"Menurut lah maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang kamu mau." Bisik Marco di telingan Ruby.
"Mengapa aku harus percaya dengan perkataan mu? Bahkan aku belum mengenal mu!" Sahut Ruby dengan sarkas.
"Bukankah kita pernah berciuman? Bagaimana bisa kamu melupakan itu dan mengatakan bahwa kamu tak mengenal diriku?"
Ruby jadi mengingat dimana Marco menciumnya secara sepihak, dan itu membuat dirinya kesal.
"Aku akan menuruti semua perkataan mu jika kamu mau bertanding denganku malam ini.!" Sahut Ruby dengan senyum smirknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keyna elsyavira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ban 9
Malam yang tak di nantikan oleh Ruby pun akhirnya datang juga, malam dimana ia akan memakai gaun cantik dan kan tampil secara anggun du sebuah acara, dan tak hanya itu yang membuat Ruby merasa tak nyaman, salah satunya adalah bersanding di samping Marco. Orang yang tak di sukai Ruby saat ini walau pun terkadang hatinya berkata lain.
Ruby tak berdandan ala kadarnya saja tanpa memakai jasa MUA . Karena ia juga tak suka jika bedan di wajahnya terlalu tebal, Ruby hanya sedikit memoles dan memakai lipstik agar wajahnya tak terlihat pucat karena kulitnya yang sangatlah putih.
Ruby segera menuruni anak tangga menuju ruang tamu, karena Marco sudah datang sejak tadi dan mengobrol bersama ayahnya Yohanes di ruang tamu rumahnya.
"Hayook." Kata Ruby dengan tiba-tiba membuat Marco dan Yohanes yang tak sadar dengan kedatangan Ruby.
Yohannes sedikit terkejut dengan penampilan anaknya yang sangat berubah drastis itu, bahkan Marco juga sempat terpana dengan kecantikan Ruby yang hanya bermakeup tipis.
"Mari Tuan. Saya akan membawa Ruby sebentar." Kata Marco maminta izin kepada Yohanes. Dan Yohanes pun tersenyum penuh makna kepada Marco.
"Tidak perlu meminta izin, aku sudah biasa pergi dan datang sesuka diriku." Tegas Ruby dan marco juga Yohanes hanya bisa tersenyum melihat tingkah putrinya yang tak sama dengan gaun yang ia pakai.
Dengan di supiri oleh Stive. Marco membantu Ruby naik ke dalam mobil, lalu Marco mengitari mobil untuk juga segera masuk ke dalamnya.
Setelah beberapa hampur menempuh waktu sekitar tigapuluh menitan, akhirnya mobil Marco berhenti tepat di depan gedung. Dimana acara sedang berlangsung.
Marco kembali membantu Ruby untuk turun dari mobil, gadis itu melingkarkan lengannya di lengan Marco. Karena ia datang malam ini adalah sebagai pasangan.
"Ingat!! Jangan berulah!" Bisik Marco dengan tegas kepada Ruby.
"Aku bukan anak kecil yang terus-menerus kau beri tahu." Cibir Ruby dengan senyum palsunya.
Marco melingkarkan tanganya di pinggang Ruby dengan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gedung.
"Waah... Sepertinya saya terlambat untuk menjodohkan putri saya kepada tuan Marco." Seru seorang pria baruh baya berkata kepada Marco yang baru saja menginjakkan kakinya di dalam acara tersebut.
"Maaf mengecewakan tuan kalau begitu, seperti yang anda lihat, saya sudah memiliki calon istri." Sahut Marco dengan senyum yang begitu manis.
Ruby yang mendengar itu pun sedikit terkejut, ia ingin sekali mengumpat saat ini kala pria tua mesum itu mengakui Ruby sebagai calon istrinya. Tapi karena Ruby sudah berjanji tidak akan membuat ulah untuk malam ini, maka dari itu Ruby hanya bisa terdiam dan memperlihatkan senyuman palsu di bibirnya.
"Kalau boleh tau siapa gerangan yang tuan Marco bawa saat ini?" Tanya pria itu yang masih penasaran dengan wanita yang bisa meluluhkan hati Marco yang bak batu dan sedingin kutub Utara.
Marco menoleh ke arah Ruby untuk sebentar lalu memperkenalkan gadisnya itu kepada pria paruh baya tersebut.
" Dia adalah putri dari tuan Yohanes. Yang bernama Ruby Grey. Saya juga sebenarnya tidak sengaja bertemu denganya, tapi mungkin karena saya menyukai Ruby sejak pertama bertemu, maka saya berniat untuk mengejarnya." Jelas Marco yang mampu membuat Ruby sedikit salah tingkah karena bualan Marco.
"Bisa bisanya aku terbuai denagn ucapan pria tua mesum itu." Oceh Ruby dalam hati.
"Ini menarik sekali, semoga hubungan kalian lancar sampi hari pernikahan." Sahut pria paruh baya itu sebelum pamit untuk menyapa tamu lainya.
"Aku tidak suka dengan kamu memperkenalkan diriku sebagai calon istri mu." Ketus Ruby kala saat ini mereka sedang berdua menikmati segelas minuman.
"Apa aku perlu persetujuan mu? Bukankah kamu sudah menyetujui kontrak kerja kita? Yang dimana disana tercatat dengan jelas tidak akan memprotes apapun yang aku katakan." Jawab Marco dengan senyum smirk terukir di wajah tampanya.
