Ini kisah kejiwaan seseorang yang diakibatkan oleh trauma masa lalu, bercerita tentang seorang gadis yang tidak bisa melepaskan kenangan masa lalu yang telah merenggut kehormatannya. Dia habiskan bertahun-tahun hanya untuk bertemu dengan pria yang ternyata tidak pernah mengingatnya sama sekali.
Akankah dia menemukan kebahagiaan yang telah hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simple Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTSD - 9
Melinda duduk di atas bangku di sebuah taman. Hari ini setelah mengantar Bintang ke sekolah dia janjian akan bertemu dengan Ayya di taman itu. Sudah sekitar 10 menit dia duduk tapi Ayya belum juga muncul. Diraihnya gawai yang disimpannya di dalam tas, niatnya akan menghubungi Ayya, tapi belum sempat dia menelepon suara Ayya yang merdu telah menyapanya.
“Mbak Mel.”
Melinda membalikkan badannya dan tersenyum pada Ayya yang datang dari arah belakangnya
“Hai Mbak Ayya,” sapanya.
“Maaf aku terlambat Mbak, tadi agak macet,” ucapnya.
Padahal sebenarnya Ayya sudah sampai lebih dulu di taman itu, tetapi dia sengaja bersembunyi dan memperhatikan Mel dari jauh, tak lupa dia juga mengambil beberapa foto ketika Melinda duduk gelisah menantinya. Entah apa maksudnya.
“Gak apa-apa Mbak Ayya tenang aja,” senyum selalu terkembang di wajahnya, “Sini duduk,” tangannya meraih jemari Ayya.
“Mbak, ini aku bawa cake mini untuk kita nikmati sambil ngobrol. Aku juga bawa lemon squash,” Ayya mengeluarkan wadah berisi cake mini dari tokonya dan dua botol minuman berwarna kuning transparan. Tak lupa Ayya juga mengeluarkan dua sendok untuk mereka.
“Waah…kok jadi merepotkan! Tapi bagus deh aku suka, so far makanan buatan Mbak Ayya kan enak-enak,” Mel senang sekali.
“Gimana kabarnya Mbak Ayya?” tanya Mel setelah mereka duduk tenang sambil menikmati cake mini yang dibawa Ayya.
“Kabar aku kurang bagus Mbak. Sudah beberapa hari belakangan ini aku mimpi buruk terus,” jawab Ayya lesu, “Dan ketika terbangun aku pasti menangis. Entah mengapa sekarang ini aku merasa sangat rapuh Mbak.”
Melinda memperhatikannya dengan penuh rasa iba di hatinya.
“Mimpi tentang peristiwa itu lagi?” tanyanya hati-hati.
Ayya mengangguk pelan sambil menarik nafas dalam, “Terkadang aku putus asa dengan keadaanku dan ingin bunuh diri saja,” wajah Ayya tertunduk menatap sepatunya yang dia gerak-gerakkan naik turun menandakan hatinya yang gelisah.
Mel segera meraih tangan Ayya, “Jangan bicara begitu Mbak Ayya. Aku yakin mbak Ayya orang yang kuat, buktinya Mbak Ayya bisa sesukses sekarang ini tentu itu karena Mbak Ayya punya jiwa dan keinginan yang kuat,” Mel mencoba menghiburnya.
“Menurut Mbak Mel, apa yang seharusnya aku lakukan agar aku terbebas dari beban masa laluku ini?” Ayya mengalihkan pandangannya pada Mel.
Mel terdiam untuk berpikir sejenak.
“Kalau Mbak Ayya sendiri, apa yang Mbak Ayya inginkan?” Mel balik bertanya.
“Aku ingin ketemu dengannya Mbak. Aku ingin mengungkapkan semua padanya. Dan aku ingin tahu apakah selama ini dia merasa bersalah atau tidak,” Ayya menjawab dengan tegas.
“Apakah selama ini Mbak Ayya sudah mencoba menemuinya?”
“Setelah aku sembuh dari sakit, aku mencoba mencari tahu tempat tinggalnya Mbak, tapi dari informasi yang aku dapat, setelah lulus dia melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri.”
Mel mendengarkan. Sungguh malang sekali nasibmu Ayya, batinnya. Siapa yang menduga wanita cantik nan sukses yang sedang duduk dihadapannya ini adalah wanita dengan hati dan jiwa yang rapuh.
“Dan aku tidak pernah bertemu dengannya lagi,” lanjut Ayya, "Tapi…” tiba-tiba wajah Ayya berubah, “Beberapa minggu yang lalu aku bertemu dengannya di supermarket Mbak. Aku kayak mimpi pas lihat dia berjalan di hadapanku. Aku sampai menggosok mata berkali-kali, takut kalau-kalau aku lagi mimpi.”
“Oh ya?” Mel membulatkan mata, “Berarti dia ada di sini sekarang ya?!”
“Aku rasa iya Mbak,” mata Ayya menerawang, “Dia sudah berubah sekarang, lebih tampan dan gagah. Sepuluh tahun kami berpisah rupanya dia mendapat kebahagiaan. Sangat berbeda denganku.”
