NOVEL SEDANG DIREVISI
Karena keterpaksaan mertua, Siska harus menjalani tekanan batin yang luar biasa,
namanya Fransiska Damayanti usia 33 tahun sementara suaminya bernama Arya Praptama berusia 35 tahun.
Selama 10 tahun Siska menjalani rumah tangganya bersama suaminya, namun belum dikaruniai anak, hingga akhirnya Siska memutuskan untuk menikahkan suaminya bersama gadis belia berusia 17 tahun yang bernama Dinda Kinara. Dinda adalah gadis yatim piatu yang tinggal disebuah desa terpencil, keterbatasan ekonomi mengharuskan Dinda menjadi tulang punggung keluarga, hingga akhirnya ia mendapatkan tawaran dari Siska untuk menjadi istri kontrak selama satu tahun sampai ia memiliki anak.
Yang penasaran bisa ikuti cerita ini langsung dibawah ini yah, sebelum membaca saya berharap kepada teman readers agar bersabar dan berlapang dada dalam membaca ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isna Putri Tarimakase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oh ternyata dia pelakunya..
Setelah Siska sampai disebuah tempat yang telah diberitahukan oleh Ferdi, Siska pun masuk ke dalam ruangan itu dan melihat siapa pelakunya.
"Mana Fer pelakunya?" tanya Siska.
"Ada di dalam kamu lihat sendiri saja"
"Oke"
Dan saat Siska masuk ke dalam ia melihat seorang pria dewasa yang tidak ia kenali.
"Kamu siapa? kenapa kamu mau mencoba meracuni Dinda dan memfitnahku hah?"
"Sumpah Bu saya tidak tahu apa-apa soal kue itu"
"Oh jadi kamu tidak mau mengaku, cepat hajar dia" perintah Ferdi kepada anak buahnya.
Pooowwwcc Plaaakkk Buuuup
beberapa kali hantaman ditujukan kepada lelaki itu hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Auuuhhhhh...Saya berani bersumpah saya tidak tahu soal kue itu Bu,"
"Tapi jelas-jelas di cctv toko dan cctv rumah teman saya, kalau itu kamu yang membelikan kue itu dan mengantarkannya ke rumah!"
"Cepatlah mengaku sebelum ku bawa kamu ke kantor polisi"
Siska melihat kondisi lelaki itu tiba-tiba membuat Siska merasa iba, sejenak Siska menarik napasnya lalu menyuruh Ferdi menghentikan temannya memukul lelaki itu
"Sebentar Ferdi, sepertinya dia bukan orangnya" kata Siska menghentikan Ferdi.
"Siska, sudah jelas-jelas di cctv itu dia Pelakunya"
"Siapa tahu dia disuruh oleh seseorang, Ferdi! coba kita tanyakan lagi dengan cara yang baik"
"Sebenarnya siapa yang menyuruhmu hah? katakan saja pelakunya, aku akan membayarmu dan melepaskanmu jika kamu jujur" seru Siska.
Sejenak lelaki itu terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Cepat katakan atau kami akan menghajarmu lagi!" seru Ferdi.
Siska menunggu jawaban lelaki itu tak kunjung dijawab hingga akhirnya Siska hilang kesabaran dan menyuruh Ferdi untuk menghajar lelaki itu.
"Oke kalau dia tidak mau mengaku, kamu hajar saja ferdi!"
"Baik Siska, cepat hajar!"
"Eh iya iya saya mengaku, tolong jangan bawa saya ke kantor polisi"
Mendengar perkataan lelaki itu membuat Siska dan Ferdi saling menatap lalu kembali menatap lelaki itu.
"Sebenarnya saya cuma disuruh oleh seorang wanita yang tidak saya kenal, dia menyuruhku untuk membeli kue itu, lalu saya membawa kue itu ke mobilnya, tapi saya tidak tahu apa yang dia buat dengan kue itu didalam mobil, setelah itu dia beri kue itu untuk saya antar ke alamat yang dia suruh"
Mendengar penjelasan lelaki itu seketika membuat Siska dan Ferdi terkejut,
"Wanita siapa?" tanya Siska.
"Saya tidak kenal bu, saya cuma ketemu wanita itu dijalan, dan dia membayarku dengan uang yang cukup banyak"
"Apa kamu kenal ciri-ciri wanita itu?"
"Seingat saya orangnya putih, rambutnya berwarna kemerahan sampai dibawah bahu sedikit, wajahnya cantik, usianya masih muda sekitar 25 tahunan, dia pakai mobil putih"
"Hah siapa wanita itu? apa jangan-jangan Keyla?" gumam Siska penuh tanya.
