Tatapannya masih menusuk tajam, tangannya mengunci dua lenganku ke atas. Menghimpitku ke dinding, aku seperti dejavu dengan posisi ini.
Mimpi itu ...
"Kamu kira aku bodoh, Gauri? Jika seseorang ingin menghancurkanku, maka bukan Yosita kuncinya." katanya penuh penekanan.
"Pria itu sudah kamu libatkan dalam masalah serius seumur hidupnya jika berhasil meniduri Yosi. Apa kamu tahu? Kenapa dia tak kunjung hamil, heh?"
Dengan kasar dia menarik bajuku hingga robek. Tubuhku terekspose hanya tertutup tanktop saja. Dia mencengkeram dagu dengan kuat. Menciumku secara brutal. Mataku mulai basah dengan sikapnya.
"Kamu terlalu naif dan gegabah, Gauri! Jangan salahkan aku jika kamu akan benar-benar tak bisa lepas dariku!" bisiknya di sela hembusan nafas.
"Kamu sudah ada dalam genggamanku. Adik-adikmu tak akan bisa memperbaiki kondisimu sekarang. Hanya aku. Aidam Ishwar Sura! Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka, Gauri! Jadi, bersikaplah yang manis, hm?"
Klik Subscribe dulu sebelum baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iftiati Maisyaroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Dimulai
Bab 9 Dimulai
Tak lama setelah mematikan alat komunikasi satu arah itu, aku mencoba mencari sesuatu di dapur. Banyak bahan makanan mentah di dapur. Tapi semuanya tak membangkitkan seleraku menikmati sarapan. Hanya sebuah apel dan segelas susu yang jadi pilihanku.
Merasa cukup dengan itu, aku coba berkeliling di setiap sudut rumah ini. Bangunan tunggal tak ada lantai dua ini benar-benar luas. Dikelilingi lahan kosong penuh tumbuhan bunga dan buah. Konsep alam yang terkesan seperti rumah di perdesaan. Di salah satu sudut halaman belakang ada dua pohon besar. Tak tahu apa nama pohon berdaun lebar dan lebat itu.
Sebuah tangga tali menjulur dari atas hingga ke permukaan tanah. Di atas rimbunnya dedaunan ada sebuah bangunan dari batang kayu seperti rumah. Tidak terlalu besar tapi cukup menampung dua orang dewasa di dalamnya.
"Menarik!" gumamku mulai merayap di tangga tali dengan hati- hati. Takut jika itu telah rapuh atau tak cukup kokoh untukku.
"Wow!" seruku hampir terpekik kaget.
Hampir keluar bola mata ini menatap kanvas-kanvas bergambar wajahku memenuhi dinding kayu. Aku seperti sedang melihat tayangan kilas balik hidupku.
"Dari mana semua lukisan ini? Aidam kah yang menggambarnya?" racauku masih tak percaya saking takjubnya.
Bahkan wajah saat aku masih berseragam putih abu-abu ada di sana. Aku yang sedang berlatih silat. Aku yang sedang bolos sekolah, melompati pagar. Aku yang sedang naik ke atas motor sport milik Kenzie. Aku yang sedang fokus mengerjakan tugas. Semuanya seperti gambaran perjalananku dari delapan tahun silam.
Jantungku berdetak lebih cepat. Mataku sudah memanas. Ingin menangis tapi aku merasa tersanjung. Siapa pun pelukis wajahku ini, dia benar-benar tahu diriku dengan detail. Tak kurang satu apapun. Pakaian yang kukenakan. Gaya kuncir rambutku, tasku, sepatuku, bahkan ekspresi wajahku saat itu. Tertawa, kesal, jengkel, mengumpat, dan ....
"Bunda ...." isakanku tak tertahankan.
Sebuah potret kebersamaanku dengan Bunda di saat acara wisuda pun terlukis di sini?
Gendang telingaku menerima sumber bunyi dari gerbang yang terbuka. Lekas kuusap air mata di pipi. Tak mau Aidam tahu bahwa aku telah menemukan tempat ini. Cepat-cepat melompat turun meluncur begitu saja dengan tangga tali. Membenahi pakaian dan rambutku yang sedikit berantakan karena tergesa turun. Mengatur nafas sembari bersiul dan melakukan stretching ringan.
"Gauri! Gaurika!" suara panik Aidam menggema hingga terdengar dari sini.
"Di halaman belakang! Jogging!" teriakku menjawab panggilannya.
Helaan nafasnya terdengar berat dan sedikit lega dari arah belakangku.
"Aku hampir mati kelaparan, Aidam! Ke mana? Kenapa tak meninggalkan pesan apapun?" omelku dengan pura-pura terengah melakukan gerakan pelenturan otot.
"Maaf ...." katanya sambil mendekat dan memperhatikanku dari atas hingga bawah, tampak dari ekor mataku.
"Kenapa?" tanyaku merasa risih dengan tatapannya yang menyelidik, berganti menatapnya penuh tanya. Menghentikan semua gerakanku.
"Aku boleh memelukmu, Gauri?"
Tanpa sempat terjawab tubuhku sudah sedikit menggantung dalam dekapannya. Dia merengkuhku penuh hingga kepalaku bisa bersandar di pundaknya yang lebih tinggi.
Apa yang dirasakannya? Kenapa aku mulai merasa bersimpati dan peduli dengan hatinya?
"Bukankah kamu sejak awal ingin menghancurkannya, Gauri? Apa kamu lupa itu?" Batinku terus beradu argumen dengan logika.
"Terima kasih Gauri ... Terima kasih, Istriku ...."