“Mbak Ayya juga cantik dan anggun.”
Ayya tersenyum mendengar ucapan Melinda.
“Nah, saran Mbak Mel apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menemuinya?”
Mel menyandarkan punggungnya di sandaran bangku taman. Dia memikirkan banyak hal. Dia tidak boleh sembarangan memberi saran, khawatir akan menjadi sebuah petaka baik untuk Ayya maupun untuk pria itu. karena menurut pemikiran Mel mungkin saja pria itu sekarang sudah memiliki keluarga. Di sisi lain, Mel melihat bara dendam di sorot mata Ayya dan itu tidak bisa dianggap sepele.
“Tidak bisakah Mbak Ayya merelakan dan melupakan masa lalu, kemudian mencoba menikmati hidup yang sekarang sedang dijalani?” Mel menatap lembut pada Ayya, “Bukankah hidup Mbak Ayya juga sekarang baik-baik saja, jadi seorang pengusaha catering sukses, cantik, dan kaya?”
“Apa selama ini Mbak Mel tidak dapat merasakan penderitaan yang aku rasakan? Aku sudah bercerita banyak hal lho sama Mbak, aku pikir Mbak Mel paham beban berat yang menderaku. Aku seperti ini hanya berpura-pura Mbak. Iya orang mengira aku bahagia padahal tidak, tidak sama sekali. Aku tuh menderita M!bak” suara Ayya seperti sedang protes atas perkataan Mel.
“Tentu saja aku paham Mbak Ayya, itulah sebabnya aku ingin membantumu. Maukah Mbak Ayya menjalani terapi untuk melupakan masa lalu?”
“Mau Mbak, aku mau menjalani terapi, aku juga mau sehat dan normal, aku mau punya suami dan anak yang lucu kayak Bintang. Tapi nanti Mbak setelah aku bertemu dengannya dan setelah aku tahu yang selama ini menjadi pertanyaan di hatiku.”
“Sebetulnya Mbak Ayya bisa bertemu dengannya walaupun sedang menjalankan terapi, tidak masalah,” tatap Mel intens pada Ayya.
Ayya terdiam sambil membalas tatapan Mel.
Ada desir aneh yang Mel rasakan dari tatapan Ayya, seperti sebuah tatapan intimidasi yang menimbulkan rasa khawatir atau takut. Entahlah, Mel tidak memahaminya.
“Apa Mbak Ayya sudah tahu dimana dia tinggal sekarang? Masih sendiri atau sudah berumah tangga?” Mel mencoba menyelidik.
Tidak ada respon dari Ayya, dia sedang berpikir jawaban apa yang harus diberikannya pada Mel. Pertanyaan ini sungguh di luar dugaannya.
Sementara Melinda menduga kalau Ayya menyembunyikan sesuatu darinya atau setidaknya masih merahasiakannya. Mungkin dia belum ingin membicarakannya denganku sekarang, batinnya. Maka dia memutuskan untuk mengakhiri percakapannya dan mencoba mengganti topik pembicaraan.
“Oh ya Mbak, gimana catering pesananku untuk pesta nanti? Tidak ada masalah kan?” ucap Mel.
Ayya seperti tahu maksud Melinda maka dia pun segera merubah ekspresi wajahnya dan menjawab pertanyaan Mel, “Sudah siap Mbak, tenang saja, aku tidak pernah mengecewakan pelanggan,” ucapnya tersenyum sambil menyeruput lemon squash miliknya.
Setelah itu mereka mengobrol tentang persiapan pesta dan pernak-perniknya.
🖤
Mel duduk di ruang keluarga rumahnya sendirian. Dia sedang memikirkan obrolannya tadi pagi dengan Ayya. Sorot mata itu jelas terlihat menyemburatkan rasa dendam dan amarah. Aku jadi khawatir, batinnya.
Kira-kira siapa ya pria itu, jelas sekali kalau Ayya tahu tentang pria itu tapi dia tidak mau membicarakannya denganku. Apa dia berpikir kalau aku kenal dengan pria itu ya? kira-kira siapa? Aku harus mencari tahu siapa dia.
Di satu sisi apa yang dilakukan pria itu di masa lalu memang jahat dan bejat, dan dia pantas mendapat hukuman atas apa yang telah dilakukannya pada Ayya. Tapi di sisi lain, bagaimana kalau pria itu sudah berumah tangga, sudah punya anak dan istri. Tentu kasihan juga anak istrinya kalau sampai tahu kelakuan suaminya seperti itu. dan tentu saja itu akan merusak keharmonisan rumah tangga mereka.
Lelah Mel berpikir.
🖤🖤🖤🖤
Wahai kaki bawalah langkahku pergi sesukamu
Aku tak peduli
Aku sudah tak peduli
Sungguh aku tak peduli
🖤🖤🖤🖤
Happy reading buat semuanya 😍😍😍😍
𝚝𝚞 𝚕𝚊𝚑 𝚢𝚐 𝚊𝚍𝚊 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚢𝚢𝚊
𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚢𝚊