NovelToon NovelToon
My Bodyguard My Love

My Bodyguard My Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Fantasi Wanita / Kehidupan di Kantor / Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Una Rofia

Sabrina Delina Arnabella yang lahir dengan nama belakang Alvarendra sejak sepuluh tahun yang lalu memutuskan hubungan antar dirinya dengan ayahnya Winata Alvarendra karena ayahnya memutuskan hubungan dan menikahi wanita yang memiliki satu anak bernama Renata Wijaya.

Besar tanpa sosok ayah dan harus menghadapi kenyataan kalau ibunya meninggal karena kecelakaan mobil semakin memperburuk mental Sabrina.

Namun sebuah kabar kalau ayahnya meninggal membalikkan seluruh kondisinya, tanpa diduga seluruh aset milik Alvarendra jatuh ketangan Sabrina.

Ancaman dan teror serta kelicikan dari Renata yang ingin merebut segalanya semakin membuat Sabrina waspada.

Bagaimanakah cara Sabrina mengatasi semua ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Rofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Pagi ini berita dihebohkan dengan pemberitaan Sabrina yang resmi diangkat menjadi CEO Alvarendra Group.

Langsung saja dalam sekejap berita itu menjadi hot trending, bagaimana tidak pamor yang dimiliki oleh Sabrina juga nama besar Alvarendra Group yang menjadikan berita itu cepat sekali mendapatkan respon dari para pengguna jejaring sosial.

" Apa bagaimana bisa? " komentar salah satu warga net.

" Bagaimana mungkin anak yang menelantarkan ayahnya ketika sakit mendapatkan semua itu, sungguh sangat tidak layak '' komentar lainnya.

" Nyonya Renata dan Elena lebih pantas dari anak durhaka itu " balas yang lain.

" Tidakkah tindakan itu adil? Selama ini bukan Sabrina yang menelantarkan ayahnya tapi kebalikannya " balas yang lain.

" Elena lebih pantas menyandang gelar itu " cuit yang lain.

Senyum licik muncul diwajah Renata, pertanda dia puas dengan apa yang terjadi seorang yang dia lakukan lewat media sosial untuk Sabrina lumayan cukup ampuh dengan banyaknya para pengguna media sosial yang menyaring mentah-mentah informasi yang mereka dapatkan.

" Mama terlihat senang sekali " ujar Elena.

" Tentu saja, semakin kita membuat banyak artikel tentang Sabrina maka semakin banyak pula dukungan yang akan mereka berikan " balas Renata.

" Aku rasa tak akan lama lagi anak itu akan datang sendiri pada kita dan menyerahkan Alvarendra secara cuma-cuma " sambungnya.

" Jika bisa dia kenapa tidak sekalian, perusahaannya sendiri cukup besar kita juga bisa merebutnya dan aku bisa membayangkan betapa kayanya kita bila itu terjadi '' Elena mengatakan itu seraya membayangkan nasib baik bila perkataannya menjadi kenyataan.

" Tentu bisa, Alvarendra dan Amortage akan menjadi milik kita berdua " balas Renata.

" Dalam mimpimu!! '' kata seseorang.

" Aku rasa setiap pagi kalian selalu memulai hari dengan banyak bermimpi, wajar saja itu pekerjaan paling mudah yang bisa kalian lakukan " ucap Sabrina.

" Berani sekali kau seenaknya masuk kerumahku tanpa ijin " marah Renata setelah melihat Sabrina.

" Rumahmu anda bilang? kau belum terlalu tua tapi sepertinya anda telah terkena demensia sebelum waktunya " balas Sabrina.

" Well, masa tinggal anda DI-RU-MAH-KU sudah habis. Jadi beresi barang-barang kalian dan tinggalkan RU-MAH-KU sekarang juga " Sabrina sengaja menekan kata rumah untuk menyadarkan mereka.

" HAHAHAHAHAHA Sabrina.... Sabrina... " tawa Renata seketika meledak.

'' Kau belum juga sadar, apa perlu aku ingatkan sekali lagi " kata Renata.

