NovelToon NovelToon
PUSAKA TAMBUN TULANG

PUSAKA TAMBUN TULANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:39.3k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Panglima Hijau dan Danau Cahaya

Arya Wiguna berdiri termangu di dalam gua yang kini terasa lebih dingin dan sepi. Makhluk-makhluk buas tadi telah lenyap tanpa bekas, hanya menyisakan bau anyir samar yang mulai memudar.

Luka-lukanya telah pulih sepenuhnya berkat bola cahaya hijau dari laki-laki misterius itu. Namun, benaknya masih dipenuhi pertanyaan. Siapa laki-laki berjubah hitam yang telah menyelamatkannya itu?

Apakah ia yang dimaksud oleh bayangan misterius sebagai "penjaga"? Dan apa maksud dari segala peringatan tentang dendam?

Arya Wiguna menatap kembali ke arah danau kecil yang tadi ia lihat. Cahaya kebiruan samar kembali memancar dari permukaannya, seolah memanggilnya.

Danau ini adalah bagian dari aliran Sungai Batanghari yang menembus masuk ke dalam bukit. Di tengah danau, pohon raksasa itu masih menjulang, dan kilauan pusaka di puncaknya terlihat lebih jelas sekarang. Sebuah dorongan kuat menariknya ke sana.

"Kekuatan atau kedamaian. Dendam... atau kebenaran." Bisikan sosok bayangan misterius kembali terngiang.

Arya Wiguna mengepalkan tinjunya, ia telah memilih kekuatan, namun ia harus mencari tahu apa yang dimaksud dengan "kekuatan sejati" dan "menguasai diri". Mungkin, pusaka itu akan memberinya petunjuk.

Arya Wiguna berjalan menuju tepi danau. Airnya jernih, dingin, dan memancarkan cahaya yang aneh.

Arya Wiguna menyentuh permukaannya, merasakan sensasi dingin yang menyegarkan. Tak ada perahu, tak ada jembatan. Untuk mencapai pulau di tengah, ia harus berenang. Tanpa ragu, ia melepaskan jubahnya dan melompat ke dalam air.

Dinginnya air langsung menusuk tulang, namun Arya adalah seorang pendekar yang terbiasa dengan segala medan.

Arya Wiguna berenang dengan tenang, tenaganya terasa penuh kembali, semakin dekat ke pulau, ia bisa merasakan kekuatan yang semakin kuat memancar dari pohon raksasa itu. Sebuah kekuatan yang murni, namun juga terasa kuno dan agung.

Ketika Arya Wiguna mencapai daratan pulau, ia merangkak naik, terengah-engah. Pulau itu ditumbuhi pepohonan yang tak ia kenali, dengan dedaunan yang memancarkan cahaya hijau samar.

Aroma bunga-bunga aneh memenuhi udara, menenangkan jiwa yang bergejolak. Di tengah pulau, berdiri megah pohon raksasa itu.

Akarnya menjalar ke mana-mana, sebagian masuk ke dalam danau, seolah menghisap kekuatan dari air.

Dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit, dan di puncaknya, tergantung sebuah Pedang Hijau Zamrud yang memancarkan cahaya terang.

Pedang itu, jelas sekali, adalah pusaka yang dimaksud. Bentuknya sederhana, namun terpancar aura tenaga yang luar biasa kuat dari sana.

Arya Wiguna melangkah mendekat, matanya terpaku pada pedang itu. Ini adalah kesempatan baginya untuk menjadi lebih kuat, untuk memenuhi dendamnya.

Tepat saat Arya akan melangkah lebih dekat, sebuah suara berat namun lembut terdengar dari belakangnya.

"Berhenti, anak muda. Pedang itu bukan untuk sembarang orang," ujar suara itu mencegah.

Arya Wiguna terkejut, pemuda itu sontak berbalik, pedang yang ia genggam terangkat siap siaga. Di depannya, berdiri sesosok laki-laki.

Laki-laki itu mengenakan jubah hijau tua yang mengalir hingga ke tanah, menutupi seluruh tubuhnya, menyatu sempurna dengan cahaya hijau di sekitarnya.

Wajahnya tertutup oleh kain hitam yang menutupi separuh wajah, hanya menyisakan mata yang teduh namun tajam, memancarkan kebijaksanaan dan ketenangan yang mendalam.

Di tangan laki-laki itu memegang sebuah tongkat kayu yang sederhana, namun terpancar aura kekuatan purba dari sana. Tongkat itu seolah bagian dari alam itu sendiri.

