Teruntuk kau yang terlambat mengatakan cinta.
Aku di sini, di tempat tanda cinta berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurwahidah Bi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8: Jin Hee Clue (2)
"Tempat yang selalu ingin kudatangi?" gumam Min Joon sesaat setelah mengingat cerita dari teman Jin Hee itu.
"Tempat apa itu? Danau? Tidak! Aku sering ke sana," gumamnya lagi terus menerka, bahkan saat tengah memposisikan tubuhnya pada posisi ternyaman pun Min Joon Masih terus berpikir sampai akhirnya dia tertidur pulas.
***
28 Maret 2013.
Min Joon terbangun saat langit masih gelap, ia membuka tirai jendela dan menatap lelah ke arah luar. Setahun ini Min Joon punya hobi baru yaitu menatap jendela di manapun berada, berharap seseorang yang dinanti akan menyapanya.
Dia teringat kotak emas dan segera membukanya, dia mencoba kembali tanggalan yang diberitahukan Ji Yeon. Namun sayang, tak satupun sandi yang cocok dengan kunci itu.
Ia merenung sejenak, memikirkan apa mungkin Jin Hee tengah meninggalkan sebuah pesan rahasia dan mencoba memintanya untuk memecahkan teka-teki ini. Iseng, Min Joon mencoba menghubungi Ji Yeon. Namun, yang didapatinya hanya kabar bahwa ibu satu anak itu mulai kembali bekerja dan sedang sibuk.
***
Min Joon turun dengan terburu-buru karena harus pergi bekerja, 6 bulan yang lalu dia kembali ke perusahaan ayahnya dan membuat perjanjian setan. 'Min Joon akan kembali ke rumah orang tuanya, asalkan sang ayah memberi akses penuh padanya untuk mencari Jin Hee yang hilang ditelan bumi.'
"Kau sudah bersiap-siap nak?" Wanita paruh baya berpakaian santai menyambut Min Joon.
"Ya, di mana Ayah?" ucap Min Joon sambil menoleh ke meja makan.
"Dia menginap di kantor, katanya ada pertemuan dengan klien pagi-pagi sekali. Kalian berdua ini sama saja. Kau juga menjadi seperti ayahmu? Ke mana saja kau jika tidak pulang ke rumah. Min Joon, ayahmu bilang kemarin kau tidak pergi bekerja?"
"Hah, aku bertanya tentang ayah. Tapi, jawaban ibu panjang sekali. Aku ada urusan penting!" singkatnya duduk di depan meja.
"Makanlah," pinta ibunya sembari memberikan roti yang telah diolesi selai kacang kesukaannya.
***
Saat di kantor, Min Joon tidak bisa berkonsentrasi, dia terlihat cukup gusar. Tak tahan, Min Joon meninggalkan ruangan untuk melihat rekan-rekannya.
Dari kejauhan gadis ber-lipstick tebal tampak menunggu di depan mesin fax. Jemarinya perlahan mengetuk meja kerja, seolah tak sabar menunggu.
"Kau sedang apa?" tanya Min Joon menyapa.
"Kau tidak lihat bos? Aku sedang bekerja."
"Jika kau punya sebuah brankas apa kemungkinan yang akan kau jadikan kata sandinya?" tanya Min Joon tiba-tiba.
"Aku?" tanya Hyu Ri terdiam. "Jika itu aku ... aku tidak akan memberitahukannya kepadamu!" ucapnya serius dan tetap melakukan pekerjaannya.
"Ya, kau benar!" Min Joon menciptakan retakan manis di dahinya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Jika itu adalah aku, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu."
"Hah ... Park Min Joon!" ucap Hyu Ri tampak bodoh yang disambut dengan tawa Min Joon. Min Joon terdiam memperhatikan lembaran kertas yang keluar dari mesin Fax.
"Apa perusahaan ini selalu menerima dana investasi asing?" tanya Min Joon terlihat bersungguh-sungguh.
"Iya, sejauh yang aku tahu. Perusahaan kita sudah membuka beberapa mal cabang di beberapa Negara," terang Hyu Ri menanggapi pertanyaan Min Joon.
"Ada berapa Negara yang bekerja sama dengan perusahaan?"
"Ada banyak, tetapi investor tetap kita ada 5. Kenapa?" tanya Hyu Ri melihat Min Joon.
"Sebutkan!" perintahnya.
"Jepang, China, Thailand, Indonesia dan Italia. Kenapa?"