" Kau sudah diusir dari rumah ini sejak sepuluh tahun yang lalu " Sambung Renata mengingatkan Sabrina.

" Kau juga lupa, anda dipungut masuk kerumah ini sepuluh tahun yang lalu " balas Sabrina.

" Sudah aku katakan aku tidak pernah memandang rendah siapapun, tapi untuk kalian berdua pantas untukku pandang serendah mungkin '' lanjut Sabrina.

" Kau tidak akan menang melawan kami Sabrina, jadi hentikan semuanya. Serahkan Alvarendra juga Amortage pada kami sekarang juga " ucap Renata penuh percaya diri.

" Ouhhhh aku takut sekali " Kata Sabrina dengan nada ketakutan.

" Hahahahahaha " Sabrina lalu meledakkan tawanya dan sialnya masih terlihat sangat elegan.

" Sejak kapan aku berlomba dengan anda? tidak ada kata kalah dalam kamus seorang Sabrina '' tekan Sabrina.

" Kau sudah kalah sejak Winata tak mengakuimu sebagai seorang anak, kau sudah kalah sejak ibumu diusir dari rumah ini. Dan kemenanganku dimulai sejak itu karena setelahnya Winata menikahiku dan membawaku tinggal di rumah ini menggantikan Devira rendahan itu " ucap Renata.

'' Dan aku selama sepuluh tahun ini papa selalu memanjakanku dengan berbagai kemewahan yang mudah untukku dapatkan '' sahut Elena dengan bangga.

" Jangan pernah menghina ibuku jika kalian masih mau hidup lebih lama lagi '' nada bicara Sabrina terdengar sangat dingin.

" Perlu kalian ingat tidak ada keuntungan yang kalian dapatkan dari hubungan siri '' Kata Sabrina.

" Kau melewati batasanmu Sabrina " tekan Renata.

" KALIAN YANG MELEWATI BATAS LEBIH DULU HINGGA MEMBUAT KALIAN OFFSIDE SANGAT JAUH, AKU DIAM BUKAN BERARTI AKU TAKUT. DULU KALIAN BANGGA KARENA WINATA SELALU BERADA DIBELAKANG KALIAN. TAPI SEKARANG TIDAK LAGI, PERLINDUNGAN KALIAN SUDAH TIDAK ADA LAGI JADI AKU BEBAS MELAKUKAN APAPUN PADA KALIAN BAHKAN JIKA AKU HARUS MEMBUNUH KALIAN SEKALIPUN " Marah Sabrina.

" Kemasi barang-barang kalian dan pergi darisini sekarang juga " tekan Sabrina sekali lagi.

" Kau pikir kami takut, kami tidak akan pergi semudah itu. Ini rumah kami untuk apa kami pergi darisini " ucap Elena.

" Jadi kalian masih bersikeras untuk tetap berada disini? Baiklah aku juga bisa menjadi lebih keras lagi " balas Sabrina.

" Kalian masuklah " kata Sabrina.

Vano, Zayn, dan Kinara kemudian masuk diikuti oleh orang-orang dengan setelan hitamnya.

" Apa yang ingin kau lakukan? " tanya Renata.

" Mengusir kalian, cepat bawa barang-barang mereka keluar " perintah Sabrina yang langsung dilakukan oleh orang-orang itu.

'' Tunggu dulu, aku bisa memanggil pihak keamanan untuk menangkap kalian " panik Renata.

" Mama, mereka semua menuju kamar kita '' Elena juga langsung panik.

Elena dan Renata kalang kabut mengejar orang-orang suruhan Sabrina yang melesat cepat ke kamar mereka.

Sabrina tersenyum lalu dia duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya melihat kekacauan itu.

" Semua aset milik mereka atas nama Alvarendra telah saya bekukan nona, mereka tidak akan keluar membawa sepeserpun milik Alvarendra '' Ucap Zayn.

" Saya juga telah menempatkan orang-orang kita di setiap rumah milik Alvarendra '' Balas Kinara.

