Kisah yang menceritakan tentang seorang gadis desa yang sangat sederhana. Dia berjuang untuk bisa mengangkat derajat orang tuanya dengan bersekolah hingga lulus kuliah. Suatu ketika, dalam sebuah kegiatan bakti sosial Gadis ini dipertemukan dengan sosok ketua pemuda yang bijaksana. Karena pisau dapur ibu si gadis hilang saat bakti sosial, dari situlah awal mula kisah cinta mereka bermula.
Semoga kisah ini menginspirasi kita anak muda dalam menyikapi jaman yang semakin menggila.
baarokallahufik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat
"Nduk, adikmu." kata bu Lami tak berlanjut.
"Adikku? Dek Pras?" tanya Maryam masih penasaran.
"Ani." jawab Ibu masih menahan tangis.
"Ani? Ada apa sama Ani?"
"Ani gagal sekolahnya." tangisan ibu makin pecah. Ani adalah adik sepupunya Maryam, usia mereka hampir sepantaran. Maryam sekolah di Madrsah, sedangkan Ani sekolah di Sekolah Negeri.
"Gagal, gagal kenapa bu? Apakah karena biaya?" tanya Maryam masih penasaran.
Tiba-tiba ibu Lami memeluk anak gadisnya dengan menangis sesenggukan. Maryam yang tak tau apa-apa hanya bisa mengelus punggung ibunya dengan penuh tanda tanya.
"Ani, dia Hamil nduk."
Jedarrrr
Seketika Maryam bagai tersambar petir, apa yang dikhawatirkan terjadi. Beberapa bulan lalu, Ani pernah cerita pada Maryam, bahwa dia sudah jadian sama seorang cowok, Ani sempat mengatakan, bahwa Maryam terlalu polos dan lugu.
Flash back
"Mbak, kamu tu ya, kenapa sih harus pake kerudung pas sekolah. Yang nyuruh Mas Maulid ya?" tanya Ani suatu hari saat Maryam meminta tolong Ani untuk mengantarkannya ke suatu tempat, karena Maryam belum bisa naik motor.
"Dulu sih iya, tapi Alhamdulillah, sekarang aku berjilbab lebih panjang bukan karena mas Maulid kok, tapi ini kemauanku sendiri." Jawab Maryam pada Ani.
"Trus, kenapa sih mbak, kamu tu mau-maunya sekolah jauh kaya gitu, cuma naik sepeda, apa ga capek? Kalo aku sih, ga mau mbak."
"Kalo aku ga mau, belum tentu aku bisa sekolah An, beda sama kamu, meski kamu dah ga punya bapak, tapi ibu dan kakak kakakmu sudah menjamin fasilitas kamu. Sedangkan Aku?? ibu bapakku sudah ga bisa merantau lagi. Di rumah ngurusin embah, kalo aku mau minta apa-apa, mau minta siapa? Mas Maulid? ya kasian lah. Dia harus membiayai sekolahku sama adek." jelas Maryam panjang Lebar.
"Hm... oya mbak, aku abis jadian lho."
" Oya? sama siapa?" tanya Maryam.
" Sama kakak kelas aku yang sekarang udah lulus." jawab Ani bangga.
"Hati-hati, janga terlalu sering ketemuan An... kamu sendirian di rumah lho." Maryam menasehati.
"Iya tenang aja. Dia cowok baik kok. Setiap hari aku di pantau, kalo jam 5 sore, aku harus udah di rumah, ga boleh keluar-keluar lagi."
"Jangan terlalu nurut An, dia kan belum jadi suami kamu. Dia belum berhak ngatur-ngatur kamu An."
"Ih, mbak. Justru dia itu perhatian sama aku. Selama ini aku tu ga ada yang merhatiin, ibu sama mbak-mbakku merantau terus, cowokku ini udah kuanggap sebagai kakaku sendiro. Dia baik banget sama aku."
Tak terasa Ani dan Maryam sudah sampai rumah jadi percakapan mereka cuma cukup sampai disitu.
***
"Nduk, kampung ini sudah semakin parah, kemarin teman ngaji kamu, Wulan yang hamil saat masih sekolah. Dan sekarang Ani, sepupu kamu sendiri. Dia harus mengakhiri perjuangan sekolahnya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya." Ucap Bu Lami sambilasih memeluk anak gadisnya.