Ini bukan laki-laki misterius yang menyelamatkannya dari makhluk buas tadi malam. Sosok itu berjubah hitam dan bersenjatakan pedang hitam pekat. Laki-laki di depannya ini berjubah hijau, dan auranya terasa berbeda, lebih tenang, lebih kuno.

"Siapa kau?" tanya Arya Wiguna waspada. Arya bisa merasakan tenaga yang besar dari laki-laki ini, lebih besar dari Guru Cipta sekalipun, bahkan mungkin setara dengan legenda-legenda yang pernah ia dengar.

Laki-laki berjubah hijau itu tersenyum tipis, matanya memancarkan ketenangan.

"Namaku tak penting. Orang-orang biasa memanggilku Panglima Hijau." jawabnya tenang memperkenalkan diri.

Arya Wiguna mengernyitkan dahi. Nama itu tidak asing baginya. Arya pernah mendengar cerita-cerita tentang Panglima Hijau, seorang pendekar legendaris yang mengasingkan diri di Bukit Tambun Tulang, konon menjadi penjaga pusaka dan tempat itu. Tapi ia mengira itu hanya dongeng, cerita pengantar tidur untuk murid-murid baru.

"Jadi... Tuan adalah Panglima Hijau?" Arya bertanya, tak percaya, "Tuan... penjaga tempat ini?" lanjutnya seakan tak percaya.

Panglima Hijau mengangguk perlahan, "Aku adalah bagian dari tempat ini, anak muda. Sama seperti kau, yang kini telah menginjakkan kaki di sini."

Panglima Hijau memandang pedang di tangan Arya, "Untuk apa kau datang ke sini, dengan hati yang penuh bara?" tanyanya.

Arya menundukkan kepalanya sejenak, menghela napas panjang.

"Aku datang untuk mencari kekuatan, Panglima. Aku difitnah, diusir dari padepokanku sendiri. Namaku tercoreng. Aku ingin membalas dendam," jawab Arya, suaranya memancarkan kepedihan yang dalam.

"Aku ingin menunjukkan pada mereka yang telah menghakimiku bahwa mereka salah. Aku ingin Bujang Larang membayar atas perbuatannya," lanjut Arya Wiguna hanyut kenangan buruknya.

"Dendam," Panglima Hijau mengulang kata itu perlahan, nadanya tanpa penghakiman, namun sarat makna.

"Sebuah bara api yang akan membakar segalanya, termasuk dirimu sendiri. Apakah itu yang kau inginkan dari Pedang Hijau Zamrud itu?" tanya Panglima Hijau sambil menunjuk pedang yang tergantung di puncak pohon dengan ujung tongkatnya. Kilauan pedang itu seolah memudar sejenak saat kata "dendam" diucapkan.

"Aku... aku tidak tahu," jawab Arya jujur.

"Aku hanya tahu aku harus menjadi kuat. Lebih kuat dari Bujang Larang. Dia licik, Panglima. Dia menguasai padepokan, dan dia punya pengaruh pada para sesepuh," lanjutnya sedih.

"Kekuatan," kata Panglima Hijau mengangguk.

"Apakah kau tahu, kekuatan sejati tidak hanya berasal dari otot dan tulang, melainkan dari kedalaman jiwa?

Jika jiwamu dipenuhi kegelapan, tenaga yang kau kumpulkan pun akan menjadi gelap, dan pada akhirnya, akan melahapmu, menjadikannya seperti para bayangan yang menyerangmu tadi malam," lanjut Panglima Hijau datar tapi penuh ketenangan.

Arya terkesiap, "Bayangan tadi malam... apakah itu ujian dari Tuan Panglima?"

Panglima Hijau hanya tersenyum tipis. "Bukit ini memiliki caranya sendiri untuk menguji setiap jiwa yang masuk ke dalamnya.

Mereka yang tamak, mereka yang dipenuhi kejahatan, akan bertemu dengan kegelapan yang sesungguhnya. Kau... kau masih memiliki secercah cahaya, Arya Wiguna. Cahaya yang membawamu selamat."

Ia menatap mata Arya dengan lekat. "Aku melihat potensi yang besar dalam dirimu, Arya Wiguna. Aku melihat ketekunan, kegigihan, dan semangat yang murni untuk membela kebenaran. Tapi aku juga melihat bara dendam yang siap membakar semuanya, mengubahmu menjadi sesuatu yang bukan dirimu. Jika kau ingin mengambil Pedang Hijau Zamrud, kau harus memadamkan bara itu."

"Memadamkan dendam?" Arya menatap tidak percaya. "Tapi... bagaimana bisa? Mereka telah merenggut segalanya dariku! Namaku, kehormatanku, rumahku! Ayahku... warisannya... semuanya!"