Cih! Aku benci dia memanggilku seperti itu. Kata istri justru membuatku semakin yakin bahwa aku bukan satu-satunya. Api dendam tersulut hanya dengan satu kata. Beruntung masih bisa kuredam saat itu juga ketika kata itu keluar dari mulutnya.
Tak bisa berkutik dalam pelukan tubuh hangatnya. Aku bergeming merasakan debar jantungnya. Ah ... sial! Aku harus merasa nyaman dalam posisi seperti ini.
"Maa--, eh? Em ... maaf!"
Pelukan terlepas paksa, suara tertahan hendak mengusik kenyamananku dalam moment hangat.
Yosita gelagapan membalikkan badannya memunggungi kami. Lalu berlari kecil kembali berjalan menjauh menuju ke dalam rumah.
"Ck! Sudah kukatakan jangan menyusul, hingga aku masuk bersamamu. Bukan salahku, kan?" decaknya menggandengku berjalan mengikuti arah maduku.
"Aku tau adabnya, kalian tidak akan serumah. Kita bertiga harus bicarakan kesepakatan, agar aku pun tak salah. Semoga Allah selalu menuntunku dalam keadilan pada kalian." terangnya setelah duduk di meja makan berhadapan denganku dan Yosita.
Aidam memberiku waktu satu minggu kemudian satu minggu untuk Yosita. Rumah ini, hakku, tapi aku meminta tetap tinggal dengan Arkaan.
Bagiku nggak penting jatah darinya, tujuanku bertahan adalah tahu apa motif Aidam membagi raga dan mungkin juga hatinya. Jika semua memang karena harta, maka akan kekabulkan sesuai permintaannya. Aku tetap nggak akan pernah rela Ayah dan Bunda jadi korban atas keserakahan atas dunia.
"Aku ingin tetap bekerja, mendampingi Arkaan hingga dia bisa berdiri sendiri." ucapku setelah kepergian Yosita.
"Baiklah ... apapun yang membuatmu bahagia, lakukanlah. Asalkan tetap dalam pengawasanku dan ijin dariku."
Tangannya mengelus rambutku dan sedikit mengacaknya.
Satu minggu berlalu dan aku disibukkan dengan perubahan besar di tubuh perusahaan Ayah. Semua investasi dari pihak Sura Corp aku putuskan. Membuat jajaran direksi dan pemegang saham protes keras atas tindakanku. Selain kebangkrutan sudah bisa dipastikan perusahaan akan kehilangan kepercayaan dari investor.
"Gauri! Apa yang kamu lakukan? Ayah telah berjuang seumur hidupnya demi perusahaan ini. Kenapa kamu menghancurkannya dalam sekejap saja?" geram Aidam datang ke kantor.
"Maaf, Anda berada di kantor saya, pak Aidam. Dan sama sekali tidak profesional jika Anda membawa status di sini. Jadi, mari kita bicarakan dengan rapat besar antar direksi dua perusahaan kita."
Dia hanya menggeleng dan mengepalkan tangannya. Rahang mengeras seolah sedang menahan amarahnya tapi tak terlampiaskan.
"Selanjutnya apa? Aku nggak ngerti dengan jalan pikiranmu, Ri!" protes Kenzie yang akhirnya bersama Arkaan menjadi asisten dan sekretarisku.
"Dengar ...." aku mulai mengatakan rencana besarku pada keduanya selepas kepergian Aidam.
"Jadi, kamu akan kacaukan konsentrasi Aidam dengan perusahaan dan istrinya sekaligus? Brilian, Ri!" seru Kenzie mengacungkan dua jempolnya usai mendengar tujuanku.
"Hm ... gue kebagian paling enak, nih!" girang Mada dengan pongahnya menepuk dada.
"Mas ngga ada yang dikasih tau rencana Mbak ini? Kalo mereka nggak siap, gimana?" tanya Arkaan yang masih sedikit ragu dengan rencana yang kubuat.
"Tenang aja, Mbak yang atur semua. Kamu fokus pada tugasmu aja di sini. Dan, Ken! Please ... aku masih sepenuhnya percaya sama kamu. Jangan kecewakan aku, hm?" aku menatapnya penuh pengharapan pada Kenzie yang seperti susah kutebak.
***
"Aku hanya ingin memisahkan antara urusan bisnis dan pernikahan kita, Aidam. Aku nggak mau pernikahan ini terjadi karena bisnis, maaf. Aku nggak bicarakan ini sebelumnya." terangku saat waktu bersama Aidam setelah seminggu dia bersama Yosita.
"Lalu apa yang akan kami lakukan dengan perusahaan yang sudah sekarat seperti itu, Gauri?" tanyanya menatapku sendu.
"Jangan pikirkan aku, urus saja bisnismu sendiri. Aku akan kembali merintis dari nol. Tolong, dukung aku dengan tidak membicarakan perusahaan saat sedang di rumah. Bedakan! Bukankah aku istrimu?" tegasku dengan kerlingan mata di akhir kalimat.
"Itu maumu, hm? Sudah berani menantang, hm?"
Dia mendekat dengan mata berkabut.
'Perang akan dimulai, Aidam ....' batinku dengan terus mundur menghindari sentuhannya.
Sengaja aku mengulur waktu untuk menerima kabar dari Mada yang konon sedang bersama Yosita juga.
"Aidam! Lihat ini!"
Sebuah video berdurasi satu menit baru saja kuterima. Sebelum Aidam berhasil menyentuhku, Mada mengirimkan live video dirinya bersama Yosita.
Pria yang tadinya sudah berkabut ga-irah itu seketika menatap tajam. Mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. Wajahnya tampak memerah dan seperti akan meledak.
Satu umpan berhasil!
***
mgkn lbh baik
Sendiri...
🤭😵💫🤕
okelah, Thor...
Lanjutkan. kebingunganku ini.. 😁🤣