Maryam yang masih dipeluk ibunya hanya bisa menangis tidak percaya. Memang benar, akhir-akhir ini, semenjak ketua pemudanya ganti orang, Kampung tempat tinggal Maryam berubah semakin parah dari waktu-waktu dulu. Para Pemudanya banyak yang dipaksa untuk minum minuman keras, bahkan sampai pemuda yang aktif di masjid, juga dijebak minum minuman haram itu yang dicampurkan pada es pada suatu acara. Anak-anak SMP di paksa merasakan Rokok, dan setelah itu dipaksa meminum minuman haram itu.
Selain itu, Para pemudi di desa itu banyak yang dijadikan alat pemuas nafsu para pemuda dikampungnya. Maryam, yang sejak kecil terbiasa bergulat di masjid, sampai dia tidak terlalu tertarik untuk bergabubg dengan teman-teman pemudi di Kampungnya. Hingga beberapa teman Maryam yang masih sekolah sudah kehilangan kesuciannya.
Para orang tua sudah kewalahan menghadapi kelakuan pemuda pemudi di kampungnya, Karena para orang tua juga sudah kehilangan tokoh yang bijaksana.
"Nduk, Ibu sangat memohon sama kamu, jaga kesucian kamu. Jangan sampai kamu korbankan hanya untuk mereka yang tidak bertanggungjawab." Kata ibu sambil menatap tajam mata anak gadisnya yang berdiri dihadapannya setelah melepas pelukan putrinya.
"Ibu Maryam akan berusaha. Mohon tambah do'anya bu." jawab Maryam mantab.
Ibu Lami benar-benar terpukul, meski Ani hanya keponakannya, tetapi dia merasa gagal dalam mendidik anak. Sedangkan beberapa tahun yang lalu, ibu Lami juga mengalami hal yang sama dengan saat ini, dan itu lebih menyakitkan rasanya. Kakak perempuan Maryam, beberapa tahun lalu juga mengalami hamil di luar nikah, namun kakak Maryam sudah tidak bersekolah. Sebenarnya yang menghamili juga calon suaminya, Tetapi belum tiba waktu sah, mereka sudah melakukan hubungan terlarang itu, Sampai akhirnya ibu Lami benar-benar hancur di pelukan kakak laki-laki Maryam yang tak lain adalah Maulid.
Maryam merasa terbebani dengan semua kisah pedih yang menimpa keluarganya.
"Ibu, ibu percaya kan, kalau Maryam akan baik-baik saja. Maryam akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kehormatan ini bu." Jawab Maryam sambil memeluk ibunya.
"Pacar Ani tanggungjawab tidak bu?"
"Tanggungjawab, tadi dia datang ke rumah bulik, untuk meminang Ani, sambil menjelaskan apa yang sudah dia lakukan pada Ani. Tadi bulik kamu datang ke rumah, sambil nangis-nangis Ma."
"Trus, mereka akan menikah?"
"iya."
"Kapan bu?"
"Lebih cepat lebih baik katanya. Kemungkinan bulan depan, karena kehamilan Ani sudah menginjak usia 3 bulan."
"Apa? Tiga bulan?" Maryam kaget akan cerita ibunya, ternyata saat Ani mengantarkannya keluar waktu itu, Dia sudah mulai melakukan hubungan terlarang itu.
"Iya. Semua fasilitas milik Ani dicabut. Motor, HP, kartu ATM, semua diambil."
"Yaa Allah An..." ratap Maryam pada nasib adiknya.
***
Malam itu, mendadak Maryam terlupa dengan masalahnya kemarin, pisau dapur ibunya yang hilang. Maryampun tiduran diatas ranjang, menatap langit-langit, tampak olehnya cahaya rembulan di balik Genting kaca di kamarnya. Tiba-tiba suara HP bapaknya membuyarkan lamunannya. Dia segera mengangkat telepon.
("Assalamu'alaikum."
(Wa'alaikumussalam. Belum tidur dek?" tanya suara pria diseberang sana.
("Kak Amar, belum kak. Ada apa kak?"
