Marves Lucifer Arsenik Raja iblis dikenal kejam dan tanpa pandang bulu menyiksa nyawa pendosa. Namun Marves bukanlah pria biasa, tapi pria sepertinya mampu muak dengan neraka dan beralih menetap di bumi sekedar menenangkan pikirannya.
Nyatanya seorang wanita cupu dan dekil menyatakan cinta kepadanya di depan umum, tentunya Marves menolak sekaligus mengatakan kalimat menyakitkan yang membuat wanita yang ia ketahui bernama Vella lantas pergi dengan air mata yang bercucuran.
Terlanjur sakit hati membuat Vella gelap mata dan dengan nekat memasukan obat perangsang ke minuman Marves, membuatnya menjadi miliknya seutuhnya.
Menyadari kebodohannya dan tak ada gunanya menyesali perbuatannya yang telah terlanjur Vella lakukan, ia lantas pergi menjauh meninggalkan tempatnya berada, berharap tak bertemu Marves kembali.
Tanpa menyadari seorang iblis tengah mengamuk mencari dirinya dengan tatapan obsesi dan kemarahan memuncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anastasia d lutvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Awal Kehamilan
...----------------...
1 hari yang lalu semenjak Vella melakukan hal gila kepada Marves membuatnya menjadi pribadi yang selalu gelisah.
"Bodoh, bodoh kamu Vella." Menepuk keras jidatnya sendiri.
"Kenapa bisa aku ngelakuin hal gila itu.Huft..."
Bruk.
Vera menghempaskan tubuhnya kearah sofa bercorak putih miliknya.
Memijat pelipis pusing memikirkan hal yang akan terjadi pada dirinya.
Perutnya tiba terasa bergejolak, seakan sesuatu dalam perut ingin keluar secara paksa.
Secepat kilat Vella menuju toilet. Memegang kran air, dengan tergesa-gesa menyalakan.
"Huek..."
"Huek."
Seluruh makanan yang ia makan saat pagi, keluar begitu saja seperti bubur bercampur aduk menjadi merata. Jijik, tentu saja, tapi apa boleh buat,Perut Vella terasa bergejolak dan mengeluarkan makanan yang begitu menjijikan.
Semburan air dari kran. Vella mencuci mulutnya tak lupa menyikat giginya, mengurangi rasa mual tak tertahan dalam perut.
"Apa yang terjadi pada diriku."
Seingat Vella, ia tak melakukan aktivitas manapun, ia hanya tidur atau bermalas-malasan. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Hingga mengakibatnya dirinya terus saja mual. la makan roti baru beberapa menit ia langsung muntah kembali, ia mencium kaos kaki yang akan dicuci pun langsung muntah, bahkan saat seorang pria dengan maksud baik mengembalikan ponselnya ke apartemennya yang terjatuh saat ia belanja, tanpa belas kasihan ia malah mengeplak kepala pria itu dengan panci.
Entah apa yang terjadi padanya seharian ini.
"Apa aku periksa aja ke dokter di rumah sakit gratis, siapa tahu aku tak enak badan nanti dikasih obat. Lumayanlah gratisan, mengirit dompet biar nggak kurus. Hihihi..." Terkikik Vella memikirkan serba gratis.
Rumah Sakit Letlo, Rumah Sakit dikhususkan bagi orang yang tak mampu membayar biaya Rumah Sakit yang dibilang relatif terlalu mahal dan biaya perawatan yang cukup tinggi, jadi dibuatkannya Rumah Sakit ini bagi orang tak mampu membayar, tapi persyaratan dari Rumah Sakit ini cukup mudah, hanya memberi kartu identitas diri dan menandatangani surat resmi Rumah Sakit, apabila akan kembali dirawat tanpa mengunakan kartu identitas lagi.
Vella memakai masker medis yang dikenakannya setiap ia akan keluar dimana pun itu.
di hadapan Vella, seorang Dokter umum cantik tersenyum ramah kepada Vella, yang dibalas senyuman manis Vella.
"Permisi Dokter."
"Iya, ada yang bisa saya bantu Ibu." Senyum ramah dari Dokter cantik, membuat Vella insecure sekaligus iri menatap tampilan Dokter cantik seperti wanita Korea.
"Begini Dok, kedatangan saya kesini ingin berkonsultasi sama Dokter, kenapa saya sepanjang hari badan saya gak enak Dok, setiap hari bawaannya lemes, sensitif mulu, trus kadang juga muntah kalau cium aroma tak sedap atau makan makanan yang membuat perut pengen mual terus Dok," gerutu Vella.
Dokter cantik yang bernama Belle tetap menampilkan senyum ramah kepada Vella."Kalau itu saya kurang pasti, untuk menyakinkan gejala yang dialami Ibu Vella, saya periksa dulu yah."
"Oh begitu, baiklah Dok. Gak masalah, Yang penting cepat sembuh, trus gak mual-mual terus," jawab Vella mengiyakan perkataan Dokter Belle.
"Mari Bu," ajak Belle menunjukan arah pemeriksaan.
