kehilangan seorang istri membuat Erlangga kembali lagi menjadi gunung es . Kekejamannya kembali semula
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhayati 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 09
Esok harinya
" eummmm,,,"
Leguhan bangun tidur terdengar sangat malas .
Kedua matanya terbuka Ia seperti orang linglung , " Tadi malam itu nyata atau hanya mimpi ya ." gumam Nerin .
Masih memikirkan kejadian semalam .
Tapi mengapa dirinya bisa tidur di sofa , seingatnya dirinya sedang berada di balkon .
Jika benar bukan kah dirinya mengungkapkan perasaannya , yang telah mengganjal .
" Ahhh ... masa bodo lah ." Pikirnya tak ambil pusing . Lagi pula jika benar itu nyata , lebih baguskan . Senyum kecil menghiasi wajah cantik wannita satu anak itu .
Lalu beranjak dari kursi sofa tidak jauh dari ranjang brangkar sang putra .
Terlihat bocah itu masih tidur dengan damai .
Sedangkan Sus Rani entah pergi kemana .
Setelah beberapa saat wanita itu pun kelur dari kamar mandi , berjalan ke sisi lemari .
Mengambil mukena serta sajadah .
Di sisi lain
" Bagaimana penyelidikan kali ini ?" tanya Erlangga Ketika mendapati Deni yang masuk ke dalam ruang kerjaanya .
Deni Pria itu membawa tentengan yang berisi makan .
Masih pukul 06.00 pria itu sudah berada di perusahan . Bukan kah terlalu pagi .
" Ternyata benar wanita tua itu Adalah dalang penyebab Nona pergi . Lebih mengejutkan lagi pelayan Bima dia juga ikut dalam rencana itu . " Kata Deni , sembari menyiapkan hidangan sarapan yang di bawa tadi .
Erlangga terdiam siap mendengar fakta bahwa orang terdekatnya . Adalah penyebab sang istri pergi meninggalkanya .
Namun dia juga tidak sepenuhnya percaya .
Tak terasa ujung bibinya tersungging , Dia baru saja mendapatkan pernyataan yang pahit . Bukan kah tersenyum adalah cara dia untuk menghilangkan kekecewaan .
" kau korek semua . Aku pikir Bima hanya mengikuti rencana itu ." Kata Erlangga tak ambil pusing .
Yang terpenting dirinya bisa menjaga sang istri , walau dari arah jauh .
" Baik Tuan ... "
" Oh iya . Apa Nona mengetahui , jika tuan lah yang telah memindahkan ruang rawat Tuan kecil ?" tanya Deni penasaran
Erlangga meletakan pena , duduk dengan tenang menjawab degan ragu " ku rasa tidak ." Hanya jawaban itu yang keluar dari bibirnya .
Deni tak bertanya lagi hanya mengangguk .
" Kelvin kemarin berkata dengan ku . Dia ingin sekali datang ke mansion ." Kata Deni sembari menyuapkan Roti ke mulutnya .
" Aku sedang sibuk . Kenapa kau tidak menolak . bocah itu benar benar ." jawab Erlangga dingin
Pintu ruanganya terbuka lagi menampilkan seorang Pria .
Deni mengerutkan kening , tumben sekali tidak mengetuk pintu .
" Tumben sekali kau tidak sopan ." sindir Deni
" Hah ..." Aldi mendengus semari memutar matanya jengah , kesal sekali jika bertemu dengan pria konyol bernama Deni selalu saja menyindir dirinya . " Tentu saja . Ini belum jam kerja . Aku ingin sarapan bersama kalian ."
" Kau bawa makan apa itu ." Kata Deni merebut peper bag yang di bawa Aldi
" Hanya bubur dan Roti . " Aldi menuju sisi meja yang tak jauh dari mereka . " Tuan mau kopi ? " Tanya Aldi dia mengambil sebuh cangkir di dalam lemari
" Aku sekalian ." sela Deni
Aldi tak menjawab tapi ia tetap membuatkan kopi untuk Deni .
" Apa Tuan akan tetap membiarkan wanita Tua itu dengan bebas ? tanya Aldi tiba tiba .
Duduk di sisi Deni lalu meletakan Nampan .
...****************...
Sing harinya
" Dok permisi . boleh kah saya berbicara dengan anda ? ini sangat penting ." kata Nerin .
Pria itu mengerutkan keningnya , Tetapi ia mengangguk setuju .
" Sus sudah selesaikan . Saya pergi dulu . " kata Dokter Ridwan .
" iya Dok . " jawab suster tersebut .
Dokter Ridwan mengikuti langkah sang wanita .
" Ner keruang saya saja . " Kata Ridwan
Nerin mengangguk , kini gantian Nerin lah yang mengikuti langkah kaki Dokter Ridwan .
Ridwan mengimbangi langkah kaki sang wanita .
Nerin tersenyum ramah .
" silahkan Ner ." kata Dokter Ridwan , mempersilahkan Nerin masuk kerunganya . Ruanganya cukup bangus karena Ridwan adalah sudara sepupu Erlangga .
Anak bibi dari Sang ibu . Hanya saja Erlangga dia tidak terlalu dekat dengan keluarga sang ibu .
" Trima kasih Dok ." jawan Nerin tersenyum ramah .
" Mau minum apa . Biar aku pesan untuk mu . Sekalian kamu sudah makan siang ? Ah ... iya aku lupa . sudah aku katakan tidak perlu memanggilku formal . " Kata Ridwan sembari mengetik sebuah pesan singkat .
" huff .." Nerin menghembuskan nafas panjang . " Aku tidak bisa , lagi pula ini kan Masih di rumah sakit . Ku rasa tidak sopan . "
Ridwan hanya Mengangguk mengerti
Nerin mengeluarkan sebuah amplop coklat , " Aku hanya mempunyai uang sedikit . Kekuranganya aku akan mencicinya ." Kata Nerin .
Ridwan jelas bingung saat ia akan menjawab ucapanya , Seseorang telah mengetuk pintu .
masuk
" Permisi dok . Ini pesaanan ada ." Kata Suster masuk ke dalam ruangan itu lalu menyerahkan kantong plastik berisi Makanan .
" Trima kasih sus ." kata Ridwan sembari tersenyum .
" sama sama Dok . " Jawab Suster tersebut .
Sembari melirik sengit wanita yang sedang duduk .
Nerin melihat suster itu mengerutkan keningnya . Memang apa salahnya .
Usai suster itu kelur , Nerin pun berkata " suster tadi menyukai Dokter ."
" Kau ini ." Ridwan menggeleng mendengar perkataan dari sang wanita .
Dengan orang lain saja peka kenapa tidak dengan dirinya pikir Ridwan .
Bersambung