Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi
Ariana mengamati Kiran dengan seksama. Ia mencermati setiap inci wajah gadis yang ada di hadapannya itu. Aneh sekali, pikir hatinya. Kenapa aku merasa wajah cantiknya seperti wajah Rina? batin Ariana.
Kiran yang tahu betul jika Ariana sedang mengamatinya hanya bisa menundukkan kepala dan pandangannya. Padahal papa nya selalu berpesan pada putri semata wayangnya itu agar jangan pernah menundukkan kepala kepada siapapun. Tundukkan kepala hanya kepada Ilahi Robbi dan bukan makhluknya, begitulah kira-kira pesan sang Papa. Namun kali ini Kiran melanggarnya. Ia tidak sanggup membalas menatap Ariana karena merasa tatapan Ariana yang berada di depannya seperti sedang mengulitinya. Suasananya benar-benar terasa canggung. Ari yang merasakan kecanggungan itu pun melirik Ariana kemudian mengucapkan kata-kata yang tidak mengeluarkan suara. Ariana berdehem sebentar.
"Baiklah Kiran, Aku sudah tahu cerita kalian dari Ari," ucap Ariana memulai percakapan.
"Aku juga sudah tahu tentang malam yang telah kalian habiskan bersama ketika di hotel." Kiran tersentak kaget. Kemudian ia melirik Ari yang masih tampak sumringah.
"Kau tidak perlu heran, Kiran. Ari itu orangnya terbuka. Dia selalu jujur padaku tentang apapun itu." Kiran menelan salivanya.
Tentang apapun itu??! Bukan kah itu mengerikan??! batinnya.
"Jadi aku berniat untuk menikahkan kalian pekan depan." Kiran seketika mendongak. Tanpa sadar ia ikut mengucapkan apa yang Ariana katakan, "Minggu depan?!"
"Ya, pekan depan. Itu pun jika kau tidak keberatan. Tapi kalian menikah sirri terlebih dahulu. Karena aku tidak ingin media mengetahui hal ini. Setelah satu tahun, baru kita akan mengurus semuanya secara administratif lalu kita selenggarakan pesta pernikahan untuk kalian berdua." Kiran tercengang atas perkataan Ariana yang terdengar lugas namun menohok hatinya sebagai wanita.
"Kenapa? Apa kau keberatan dengan pernyataanku barusan???!" tanya Ariana tegas. Setiap orang yang mendengar intonasi pertanyaan Ariana barusan pasti mengerti bahwa pertanyaan itu bukan untuk dibantah namun untuk diikuti. Ada hawa otoriter yang menguar dalam kata-katanya.
Kiran yang cerdas, meskipun kurang peka dalam perasaan namun dia bisa menangkap dengan jelas atas situasi yang sedang terjadi. Benar kata Papa, beginilah jadinya jika menundukkan kepala kita di hadapan orang lain. Apalagi di hadapan orang kaya seperti mereka, sudah pasti mereka tidak akan menghargai kita, batin Kiran, menarik nafas pelan lalu menghembuskan secara perlahan.
"Mohon maaf, Nyonya. Tidakkah itu terasa tidak adil bagi saya," katanya memberanikan diri. Ariana menautkan alisnya. Begitu pun Ari.
"Tidakkah anda memikirkan efek yang akan saya dapatkan jika kami menikah secara diam-diam," ucap Kiran tenang.
"Aku pikir kau salah paham, Kiran. Kita tidak menikah secara diam-diam. Kita hanya menikah dulu kemudian mengadakan pestanya kemudian. Tidak akan ada yang disembunyikan," sahut Ari cepat.
"Lalu kenapa kita tidak menunggu waktu yang tepat agar bisa menikah kemudian melangsungkan pesta pernikahan dengan segera," jawab Kiran datar. Matanya masih menatap Ariana lekat. "Kenapa mesti menunggu setahun dulu baru kita mengumumkan pada orang lain jika kita telah menikah?" lanjut Kiran seakan mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.
"Maaf, Nona Kiran .... Apakah kerugian yang kau dapatkan jika semua berjalan seperti yang aku katakan," timpal Ariana. Masih belum memahami arah pikiran Kiran.
"Mohon maaf Nyonya jika mungkin saya terlalu naif untuk memahami apa yang telah anda katakan.
Tapi menurut saya, jika yang terjadi seperti yang anda katakan maka saya lah pihak yang merasa sangat dirugikan.
