Renita Rakhwati Putri, Gadis yang sudah siap menikah, namun tak kunjung ada laki-laki yang datang kepada nya. Hingga akhirnya, adiknya yang telah memiliki pasangan berniat untuk menikah muda.
Namun niat adik nya terhalang restu sang ayah. Karena ayah dari Renita masih percaya hal-hal kuno, dan menganggap adik yang menikah melangkahi kakak nya adalah suatu aib yang sangat memalukan dan melanggar adat.
Renita akhirnya di paksa menikah secepat nya, karena laki-laki calon suami sang adik sudah tidak mau menunggu lama lagi. Renita harus berkorban menikah cepat dan kilat demi sang adik.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di naskah novel Ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Kurang dua hari lagi, laki-laki bernama Rendy dan orang tua nya akan datang kembali untuk melamar ku. Apa yang harus aku lakukan ?. Bahkan sampah detik ini, tidak ada juga laki-laki yang bisa kujadikan alasan untuk menolak Rendy ?. Aku sudah mentok dan bingung harus berbuat apa. Ya Allah... jika memang Rendy adalah laki-laki yang Engkau pilihkan untuk menemani sisa usia ku, dan menyempurnakan separuh dari agamaku, maka berikanlah keikhlasan dan keyakinan pada Renita untuk bisa menerima Rendy ya Allah, doaku lirih.
" Zaskia ? dek ?". Aku mencari Zaskia di kamarnya. Tapi tidak aku dapati dia disana. Kemana perginya Zaskia ?.
Aku beranjak menuju teras belakang rumah. Dan benar saja seperti feeling ku. Dia sedang duduk disana sambil menyeruput segelas teh manis hangat. Itu sudah menjadi kebiasaan Zaskia.
" Dek...?". Aku menghampiri Zaskia.
" Oh iya kak, ada apa kak ?".
" Dek, apa kamu punya foto Rendy ?, Kaka ingin melihat seperti apa wajah Rendy".
" Oh, sebentar. Sepertinya calon Zaskia punya foto mas Rendy".
" iya dek".
Bukan aku kepo ingin melihat Rendy, aku hanya ingin tahu seperti apa wajah calon suamiku. Aku sudah beberapa hari shalat malam, dan aku ikhlas jika memang aku harus berkorban sebagai seorang kakak. Menikah dengan laki-laki yang aku sendiri sama sekali tidak mengenal nya.
" Ini kak foto mas Rendy". Aku menerima handphone yang di sodorkan oleh Zaskia padaku.
Aku deg-degan. Aku mengamati foto itu. Benar apa yang di katakan oleh Zaskia. Rendy memang lumayan tampan. Tapi bagaimana dengan masalah pendidikan nya ?. Sebenarnya bukan masalah yang susah, Rendy bisa saja kuliah kapan pun dia mau.
" Ini dek". Aku menyerah kan kembali handphone milik Zaskia.
" Gimana ? ganteng kan kak Rendy ? hehehe".
" Apaan si dek". Ucapku malu. Aku tidak mungkin mengiyakan ucapan Zaskia barusan, kalau Rendy memang tampan.
" Ciee.... cie. Kayaknya mulai tumbuh bunga-bunga cinta nih". Aku melirik Zaskia yang mengedip-edipkan matanya.
" Apaan si dek. Jangan gitu dong. Kaka malu".
" Cieee.... cieee ".
Aku pergi meninggalkan Zaskia yang masih saja meledeki ku. Aku pergi menuju ke kamar. Entah kenapa, hatiku sangat bahagia. Kenapa hatiku menjadi sangat tenang ?. Kenapa hatiku juga jadi ingin secepatnya acara lamaran itu di majukan ?. Apakah aku telah jatuh cinta pada pemuda yang baru aku lihat dari sebuah foto di layar handphone ?.
" Tookk.... tok... tokk...". Aku mendengar suara pintu kamarku di ketuk. Padahal aku baru saja merebahkan badanku di kasur.
" Renita ? boleh ibu masuk ?". Kali ini suara ibu terdengar. Aku bergegas membuka pintu.
" Ibu ? masuk saja, ada apa bu ?". Ucapku setelah membukakan pintu kamar untuk ibu.
" Bisa kamu tutup dulu pintu kamar nya ?".
" Oh iya bisa bu".
Sebenarnya aku agak bingung, tidak biasanya ibu menyuruh ku untuk menutup pintu, pun jika ingin membicarakan masalah atau sesuatu hal padaku.
" Ada apa ibu ?". Aku bertanya dengan nada cemas dan menghampiri ibu yang duduk di samping tempat tidur ku.
