NovelToon NovelToon
Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Tamat
Popularitas:18.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fatisya

non.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatisya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketenangan Sebelum Badai

Malam harinya.

Apartemen Arindi, pukul 9 malam.

Arindi sedang duduk menatap kanvas kosong didepannya, palet di tangan kirinya masih bersih, ia ingin melukis sesuatu tapi ia belum punya ide apapun. Padahal itu tugas yang harus ia selesaikan untuk lusa.

Ia pun berganti menatap langit malam yang ditaburi ribuan bintang melalui dinding apartemen yang terbuat dari kaca yang ada dihadapannya sekarang. Dinding kaca itu sangatlah lebar, yang menjadikan salah satu alasan ia memilih lantai paling atas di gedung ini untuk ditinggali, sudut ruangan ini adalah tempat favoritnya untuk menuangkan semua ide dan imajinasinya. Ia bisa duduk berlama-lama disana hingga langit berganti dari terang menjadi gelap.

Itu juga yang menjadi alasan ia tetap menerima taruhan sahabatnya yang tak masuk akal, karena ia tak ingin menukar lantai apartemennya dengan lantai milik sahabatnya meski hanya satu hari pun.

Arindi masih menatap langit dalam diam, ia merasakan kesunyian akan ide ide meskipun dibelakangnya, Nadine dan Rasya sibuk dan heboh membicarakan dirinya.

"Jadi gimana sih Nad, ceritain dong, gue penasaran, gimana bisa mereka akhirnya jadi sama-sama," ujar Rasya.

"Jadi gini Sya...."

Pembicaraan kedua sahabatnya ini membuat Arindi semakin sulit untuk berkonsentrasi, lebih lagi suara nyaring Rasya yang memekikkan telinga setiap membicarakan nama Tristan. Nama itu sendiri sudah cukup mengganggu di telinga Arindi.

"Kalian bedua ga punya kerjaan? Gue ga bisa fokus sekarang...," ujar Arindi santai sambil menatap keluar.

"Sini deh Rin, cerita ke gue, gue dah bela-belain pulang cepet, nutup studio buru-buru...," tambah Rasya.

"5 ... Pulang ga?" Arindi menelengkan kepala ke arah sahabatnya sambil memberi tatapan tajam.

"Sal... yuk Sya buruan cabut, leher gue masih sakit karena yang tadi, lagian besok kita ada kelas pagi kan...." Nadine tiba-tiba berdiri dan berusaha kabur saat Arindi mulai menghitung mundur, ia tidak ingin menjadi sasaran empuk kemarahan Arindi lagi.

"Tapi Nad...." Rasya masih mencoba bertahan.

"4 ...." Arindi mulai berdiri dan melemaskan otot tangannya.

Rasya dan Nadine buru-buru keluar apartemen Arindi, bahkan mereka menjinjing alas kaki mereka karena takutnya. Arindi pernah belajar karate meskipun tak sampai ke sabuk hitam, tapi ia sungguh gesit, itulah kenapa sahabatnya buru-buru kabur saat Arindi sudah berdiri.

Berhari-hari bersama Tristan sudah membuatnya menanggung banyak rasa malu, membuatnya semakin emosi jika terus dibicarakan.

...----------------...

Kediaman Rendy, pukul 9 malam.

Bruuumm!

Sebuah motor sport baru saja di parkir di halaman rumah Rendy. Sosok pria dengan tubuh tinggi dan atletis yang hanya mengenakan kaos putih berlengan pendek membuat siluet otot tangan dan dada bidang itu terpampang nyata. Pria itu turun dari motor dan mendekat ke gazebo kecil yang ada di halaman rumah.

Didalam gazebo, Rendi sedang memetik gitarnya dan Joe sedang bermain game di hp-nya. Rendi menyapa pria yang baru datang itu.

"Dateng juga lu Tan... lama amat ditungguin," sapa Rendy.

"Sori gue baru selesai mandi," ujar Tristan.

"Hah? Abis ngapain aja lu? Mandi malem-malem, lu ga abis yang aneh-aneh kan?" tanya Rendy mencurigai sesuatu.

"Sialan lu, aneh-aneh apaan?"

"Aneh-aneh? Emang kenapa sih?" Joe masih belum tahu.

"Ini si Tristan seharian abis berduaan sama cewe, tiba-tiba pulang-pulang malem ... mandi," jelas Rendy.

"Lu ngedate sama si Celyn?" tanya Joe kemudian.

"Apaan sih, ngaco banget," jawab Tristan.

"Celyn? Celyn mah udah lewat kali, bukan Celyn ini tu A Rin Di," terang Joe lagi.

"Apa?" Joe menoleh tak percaya.