Anda pasti sudah tahu dari Ari bahwa pada malam itu Ari lah yang mendatangi kamar saya. Artinya, Ari memanfaatkan keadaan tidak sadarnya saya. Letak kesalahan pada awalnya adalah dari Ari.
Kemudian kami menikah tanpa diketahui oleh orang lain. Lalu bagaimanakah tanggapan orang lain jika melihat interaksi antara kami sudah berbeda nantinya. Bukankah nanti saya yang akan dikatakan sedang merayu bos saya? Tidakkah semua itu merugikan saya?
Tentunya hanya saya sasaran kesalahan itu nantinya. Cap sebagai wanita yang menginginkan kekayaan, sekretaris yang menggoda atasan, sudah pasti mereka sematkan pada saya.
Belum tentu juga setelah setahun nanti saya tidak hamil. Bagaimana jika kemudian ketika pesta itu berlangsung saya sedang hamil?Tidakkah orang lain akan merasa bahwa saya telah hamil di luar nikah?
Lalu apakah mereka tidak bisa menduga bahwa saya lah yang menggoda Ari dengan berbagai cara. Termasuk menggoda dengan tubuh saya!" Ariana dan Ari sama-sama terperanjat mendengar pernyataan Kiran yang di luar dugaan.
"Tapi bukankah kau sudah tidur bersama dengan Ari, Kiran? Lalu apa bedanya? Apa kau bisa menjamin, kau tidak akan hamil sekarang meskipun anakku tidak menikahimu?!" sahut Ariana, mencoba mengimbangi apa yang Kiran tuturkan panjang lebar tadi.
"Saya punya feeling kuat bahwa itu tidak akan terjadi," bantah Kiran dengan tidak kalah tegas. Ariana merasa dejavu. Ia merasa seperti sedang perang argumen sekarang. Keadaan ini mirip dengan keadaan yang sering ia lakukan dengan Kamil, temannya.
Wajahnya seperti Rina namun karakternya seperti Kamil. Apakah mungkin gadis yang ada di hadapannya ini adalah anak dari kedua temannya itu? Ariana menebak dalam hati. Jika situasinya tidak seperti ini, Ariana pasti sudah menanyakan pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya pada Kiran.
Ariana sebenarnya merasa jika pernyataan Kiran benar adanya. Ia pun akan merasakan hal yang sama jika di posisi Kiran. Namun ia akan merasa kalah jika langsung membenarkan. Ia juga ingin mengetes sampai sejauh mana pendirian gadis yang ada di hadapannya ini. Sementara Ari hanya membisu menatap ekspresi kedua wanita yang ada di depannya dan di sampingnya. Ia seakan menjadi seseorang yang posisinya tak diacuhkan disini.
Kenapa bisa jadi begini?? batin Ari.
Ia tidak menyangka jika Ariana dan Kiran akan perang argumen. Namun ia serahkan semua pada Ariana. Ia percaya, mamanya mampu menaklukkan Kiran. Yang penting Kiran harus menikah segera dengan dirinya. Agar Rangga tidak bisa lagi mengambilnya.
"Aku kira kau telah salah paham, Kiran. Aku ingin kalian segera menikah malah karena aku ingin melindungimu. Anakku tidak pernah melakukan itu sebelumnya dengan gadis lain. Lalu ia melakukannya denganmu. Apakah kau yakin kau bisa menghalanginya untuk melakukan itu lagi padamu?" Kiran terkesiap mendengar penuturan Ariana.
Kiran berpikir cepat dalam diam. Penuturan Ariana memang benar adanya. Kiran ingat bahwa Ari bilang selalu tergoda olehnya. Bukan kah itu menunjukkan bahwa memang Ari selalu berhasrat jika melihatnya.
Melihat Kiran terdiam, Ariana menarik senyum tipis di bibirnya. "Kau harus tahu Kiran, seorang pria akan mampu menahannya jika memang belum pernah melakukannya. Namun semua itu berbeda jika ia pernah melakukannya. Ia akan menginginkannya lagi dan lagi." Bulu kuduk Kiran meremang seketika. Kata-kata Ariana terasa menakutkan baginya.
Ari hanya membisu mendengar penuturan Ariana. Sejujurnya ia merasa malu, karena apa yang dikatakan Ariana berhubungan dengan dirinya yang tak bisa menahan hasrat. Padahal itu memang benar adanya. Ari mengulum senyumnya, wajahnya merona.
