anak remaja laki laki yang kehidupannya dibilang tak normal, jika anak seusianya akan merasakan bahagia sedih kecewa atau luka dan lainnya, namun dia malah tak merasakan apapun pada dirinya, kadang dia bertanya pada dirinya sendiri 'kenapa aku tak bisa hidup seperti mereka', hingga ia mengalami kecelakaan dan hidup ditubuh orang lain lebih tepatnya didunia novel, dia yang tak dapat merasakan apapun mendapat sebuah teman untuk pertama kalinya, yaitu sebuah sistem yang akan membantunya hidup didunia novel tersebut, akankah dia mendapatkan hidup yang dia inginkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
presentasi tugas
Mansion veroze
Suasana mansion veroze tampak lebih ramai karna kini dimansion itu bertambah penghuni
kakek dan nenek tanaka pulang dari london dan juga paman dan bibinya yang pulang dan amerika beserta dengan dua anaknya
"dimana anakku?" tanya seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dia adalah bibi tanaka
"siapa?" tanya elaine datar
"tentu saja tanaka!" sinis fera pada elaine
Yah, yang hanya menerima kehadiran tanaka hanya paman dan bibinya saja bahkan juga menganggap tanaka anaknya sedang dua anak kandungnya tak menyukai tanaka dan lebih menyayangi alisa si anak angkat, dan untuk kakek dan neneknya dua orang itu memang benci pada tanaka tapi dua orang itu sangat tak menyukai alisa karna dua orang itu tak begitu menyukai orang luar
antonio veroze kakek tanaka, ayah alex dan ardian
desifa veroze nenek tanaka ibu alex dan ardian
ardian veroze paman tanaka
ferasya veroze bibi tanaka
Kelvino veroze anak sulung pasangan ardi dan fera yang masih di amerika
arzaga veroze anak kedua pasangan ardi dan fera
fandi veroze bungsu pasangan ardi dan fera
balik kesekarang
"ngapain sih mama nanyain anak haram itu?" ujar fandi datar
"dia bukan anak haram!" tegas fera dan elaine bersamaan
"kenapa sekarang kamu membela anak itu ela?" tanya desi pada menantunya yang langsung membalas perkataan fandi
"karna dia memang bukan anak haram mah" ucap elaine tegas
"dari dulu juga sudah aku katakan pada kalian jika tanaka itu bukan anak haram, tapi kalian tak percaya, malah pungut anak yang asal usulnya gak jelas!" setiap perkataan fera terdengar sarkas
"mama apa apaan sih, alisa itu bukan anak pungut!" sela zaga dengan suara keras
"hahaha, kamu dengar itu mas? Anak kamu saja begitu berani pada ibunya hanya demi membela anak itu" ujar fera terdengar sinis
"papa juga tidak tau apa yang ada diotak anak2 itu" ucap ardi menghela napas
"sudah tak usah hiraukan orang2 ini, sekarang aku tanya, dimana anakku?" tanya fera berdesis
"dia tidak tinggal disini" balas alex yang sedari tadi diam
"kalian mengusirnya?" selidik fera, melihat keterdiaman alex dan yang lainnya ardi dan fera menggeram
"jika kutemukan tanaka, maka akan aku bawa dia kemansion ku, saat itu kalian tak ada hak lagi untuk menyiksa tanaka" sarkas ardi dengan tatapan tajamnya lalu pergi dari sana
"huh, dengar baik2, siapapun diantara kalian yang mengetahui hal yang mengejutkan, jangan cari tanaka lagi" desis fera dan juga berlalu dari sana menyusul sang suami yang menunggunya dimobil
"bagaimana ini, tanaka belum memaafkan kita" cemas elaine membuat antonio dan desi mengernyit begitu juga arzaga dan fandi
"mama kenapa sih?" tanya fandi saat melihat kecemasan elaine, ya anak2 ardi dan fera memanggil elaine dan alex papa dan mama begitupun sebaliknya pada anak2 alex dan elaine memanggil ardi dan fera papa dan mama
"tanaka belum memaafkan aku" ujar elaine lagi dengan cemas
"memaafkan soal apa?" tanya antonio
alex dan elaine pun menceritakan semuanya tentang tanaka
tentu saja mendengar apa yang alex dan elaine jelaskan membuat orang2 yang tidak menyukai tanaka itu terdiam, tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap kesal kearah mereka
"bangsat! Jangan sampai mereka menerima tanaka dan membuang anakku" gumamnya
Sedangkan dilain tempat, tanaka yang dalam perjalanan pulang dari sekolah harus berhenti saat melihat perkelahian tak jauh dari tempatnya berhenti
tiba2 saja zero berbicara dibenak tanaka
"tuan turunlah dan tolong mereka" ucap zero
"kenapa harus kutolong?" tanya tanaka
"adegan ini ada dalam alur novel, dimana zeuro dan lima sahabatnya tiba2 dicegat dan dikeroyok oleh musuh mereka, dan saat zeuro dan kelima sahabatnya kewalahan, protagonis wanita datang menyelamatkan mereka dengan membawa polisi hingga zeuro dan yang lain selamat sejak itu alisa dan zeuro dkk dekat, zeuro dan leo menyimpan perasaan pada alisa hingga tanpa sadar pertemanan mereka hancur karna memperebutkan alisa" jelas zero panjang lebar
"baiklah, apa ini termasuk misi?" tanya tanaka kembali
"tidak"
"lalu kenapa harus kutolong?"
