warning!!
Pertengahan Bab untuk 18 ta hun keatas ya
Aurora Zanita, gadis berusia 18 tahun yang merupakan anak angkat dari keluarga Dirgantara. Ia adalah seorang yatim piatu yang bahkan tak pernah diketahuinya hingga dia dewasa.
Ia memiliki kekasih bernama Arvin Bagaskara yang sangat dicintainya. Namun ada satu fakta antara mereka yang belum terkuak.
Pertemuannya dengan pria sombong bernama Tristan Herdiansyah tanpa sengaja pun membuat hidupnya menjadi semakin porak poranda.
"Jadilah pacarku," ucap Tristan.
"Kau gila? Aku sudah memiliki kekasih," jawab Aurora.
"Aku tidak peduli, aku butuh kamu sebagai pacar kontrakku," ucap Tristan lagi tak mempedulikan penolakan Aurora.
Berawal dari pacar kontrak paksa hingga nikah paksa.
Kenapa sih Aurora mau aja dipaksa sama Tristan?
Apakah Arvin benar-benar akan meninggalkan Aurora?
dan rahasia apa yang belum terkuak?
yuk baca kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu Tristan nekat datang ke rumah Aurora. Setelah bertanya dengan ayahnya rumah Pak Harun, teman lama sang ayah.
Saat ini masih pukul 06.30 pagi, dan Tristan sudah duduk manis di meja makan rumah Aurora.
Karena ia adalah anak Arya, teman lama Harun, maka dia dengan mudah beradaptasi dengan keluarga Aurora, bahkan untuk sarapan pagi bersama.
"Kamu kesini mau menjemput Aurora Tris?" tanya Harun disela sarapannya.
"Iya om, kebetulan kan kita satu kampus," jawab Tristan tersenyum.
Aurora yang saat ini duduk di hadapan Tristan itu pun merasa kesal. Bisa-bisanya Tristan muncul di pagi hari cerahnya.
Tau darimana dia kalau Arvin lagi tak bisa menjemput, karena beda jam kuliah dengannya.
"Wah om senang kalau kalian sudah dekat seperti ini, lumayan kan ada yang bantu jaga Aurora kalau di kampus," ucap Harun dengan tersenyum menatap Tristan dan Aurora secara bergantian.
"Siap om, aku akan jaga Aurora dengan segenap jiwa raga," sahut Tristan lalu menatap Aurora.
Aurora merasa mood makannya menjadi buruk, ia meletakkan roti tawar yang telah diisi selai olehnya. Mata nya tertuju pada Tristan yang dengan santainya melahap roti berbalut selai.
"Kamu gak sarapan sayang?" tanya Risa heran melihat Aurora tak seperti biasanya.
"Aku gak berselera ma," sahutnya masih dengan menatap Tristan.
Tristan yang sadar dengan tatapan tak bersahabat Aurora pun akhirnya membuka suara.
"Aurora sepertinya mau makan di luar Tante, Om, kalau begitu apakah boleh kami permisi dahulu?" tanya nya begitu sopan.
"Cih," Aurora mencibir melihat sikap Tristan yang jauh berbeda ketika bersamanya.
"Oh, silahkan Tristan, Om titip Aurora ya," jawab Harun ramah. Ia tak mengetahui jika hubungan Aurora dan Tristan tidaklah sebaik yang terlihat.
Tristan pun berdiri dari kursinya lalu berjalan menghampiri Aurora.
"Yuk Ra, kamu kan mau cari sarapan," ucapnya mengajak Aurora beranjak dari duduknya.
Aurora sebenarnya sangat malas berangkat bersama manusia rimba seperti Tristan, tapi daripada sikapnya yang ogah-ogahan itu mengundang pertanyaan dari orang tuanya, lebih baik ia menuruti saja kemauan Tristan.
Aurora melangkah beriringan dengan Tristan, tak lupa ia pun pamit dengan ayah dan ibunya kemudian masuk ke mobil Tristan.
Mobil itu pun mulai melaju meninggalkan rumah Aurora.
Di dalam mobil, Aurora hanya terdiam menahan rasa kesalnya. Tristan yang melihat Aurora seperti itu pun acuh tak acuh. Baginya saat ini Aurora harus menyetujui dirinya untuk menjadi pacar kontraknya.
Demi sang opa yang saat ini kesehatannya tengah menurun. Apalagi ia berjanji kepada opa nya untuk segera membawa Aurora bertemu.
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Tristan dalam perjalanan itu.
"Aku gak lapar," sahut Aurora judes.
"Oke, terserah kamu," jawab Tristan tak peduli.
Aurora menoleh ke Tristan. Bisa-bisanya Tristan bersikap acuh seperti ini, padahal dia yang membawa Aurora pergi dari rumahnya.
"Dasar manusia rubah," gumamnya namun masih terdengar oleh Tristan.
"Apa kamu bilang? Rubah?"
"Ya, di depan orang tuaku kamu bersikap sangat baik dan begitu ramah, tapi hanya ketika bersamaku saja, kamu bersikap acuh tak acuh!"
"Kamu mau aku bersikap bagaimana Aurora? Kau mau aku memaksamu membeli sarapan padahal kamu tadi bilang tak ingin?"