Namun, entah kenapa Ari bisa bernafas lega sekarang. Mamanya memang selalu bisa diandalkan jika berurusan dengan mengintimidasi seseorang. Ia tersenyum bangga sambil menyenderkan kepalanya ke kesandaran sofa yang sedang didudukinya.
"Kenapa sepertinya anda menimpakan semua beban itu pada saya, Nyonya," cetus Kiran membuat Ariana menautkan alisnya.
"Anda pasti sudah bisa memahami sendiri. Semua akar permasalan berasal dari Ari, anak anda. Lalu kenapa bukan anak anda yang seharusnya anda ajarkan untuk menahan diri?Tidakkah seharusnya anda memberikan pernyataan bahwa tindakan anak anda sudah salah. Bukankah seharusnya Anda harus menegaskan kembali kepada anak anda untuk tidak mengulanginya?! Dan bukan malah seakan menyalahkan saya atas kesalahan yang telah anak anda lakukan?!"
Ariana tercekat. Ia membisu seketika. Begitu juga Ari. Serasa ada pukulan telak yang Ari rasakan sedang dialami oleh mamanya sekarang.
Sementara Ariana begitu terkejut dengan kata-kata Kiran. Ia tidak menyangka Kiran begitu berani mengatakannya. Seakan-akan ia adalah ibu yang tidak baik. Ia merasa sesak seketika.
"Semuanya sudah selesai. Terima kasih telah menerima saya dengan baik. Saya permisi Nyonya." Kiran berdiri, menghampiri Ariana. Mengambil tangannya dan mencium punggung tangan wanita itu. Kemudian berbalik berniat pergi.
Ari yang mengetahui gelagat Kiran akan meninggalkan rumahnya langsung beranjak ingin mengejar. Namun ia urungkan melihat Ariana yang meringis sembari memegang dada kirinya.
"Ma ... Mama kenapa?" tanya Ari panik, menatap wajah Ariana yang terlihat seperti menahan sakit yang amat sangat.
Ariana menekan dada kirinya dengan kuat lalu memejamkan matanya. Tangannya yang tadi digunakan untuk menekan dada kirinya kini terkulai lemas. Ariana pingsan.
Ari panik mendapati Mamanya yang telah pingsan. Ia menggoncangkan tubuh Mamanya sambil berteriak-teriak memanggil Ariana kemudian dengan cepat berteriak memanggil Tina dan Waluyo--tukang kebun sekaligus supir mereka.
Kiran yang mendengar keributan di belakangnya menoleh, terperangah melihat kondisi Ariana.
Tina dan Waluyo datang dengan cepat. Mereka berdua diminta Ari memapah Ariana yang sudah kehilangan kesadaran.
Keributan yang terjadi juga memancing Radit untuk segera melihat ke bawah kemudian mendapati kejadian tak mengenakkan sedang terjadi dengan Ariana. Radit pun segera turun ke bawah.
"Kiran ..., kau tunggu di sini dulu. Aku akan mengurus mamaku sebentar." Kata-kata Ari sudah tidak terdengar lagi di telinga Kiran. Gadis itu mundur beberapa langkah ketika melihat Ariana dipapah kemudian dibawa ke lantai atas. Tatapannya kosong.
Radit yang mengamati kejadian di depannya hanya bisa berasumsi bahwa apa yang menimpa Ariana pasti ada hubungan nya dengan Kiran. Ia mengepalkan tangannya dengan geram. Selalu saja ada kejadian tak mengenakkan jika ada gadis ini, pikirnya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun pasti kau sudah mengejutkannya. Jika tidak, tidak mungkin sakit jantung ibuku kambuh kembali. Berdoalah agar tidak terjadi apa-apa pada ibuku. Karena jika sampai terjadi sesuatu dengan ibuku, aku akan mencarimu. Akan kupastikan kau menerima balasan setimpal atas perbuatanmu hari ini. Ini janjiku. Kau camkan itu!" Radit menatap Kiran tajam kemudian berbalik menyusul Ariana ke lantai atas.
Kiran terduduk lemas. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya benar-benar perih. Peristiwa ini mengingatkannya akan masa lalu. Ia pun menangis terisak.
❤❤❤💖
Dukung novel ini dengan like, vote n komennya. Thanks ....