("Saya cuma mau menginformasikan, Tadi ada anak yang bilang, katanya ada yang lihat pisau seperti yang kamu maksud, tetapi pisaunya buat mainan anak-anak terus hilang. Kemungkinan diambil pemulung yang kebetulan lewat kampung kami." Jelas Amar.
("Ow ya sudah kak. Tidak apa-apa kata ibu."
("Maaf ya."
("Ya kak. Tidak apa-apa kak. Ohya kak, saya besok mau ngobrol sama kak Amar, boleh?" tanya Maryam.
"Maryam mau ketemu aku? Apa dia udah kangen lagi? Atau apakah ada yang perlu dia sampaikan." Batin Amar di seberang sana.
("InshaaAllah bisa dek. Dimana jam berapa?"
("Beskok ya kak, pulang sekolah. Bagaimana kalau di perpustakaan Umum kabupaten?"
("Ya, inshaaAllah dek."
Setelah ada kesepakatan, hubungan telepon pun terputus.
Dikamar, Amar terbaring terlentang menghadap langit-langit kamarnya. Dia senyum-senyum sendiri sambil mengingat percakapannya tadi. Suara gadis itu tampak berbeda, tidak seperti biasanya. Sepertinya dia ada masalah. Tiba-tiba jantung Amar berdebar debar darahnya berasa mengalir dengan derasnya.
***
Keesokan harinya, seperti yang sudah dijanjikan, Maryam pulang sekolah tidak langsung pulang. Dia mengajak bertemu dengan Amar, dengan tujuan mengajaknya sharing terkait karangtaruna. Sesampainya di Perpustakaan Umum, ternyata sudah ada seorang pria tampan yang masih duduk di motornya. Maryam datang dengan mengendarai sepeda mininya.
"Assalamu'alaikum kak." Sapa Maryam pada Amar dihadapannya.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Amar menoleh pada sumber suara. Betapa dia terkejut melihay gadis polos dengan tanpa polesan apapun, tak seperti gadis ABG lainnya yang setidaknya memakai make up sedikit. Gadis dihadapannya mengendarai sepeda mini, dengan masih menggendong ranselnya dengan wajah kemerahan karena cuaca yang sangat panas.
"Ayuk kak kita masuk ke Dalam. Di dalam ada taman untuk bersantai." Lanjut Maryam sambil menaruh sepedanya.
"Iya dek."
Sesampainya di taman perpustakaan, Amar dan Maryam duduk di kursi yang berada di dekat kolam teratai. Kursi yang mereka duduki terpisah oleh meja bulat.
"Maaf kak. Saya mau curhat."
"Curhat apa dek?"
"Jujur, saya sangat simpati dengan kepemimpinan kak Amar di kampung. Kak Amar selaku ketua Pemuda kok bisa sih mengatur pemuda pemudinya untuk aktif di masjid dan berperilaku baik." Maryam mengawali ceritanya.
"Hem, itu hanya kebetulan dek. Saya hanya menjalankan tugas, yang harus saya jalankan dengan baik."
"Kampungku diujung kehancuran kak." kata Maryam sudah mulai menitikkan air matanya, Maryam menunduk menutupi kesedihannya.
"Maksud dek Maryam?"
Maryampun menceritakan kerusakan moral di kampungnya, terutama karangtarunanya yang kini dipimpin oleh orang yang suka mabuk. Maryam bercerita dengan sesenggukan.
"Saya harus gimana kak, melihat situasi kampung saya yang seperti itu?" isakan Maryam perlahan memudar.
"Ehm, apa tidak dilaporkan ke polisi?"
"Tidak ada yang berani kak."
"Harus ada perubahan dek. Coba kamu sampaikan masalah ini pada tokoh masyarakat yang berpengaruh di kampugmu." Amar mencoba memberikan pendapatnya.
buat author semngt💪💪💪 teruslah berkarya
semangattt berkarya 💪🥰🥰
- My Teacher Is Mine-
next
- My Teacher Is Mine-
semangattt next 💪💪
My Teacher Is Mine selalu mendukungmu 🥰
next💪💪
- My Teacher Is Mine-
yuk mampir di karya aku yang berjudul " My Teacher Is Mine" menceritakan kisah cinta murid dan gurunya.
tinggalkan jejak ya kk🥰🥰💙💙💙
pasti aku feedback 😇😇😇