Siska pun segera mengambil ponselnya, lalu mencari foto keyla, ia pun segera memperlihatkan foto Keyla kepada lelaki itu.
"Apakah wanita ini yang menyuruhmu?" tanya Siska.
Setelah melihat foto yang berada di ponsel Siska, lelaki itu langsung mengakui bahwa itu adalah wanita yang menyuruhnya.
"Iya betul wanita ini yang telah menyuruhku"
"kamu yakin dia orangnya?" tanya Siska tidak percaya.
"Iya Bu saya yakin"
Setelah mendengarkan pengakuan dari lelaki itu, Siska dan Ferdi langsung saling menatap terkejut karena tak percaya ini adalah perbuatan Keyla.
"Oke kamu harus berikan keterangan di kantor polisi, setelah itu kamu bisa bebas"
"Iya bu"
Setelah semuanya terungkap, Siska langsung menarik napas lega karena ia sudah tahu siapa orang yang telah memfitnahnya itu, lelaki suruhan itupun dibawah oleh rekan Ferdi ke kantor polisi untuk memberi keterangan tentang Keyla agar segera ditangkap.
"Terima kasih yah Fer kamu sudah bantuin aku,"
"Iya Siska, kamu kan teman baikku sejak kuliah, apapun akan aku lakukan agar bisa membantumu Siska" ucap Ferdi memberikan perhatian kepada Siska.
Ferdi adalah teman baik Siska sejak masa kuliah dulu, Ferdi juga pernah menyimpan rasa cinta kepada Siska, namun karena Siska sudah mempunyai hubungan dengan Arya, Ferdi membuang rasa cintanya yang ia pendam sejak lama itu sejauh mungkin dari Siska, hingga sampai saat ini Siska tak pernah tahu bahwa Ferdi pernah mencintainya.
"Oh ya Ferdi, sebaiknya kita laporkan Keyla besok saja, soalnya kondisi mas Arya belum memungkinkan, aku takut dia kenapa-kenapa"
"Oke Siska kalau itu maumu, besok kita bisa berkumpul langsung di kantor polisi"
"Iya Ferdi terima kasih, kalau begitu aku pamit dulu yah"
"Iya Siska, hati-hati dijalan"
"Iya" sahut Siska tersenyum menatap Ferdi.
Setelah mengobrol yang cukup panjang akhirnya Siska pamit kepada Ferdi, kemudian berlalu pergi meninggalkan Ferdi, setelah Siska pergi, Ferdi masih memandang Siska yang meninggalkannya, didalam hatinya tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu, masih mencintai Siska walaupun ia tidak bisa memiliki Siska.
"Andai saja kamu jadi milikku Siska, mungkin nasibmu takkan seperti ini" gumam Ferdi sambil mengusap wajahnya dengan satu telapak tangannya.
***
Malam hari saat Dinda akan membawakan makanan untuk Arya, tiba-tiba Siska memanggil Dinda
"Dinda" panggil Siska.
"Iya nyonya"
"Aku sudah mengetahui pelaku yang sebenarnya Dinda"
Mendengar kabar dari Siska membuat mata Dinda terbuka lebar.
"Haa iyakah nyonya? siapa orangnya?"
"Ternyata selama ini Keyla pelakunya Dinda"
"Haaaaa nona Keyla"
"Iya Dinda"
"Astagfirullah, aku gak nyangka kalau nona Keyla akan sejahat itu nyonya," kata Dinda terkejut.
"Iya Dinda, aku juga tidak percaya, tapi syukurlah yang penting kita sudah tahu Dinda" ucap Siska merasa lega.
"Iya nyonya, eh iya aku antar makanan dulu yah nyonya, soalnya Tuan sudah menungguku diatas"
"Oh ya Dinda, eh iya Dinda tolong kamu jangan bilang dulu soal ini, soalnya aku baru akan melaporkan Keyla besok"
"Baik Nyonya" sahut Dinda kemudian pergi berlalu meninggalkan Siska.
Dinda pun melanjutkan langkahnya menuju tangga sambil membawa makanan untuk Arya. Sampai diatas Dinda masuk ke dalam kamarnya dan melihat Arya sedang duduk bersandar diatas kasurnya. Perlahan Dinda mulai menghampiri Arya kemudian duduk disamping Arya dengan wajah yang tegang.
"Ini Tuan makanlah" kata Dinda mulai menyuapi makanan ke dalam mulut Arya.
"Kamu kenapa Dinda? seperti memikirkan sesuatu Dinda" tanya Arya sambil menerima suapan dari Dinda.
