Roni seorang laki-laki dari sebuah desa pelosok,dia hanya lulusan sekolah dasar,walaupun dia anak satu-satunya tapi orang tuanya tidak mampu melanjutkan sekolah anaknya,karena keadaan ekonomi yang serba kekurangan,Bapaknya Roni bukanlah orang yang gigih dalam bekerja.
Risa adalah teman Roni sjeak kecil mereka berdua saling jatuh cinta,dan cintanya berlanjut sampai dewasa.Demi mendapatkan restu dari Bapaknya Risa,Roni di tuntut harus bisa menjadi orang kaya melebihi kekayaan Bapaknya Risa.
Demi memperjuangkan cintanya,Roni membulatkan tekadnya untuk merantau di kota Jakarta,yang dia ketahui Jakarta adalah kota yang banyak uangnya,banyak orang sukses dan menjadi kaya raya.
Ternyata tidak mudah hidup dikota itu,Roni mengalami banyak rintangan disana,hingga membuat nyawanya hampir melayang di tangan para preman.Beruntung ada seorang kakek yang hidup sebatang kara menolongnya,yang setiap hari kerjanya sebagai pengemis.Roni di rawat sampai sembuh .
Ronipun membalas kebaikan kakek itu,dengan selalu menemaninya saat mengemis.Roni di anggap seperti cucunya sendiri,tidak begitu lama kakek mengemis bersama Roni tibalah ajalnya.
Karena sudah tua tibalah ajalnya,dan ternyata sang kakek tua itu mempunyai simpanan banyak uang hasil dari mengemis selama bertahun-tahun.
Apakah Kakek tua itu akan mewariskan simpanan uangnya pada Roni?.
Apakah Roni bisa kaya melebihi Bapaknya Risa dalam satu tahun?
Simak kelanjutannya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon munasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Risa menyindir Bapaknya
****
Hari sudah siang Risa bergegas pulang, karena takut di marahi sama Bapaknya.
"Ron aku pulang dulu, aku kesini nggak bilang sama Bapakku, ntar aku takut dimarahin sama Bapakku, kamu sendiri tau Bapak nggak suka dengan hubungan kita.
Aku berharap kamu sabar menghadapinya dan tetap mempertahankan cinta kita," sambil menggenggam erat tangan Roni, Risa mengatakan itu semua.
Roni memeluk Risa sambil berkata," ya aku tau Bapakmu nggak suka sama aku, tapi aku akan berusaha supaya Bapak kamu merestui hubungan kita,kamu jangan hawatir."
"Bu, Pak, Risa pamit dulu sudah siang, ntar aku di cariin Bapak."
"Kok kamu sudah mau pulang,kamu nggak makan dulu, kamu nggak kangen masakan ibu," kata ibu.
"Sebenernya Risa pingin makan disini, bersama Roni, seperti dulu, walaupun masakannya sederhana tapi terasa nikmat dan tak pernah aku melupakannya, lain kali aku ke sini lagi buat nikmatin masakan ibu," Risa bersalaman dengan Ibu dan Bapak dan pulang diantar Roni berjalan kaki.
Sambil berjalan Risa ngobrol dengan Roni,
"Wah sekarang desa kita ini sudah maju ya, banyak bangunan yang bagus, dan rumah-rumah di Desa ini juga sudah berubah lebih baik dari yang dulu."
"Ya kamu benar, rumah-rumah didesa ini sudah banyak yang berubah menjadi lebih bagus bangunannya, itu semenjak Bapakmu menjadi lurah."
"Bapakmu banyak mengeluarkan dana desa untuk membantu warganya menjadi lebih baik, hampir semua warga menerima bantuan itu, tapi hanya Bapakku yang tidak mendapatkannya,entah kenapa tapi kami tidak pernah protes."
"Oooh gitu ya, jadi bapakku nggak adil dong sama warganya, kamu kan juga warganya kenapa tidak di bantu sudah tau kalau kamu kurang mampu."
"Pasti Bapak kamu punya alasan kenapa seperti itu."
"Aku tau alasannya kenapa, Bapakku nggak suka sama keluarga kamu, itu karena aku, tapi nggak boleh gitu, Bapakku memang orang yang egois, baru dua hari di rumah aku sudah banyak berselisih sama dia."
"Kamu yang sabar sayang, ini adalah ujian hidup kita yang harus kita hadapi."
Banyak orang yang melihat Roni berjalan dengan Risa dan terlihat bahagia, mereka penasaran Roni sedang bersama siapa.
"Ron ini siapa,kok cantik banget," tanya seorang wanita paruh baya tetangganya Roni.
"Aku ini Risa, anaknya pak lurah."
"Ohh, kamu Risa anaknya Pak lurah Danu yang tinggal di kota itu to."
"Ya benar."
"Ada hubungan apa kamu sama Roni," tanya wanita itu.
"Aku ini teman sekelasnya Roni waktu di Sekolah Dasar, dan sekarang aku resmi berpacaran dengan Roni."
"Apa!!!, kamu pacaran sama Roni," jawab wanita itu kaget.
"Ron, kenapa kamu mau pacaran sama anaknya Pak lurah, Pak lurah kan orangnya nggak suka sama keluargamu, buktinya banyak warga yang kurang mampu dibantu sama dia, tapi kenapa keluargamu tidak dibantu.