"mencegah hancurnya pertemanan zeuro dan leo"
"baiklah"
Tanaka turun dari motornya dan melepas helmnya tapi tidak dengan maskernya, tanaka mendekat dengan cepat saat melihat salah satu dari musuh diam2 hendak menusuk leo
"leo!!!" teriak azis yang memang melihat itu tapi posisinya jauh dari leo
Sreet...
dengan gerakan cepat tanaka menahan pisau itu lalu merebutnya dan membuang jauh pisau itu, zeuro dkk terkejut melihat kehadiran tanaka terutama leo, leo terkejut dan panik saat melihat tangan tanaka mengeluarkan darah
"siapa lo? Jangan ikut campur!!!" teriak orang yang tadi hendak menusuk leo
tanpa menjawab tanaka dengan cepat bak kilat menendang orang itu hingga tersungkur jauh, tanaka dengan cepat berlari mendekat kearah zeuro dan melompat tinggi sambil menendang sebuah peluru yang mengarah kekepala zeuro
semua orang disana terkejut hingga perkelahian terhenti, kedatangan tanaka menyelamatkan dua nyawa sekaligus
Sedangkan orang yang diam2 mengarahkan peluru pistol kearah zeuro menggeram marah lalu membabi buta menembaki tanaka, tanaka?
tanaka berlari secepat kilat mendekat kearah orang itu sambil menghindari setiap peluru yang mengarah padanya
Set..
tak..
seakan tak terlihat tanaka menendang pistol ditangan orang itu hingga pistol tersebut terbang jauh, lalu tanaka memukul rahang orang itu kemudian tanaka memutar tubuhnya dengan kaki terangkat lalu menendang tubuh orang itu hingga terpelanting menabrak pembatas jalan
semua orang terdiam, musuh kembali tersadar dan dengan emosi mereka kembali menyerang zeuro dkk juga tanaka
pergerakan tanaka sangat cepat dan lincah tapi tepat sasaran, semua musuh sudah kalah dengan luka lebam dimasing2 tubuh mereka, lalu tanaka pergi kearah motornya tanpa menoleh sedikitpun kebelakang, tanaka melajukan motornya dengan cepat meninggalkan zeuro dkk dengan segudang pertanyaan tapi juga perasaan cemas saat sadar tadi tangan tanaka mengucur darah hingga menetes keaspal jalan
Zeuro dkk mengernyit saat melihat dua mobil polisi mendekat kearah mereka
"permisi tuan muda, kami dari aparat kepolisian mendapat laporan jika disini terjadi penyerangan, kami akan segera meringkus para penjahat itu" ucap salah satu polisi dengan tegas tapi juga terdapat kegugupan dimata mereka terbukti tubuh para polisi itu agak bergetar meski ditahan,
tentu saja para polisi itu tau siapa yang ada didepan mereka, siapa yang tidak kenal dengan para keluarga berpengaruh itu
"hmm...siapa yang melaporkan ini pada kalian?" tanya leo datar membuat para polisi itu semakin bergetar
"itu...perempuan itu" tunjuk salah satu polisi pada seorang gadis yang mendekat kearah mereka, dia alisa, tadi alisa melihat perkelahian itu jadi dia segera menelpon polisi tapi batrei nya habis jadi dia pergi kekantor polisi untuk melaporkan perihal zeuro dan teman2nya yang dikeroyok
"kalian gk apa apa?" tanya alisa dengan suara lembutnya
"hm" balas zeuro datar
"baiklah kami permisi dulu tuan muda" ujar para polisi itu dan diangguki zeuro dkk
Menyisakan alisa dan zeuro dkk
lalu zeuro pun kembali kemotornya dan memakai helmnya diikuti yang lain
"kak leo, boleh lisa ikut kakak?" ujar alisa tiba2
"hm" balas leo datar, lalu alisa dengan semangat menaiki motor leo, kemudian zeuro dkk pun melesat pergi dari sana, diam2 alisa bersmirk
"pasti zeuro dan teman temannya sangat berterima kasih padaku, hahaha aku tidak sabar untuk besok" batin alisa percaya diri
tanaka yang baru sampai diapart nya pun langsung masuk dan langsung mandi setelah selesai dia pun beristirahat tanpa membalut luka ditangannya, zero... entah apa yang dilakukan sistem milik tanaka itu tiba2 saja tangan tanaka terbalut oleh perban
"lebih baik begini dari pada nanti mereka curiga pada tuan jika langsung aku sembuhkan" gumam zero
Keesokan harinya tanaka kembali bersekolah, tanaka sampai dan memarkirkan motornya didekat zeuro dkk yang masih nongkrong disana entah apa yang mereka lakukan disana, didekat leo ada alisa, tapi tanaka tak peduli dia langsung pergi menuju kelas meski ia masih mendengar bisik2 kagum yang diarahkan padanya
Diparkiran
"alisa!!!" teriak nuri sahabat alisa yang kini berlari mendekat kearah alisa
"ada apa?" tanya alisa dengan lembut membuat siswa yang masih disana memerah malu kecuali zeuro dkk
"kekelas yuk!" seru nuri dan diangguki alisa
"eh..tunggu, tangan lo kenapa?" tanya nuri khawatir saat melihat tangan kiri alisa diperban
"oh ini kemarin aku nolongin zeuro" ucap alisa lembut detik berikutnya alisa menutup mulutnya seolah terkejut dan...keceplosan?