"Dengan menemukan kebenaran sejati," jawab Panglima Hijau, suaranya tenang namun tegas. "Dendam hanya akan mengaburkan pandanganmu, membuatmu tak bisa melihat jalan yang seharusnya kau tempuh. Kekuatan sejati bukan tentang mengalahkan musuh dengan tenaga yang lebih besar, melainkan mengalahkan kegelapan di dalam dirimu sendiri. Mengatasi kelemahanmu. Mengendalikan emosimu."

Panglima Hijau berjalan ke tepi danau, menatap pantulan cahaya di permukaannya.

"Danau ini bukan sekadar danau, Arya. Danau ini adalah cermin jiwa. Lihatlah ke dalamnya, dan kau akan melihat dirimu yang sebenarnya. Semua yang tersembunyi, semua yang kau rasakan," ujar Panglima Hijau tanpa menoleh.

Arya Wiguna mendekati tepi danau, ragu-ragu, ia menatap pantulan dirinya. Wajahnya yang kelelahan, matanya yang memancarkan amarah dan kesedihan.

Di pantulan itu Arya Wiguna melihat bayangan hitam yang samar, seolah mewakili dendam yang selama ini ia pelihara.

Arya Wiguna juga melihat pantulan pohon raksasa dan pedang di puncaknya, seolah keduanya adalah bagian dari dirinya.

"Dendam itu terlihat jelas di matamu," ucap Panglima Hijau, seolah membaca pikiran Arya.

"Tapi aku juga melihat sesuatu yang lain. Kebenaran, keinginan untuk membersihkan nama baik, dan cinta pada padepokanmu yang telah membesarkanmu. Cinta pada keluargamu, pada warisan orang tuamu. Kau ingin menjaga itu semua, bukan hanya menghancurkan," lanjut Panglima Hijau lagi.

"Apa yang harus aku lakukan, Panglima?" Arya Wiguna bertanya, nadanya penuh keraguan. Pemuda itu bingung.

Di satu sisi, Arya Wiguna ingin membalas dendam secepatnya. Di sisi lain, perkataan Panglima Hijau telah menggoyahkan keyakinannya pada jalan yang ia pilih.

Arya Wiguna merasa ada kebenaran dalam setiap perkataan Panglima Hijau, seperti air jernih Sungai Batanghari yang membersihkan hatinya.

Panglima Hijau mengulurkan tongkatnya ke arah Arya.

"Tinggallah di sini. Aku akan membimbingmu. Aku akan mengajarimu jalan yang benar.

Jika kau mampu menguasai dirimu, memadamkan bara dendam, dan menemukan kekuatan sejati di dalam jiwamu, maka Pedang Hijau Zamrud akan menjadi milikmu.

Pedang itu akan menjadi bagian dari dirimu, bukan hanya senjata, melainkan penjelmaan kebenaran yang kau perjuangkan," ujar Panglima Hijau penuh makna.

Arya menatap Panglima Hijau, lalu Pedang Hijau Zamrud yang berkilauan di puncak pohon, dan kembali ke pantulan dirinya di danau.

Arya Wiguna dihadapkan pada pilihan sulit, melanjutkan jalan dendam sendirian, berisiko hancur oleh kegelapan yang sama, atau mengikuti bimbingan Panglima Hijau yang misterius ini, yang menjanjikan kekuatan sejati namun dengan syarat yang berat, yaitu melepaskan dendam.

Arya Wiguna teringat lagi wajah Bujang Larang, senyum liciknya yang penuh tipuan, juga wajah Guru Cipta yang kecewa, dan teman-temannya yang mengusirnya.

Dendam itu masih membara, panas di dalam dadanya. Namun, Arya juga teringat akan ajaran ayahnya, Bujang Baik, tentang hati yang bersih dan tekad yang lurus.

Tentang menjadi karang yang tak tergoyahkan. Arya Wiguna ingin menghormati ayahnya, bukan justru menjatuhkan dirinya ke dalam jurang kegelapan.

"Aku akan tinggal," putus Arya, tekadnya kini bercampur dengan harapan baru. Sebuah percikan cahaya mulai muncul di dalam dirinya, memadamkan sedikit demi sedikit bayangan hitam di pantulan wajahnya.

"Aku akan belajar dari, Tuan Panglima Hijau. Aku ingin menemukan kekuatan sejati itu. Aku ingin membersihkan namaku, bukan hanya dengan kekerasan, tapi dengan kebenaran. Aku akan membalas semua ini, tapi bukan dengan dendam yang membutakan," lanjutnya memutuskan.