"Tidak ada Tuan, aku tidak memikirkan apa-apa, aku hanya capek saja Tuan, ingin istirahat" keluh Dinda.
Mendengar keluhan Dinda membuat Arya merasa kasihan, ia pun langsung mengambil makanannya dari tangan Dinda.
"Sini biar aku makan sendiri saja Dinda, kamu istirahatlah, maafkan aku sudah merepotkanmu seharian ini"
"Tidak apa-apa Tuan, sudah tugasku merawat Tuan, Tuan kan suamiku, sini biar aku saja menyuapi Tuan"
Dinda berusaha mengambil piring Arya, namun Arya menjauhkan piringnya agar Dinda tidak mengambilnya
"Tidak usah, aku makan sendiri saja, cepat istirahatlah disampingku, biar aku habiskan sendiri"
"Tapi Tuan"
"Kamu pikir aku anak kecil yang harus disuapi saat makan hehehe"
"Hehehe,"
"Ya sudah cepatlah berbaring, selesai makan aku akan memperkosamu"
Saat mendengar kata perkosa tiba-tiba tawa Dinda langsung pecah, entah kapan terakhir kata itu ia katakan saat bersama Arya.
"Hahahaha Tuan ada-ada saja, kalau Tuan memperkosaku, aku takut brojol Tuan, perutku sudah sebesar ini masak masih main seperti itu"
"Tidak apa-apa yang aku dengar saat hamil besar bagus kalau melakukan itu, biar jalan lahirmu lancar"
"Ihhh tapi aku kok ngeri Tuan membayangkannya, sebaiknya tidak usah Tuan, nantilah kapan-kapan hihihi" kata Dinda terkikik sambil bergidik ngeri.
"Hahaha aku cuma bercanda, istirahatlah aku mau minum obat dulu" Arya meletakkan piring kosongnya di atas meja lalu mengambil obatnya untuk diminum.
Dindapun segera berbaring disamping, selesai minum obat, Arya berbaring disamping Dinda, lalu menatap Dinda.
"Dinda"
"Iya Tuan"
"Bisakah kamu memanggilku sayang"
"Haaa hmmm bagaimana yah, aku sudah terbiasa memanggil Tuan, jadi panggil Tuan saja yah"
"Tidak mau aku ingin mendengarmu memanggilku sayang Dinda, aku tak ingin mendengar kamu memanggilku Tuan, lagian kan mama juga sudah tahu kalau kamu istriku, jadi sekarang kamu bisa memanggilku dengan sebutan sayang atau mas"
tiba-tiba Dinda terdiam sejenak saat mendengar permintaan Arya yang menurutnya konyol, ia pun berusaha mengalihkan pembicaraan Arya.
"Hehehe Tuan ini sedang bercanda kan, nanti saja kita bicarakan itu Tuan"
Arya langsung meraih tangan Dinda lalu menatap Dinda dengan serius.
"Cepatlah Dinda, aku ingin mendengarnya"
Dengan terpaksa Dinda menelan ludahnya lalu mulai mencoba memanggil Arya dengan kata sayang.
"Sa.. yang" kata Dinda terbata-bata.
"Iya lagi sayang"
"Sayang" ucap Dinda.
"Terima kasih sayang aku mencintaimu" ucap Arya tersenyum lalu mengecup kening Dinda dengan lembut.
Setelah mengucap kata sayang akhirnya merekapun sama-sama terlelap.
***
Didalam kamar Siska duduk ditepi ranjang sambil melihat seluruh ruangan yang begitu sepi, perlahan ia membuka laci mejanya, mengambil sebuah album foto pernikahan bersama Arya, ia mulai membuka lembar demi lembar album fotonya mengingat akan masa lalunya.
"Tidak terasa 11 tahun lebih kita bersama mas, suka dan duka pernah kita lewati, meskipun pada akhirnya aku telah membuat kesalahan dengan memeksamu menikah bersama Dinda, tapi aku tidak punya jalan lain mas, karena aku sadari diriku yang tak mampu lagi menyempurnakan hidupmu karena penyakitku ini,"
Tanpa sadar air mata Siska jatuh membasahi album foto yang sedang ia pandangi, perlahan Siska membaringkan tubuhnya, sambil memeluk buku Album pernikahannya hingga akhirnya ia tertidur pulas.
Bersambung..
visual Ferdi si mata-mata Siska sekaligus yang pernah mencintai siska.
hahahay.. terima kasih buat reader yang sudah menebak-nebak pelakunya kemarin.. dan buat yang udah nuduh Ricko sama ibu Helena kasihan mereka gak tahu apa apa loh.. hehehe