Beberapa menit berlalu, Vella keluar dengan Belle. Tatapan mata Belle berbeda saat pertama kali ia melihat Belle. Penuh dengan kebahagiaan dan semenjak Dokter Belle memeriksa perutnya, wajahnya terus saja sumringah dan tak berhenti tersenyum. Vella bingung apa yang terjadi pada Dokter Belle, membuatnya merasa akan ada hal yang terjadi pada dirinya dan akan membuat ia akan mendapatkan kabar yang tak ingin dengar.
"Dok, anda sehat kan?" tanya Vella merasa khawatir.
Belle menggelengkan kepala menyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
"Lalu kenapa anda tersenyum terus, anda sakit ?" Heran Vella.
"Enggak, saya tidak apa-apa."
"Dok, Dokter kalau senyum memang cantik,tapi kalau senyum terus menerus, saya merinding loh Dok." Menatap ngeri Dokter Vella.
"Emang kenapa saya kalau senyum terus?" Mengernyit alis bingung, akan perkataan Vella dan tatapan yang menatapnya horor.
"Kayak Kuntilanak! Ups." Segerah Vella menutup mulut kurang ajar. Ingin sekali ia mengubur dirinya ke lautan terdalam, lantaran menahan malu yang teramat malu.
Belle yang dikatain seperti itu, lantas menormalkan wajah tetap tersenyum tapi berbeda yang sebelumnya yang ia tampilkan, melainkan senyum profesional, ciri khas seorang Dokter.
"Haduh Dok, maaf. Emang mulut ini nih, yang suka kurang ajar. Maaf yah Dok," mohon Vella meminta maaf karena merasa bersalah.
"Tidak apa-apa." Senyum profesional masih tetap terbit di bibir.
Walaupun Dokter Belle mengatakan tidak apa-apa, tapi dalam diri Vella sangat merasa bersalah. Kalau bisa ia ingin menampar mulutnya sekeras mungkin, terlalu kurang ajar mengatakan hal yang tak sopan.
"Baiklah, balik ke topik, keluhan yang Ibu Vella alami ini diakibatkan oleh beberapa faktor, dari faktor masuk angin, demam, atau penyakit lainnya dan-" jeda Dokter Belle, melihat wanita di depannya malah tidur nyenyak di meja kerja miliknya.
Menghela nafas, mengelus dada mencoba bersabar dengan pasien satu ini.
"Ibu..." panggil Belle lembut tetapi lumayan keras.
"I-ya," saut Vella terbangun melongo.
Senyum profesional Belle kepada Vella. "Ibu, apa bisa dilanjutkan?"
"Oh, silakan, maaf saya ketiduran. Suara Dokter lembut kayak melodi lagu tidur, jadi saya ketiduran." Duduk Vella tegak melebarkan matan mencoba untuk fokus dan tidak ketiduran lagi.
Lagi dan lagi, Belle tetap tersenyum menahan kesabaran.
"Jadi topik yang saya katakan tadi, pada hasil pemeriksaan Ibu dinyatakan- "
Vella menutup mata, terlihat mengantuk.
"HAMIL!"
Tersentak kaget mendengar suara keras memekakkan telinga. Vella mendongak menatap dengan mata lebar Dokter Belle tetap tersenyum profesional, seakan tak terjadi apapun.Menahan dada, menenangkan jantung yang senam jantung tak berhenti.
"Saya hamil Dok?" tanya Vella tak yakin akan pendengarannya.
"Iya, anda hamil," jawab Dokter Belle ke inti cerita.
"Apa Dokter tak salah? Bisa saja pemeriksaan Dokter salah, atau Dokter rabun atau yang lainnya. Tidak mungkin saya hamil Dok." Elak Vella.
Mengernyit heran." Berdasarkan hasil pemeriksaan yang terus berulang-ulang, hasil pemeriksaan menyatakan anda hamil Ibu?"
"Tidak mungkin Dok, ini tidak mungkin." Frustasi Vella menjambak rambutnya seperti orang gila.
Merasa khawatir akan pasiennya saat ini, Belle memeluk Vella sebagai penenang.
"Bu, tenang, kasian bayinya, nanti kesakitan dia juga butuh kehidupan." Khawatir Belle.
Vella menenangkan pikiran yang gundah mencoba untuk tidak egois, karena ada kehidupan yang ada di perutnya.
Memijat pelipis pusing.
"Ibu, Ibu kalau ada sesuatu bisa cerita pada saya?"
"Tidak usah Dok, biar saya yang urusi urusan saya, terimakasih perhatian Dokter yang udah khawatir, dan maaf merepotkan Dokter," tolak Vella tersenyum tulus.
Belle yang enggan melepaskan, terpaksa melepaskan.
"Ibu benar baik-baik saja." Tatap khawatir Belle.
"Iya, tidak apa-apa, terimakasih Dok, saya pamit pulang," pamit Vella tersenyum kearah Belle, tapi Belle masih tetap menatap khawatir Vella.