NovelToon NovelToon
Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Barat
Popularitas:214.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.

Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.

Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.

Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Joko Tingkir Dapat Kekasih

Akhirnya mereka sampai juga di gua dalam hutan luar desa. Di sana, beberapa hal telah disiapkan, seperti tungku pembakaran, kayu bakar, jagung dan singkong. Ada juga setandan pisang. Jajang sibuk mempersiapkan gamelan dadakan dari kayu dan bambu. Limarsih langsung menarik Curaina dengan senyum keakraban.

“Ayamnya tidak ada, ikannya tidak ada!” kata Bira.

“Ayam harus dibeli dan ikan harus dikail,” kata Limarsih.

Tingkir sambil tertawa menepuk bahu Joko dan berkata, “Keluarkan uangmu, tadi kau sudah sesumbar!”

Sambil tertawa kecil Joko pun keluarkan beberapa kepengan perak.

“Waw!” pukau Dudut dan Widarya melihat uang Joko yang tinggi nilainya.

“Cukup?” tanya Joko.

“Sangat cukup untuk beberapa ayam besar,” kata Parsuto. “Limarsih, sebaiknya kau pergi ke pasar bersama Tingkir, kau tahu ciri-ciri ayam yang empuk dan bagus!”

“Dengan Tingkir? Oh, tidak masalah,” kata Limarsih ceria, lalu katanya kepada Curaina, “Bersamalah dengan Dewi, ia akan membelamu dari sikap kurang ajar kaum lelaki ini.”

Curaina hanya tersenyum. Limarsih segera pergi. Tingkir pun segera ikuti Limarsih.

“Kumisan dan Bira pergi mengail ikan di sungai!” atur Parsuto.

“Di sini ada sungai?” tanya Joko.

“Ada di timur,” jawab Bira.

“Biar aku yang mencari ikan!” kata Joko. “Aku jamin tidak lama. Tapi....”

“Tapi apa?” tanya Parsuto.

Joko tertawa kecil, lalu katanya, “Sehubungan Ki Lurah memberi amanat kepada aku seorang untuk menjaga anaknya, jadi Cucur ini ikut bersamaku agar tidak kalian jahili di belakangku!”

Kata-kata Joko membuat Parsuto dan yang lainnya hanya mendelik. Joko hanya tertawa. Curaina pun mendelik disebut “Cucur” oleh Joko.

“Tidak setuju!” teriak Kulajang.

“Hahaha!” Joko malah tertawa kecil dan santai, enak didengar. “Terserah mau setuju atau tidak, Cucur di bawah tanggunganku. Ayo Cucur!”

“Sekali lagi kau menyebutku Cucur, aku kejar-kejar kau!” kecam Curaina.

“Ayo! Jika tidak ikut, aku laporkan ke ayahmu!” ajak Joko seraya mengancam, lalu berjalan ke arah timur.

Curaina segera mengikuti Joko dengan wajah merengut cantik.

“Lalu hiburan kita apa?” tanya Kumisan.

Semuanya jadi memandang Kusuma Dewi yang seketika melotot galak kepada mereka.

“Curaina! Aku ikut!” teriak Kusuma sambil berlari pergi mengejar Joko dan Curaina.

“Yaaa!” keluh mereka lalu tertawa sendiri.

“Kalian mau seperti Joko, sakti dan dikejar-kejar perempuan?” tanya Parsuto. “Bermimpilah!”

“Huuuh!” sorak mereka yang tersisa.

“Joko yang takut perempuan tapi mengajak perempuan,” ucap Parsuto lalu tertawa sendiri.

Parsuto kemudian mulai mengatur persiapan pesta kebebasan mereka dari ancaman perburuan anak buah Ki Lurah. Jasa Joko memang sangat besar bagi mereka. Maka tidak ada salahnya jika Joko sedikit lebih istimewa dibandingkan yang lainnya.

“Tingkir, antara kau dan Joko, siapa yang lebih hebat?” tanya Limarsih dalam perjalanannya ke pasar bersama Tingkir.

“Ya aku!” jawab Tingkir jumawa.

“Kau dan Joko kakak adik?”

“Tidak, kami sahabat sejak kecil. Kami beda guru. Kediamanku lebih jauh dari Joko. Kami sedang menjalankan tugas bersama Paman Gujara.”

“Apakah kau bisa menolong aku dan adikku?” tanya Limarsih.

“Yaa! Tentu bisa!” jawab Tingkir penuh semangat. “Apa?”

“Aku dan adikku sangat bercita-cita menjadi sakti, seperti yang tadi kau pamerkan terhadap anak buah Ki Lurah. Kau bisa membantu kami mewujudkan itu?”

“Tentu, tapi aku pikirkan dulu caranya!”

“Tidak masalah,” kata Limarsih gembira. “Aku tunggu setelah pesta!”

“Baik, tapi jawab satu pertanyaanku. Bagaimana?”

“Apa?”

“Jika aku mengajarimu, kau mau jadi kekasihku?” tanya Tingkir sambil melirik gadis cantik itu.

Cukup menghentak jantung penawaran Tingkir itu. Limarsih tidak langsung menjawab, tampak ia berpikir sepuluh putaran.

“Bagaimana?”

“Eee....” dengung Limarsih menunduk sambil melangkah riang.

“Ayolah! Jika kau mengharapkan Joko, percuma. Kau lihat sendiri penyakitnya, tidak mau didekati oleh perempuan!”