" KELUAR KALIAN DARI KAMARKU SEKARANG JUGA " Bentak Renata yang melihat orang-orang itu mengacak-acak seluruh kamarnya.

" Jangan sentuh barang-barang milikku '' teriak Renata lagi.

" Apa yang kalian lakukan, keluar dari kamarku sekarang juga " tak berbeda dengan Renata juga kalang kabut melihat seluruh barang-barangnya diacak-acak.

Suara-suara yang terdengar cukup histeris itu cukup terdengar merdu ditelinga Sabrina.

" Nona " bisik seseorang dengan pelan.

Sabrina menoleh mendengar suara yang sangat pelan itu.

" Akhirnya nona kembali " kata orang itu.

Sabrina menatap wajah-wajah yang tengah berkaca-kaca itu. Namun perhatiannya langsung teralihkan begitu mendengar suara gaduh dari arah tangga.

Orang-orang suruhan Sabrina menyeret koper dengan sangat kasar diikuti oleh Renata dan Elena yang mencoba mencegah mereka.

" Hentikan aku bilang hentikan " teriak Renata. Namun orang-orang itu sama sekali tidak peduli dan terus menjalankan perintah Sabrina.

" KAU!!! " tunjuk Renata pada Sabrina.

Dengan gerakan cepat Renata mengambil sebuah guci dan langsung melemparkannya kearah Sabrina.

Melihat itu Sabrina langsung melindungi kepalanya dengan tangannya namun tiba-tiba sebuah badan besar melindungi dirinya.

Prangg...

Guci itu terjatuh kelantai setelah menghantam keras punggung Vano yang melindungi Sabrina.

" Nona tidak apa-apa? " tanya Kinara.

" Anda tidak apa-apa? " tanya Vano sambil menatap lekat wajah Sabrina.

Sabrina yang tersadar itupun langsung memberikan gestur agar Vano menyingkir dari hadapannya.

" Jika orang-orangku terluka karena ulahmu aku tidak akan segan-segan untuk melaporkan perbuatanmu " ancam Sabrina.

" Seret mereka keluar sekarang juga '' perintah Sabrina yang langsung dilakukan oleh bawahannya itu.

" Lepaskan!!! " jerit Elena.

" Aku akan melaporkan kalian semua " ucap Renata.

'' Apa yang kalian lakukan, aku tidak mau pergi dari rumahku sendiri '' teriak Elena lagi.

Sampai dihalaman, Renata dan Elena langsung dihempaskan begitu saja oleh mereka. Koper-koper milik mereka juga dilemparkan begitu saja.

" Sekarang kalian telah melihat bagaimana kemarahan seorang anak ketika melihat air mata ibunya sendiri " kata Sabrina sambil berjongkok menyamakan tingginya dengan mereka berdua yang sudah jatuh terjerembab.

" Sekarang posisi kita telah terbalik, seperti sepuluh tahun yang lalu ketika aku dan ibuku terusir darisini, maka sekarang giliran kalian jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi" lanjut Sabrina.

" Kalian berdua kembali menjadi sampah " ucap Sabrina.

" Seret mereka keluar dan kunci gerbangnya " perintah Sabrina lalu dia berdiri dari posisinya.

" Dengar Sabrina aku tidak akan tinggal diam terhadap tindakanmu kali ini, aku pasti akan membalasnya jauh lebih sakit dari sebelumnya " kata Renata sebelum akhirnya diseret keluar oleh para orang suruhan Sabrina.

1
Hind's S
wooo nggatheli enggak tayang2....
Ina Yulfiana
karyanya bagus awal baca langsung marathon buat baca para tokohnya uga gk menya menye tegas wibawa dan bersikap dewasa jd makin semngt bcanya dan bikin candu ...11
Ina Yulfiana
gmn reaksi Sabrina lo kedua orang tuanya masih hidup dan ternyata selm ni hanya sandiwara betapa kecewanya cih pasti ...

next semngt sukses selalu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!