Dasar lurah pilih kasih, kalau dia nyalonin lurah lagi, aku nggak mau milih dia," kata wanita itu yang nggak suka sikap Lurah Danu yang nggak adil sama warganya.
"Itu urusan ku Bu, jangan ikut campur," jawab Roni singkat sembari menarik tanganya Risa dan meninggalkan wanita itu.
Roni meminta Risa tidak usah memperdulikan omongan wanita tadi, Roni meyakinkan Risa apapun yang terjadi Roni akan tetap mencintainya dan akan hidup bersamanya. Roni hanya mengantarkan Risa sampai depan rumahnya dan buru-buru kembali, karena takut ketahuan Bapaknya Risa.
Risa langsung masuk rumah cepet-cepet, takut ketahuan bapaknya kalau baru pulang, beruntung Bapaknya belum pulang jadi nggak kena marah.
Risa mengelus-elus dadanya dan berkata.
"Selamat-selamat,Bapak belum pulang," baru mau masuk kamar Risa di panggil ibunya, Risa kaget setengah mati.
"Risa kamu dari mana aja kok baru pulang, katanya ikut bibi ke pasar"
"Eee..., sebenarnya Risa nggak ikut bibi ke pasar."
"Ya ibu tau dari Bibi, kamu kluyuran kemana aja, kamu nggak ingat pesan Bapakmu"
"Ah ibu sama kayak Bapak, nggak pingin liat anaknya bahagia, aku tu tadi kerumahnya temen aku yang dulu si Roni, aku pulang juga karena dia Bu. Aku sayang sama dia, aku mencintainya, aku juga ingin bisa hidup bersamanya menjadi istrinya."
"Sejak kapan kamu berhubungan dengan Roni lagi Bapakmu kan sudah melarangmu."
"Sejak satu minggu yang lalu, Roni berusaha mencariku dan menghubungiku, dan akhirnya dia bisa menghubungiku waktu aku masih di Malang, dan dia bilang selama ini dia susah payah mencariku."
"Dia sangat rindu padaku, dia tidak bisa mencintai wanita lain selain aku, dan akupun sama selama disana aku tidak pernah punya pacar karena aku hanya mencintai Roni."
"Kini sudah waktunya aku dan Roni bersatu kembali, aku tidak takut dengan ancaman Bapak lagi, aku berharap Ibu membantuku dan merestui hubunganku dengan Roni."
Ibunya Risa hanya terdiam mendengarkan cerita Risa.
"Kenapa Ibu hanya diam saja."
"Bukan begitu Risa, Ibu diam karena Ibu juga bingung dengan sikap Bapakmu yang nggak mau berubah dari dulu hingga sekarang."
"Ibu capek, setiap membahas itu Ibu selalu bertengkar dengan Bapakmu. Ibu nggak tau lagi bagaimana cara ngasih tau Bapakkmu itu, maafin Ibu nak, tapi ibu selalu mendoakan mu agar tercapai keinginanmu."
Mereka berdua berpelukan.Bapaknya Risa pulang dari kantor kelurahan,melihat mereka berdua berpelukan.
"Ada apa ini kok kalian berpelukan."
Ibu menjawab.
"Ya kangen lah Pak sama anak satu-satunya ibu sudah lama terpisah darinya, Ibu ingin manja-manjaan sama Risa."
"Jagain tu anak Ibu jangan biarin dia kluyuran, kemana-mana di temenin biar nggak salah arah."
"Salah arah gimana sih pak," tanya Risa yang tersinggung dengan kata itu.
"Ya takutnya kamu, berteman lagi dengan orang yang gak sederajat sama kita,kamu ini anak orang terpandang di desa ini, kamu jangan berteman dengan sembarangan orang," kata Bapak sinis.
"Ya, ya pak ," kata Ibu, dan menyuruh Bapak untuk mandi karena baru pulang dari tempat kerjanya. Setelah itu mereka makan siang bersama.
"Makan siang sudah siap ayo kita makan," Ibu mengajak Bapak dan Risa makan bersama, mereka bertiga makan bersama sambil makan mereka pun mengobrol.
"Ibu seneng kita bisa makan bersama sama lagi."
"Ya aku juga, semoga kita bisa begini terus," kata Risa.
"Eh pak, tadi Risa jalan sama Bibi, Risa meihat rumah-rumah di Desa ini sudah berubah menjadi bangunan yang bagus, kata salah seorang warga disini."
"Semenjak Bapak jadi lurah desa ini jadi semakin maju dan berkembang, rumah-rumahnya menjadi bagus karena mendapat bantuan dari Bapak.
Tapi ada salah satu warga di desa ini yang nggak pernah dibantu sama Bapak, aduh kasihan sekali ya orang itu," Bapak mendengar itu langsung tersedak makanannya.
"Hati-hati dong pak makannya," kata Ibu.
"Kalau aku jadi lurah nanti, aku akan berbuat adil pada semua warga, walaupun aku tidak suka padanya."
Risa sengaja berbicara seperti itu supaya Bapaknya menyadari perbuatannya. Bapaknya hanya terdiam tanpa jawaban dan meninggalkan meja makan.
*** Masih bersambung....***
tapi uang tak cukup
Haiii kak..aku udah hadirrr
jngn lupa like back yhh di karyaku
klik akun ku!
hadiirrr
smngatt br karyaa ka
goodluck .,🤗
#ketika takdir menyatukan aku dan mereka.
#Mencintai mu dalam gelap