" Ren ? apa kamu sudah yakin ?, maksud ibu bagaimana dengan lamaran pemuda itu yang dua hari lagi akan datang kemari ?". Aku melihat ibu menatap ke arah jendela kamarku dengan tatapan nanar.
" Bagaimana apa nya bu ?". Jawabku yang masih saja bingung.
" Apa kamu sudah memutuskan ? akan kah di terima atau di tolak ?". Kali ini tatapan ibu tajam kepadaku.
" Ibu, Renita tidak tega melihat Zaskia terus menangis, pun Renita tidak tahan jika sampai adik Renita membenci Renita karena masalah ini bu. Jika memang Renita ditakdirkan oleh Allah untuk berkorban sebagai seorang kakak. Renita akan berusaha ikhlas bu". Aku tertunduk lesu.
" Ren, kamu sudah tau bukan ? perihal menikah itu bukanlah permainan ?. Ibu tidak ingin ada paksaan dalam sebuah pernikahan".
" Ibu..., Renita in syaaAlloh ikhlas bu. Renita tidak terpaksa. Lagi pula setelah Renita melihat Rendy dari foto, hati Renita tiba-tiba menjadi tenang dan bahagia bu".
" Kamu sudah tau bukan ? kalau Rendy tidak kuliah ?". Ibu menanyakan pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya.
" Tahu bu, Zaskia sudah menceritakan tentang Rendy pada Renita".
" Lalu apa kamu akan tetap menerima Rendy ?". Sepertinya ibu berulang kali memastikan tentang keputusan ku.
" In syaaAlloh bu, Renita akan terima lamaran Rendy untuk Renita. Mungkin Renita memang ditakdirkan mendapatkan jodoh dengan jalan seperti ini Bu".
" Yasudah kalau memang itu keputusan kamu, yang jelas ibu tidak pernah ingin putri ibu menikah karena sebuah paksaan dan tekanan".
" Engga ibu ". Aku memeluk ibu erat. Rasanya sangat bahagia sekali. Sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang istri.
" Maaf kan ibu ya Ren, ibu tidak bisa berbuat apa-apa untuk merubah keputusannya ayah. Ayah mu sangat susah di ajak bicara jika sudah berhubungan denga keyakinan dan adat istiadat yang dia pegang". Kali ini aku melihat ibu menyeka air matanya.
" Ibu, jangan menangis. Renita tidak mau melihat ibu menangis seperti ini. Renita bahagia kok akan dilamar oleh Rendy. Ibu jangan khawatir lagi yah. Renita juga tidak ingin di cap oleh ayah sebagai anak yang pembawa sial dan malu-maluin karena tidak kunjung menikah bu".
" Semog kamu bahagia ya nak, semoga apa yang kamu putuskan bisa menjadikan keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup kamu".
" Terimakasih ibu, bimbing Renita agar bisa menjadi seorang istri seperti ibu". Aku menyeka air mata ibu dengan tangan ku.
" Ibu tidak menyangka, sebentar lagi satu dari ke empat putri ibu akan di lamar oleh seorang laki-laki. Semoga laki-laki itu bisa membuat kamu bahagia Renita".
" Aamiin, terimakasih ibu".
Aku mengerti bagaimana perasaan ibu. Karena ibu sangat tahu betul, bagaimana sikap ayah jika padaku. Ayah cenderung lebih tegas dan galak jika padaku, mungkin ini karena aku adalah anak pertama. Jadi aku di didik menjadi seorang kakak yang kuat. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Ibu juga mungkin merasa kasihan padaku, ibu sangat takut jika aku menikah dan menerima lamaran Rendy karena sebuah keterpaksaan.
" Yasudah, ibu mau siap-siap arisan dulu ya Ren".
" Iya ibu, hati-hati yah. Semoga aja hari ini dapat arisan. Jadi bisa belanja deh. Hehehe..".
" Aamiin, semoga saja ya". Aku melihat ibu yang tertawa dan kemudian pergi meninggalkan ku seorang diri di kamar.
Aku merebahkan tubuhku lagi di kasur. Aku terbayang wajah Rendy yang sedang tersenyum sangat manis. Aku seperti terhipnotis. Kenapa sosok Rendy jadi terbayang-bayang di pikiranku. Aku rasanya sudah tidak sabar ingin segera melihat wajah calon suamiku secara langsung. Pasti dia lebih tampan jika dilihat aslinya. Ya Allah semoga saja Rendy adalah orang yang tepat, ucapku lirih.
Belum apa" banyak bawangnya 😭
sukses
semangat