Limarsih pun tampak berpikir keras sambil berjalan tersenyum-senyum kecil. Faktanya hatinya memang berbunga-bunga bahwa Tingkir menyukainya. Akan tetapi hatinya telah berawal kepada Joko Tenang.

“Tapi Dewi sangat mencintai Joko. Aku takkan tega bila aku menjadi pesaing adikku....” batin Limarsih. Lalu katanya kepada Tingkir, “Baik. Aku akan menjadi kekasihmu ketika kau mulai mengajari aku dan adikku!”

“Jika demikian, aku ajari sekarang satu jurus!” kata Tingkir menggebu.

“Itu berarti kau mencintaiku karena nafsu!” tuding Limarsih. “Tidak mau, ah!”

Limarsih berlari meninggalkan Joko menuju pasar desa.

“Kau tidak boleh berubah pikiran, Limarsih!”  seru Tingkir sambil berlari mengejar Limarsih.

Cukup sekali kelebatan, Tingkir sudah mampu menghadang Limarsih.

“Tidak, demi dedemit, aku benar-benar jatuh hati kepadamu!” sumpah Tingkir dengan mimik mengharap.

Limarsih tertawa kencang melihat sikap Tingkir. Serasa meninggi perasaan dan harga cinta. Tak pernah sebelumnya ia mengalami hal seperti ini. Limarsih merasa benar-benar menjadi seorang wanita yang memang diidamkan oleh kaum lelaki.

“Kau tampan, berilmu dan lelaki. Tak ada alasan aku untuk tidak menerima,” kata Limarsih tanpa senyum.

“Yeaah!” teriak Tingkir kencang sambil melompat tinggi penuh kegembiraan.

Setelah berjumpalitan ke sana ke mari, Tingkir lalu berlari hendak memeluk Limarsih.

“Tahan!” sentak Limarsih. “Tapi jika kau sampai memelukku dan mencium, selesai sudah hubungan kita!”

“Hah!” Tingkir diam lemas melongo.

“Terserah, mau atau tidak!” kata Limarsih sambil berjalan melenggang memasuki pasar desa.

“Apa boleh buat,” ucap Tingkir lemas.

Sementara itu, di tempat lain. Kusuma Dewi dan Curaina berjalan beberapa langkah di belakang Joko. Mereka menuju sungai.

“Kau sudah lama kenal Joko?” tanya Curaina kepada Kusuma.

“Sejak kemarin,” jawab Kusuma Dewi sambil tertawa kecil sendiri.

“Kenapa kau tertawa, Dewi?” tanya Curaina.

“Ketika aku dan kakakku  berkelahi dengannya, aku pikir Joko itu pecundang dan aku sangat tidak suka dengannya, karena ia tidak berani dengan kami, beraninya hanya menghajar Parsuto dan yang lain. Ternyata ia memang penakut dengan perempuan.”

Curaina tertawa pelan, lalu ceritanya pula, “Aku sempat heran dan menduga buruk ketika aku suguhkan minuman, Joko malah bergeser menjauh. Rupanya ia ketakutan. Tadi aku sempat mengejar-ngejarnya.”

“Setibanya di sungai, kita kerjai ia!” bisik Kusuma.

Curaina mengangguk sepakat.

“Kita sampai juga,” ucap Joko senang saat melihat sungai yang agak turun ke bawah.

Sungai itu tidak terlalu besar, tapi cukup dalam. Kejernihan airnya membuat bebatuan di dasar masih terlihat, demikian pun beberapa ekor ikan yang sempat melintas di antara bebatuan besar.

“Ikannya lumayan besar,” kata Joko sambil senyum sendiri.

“Mana?” tanya Kusuma dan Curaina bersamaan, begitu dekat di sisi kanan kiri Joko.

“Waaa!” pekik Joko begitu terkejut mendapati kedua gadis cantik belia itu telah mengapitnya.

Tanpa pikir-pikir lagi lantaran panik dan bingung, spontan saja Joko melompat menjauh dari kedua gadis yang langsung tertawa itu. Joko melompat terjun ke bawah, ke sungai. Joko masuk ke dalam air dan segera muncul. Tubuhnya terendam sampai sedada. Sementara Kusuma dan Curaina terus tertawa. (RH)

1
Muhamad Yasri
Luar biasa
Ling Kun menghilang
wkwkwk jantungnya Joko sabar Joko😂
Om Rudi: terima kasih
total 3 replies
Ling Kun menghilang
kasian siapa yang perduli nya itu untuk minta tolong
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah joko yg menyelamatkan kusuma ya. keren
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
waduh kusuma dewi beraksi. ngga bahaya ta buat dia
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wkwkwk kebayang adegannya kaya apa😂😂
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
anak manusia masa anak setan ih
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
berani juga si parsuto sm centeng ki lurah.. awas hati2 nanti kena hajar kau
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah tdi beli monyet,sekarang lagi nawar burung. mau buat kebun binatang ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
emangnya apa yg lagi di cari sih joko..
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
jaman dulu ki lurah punya tukang pukul.. kok sekarang ngga ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
buat apa joko membeli monyet..?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sungguh kasihan siapa yang kelak dapat menumpas Rombongan biaadab ini?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sadeees ini rombongan raja gagah
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
gerombolan ini sangat licin susah dibasmi dan ditangkap ya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Hmm nama pangeran yang Unic
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini pasti gerombolan perampook
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah hanyut kan bolanya. mainnya jangan di pinggir sungai ya..jd ngga masuk ke kali tuh bola
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah..kena temennya kan bolanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!