Panglima Hijau mengangguk, senyum tipis terukir di wajahnya.

"Bagus. Jalan ini tidak mudah, Arya Wiguna. Kau akan diuji. Jiwamu akan ditempa. Kau akan menghadapi dirimu sendiri, kelemahanmu, dan bayangan tergelapmu.

Tapi jika kau berhasil, kau akan menjadi pendekar yang sesungguhnya. Seorang pendekar yang tak hanya kuat, tapi juga bijaksana dan berjiwa bersih," lanjut Panglima Hijau lagi.

Sejak saat itu, di pulau tersembunyi di dalam gua Bukit Tambun Tulang, yang disirami aliran Sungai Batanghari dan di tepi Danau Cahaya yang memancarkan energi aneh, dimulailah perjalanan Arya Wiguna yang baru.

Perjalanan bukan hanya untuk mencari kekuatan fisik, melainkan untuk menguasai diri, memadamkan dendam, dan menemukan kebenaran yang akan membersihkan namanya.

Panglima Hijau akan menjadi gurunya, dan danau itu akan menjadi cermin jiwanya.

Perjalanan yang akan mengubahnya, dari seorang pemuda yang dikuasai amarah menjadi pendekar yang sejati, seperti macan putih yang bangkit dari tidur panjangnya.

Bersambung....

1
Was pray
baru nyadar kalau kekuatan manusia ada batasnya Arya? selama ini kemana aja?
Was pray
dibalik kerendahan hatimu terselip percik meremehkan orang ang lain dan terlalu mengagungkan kekuatan diri, dan itu bisa menjadi akar kesombongan ,dan itu terkadang tidak kau sadari arya
Sugeng Toboali
keren
Was pray
terlalu lemot alur ceritanya...
Was pray
orang memberi nasehat bukan karena menganggap kita bodoh , tapi karena memiliki rasa peduli dan empati, menerima nasehat tidak membuat kita jadi bodoh Arya, walaupun nasehat datang dari orang yg dipandang lemah sekalipun, paling tidak diterima walau itu tidak selaras dengan hati, itu suatu penghormatan bagi orang lain
Was pray
kau terlalu bangga dengan jekuatanmy Arya. sehingga meremehkan lawan2mu, dan itulah yg jadi kelenahanmu sehingga kewaspadaan hilang. .seharusnya kamu pakai ilmu padi arya
Was pray
orang yg mengaku salah setelah kalah itu udah hal umum, terlalu mudah memaafkan pengkhianat maka akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain dan itu suatu kelemahan fatal, orang yg lemah pendirian dan pengkhianat maka suatu saat kemungkinan mengulangi lagi dengan cara yg lebih terorganisir dan itu lebih berbahaya
Zamo: makasih bang
total 3 replies
Sugeng Toboali
💪
Rafly Rafly
lanjutkan Thor..
makin seru kisahnya
Idwan Syahdani: oke tunggu aja ya...
total 1 replies
Arsi Oke
cerita yang bagus 👍🌟
Pandeka Garang
jurus kitab pedang tanpa tanding, gajah purba dan harimau seribu jg tidak pernah muncul lg, agak aneh aja, malah yg lebih sering muncul penggetar langit yg sama sekali blm dipelajari
Idwan Syahdani: sabar gan, bakal muncul kok di pertarungan yang lain nanti sabar ya... 🤣🤣🤣
total 1 replies
Pandeka Garang
tiba2 sdh tau kalau yg datang dewi racun dan si bisu, dewi racun jg tidak kaget arya tau namanya, lucu jg alurnya
Yatin Sahmuri
hi
Slow ego
👍👌jos..,,
wan.trado
lho ada 2 ya pedang harimau putih nyaa, tapi ditancapkan di kuburan.. kapan diambilnya.. 🤣🤣
wan.trado
meninggalkan pedang pusaka harimau putih di kuburan..??? sungguh perbuatan aneh dan sia-sia juga kesombongan
wan.trado
tau darimana itu Arya wiguna? bertemu juga baru kali ini..
wan.trado
bujang larang, sebagai seorang yang menguasai ilmu tinggi, rasanya mustahil tidak mengetahui adanya penyusup yg mencari bukti disamping tempat tidurnya
wan.trado
seharusnya adalah sedikit perlawanan dari Arya mengingat lawannya adalah pendekar tua golongan putih,kalau seperti ini seperti melawan golongan pendekar rendahan🙏
wan.trado
seharusnya jangan dulu menggunakan kekebalan untuk menghadapi gerombolan ini, cukup dg menghindar saja dari serangan sehingga tidak terkesan membanggakan kekuatannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!