"ya ampun alisa lo jangan ngebahayain diri lo sendiri dong, ya udah kita ke uks dulu yuk!" seru nuri lalu ia menarik tangan alisa dari sana meninggalkan kehebohan dan gosip baru
sedangkan zeuro dkk mengernyit melihat kejadian tadi
"emang tuh cewek nolongin apaan?" tanya azis heran
"gk tau" seru arda dan ardo
"bukannya kemarin tuh cewek datengnya pas semua udah kelar ya?" ujar revi
"nyari sensasi kali" ucap leo malas
"sensasi apaan?" tanya azis
"ya mau dicap pahlawan gitu" kata arda sambil mengedikkan bahunya
"mungkin tuh cewek suka sama lo ze, terus nyari perhatian deh sama lo" sela revi sedangkan zeuro hanya tetap datar
"jangan bacot, kekelas" ucap zeuro datar dengan aura dinginnya membuat arda ardo azis dan revi terdiam sedangkan leo mendengus malas
Bel masuk berbunyi semua siswa/i sma try satya pun memulai pelajaran dengan tenang, hingga bel istirahat berbunyi semua murid sma try satya berbondong bondong keluar kelas menuju kantin
Sedangkan tanaka langsung keperpus kelas satu, ya di sma try satya, perpus dibagi tiga untuk setiap tingkatan kelas, tanaka sendiri meski murid baru tapi ia lompat kelas entah apa yang sistemnya lakukan tapi meski begitu otak tanaka memang sangat cerdas, dikehidupannya yang dulu juga dia adalah seorang mahasiswa disebuah kampus dengan nilai tertinggi diurutan kedua
Balik lagi ke tanaka yang saat ini sedang membaca buku diperpus kelas sepuluh, karna perpus kelas sebelas dibangun ulang dan masih setengah jalan (chapter tanaka nolongin alisa dari pipa besi)
Tak...
tanaka mendongak didepannya zeuro dkk duduk dengan santai sambil meletakkan sebuah kresek dimeja entah apa itu
Tanaka kembali membaca bukunya
"udah diobatin?" celutuk azis saat melihat perban ditangan tanaka
"iya" balas tanaka singkat
"gk di cek kerumah sakit?" tanya revi
"tidak" singkat tanaka lagi
"lukanya parah?" tanya arda
"tidak tau" sahut tanaka masih sibuk dengan buku ditangannya, zeuro dkk mengernyit mendengar ucapan tanaka
"tidak tau?" ujar ardo dengan nada bertanya dan diangguki oleh tanaka
"terus siapa yang pakein perban ditangan lo?" tanya azis
"teman" sahut tanaka
"si vero?" tanya revi
"bukan" balas tanaka
"teman band atau teman kelas lo?" ujar arda dengan nada bertanya
"bukan mereka" balas tanaka
"terus siapa?" tanya leo kali ini dia benar2 dibuat gemas sedari tadi tanaka hanya sibuk dengan bukunya
"zero" jawab tanaka
zeuro dkk kembali bingung sekaligus penasaran
"siapa zero?" tanya revi
tanaka terdiam lebih tepatnya sedang berbicara dengan sang sistem
"apa yang harus kujawab?" tanya tanaka pada sitem
"jawab saja sepupu jauh tuan" balas zero
"tapi tadi aku bilang teman" ucap tanaka
"sepupu juga bisa jadi teman tuan" balas zero datar
"oh baiklah" setelah itu tanaka mengangguk
sedangkan zeuro dkk yang sedari tadi menunggu jawaban tanaka malah dibuat bingung saat tanaka tiba2 mengangguk
"sepupu jauh" ujar tanaka tiba2
"katanya tadi diobati teman" sela arda heran
"jadi teman atau sepupu?" tanya ardo
tanaka mengalihkan perhatiannya dari buku dan menatap orang2 didepannya datar
"sepupu jauh, bukankah sepupu juga bisa jadi teman?" ucap tanaka dengan nada bertanya kepalanya juga miring sedikit tapi tatapannya tetap datar lalu ia kembali membaca bukunya
Zeuro dkk terdiam mendengar ucapan tanaka dan dengan canggung mereka mengangguk