"Siapa yang ngedate sih?" jawab Tristan lemah.

"Jadi... serius lu jalan ma Arindi? Arindi yang itu kan, yang waktu itu kan?" Joe masih tak percaya.

"Emang ada Arindi yang lain?" tanya Rendy.

"Wuaahh Tan, lu nikung gue Tan?" tanya Joe kemudian.

"Kenapa? Lu juga suka sama dia Joe?" ujar Rendy.

Joe mengangguk sambil senyum-senyum.

"Udah ah ga usah dibahas, gue ga ada apa apa kok," terang Tristan.

"Ga ada apa apa gimana?" ujar Joe lagi.

Akhirnya Rendi menceritakan kronologisnya bagaimana Tristan bisa sama Arindi seharian ini.

"Wuah ternyata gini rasanya ditikung sahabat sendiri," Joe berpura pura sedih.

"Halah gaya lu, emang lu udah usaha apa sampe merasa ditikung? Udah Joe lu kan dah punya cewe juga," jawab Rendy.

"Yaahh iya sih... tapi kan tetep aja...."

"Udah ga usah di bahas... pinjem gitar lu." Tristan pun tak memperdulikan pendapat kedua sahabatnya tentang Arindi. Ia hanya ingin menenangkan dirinya, entah kenapa wajah gadis itu terbayang jelas di ingatannya, membuat ia gelisah tanpa sebab. Ia pun mulai memetik gitar yang ada di pelukannya.

"Eh Joe tapi elu tau ga sih rumor tentang Arindi dan sahabatnya?" tanya Rendy kemudian.

"Rumor apaan Ren?"

"Jadi gini Joe...."

Rendi pun mulai menceritakan ke Joe tentang keempat sahabat itu. Tristan masih terus memetik gitar, ia terkesan tak perduli tapi telinganya mendengar dengan jelas setiap detail cerita.

"Serius mereka gitu?" jerit Joe.

Rendy hanya mengangguk mengiyakan.

"Kalo yang lu bilang bener, apa mungkin dia ke BEM itu juga ada alasan lainnya?" Joe mulai serius.

"Bener, pasti ada alasan kenapa seorang Arindi mau susah payah masuk ke BEM," jelas Rendy.

"Apa juga karena taruhan?" selidik Joe.

"Yup, jelas gitu lah."

"Heeemmmm, berani juga mereka. Dan kalo memang bener karena taruhan, berarti objek taruhan mereka ...."

Joe mulai menalarkan kejadian, yang akhirnya ia bisa mendapat jawaban pertanyaannya sendiri setelah berpikir. Seolah pikiran mereka bisa berkomunikasi, Joe dan Rendi menatap ke arah Tristan bersamaan. Tristan yang merasa di tatap kedua sahabatnya ini lalu menatap dingin ke arah mereka berdua.

"Maksud lo bedua apa? Sakit lu bedua!" ujar Tristan yang merasa dilihatin.

"Tan, gue ga akan bilang gini kalo gue ga tahu siapa mereka, sejak awal gue udah ngerasa ada yang aneh, terbukti kejadian kemaren. Lu nyadar ga bisa-bisanya Arindi ada di sirkuit dan berakhir sama lu? Kebetulan? Kebetulan yang disengaja, ya kan Joe?" cerocos Rendy panjang lebar.

"Gue setuju pendapat Rendy. Kalo lu ga percaya, ntar lu buktiin sendiri, lu bakal terlibat terus sama dia kalo emang itu bener seperti kata Rendy," tambah Joe.

"Ga usah menyimpulkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya," bantah Tristan.

"Ok deh Tan, sebagai sahabat gue udah ingetin elu. Jangan sampe lu jadi korban juga, korban perasaan. Hahahaha."

"Satu-satunya makhluk yang mengerikan di dunia ini adalah wanita, karena mereka ga pernah salah," tambah Joe pula.

"Hahaha bener, lagian ini tuh Tristan... si manusia berhati baja... wkwkwkwk... Mau bidadari yang turun dari langit dia ga bakal membuka hatinya," ejek Rendy.

"No no no, tapi kenapa sekali ini gue bisa yakin lu salah Ren, gue yakin Tristan bakal bertekuk lutut di hadapan Arindi."

"Pa an lu bedua?" Tristan mulai jengah.

"Serius gue Tan, feeling gue bener kali ini," tambah Joe.

"Sok sok an pake feeling lo Joe," tawa Rendy.

"Serius gue Ren? Mau taruhan?"

"Ok, gimana kalo gue bener?"

"Nih kunci motor gue, dan kalo gue bener lu yang bakal keilangan motor lu," ujar Joe.

"Ssetuju," jawab Rendy.

