Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3
Keheningan di ruang tamu itu begitu pekat, seolah oksigen di sana telah habis disedot oleh ketegangan yang menyesakkan dada. Arkan berdiri kaku di dekat jendela, bayangannya memanjang di atas lantai marmer yang dulu sering kupoles hingga mengkilap.
Sementara itu, Alana duduk di sofa utama, jemarinya dengan posesif mengusap perutnya yang mulai membuncit.
Aku menatap mereka berdua, merasa seperti orang asing di rumahku sendiri.
"Jadi," suaraku memecah kesunyian, terdengar dingin bahkan di telingaku sendiri. "Selama ini, setiap kali Arkan bilang ada rapat lembur, setiap kali Alana bilang ingin menginap karena kesepian... kalian sedang merencanakan ini di balik punggungku?"
Arkan memutar tubuh, matanya memerah. "Kin, tolong. Jangan melihatku seolah aku adalah kriminal."
"Lalu aku harus melihatmu sebagai apa, Arkan? Suami yang setia? Atau pria yang sedang membangun keluarga kedua dengan sahabat istrinya sendiri?" aku membalasnya tanpa emosi. Rasa sakit itu sudah berada di luar batas air mata.
Alana tertawa pelan, suara yang dulu terdengar seperti lonceng kegembiraan, kini terdengar seperti belati. "Kin, lu terlalu kaku. Duniamu selalu hitam dan putih. Tapi kehidupan... kehidupan itu abu-abu."
Aku mendekatinya. Dia tidak bergeming, bahkan tatapannya menantang. "Abu-abu, Lan? Kamu menyebut pengkhianatan ini abu-abu?"
"Gue nggak punya pilihan!" Alana meninggikan suaranya, topeng keanggunannya perlahan retak. "Lu tahu bagaimana Papa gue. Dia selalu ingin gue mendapatkan yang terbaik. Arkan adalah yang terbaik. Dan anak ini... dia adalah masa depan keluarga kami."
"Lalu aku?" tanyaku, suaraku nyaris berbisik. "Aku yang tumbuh bersamamu, aku yang rela berbagi apa pun karena aku pikir kita saudara. Apakah aku hanya pion dalam permainan hidupmu?"
"Lu adalah sahabat yang baik, Kin. Tapi lu nggak bisa kasih Arkan keturunan. Lu nggak bisa kasih dia apa yang dia butuhin buat nerusin warisannya," jawab Alana tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Kata-kata itu menghujam tepat di tempat yang paling sakit. Selama lima tahun pernikahan, Arkan tidak pernah menuntut. Tapi mendengar Alana mengatakannya dengan begitu mudah... itu membuktikan satu hal: mereka sudah membicarakan hal ini berulang kali, di saat aku sedang tertidur lelap di sisi Arkan.
Arkan melangkah mendekat, ingin meraih tanganku, namun aku menghindar seolah dia membawa wabah.
"Kin, aku tahu aku salah," bisik Arkan. "Tapi aku mencintaimu. Aku hanya... aku tidak bisa membiarkan anak ini lahir tanpa pengakuan. Tolong, biarkan dia tinggal di sini. Aku akan tetap menjadi suamimu, aku akan tetap menafkahimu."
Aku tertawa. Tawa yang getir dan panjang. "Kalian benar-benar gila. Kalian pikir aku bisa menerima ini semua karena aku dulu adalah anak ART yang dibantu keluargamu, jadi aku harus membalas budi dengan menyerahkan suamiku?"
Alana terdiam, wajahnya sedikit pucat.
"Kalian salah besar," lanjutku, suaraku kini mantap dan penuh penekanan. "Hutang budi keluargaku sudah lunas sejak aku bertahan selama ini menjadi sahabat yang loyal. Tapi sekarang, kalian tidak hanya menghancurkan kepercayaanku, kalian menghancurkan harga diri kalian sendiri."
Aku menoleh ke arah Arkan. "Kamu ingin dia tinggal di sini? Baiklah. Tapi jangan pernah sebut aku istrimu lagi jika kamu tidak bisa menempatkan posisimu. Mulai detik ini, paviliun belakang menjadi tempat tinggalnya. Kamu ingin membiayai anak itu? Gunakan uangmu sendiri. Jangan sentuh satu sen pun dari gajiku."
Alana bangkit berdiri, matanya membelalak tidak percaya. "Kin, lu nggak bisa usir gue ke paviliun! Itu gudang!"
"Bukan gudang, Lan. Itu rumah tamu yang layak. Kalau kamu merasa itu tidak layak untukmu dan 'masa depan' yang kamu banggakan itu, pintu keluar masih terbuka lebar."
Aku berbalik, melangkah menuju tangga. Langkahku terasa ringan, meski hatiku terasa hancur lebur. Di depan pintu kamar, aku berhenti dan menoleh kembali.
