Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Antara Bola dan Cinta
Mentari pagi sudah bersinar, tapi belum ingin masuk ke kamar Ivan. Sementara itu, Ivan sudah terbangun "Sebentar lagi... Turnamen antar sekolah se kecamatan akan di mulai!!" gumamku sambil bersih-bersih kamar.
"Ivan, makan!!" teriak ibu dari dapur.
"Iya," sahutku.
Aku bergegas ke dapur untuk makan "Hari kamis... Besok jum'at... Besoknya lagi sabtu... Huh, sebentar lagi!!" batinku sambil berjalan ke dapur.
Setibanya di dapur. Aku menarik kursi untuk duduk, sementara ibu masih mengambilkan nasi.
Ivan akan segera berangkat sekolah, karena mata pelajaran hari ini adalah matematika "Oh iya, hari ini matematika!!" gumamku.
"Nih, Van. Makan dulu!!" ujar ibu.
"Iya," sahutku sembari mengambil lauk.
Ibu dan aku lalu makan. Setelah makan, aku lalu mandi.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku di lantai kayu.
Aku lalu mandi. Di pagi hari seperti ini, aku biasanya hanya mandi air dingin "Dingin!!" keluhkan saat mandi.
Setelah selesai mandi, aku langsung ke kamar untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Setelah selesai bersiap-siap, aku ke depan untuk memakai sepatuku.
"Ibu, aku berangkat!!" seruku dari depan rumah.
"Iya," sahut ibu yang sedang menonton televisi.
Setelah itu, aku langsung berangkat. Embun pagi masih terlihat, suara bayi yang menangis juga terdengar, dan suara langkahku terasa semakin kencang.
Aku tiba di depan sekolah. Terlihat di depan gerbang, Elena yang sedang berdiri dan menatapku "Itu Elena... Apa akan ada konflik lagi?!" gumamku sambil terus berjalan.
"Ivan," sapa Elena.
Aku terus berjalan tanpa menghiraukan suara Elena "Jangan dihiraukan... Terus aja jalan, Ivan!!" batinku.
Aku terus berjalan, tapi Elena malah semakin mendekat ke arahku.
"Ivan... Berhenti dulu!!" seru Elena.
Aku akhirnya berhenti sejenak, dan berbalik ke arah Elena sambil bertanya "Ada apa?!" tanyaku.
Tiba-tiba "Ada aku!!" sahut Nadia yang berada di dekat Elena.
"Huh," menghela napas.
"Bakal ada konflik lagi nih!!" gumamku pelan sambil melihat Elena dan Nadia yang saling pandang.
"Apasih kamu, baru dateng kok langsung nyaut aja!!" seru Elena dingin.
"Daripada kamu. Masih pagi udah cari perhatian ke Ivan!!" seru Nadia yang membuat tensi makin tinggi.
Aku hanya melihat adu mulut yang sedang terjadi, tapi di satu kesempatan aku langsung berlari ke kelas "Aduh... Lagi-lagi mereka bertengkar," gumamku sambil terus berjalan.
Setibanya di kelas, aku lalu duduk.
"Van!!" sapa Andika di belakangku.
Aku menoleh ke Andika "Apa, Dik?!" tanyaku.
"Nanti pulang sekolah kita jadi latihan, kan?!" tanya Andika.
"Iya, kita kan udah bahas kemarin sore!!" seruku.
"Saatnya jam pelajaran pertama di mulai!!" suara dari speaker sekolah.
"Udah masuk," batinku.
Dari arah luar kelas terdengar suara langkah kaki "Pasti itu, Bu Tia!!" seruku.
"Belum satu minggu duduk di kelas sebelas, tapi harus ngadepin guru killer!!" gumamku.
Langkah kaki itu semakin dekat, semakin keras, dan akhirnya muncul "Pagi, Anak-anak. Hari ini saya menggantikan, Bu Tia!!" ujar Pak Bagoes.
Saat aku mendengar tadi, aku langsung mengenal napas lega "Huh," aku menghela napas.
"Kenapa menggantikan, Bu Tia. Pak?!" tanya Sari, ketua kelas kami.
"Pertanyaan bagus, Sari. Bu Tia sedang di luar kota, jadi hari ini saya yang menggantikan!!" seru Pak Bagoes sambil mengambil spidol.
Aku mengikuti jam pelajaran matematika sampai selesai.
"Saatnya jam istirahat pertama di mulai!!" suara dari speaker sekolah.
"Baik, anak-anak. Kita lanjutkan minggu depan... Kalian bisa istirahat!!" ujar Pak Bagoes.
Aku lalu membereskan buku-ku, setelah rapi aku segera ke kantin. Di sana aku bertemu dengan Michel, Azzam, Andika, dan Elena, entah kenapa Elena bisa berkumpul dengan mereka.
"Van, duduk sini aja!!" seru Andika.
"Iya, Van!!" ujar Azzam.
"Wah, Ivan!!" celetuk Michel.