"Kenapa sih, dia bukan barang...," jawab Tristan.

"Woaaah dia marah, bela aja terus bang pacarnya." Joe menggoda Tristan.

Joe dan Rendi terus menertawakan Tristan, hingga akhirnya ia pun pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang ribut dibelakangnya. Dia berpikir dengan menemui sahabatnya, cerita soal Arindi akan menguap ditelan kesunyian malam, tapi sebaliknya ia terus teringat akan gadis itu malam ini.

...----------------...

Rumah Celyn, pukul 9 malam.

Celyn memandang penuh murka pada layar hp-nya. Bibirnya bergetar menahan amarah, giginya bergemerutuk menahan emosi. Ia tak bisa tenang dan terus gelisah ketika membuka pesan obrolan pribadi yang dia dapat dari seseorang yang yang tak ia kenal, seseorang yang bahkan tak mencantumkan foto pada profilenya.

Tangannya terus men-scroll tampilan layar di hp-nya. Ada berpuluh- puluh foto Tristan bersama Arindi disana. Foto yang diambil dengan angle yang tepat sehingga tampak bahwa dua orang difoto tersebut sangat intim, foto yang mengandung provokasi yang diedit sedemikian rupa hingga menimbulkan kesalahpahaman, Celyn pun hanya menelan mentah-mentah tanpa mengklarifikasi kebenarannya.

"Dasar wanita ******!"

"#£####""*"****&#(*()#*@(((£?#"

Semua umpatan kasar keluar begitu saja dari mulutnya sambil setengah menjerit. Dipikirannya hanya membayangkan Tristan yang sedang berbicara dengan mesra kepada Arindi.

"Lu cewe yang waktu itu kan?"

"Dasar sialaaaaaaaaannn...."

"Engga.... Lu ga akan pernah dapetin Tristan."

"Tristan itu milik gue, punya gue... Selamanya cuma untuk gueeee...."

"Tunggu pembalasan gue *"£"*£***"#####&...."

Malam itu angin badai mulai bertiup. Tak kencang tapi juga tak pelan, tak berbahaya tapi juga tak akan berhenti, tak akan menggerakkan dahan pohon tapi juga tak akan membiarkan malam menjadi sunyi.

Pertanda bahwa badai besar akan segera datang.

1
Fatisya
semangat diriku
Slow ego
👌..... oke
kimraina
Yah kok tamat 😿
kimraina: Ama2 kakak imut 😻
total 4 replies
kimraina
Anggara 10 hati ga tuh 😹
kimraina: Wkwkwk 😆
total 4 replies
ig@aya_yaww
Aku mampir kak
Fatisya: iyya terima kasih ya
total 1 replies
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
valid sih ini
Fatisya: true 👍👍👍👍
total 1 replies
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
tokohnya belike: inginku berkata kasar, tapi authornya udah main nyensorr duluann 🤣
Fatisya: sebelum di sensor NT kak...😁😁🤭
total 1 replies
Mincek
good thor👍
kimraina
So sweet jd pengen meluk authornya eh salah meluk Kak Anggara maksudnya 😆
kimraina: Semangat jg ka 💪😻
total 4 replies
kimraina
Ini senengnya klo py kakak laki2 . . Merasa selalu terlindungi . . Ky kakak aku . .Tp Tergantung kakaknya juga sih 😆
Fatisya: 😁😁😁
mau mau...🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Author DELILAH
restu pun datang
Author DELILAH: ahsek.. ditunggu restu ortu
total 2 replies
Neonnorey
kak aku dah baca, sampe sini dulu ya, bagus ceritannya mampir jg ke novelku ya kak, ketika kakakku menyentuhku trimakasih
Fatisya: baiklah
mksih ya
total 2 replies
Neonnorey
iklan meluncurr
kimraina
Iya ka . . Jgn percaya sebelum cari tau yg bener 😹
Fatisya: bener... 👍👍👍
total 1 replies
Slow ego
ya dah sampek sni dlu thor. lumayan lah buat bacaan. 👌👍
Slow ego
empat sekawan cewek.. 👏
kimraina
Di goreng ga di oven aja 😹
kimraina: 😆 Semangat ka 💪😘
total 2 replies
kimraina
Mungkin ini sebabnya muncul pribahasa diam itu emas 😹
Fatisya: iya kak bisa jadi ya...
🤣🤣
total 1 replies
kimraina
Aduuh kacau deh 😿 kasian Ka Tristan ngdenger ini semua 😿 puk puk online
kimraina: Betul ka . . Tendang ke bulan aja ka klo nemu kaya gtu 😹
total 6 replies
semangat Tohor,
Fatisya: ok nuraya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!