, Langit menjauh dan mencibir.

"Besok gue ke rumah. Sarapan."

"Gak usah. Gak bakal gue kasih."

"Durhaka lo."

"Bodo. Lo nyeselin."

"Dilaknat baru tahu."

Langit sontak menghentikan langkahnya.

Ekspresinya berganti panik. "Ah jangan gitu dong Bum."

"Makanya sini."

"Ogah ah. Kalau dekat lo tensi gue naik mulu."

"Ya udah sih. Gue gak nangung kalau

Malaikat lagi catat dosa lo karena gak-"

Langit sontak berdiri di depan Bumi dengan wajah memelas. "Iya Bumi ganteng. Maafin Langit."

Wajah Langit tampak lucu. Kekhawatiran dan panik bercampur satu. Bumi sebisa mungkin menahan ekspresi agar datar.

"Gue minta maaf. Kok gak dijawab?"

"Gitu aja maafnya?"

"Tuh kan! Giliran minta maaf lo ngelunjak."

Bumi menahan senyum. "Salim sini. salim." Bumi mengangkat tangannya.

Langit merutuk kesal tapi menahan diri.

Ia ambil tangan Bumi dan menyalimnya dengan tidak ikhlas.

"Masa minta maaf senyum lo masam."

Langit memaksakan senyumnya.

"Gak ikhlas," Bumi malah makin jahil.

Langit mengambil nafas dalam. Ia harap saat ngambil nafas, stok kesabarannya ikut bertambah.

Dia tersenyum amat manis. Matanya

Menatap tulus. "Maaf ya?" ulangnya kembali nyalim.

"Anak pinter." Bumi mengusap kepala Langit. "Jangan bandel lagi ya Nak. Dosa. Ingat umur," nasihatnya bak seorang ayah.

Langit menatap tajam Bumi. Cowok itu tertawa puas.

"Ets gak boleh gitu sama gue."

"Sejak sekarang senyumku palsu," ujarnya datar.

Bumi kembali tertawa.

"Gue anter ke tempat les."

"Gak ah."

"Nurut oke?"

"Gue gak mau ih."

"Gue maksa."

"Lo mah."

"Lo diantar gak mau. Harusnya lo tuh bersyukur gak perlu nunggu angkot."

"Mending gue naik angkot ketimbang sama lo."

"Hem. Jadi gitu?"

"Iya. Lagian gue males dilihatin orang-orang. Ntar banyak isu."

"Ya udah bilang aja kita pacaran."

"Sejak kapan kita pacaran?"

"Lima detik dari sekarang. Lo mau kan jadi pacar gue?"

Langit menggeleng dengan senyuman manis. "Gak mau," tolaknya.

Bumi melotot. "Enak aja gak mau. Harus mau."

"Mana ada pacaran maksa."

"Ada. Gue buktinya."

"Gue gak mau wlee."

"Fiks kita pacaran," final Bumi sebelah pihak. "Jadi sekarang kalau ada yang tanya bilang kita pacaran."

"Gue gak mau Bumi. Pacaran dosa. Kata papa gak boleh loh."

Bumi menatap datar. Ia tersenyum.

"Langit yang cantik. Kita udah halal hm?"

Sepertinya dia harus bersabar.

"Ntar papa marah."

"Gue yang bilang papa," gemasnya.

"Mama?"

"Gue yang bilang juga."

"Kalau kena amuk gak ikut loh ya?"

"Gue tanggung jawab."

"Tapi gue gak mau pacaran."

"Arggh ribet." Bumi mengusap wajahnya frustasi. Langit menahan tawa.

"Pokoknya gue nolak."

"Bodoamat." Bumi capek. Ia lalu menarik tangan Langit agar ikut ke parkiran.

"Gak boleh pegang-pegang tahu. Dosa."

Langit sepertinya sengaja mengujinya. Bumi menghentikan langkah. Dia kini menaruh kedua telapak tangannya di pipi Langit hingga bibir cewek itu manyun.

"Nih nih gue pegang."

"Iih sakit." Langit memukul kesal lengan Bumi.

"Bibir lo persis kayak bebek."

Matanya melotot. Kesal, Langit kini mengambil tangan Bumi dan menggigitnya. Cowok itu teriak kesakitan.

"Langit!"

"Rasain!"

Tangannya kena jejak gigitan Langit. Bumi menatap kasihan kulitnya. "Kalau gini ceritanya badan gue bakal bekas gigitan semua."

Langit menjulurkan lidahnya. Ia lalu berteriak karena kini Bumi melingkarkan lengannya di leher Langit hingga dia berada di bawah ketiaknya.

"Aaa Bumiiii!"

Langit berusaha lepas. Ia menepuk-nepuk, tapi kalah tenaga.

"Nih cium ketek gue yang wangi."

"Bau. Lepas gak!"

"Gak ada bau."

"Lo bau. Bumii gue gak bisa nafas."

"Gak peduli."

"Mama ... Langit dizholimi!!!!" Langit berteriak. Bumi tergelak. Dia baru melepas beberapa detik kemudian. Langsung mendapat pukulan maut oleh Langit.

"Aw aw aw."

"Gue balas lo Bumi Luknut!"

"Kabuur!" Bumi malah berlari untuk melindungi diri. Langit mengejar. Dia belum puas. Hingga akhirnya keduanya malah lari-larian di sepanjang lorong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!