"kenapa kalian selalu tanya ini itu padaku?" tanya tanaka
tak ada yang menjawab
"ekhm..ini roti buat lo..kita pergi" setelah mengatakan itu zeuro pergi diikuti lima sahabatnya, mereka terburu buru karna memang tak tau akan menjawab apa
Bel berbunyi dan semua murid pun masuk kekelas masing termasuk tanaka ia beranjak dari duduk nya lalu menaruh buku kembali ke rak, lalu tanaka keluar dari perpus menuju kelasnya sambil membawa kantung kresek pemberian zeuro dkk
tanaka duduk dibangkunya, hari ini pelajaran bua asri jadi murid dikelas tanaka segera berjalan kekelompok masing2, termasuk tanaka ia beranjak dari duduknya dan duduk dimeja kelompoknya yang sudah ada senia ia mengeluarkan sebuah kertas print yang diisi tugas kelompok mereka, ada juga fika dan andre yang sudah siap jika sewaktu kelompok mereka dipanggil
"eh siapa yang bakal presentasiin nanti?" tanya senia berbisik
"andre aja gue gk terlalu bisa kalo ngejelasin didepan banyak orang" bisik fika
"apalagi gue, kalo gue yang presentasiin ini tugas, yang ada ancur nilai kelompok kita" balas andre setengah berbisik, fika dan andre menatap senia yang dibalas delikan dari senia
"heh! jangan gue ya! ini tugas gue yang rangkum terus gue juga yang print, jangan jadi setan deh lo berdua kalo harus gue yang ngepresentasiin nih tugas!" ucap senia sedikit ngegas
"aku saja" celutuk tanaka membuat tiga orang yang tadi berdebat langsung menatap tanaka dengan mata berbinar senang
"oke! Tapi lo bisa?" tanya fika dan diangguki tanaka
Pelajaran dimulai beberapa kelompok yang dipanggil sudah mem presentasikan tugas kelompok masing2
senia andre dan fika berdecak kagum melihat betapa hebatnya teman2 sekelasnya
"mereka dah kek pembawa acara berita kek di televisi2 ya" celutuk fika diangguki andre dan senia
akhirnya kelompok senia pun dipanggil, lalu tanaka pun maju membawa kertas ditangannya, tanaka yang maju tapi senia andre dan fika yang tegang
Tanaka didepan semua murid mulai mempresentasikan hasil tugas kelompoknya, seisi kelas kagum dengan pembawaan tanaka
Meski tatapan tanaka datar tapi aura tanaka benar2 seperti seorang yang sudah sangat handal, tenang santai dan terperinci juga sangat detail, tentu saja, tanaka adalah seorang mahasiswa dengan nilai top 2 jadi tugas seperti ini sangatlah mudah bagi seorang tanaka
Selesai dengan presentasinya tanaka menunduk sopan lalu kembali ke kursi kelompoknya diiringi riuh tepuk tangan seisi kelas
"waw!!! lo hebat bro" seru andre sambil merangkul tanaka seperti orang yang sudah akrab yah memang begitulah sifat andre
"iya lah gk kek lo" sinis fika
"heh kemarin gue yang rekam ya jadi gue juga berguna" balas andre kesal
menghiraukan celotehan dua orang itu senia menatap tanaka "ini ada yang lo tambahin ya?" tanya senia
"iya, supaya lebih detail, ada beberapa bagian yang harus dikurangi dan ditambah" balas tanaka
senia menatap tanaka senang lalu kembali memperhatikan kedepan kelas,
Bel pulang berbunyi, bu asri pun juga sudah mengakhiri pelajarannya, semua murid berdesakan untuk segera pulang, tanaka sendiri seperti biasa menunggu sepi baru lah ia beranjak dari kursi dan berjalan santai dikoridor yang sudah sangat sepi, sepertinya hanya sisa tanaka saja diparkiran, tanaka memakai helmnya lalu menaiki motornya dan menyalakannya, tanaka melesat pergi dari area sekolah menuju apartemen