"Satu hal lagi," kataku tanpa menoleh. "Jangan pernah berpikir untuk menggunakan kartu 'sahabat' atau 'hutang budi' lagi. Karena mulai malam ini, orang yang kalian kenal sebagai Kinanti yang penurut... sudah mati."
Aku menutup pintu kamar dengan dentuman keras, meninggalkan mereka dalam keheningan yang kini menjadi milik mereka sepenuhnya. Di balik pintu itu, aku merosot jatuh ke lantai.
Air mata yang kutahan akhirnya tumpah, bukan karena aku lemah, tapi karena aku menyadari betapa panjang dan berdarah jalan yang harus kutempuh untuk membalas semua ini.
Ini bukan sekadar berbagi suami. Ini adalah perang, dan aku baru saja meletakkan kartu as-ku di atas meja.
Arkan menyusul Kinanti membuka pintu dengan paksa, lalu berdiri di ambang pintu, matanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan saat melihat Kinanti tidak lagi menangis atau memohon. Ia mendapati istrinya sedang berdiri tegak di depan cermin, memegang kendali.
"Apa yang kamu lakukan, Kin?" tanya Arkan dengan suara yang tertahan.
Kinanti menoleh, tatapannya dingin. "Mulai hari ini, aku bukan lagi Kinanti yang bisa kalian permainkan. Jika kalian ingin berbagi hidup, maka kita akan berbagi dengan aturan mainku."
Alana yang sedari tadi merasa di atas angin, mulai gelisah. Dia ikut menyusul Arkan dan mencoba mendekati Arkan, namun Kinanti dengan cepat memotong langkahnya.
"Jangan berani-berani menyentuh apa yang bukan menjadi hakmu lagi di rumah utama, Alana," desis Kinanti.
Alana mendengus, mencoba mempertahankan harga dirinya. "Kamu pikir kamu siapa, Kin? Kamu tidak punya hak untuk mengatur hidupku!"
Kinanti tertawa kecil, suara tawa yang membuat nyali Alana menciut seketika. "Oh, aku tahu siapa aku. Aku adalah orang yang memegang kunci kehidupan kalian saat ini. Apakah kamu lupa siapa pemilik rumah ini? Rumah ini atas namaku, hadiah pernikahan dari Suamiku. Siapa yang menutupi pengeluaran mewahmu setiap hari? Jika aku menarik semua dukunganku, kamu dan bayi yang kamu banggakan itu akan hidup di mana?"
Arkan tampak frustrasi. Dia tidak pernah menyangka Kinanti akan menjadi sekeras ini. "Kin, jangan libatkan uang dalam masalah perasaan."
"Perasaan? Kamu masih berani bicara tentang perasaan setelah semua pengkhianatan ini, Arkan?" Kinanti menatap Arkan tajam. "Kamu menukarkan kesetiaan dengan nafsu, dan sekarang kamu ingin aku bersikap dewasa? Tidak akan."
Kinanti melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. "Mulai besok, semua rekening bank akan aku blokir aksesnya. Kamu, hanya akan mendapatkan uang saku yang pas untuk keperluan pribadimu saja. Ingat, kamu sudah menyerahkan semua akses Perusahaan padaku. Dan untuk Alana, tidak ada lagi akses ke kartu kredit rumah. Jika dia butuh sesuatu, dia harus minta izin padaku, dan aku akan mempertimbangkannya."
Alana membelalak. "Kamu keterlaluan, Kin!"
"Aku hanya memberikan apa yang pantas," jawab Kinanti datar. "Ingat satu hal, status sosialmu tidak berarti apa-apa saat kamu tidak memiliki uang di tangan. Kamu ingin menjadi istri kedua? Maka hiduplah dengan standar istri yang hanya menumpang."
Kinanti kemudian menatap tajam ke arah Alana, mengingatkannya pada masa kecil mereka yang penuh manipulasi. "Dulu aku selalu menuruti kemauanmu karena aku pikir itu adalah bentuk persahabatan. Sekarang, aku sadar itu adalah bentuk penjajahan. Dan penjajahan itu berakhir hari ini."
Arkan terdiam, terjebak di tengah dua wanita yang kini menjadi musuh dalam satu atap. Dia menyadari bahwa dia telah kehilangan kendali atas rumah tangganya sendiri.
Kinanti berbalik melangkah maju hingga membuat langkah mereka mundur dan menutup pintu kamarnya, meninggalkan Alana yang kini tampak pucat pasi dan Arkan yang hanya bisa menatap pintu yang tertutup itu dengan penuh penyesalan.
Di dalam kamar, Kinanti mengunci pintu. Dia tidak lagi merasa sakit hati, yang ada hanyalah rasa puas yang perlahan membuncah. Dia tahu ini baru permulaan. Dia akan membuat mereka menyesal karena telah menganggapnya remeh.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.