Ruby langsung menegak satu gelas wine yang ada di tanganya saat itu juga hingga tandas, ia merasa kesal dengan apa yng di ucapkan oleh Marco. Tapi gadis itu juga tak bisa berbuat apapun karena mau tak mau ia juga harus menuruti perintah pak tua mesum itu.
"Baby jangan terlalu banyak minum, kadar alkoholnya terlalu tinggi, kamu bisa mabuk nanti, dan itu akan merepotkan aku." Kata Marco yang tak di dengar oleh Ruby. Gadis itu malah menenggak satu gelas wine lagi di hadapan Marco.
Definisi larangan adalah perintah. itulah yang saat ini di fikirn Marco melihat sifat Ruby.
"Don't go anywhere, I'll be right back, okay baby." Ucap Marco lalu mencium pipi Ruby sekilas sebelum ia pergi meninggalkan Ruby untuk sejenak.
Entah mengapa kepala Ruby menjadi sedikit pusing setelah meneguk beberapa gelas wine tadi, Ruby mengahampiri meja dimana disana ada buah-buahan, Ruby mengambil sedikit buah melon berharap agar tubuhnya sedikit segar, yang awalnya Ruby ingin mengambi kentang goreng tapi tidak jadi karena makanan asin dan gorengan sangat dilarang saat minum alkohol. Pikirkan dua kali sebelum kamu mengunyah kentang goreng atau nugget yang mengandung garam ekstra. Jenis makanan ini dapat membuat dehidrasi secara instan dan menguras energi.
"Haii.. apa kamu sendirian?" Seorang pria dewasa menghampiri Ruby yang tengah menikmati buah melon.
"Apa saya terlihat bersama seseorang." Jawab Ruby tanpa basa basi.
Pria itu tersenyum kala melihat sikap ruby yang tampak berbeda dengan penampilan yang anggun.
"Tidak. Saya melihat mu sendiri. Pakah boleh saya temani?" Kata pria itu lagi yang membuat Ruby sebenarnya tidak nyaman.
"Jika anda ingin makan atau minum maka ambillah, saya tidak perlu di temani." Jawab Ruby tanpa basa basi bukan?
Pria itu akhirnya mengambil satu wine dari pelayan dan meminumnya di samping ruby.
"Apa kamu sedang mabuk? Mengapa wajahnya begitu merah?" Kata pria itu yang Ruby belum tau namanya.
Refleks Ruby memegang kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya. " Apakah benar-benar merah?" Tanya Ruby yang saat ini tatapanya mulai sayu karena pengaruh alkohol yang ia minum.
"Hemm. Aku Alex. Boleh tau nama mu siapa nona cantik?" Alex mengulurkan tanganya untuk menjabat tangan Ruby.
Tapi belum sempat Ruby menjabat tangan Alex untik berkenalan, Marco yang sejak tadimelihat pergerakan Alex pun Segara mengahampiri Ruby dan dengan cepat Marco terlebih dulu mengenggam tangan Alex dengan sangat erat ketika ia sudah sampai di sisi Ruby.
"Saya adalah calon suami dari gadis yang ingin kamu salami ini.!!" Tegas Marco dengan tatapan tajamnya.
"Ohh.. saya minta maaf, saya tidak tahu jika anda adalah calon suami dari gadis ini." Ujar Alex yang sedikit ngeri dengan tatapan Marco yang seolah ingin menguliti dirinya.
"Baby, I just left you for a moment, dan kamu sudah berani menggoda pria lain?" Kata Marco dengan melingkarkan satu tanganya di pinggang Ruby.
" Bukankah aku hanya milikmu?" Kata Ruby dengan tatapan yang semakin sendu, Ruby terlalu maals untuk berdebat dengan Marco kali ini karena kondisi tubuhnya yang hampir tak berdaya.
"Apa masih ada kepentingan lain? Jika tidak kamu pamit undur diri terlebih dahulu." Walau begitu Marco tetap sopan kepada Alex.
"Tidak Tuan. Maaf sebelumnya sudah membuat sedikit salah paham." Alex sedikit menundukkan tubuhnya dnegan sopan. Dan Marco pun segera manarik lengan Ruby untuk segera mengikuti dirinya.
"Kaki aku sakit!! Bisa pelan kan jalanya?" Kata Ruby karena kakinya memang sakit akibat mengenakan high heels. Karena Ruby jarang atau bahkan terbilang tidak pernah menggunakan barang tersebut di kakinya.
Marco yanh melihat Ruby kesakitan pun dengan gantlenya menggendong tubuh Ruby ala bridal style.
Banyak mata wanita yang terlihat iri saat melihat pria tampan dan gagah menggendong wanitanya dengan tanpa rasa malu.
"Bukankan sudah ku peringatkan tadi! Jangan terlalu banyak minum karena kadar alkoholnya yang tinggi, kenapa kami tidak menurut?" Kata Marco yang saat ini sudah duduk di samping Ruby di dalam mobil.
"Cih, bisa bisanya kamu mengomel diriku saat aku sedang sakit dan tak berdaya? Dasar pak tua mesum." Sahut Ruby yang masih bisa mengencangkan suaranya.
"Kamu bilang sakit dan tak berdaya? Sedangkan suaramu saja masih terdengar nyaring di telinga ku." Sahut Marco yang tak mau kalah.
Stive yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum di balik kaca di dalam mobilnya.
"Ku perintahkan untuk tidak tersenyum!!" Tegas Marco lagi yang Stive tau jika perkataan itu untuk dirinya.
tp jangan lama lama up nya. biar gak lupa alurnya