"Ivan, kamu duduk di sampingku aja!!" seru Elena.
Aku hanya diam dan memperhatikan kursi kosong, hanya ada satu kursi yang kosong tapi di samping Elena "Huh, oke!!" batinku.
Aku duduk di samping Elena, tapi aku tidak terlalu memperdulikannya "Zam, kita latihan nanti sore!!" seruku untuk membuka obrolan.
"Iya, kan udah kamu beritahu kemarin, Van!!" sahut Azzam.
"Aku ikut boleh?!" tanya Michel yang ingin ikut latihan.
"Boleh aja, tapi apa nggak sedikit jauh rumah kamu sama lapangan?!" tanya Andika.
"Lumayan sih, tapi aku kan naik motor!!" jawab Michel.
"Oh, iya!!" jawabku, Azzam, dan Andika secara bersama-sama.
"Kalau aku?!" tanya Elena.
Kami semua memandang Elena, lalu berdiskusi singkat "Gimana, boleh nggak?!" bisikku pelan ke yang lainnya.
"Bolehin aja," potong Andika.
"Iya, biarin aja!!" seru Michel.
"Hmm.... Oke deh!!" seruku.
"Yes... Makasih, Ivan!!" seru Elena.
Kami lanjut mengobrol sampai jam pelajaran dimulai kembali.
"Saatnya jam pelajaran kedua, dimulai!!" suara dari speaker sekolah.
"Kita ke kelas dulu ya," seruku dan Andika.
"Oke," jawab mereka secara bersama-sama.
Kami lalu kembali ke kelas. Di perjalanan ke kelas, aku bertanya ke Andika "Dik, kamu tahu kenapa Elena sama Nadia sering bertengkar, nggak?!" tanyaku.
"Tau. Dulu mereka sahabat, tapi karena memperebutkan laki-laki jadi mereka kayak gitu!!" ujar Andika.
"Oh," sahutku.
Kami terus berjalan ke kelas. Sesampainya di kelas, guru langsung masuk beberapa saat setelah aku dan Andika masuk.
"Oh... Pak Nur, kira-kira ada apa ya?!" batinku yang melihat Pak Nur masuk.
"Baik, Anak-anak. Ada pengumuman lagi, di sini ada Andika dan Ivan?!" tanya Pak Nur.
"Ada!!" jawabku dan Andika.
"Ivan dan Andika, ada pengumuman soal turnamen. Pengumuman tentang hadiahnya, untuk juara satu akan di berikan sejumlah uang dan para pemainnya langsung bisa bermain di klub Persebaya Surabaya. Untuk juara dua bisa dibilang sama, tapi akan masuk ke SSB Putra Bangsa dan tidak ada juara ke tiga!!" seru Pak Nur yang menjelaskan.
Aku berkedip cepat, jantungku berdetak kencang, dan wajahku sangat senang karena pengumuman hadiah dari Pak Nur tadi "Yes... Kalau menang bisa langsung main di ajang profesional!!" batinku senang.
"Wah... Kita harus menang, Van!!" celetuk Andika dari belakang.
"Iya," sahutku.
"Baik, anak-anak. Yang mengikuti turnamen harus berjuang, dan yang tidak ikut bisa memberikan semangat dan doa untuk tim kita. Kalau begitu bapak pergi dulu!!" ujar Pak Nur sebelum pergi.
"Baik, Pak!!" jawab kami semua.
Setelah Pak Nur keluar, guru yang mengajar lalu datang ke kelas dan mulai mengajar kami semua.
Aku dan yang lainnya belajar dengan tenang sampai waktu pulang sekolah.
"Saatnya pulang sekolah, sampai jumpa esok hari!!" suara dari speaker sekolah.
"Anak-anak, kalian bisa pulang ke rumah masing-masing!!" seru Pak Guru di kelas.
"Baik!!" jawab seisi kelas.
Aku lalu pulang. Baru sampai di depan gerbang sekolah, tiba-tiba aku dihadang Elena.
"Stop!!" seru Elena sambil memberikan gestur tangan.
Aku berhenti melangkah "Ada apa, Elena?!" tanyaku.
Elena membuka tasnya, lalu dia mengeluarkan sebatang coklat "Buat kamu!!" seru Elena sambil menyodorkan sebatang cokelat.
Aku hanya memperhatikan cokelat di tangan Elena, jantungku berdebar agak kencang "Hmm... Nggak usah, Len!!" seruku menolak pemberian Elena.
"Kenapa?!" tanya Elena.
"Nggak papa... Elena, aku mau pulang!!" seruku sambil berjalan pulang.
"I-iya," sahut Elena dengan ekspresi kecewa.
Aku berjalan pulang. Tapi pikiranku terpecah menjadi dua, antara sepak bola dan Nadia, Elena.
Ivan berjalan pulang. Harapannya semakin besar untuk bermain sebagai pemain profesional, tapi bagaimana dengan hati dan keluarganya?
Bersambung...