"Sudahlah lupakan, kamu ngapain datang ke rumah ku pagi-bagi banget?"
"Aku menjemput pacarku, kenapa?"
"Apa kamu bilang? Siapa yang kamu sebut pacar itu?"
"Siapa lagi? Kamu lah, Nona Aurora Zanita," jawab Tristan puas.
"Maaf ya Tuan Tristan yang terhormat, pacar saya hanya Arvin Bagaskara," sahut Aurora kesal.
"Terserah apa katamu Aurora, aku tak membutuhkan persetujuan mu," ucap Tristan mulai mengintimidasi.
"Kamu pikir aku ini apa? Peliharaan kamu? Enak aja," ucap Aurora meninggikan suaranya.
"Siapa bilang barang? Kamu pacarku kan? Walau cuma kontrak."
"Aku gak mau kan? Bukannya aku udah bilang berkali-kali kalau aku tidak menyetujui ini?"
"Kamu harus setuju Aurora, kamu gak punya pilihan lain."
"Cukup ya Tristan, dari awal kita bertemu, kamu selalu mengintimidasi aku. Aku hanya punya kekasih yang bernama Arvin, bukan Tristan atau siapapun. Jadi gak mungkin aku meninggalkan Arvin lalu berpacaran kontrak bersama kamu. Jangan konyol."
"Kamu lupa kemarin apa yang aku bilang?"
Memangnya apa yang dia bilang? Aurora sepertinya melupakan sesuatu. Ia menoleh ke arah Tristan.
"Aku bilang, aku akan buat dia sendiri yang meninggalkan kamu nona," ucap Tristan seolah mengingatkan Aurora.
"Dasar gila kamu Tristan, aku pringatkan ya jangan pernah kamu bawa-bawa Arvin dalam masalah kita," ancam Aurora.
"Hahahaha, apa? Dia memang sumber dari masalah kita kan Ra? Kamu lupa?"
"Tapi yang tak kamu sukai itu adalah sikapku Tristan, bukan dia. Jadi aku peringatkan sama kamu, jangan pernah menyakiti Arvin!" sahut Aurora tegas.
"Semua itu tergantung bagaimana sikap kamu nona," sahut Tristan lalu mengehentikan mobilnya.
"Hanya kontrak, tak lebih dari 16 bulan," ucap Tristan lagi lalu menghadap Aurora.
Aurora tercekat dengan perlakuan Tristan yang secara tiba-tiba. Tristan mendekati Aurora hingga jaraknya begitu dekat, lalu menundukkan kepalanya di depan Aurora.
Tristan membuka seatbelt Aurora lalu kembali ke tempat duduknya.
"Turun, beli sarapan bubur yang ada di luar."
Aurora melihat luar jendela, terlihat kedai bubur ayam yang tak jauh dari mobil Tristan saat ini.
"Huh aku pikir, dia mau macam-macam," ujarnya dalam hati lalu keluar dari mobil Tristan.
Setelah membeli bubur ayam ia kembali masuk ke dalam mobil. Tanpa banyak bicara Tristan menjalankan kembali mobilnya menuju kampus.
Setibanya di kampus, Tristan menurunkan Aurora di depan gedung fakultas begitu saja. Tanpa sepatah kata pun Tristan melajukan mobilnya menuju parkiran.
"Dasar manusia sinting!" Geram Aurora lalu berjalan menuju tempat ospeknya.
Aurora menyantap bubur yang tadi dibelinya seorang diri. Hari ini karena ulah Tristan, ia menjadi datang lebih awal sehingga kampusnya masih sangat sepi.
Tristan yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya pun melintas di depan Aurora. Ia melihat gadis itu sedang makan bubur ayam yang tadi dibelinya.
"Makanlah yang banyak Aurora, karena sebentar lagi tenagamu akan terkuras habis," ucapnya dalam hati dengan tersenyum misterius.
Belum hilang rasanya dendam di hati Tristan karena perlakuan Aurora kepadanya. Tapi melihatnya makan sendiri seperti itu kenapa dia merasa kasihan?
Ah sudahlah, Tristan tak mau ambil pusing dengan hal seperti itu. Ia berjalan ke ruang kesayangannya untuk menyusun strategi selanjutnya dalam penyerangannya terhadap Aurora.
Ya, masih tentang bagaimana membuat Aurora bertekuk lutut kepadanya dan tidak menganggap remeh dirinya.
"Kamu harus tahu siapa yang sedang kamu hadapi saat ini nona Aurora," ucap Tristan dalam hatinya.
apa mau minta maaf atau makin mengzolimi aurora?
sesayang itu dia sama Aurora
padahal dia tau bahwa aurora sangat membenci nya
mana mau aurora klu bgtu.
dia sangat membenci mu sampai di tulang tulang nya😅
meski kesal sama tristan tapi tetap harus sopan dgn senior nya.
di tambah lagi dgn kesombongan nya. makin ngak suka. kan kasian tristan berasa ngak di hargai sama yunior nya
tapi semoga sifat itu hanya saat di hadapan tristan ajah.
apa tristan akan menjahati aurora atau malah jatuh cinta ?
apa akan jadi orang ketiga antara arvin dan aurora?
tapi seperti nya bagus cerita nya
semangat thor