"Jepang, China, Thailand, Indonesia dan Italia?" Min Joon mengulangi ucapan Hyu Ri.
"Ada yang salah? Sepertinya akhir-akhir ini kau mulai bekerja dengan serius? Dalam semua hal." Hyu Ri memandang Min Joon yang terpaku.
Hening. Tak ada jawaban, hanya bunyi mesin fotokopi yang terdengar dari luar ruangan kaca yang menemani keduanya. Min Joon mendadak jadi patung lagi. Kebiasaan buruknya itu sudah jelas. Hyu Ri tahu pasti apa yang dibayangkan pria aneh ini.
"Indonesia, ibunya pernah bekerja di sana. Italia, ayahku juga pernah ada di sana. Mungkin 'kah?"
"Mungkin 'kah?" Hyu Ri mengejar ungkapan menggantung yang keluar dari mulutnya.
"Bahkan semua hal kecil yang aku jumpai bisa membuatku begitu merindukannya. Hal-hal kecil itu membuatku mengingat semua kenangan tentangnya."
"Astaga! Aku pikir, kau sedang membahas pekerjaan? Ternyata tentang-nya!"
"Maaf sudah mengganggu kerjamu Nona Lee!"
"Apa kau begitu mencintainya?" sela Hyu Ri dengan pandangan mata yang awas.
"Aku tidak tahu apa ini cinta atau sebuah rasa bersalah?"
"Mungkin sebaiknya kau harus serius mencarinya, selama ini kau terlihat tidak serius. Meskipun kau hidup dalam bayangannya, tapi kau meletakkan bayangannya di balik bayanganmu sendiri!" ungkap Hyu Ri menenangkan.
"Meletakkan bayangannya di balik bayanganku?" Min Joon mengulangi pernyataan Hyu Ri.
"Iya, maksudku. Selama ini kau sempat mengabaikannya dan baru mulai mencari selama setahun ini. Hey, kau ke mana saja? Jika aku jadi Jin Hee, aku tidak akan menunggumu!" ungkapnya pergi meninggalkan Min Joon.
Min Joon merasa sesuatu langsung mengganjal perutnya. Bagaimana bisa seorang Lee Hyu Ri, gadis teraneh yang pernah ditemuinya mengungkapkan hal masuk akal seperti itu?
Gadis yang selama ini selalu membuat pacarnya curhat tentang kelakuan buruknya saat makan malam pegawai. Gadis yang ... ah sudah 'lah ... sepertinya salah satu kabel di kepalanya akhirnya punya aliran statis yang normal.
Fokusnya adalah membuka kotak, itu tujuannya. Benar, Min Joon harus memulai dari hal kecil sebelum melakukan hal besar.
***
29 Maret 2013.
Kali ini, untuk kedua kalinya dalam seminggu Min Joon pergi untuk menemui Ji Yeon lagi dan membawa kotak itu bersamanya. Min Joon ingin memastikan apa sebenarnya kata sandi yang pas untuk membuka kotak emas itu.
Setibanya di tempat Ji Yeon, rumahnya tampak sepi, tidak ada tanda-tanda bahwa penghuni sedang berada di rumah. Min Joon pun memutuskan untuk menghubungi Ji Yeon.
"Ji Yeon? Apa kau sedang tidak berada di rumah?" tanya Min Joon, "aku di depan rumahmu! Sekarang sedang memencet bel."
"Aku sedang bekerja! Apa kau perlu sesuatu?"
"Kau kembali ke restoran?" tanya Min Joon. Suara Ji Yeon terdengar samar, hanya suara riuh yang mampu ditangkapnya.
"Min Joon? Min Joon, ada banyak
"Tidak. Lanjutkan saja pekerjaanmu! Maaf sudah mengganggu," ucapnya menutup telepon. Min Joon terdiam di depan rumah Ji Yeon dia menatap jalanan yang mulai panas itu, tanpa berlama-lama lagi Min Joon lekas masuk ke mobil dan pulang ke rumahnya.
***
Di kamar besarnya, Min Joon duduk merenungkan apa kiranya kata sandi yang pas bagi kotak itu. Iseng, Min Joon mencoba angka '1202' dan tak disangka kotak emas itupun terbuka. Angka itu adalah gabungan tanggal lahir ibu dan ayah Jin Hee. Dengan sabar dan hati-hati Min Joon membuka penutup kotak itu perlahan-lahan dan menemukan beberapa barang milik Jin Hee.
***
Bersambung
cerita yg menarik karena kekuatannya ada pada kata2 yg indah