NovelToon NovelToon
Istri Simpanan

Istri Simpanan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:79.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nety purbasari

Sania adalah seorang gadis cantik yang kaya. karena kekayaan keluarganya Sania menjadi sombong, Ia suka menghina dan meremehkan orang lain. Orang yang paling sering ia hina adalah Arlan, supir pribadinya sendiri. Hampir setiap hari Sania mencaci maki Arlan, walaupun begitu Arlan tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja karena diam diam Arlan sudah jatuh cinta pada Sania. Duniapun berputar berkat kerja kerasnya Arlan berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya sedangkan keluarga Sania jatuh miskin karena mereka mengalami musibah. Akankah Sania jatuh cinta pada Arlan setelah Arlan berubah menjadi kaya dan apakah Arlan masih mencintai Sania mengingat perlakuan buruk Sania dimasa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal derita Sania

Setelah dua jam berusaha untuk tidur, akhirnya Sania tertidur juga. pagi harinya ia terbangun dengan wajah yang lebih segar, dengan hati hati Sania membuka pintu kamarnya.

Sania menarik nafas lega karena Arlan sudah tidak ada dirumah itu. Sania kemudian mandi setelah itu ia berganti baju, ketika Sania sedang menyisir rambutnya ponsel Sania berdering.

Sania menjawab telphone yang ternyata dari neneknya, nenek Sania meminta Sania untuk segera kerumah sakit karena Arlan sudah berada dirumah sakit dan persiapan pernikahannya sudah selesai.

Meskipun hatinya terasa berat Sania akhirnya menuruti kemauan neneknya. Perasaan Sania tidak enak, Sania merasa ia akan mengalami penderitaan yang panjang.

"Didunia ini banyak sekali laki laki, tapi diantara mereka. kenapa harus Arlan yang menjadi calon suamiku? andai saja nenek tidak sakit, aku tidak akan sudi menikah dengan Arlan." Sania bicara sambil berkaca.

Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit Sania sudah sampai dirumah sakit, Sania membuka pintu rumah sakit. benar saja pak penghulu dan satu orang saksi sudah berada dikamar itu. keluarga Sania juga sudah berada dikamar itu mereka semua menunggu kedatangan Sania.

Sania menatap sekeliling kamar. kamar itu memang lumayan besar karena kamar itu adalah kamar vip, keadaan kamar itu tidak berubah kamar itu sama sekali tidak dihias.

"Apa yang kamu harapkan? kamu berharap aku mendekorasi kamar ini dengan balon balon dan pita serta tulisan didinding yang indah." Bisik Arlan yang ketika itu sudah berdiri disamping Sania.

"Jangan mimpi. Ingat Sania, pernikahan kita hanya sandiwara jadi jangan berharap lebih padaku." Lagi lagi Arlan mengatakan sesuatu yang membuat Sania sakit hati.

"Aku tahu." karena kesal Sania sengaja menginjak kaki Arlan.

Awas kamu sania. Arlan meringis kesakitan, tapi ia tidak berteriak.

"Arlan, kamu kenapa?" Sania berlagak bodoh, Sania menarik kakinya yang tadi menginjak kaki Arlan.

"Kakiku sakit." Arlan masih kesakitan.

"Ya ampun Arlan, kalau begitu kita tunda saja pernikahannya." Sania tersenyum puas.

"Tidak bisa, lagi pula kakiku juga nanti sembuh. Pak penghulu, bisa kita mulai sekarang." ucap Arlan seraya menatap kesal pada Sania.

Pak penghulu itupun mengangguk, Sania kemudian duduk diikuti oleh Arlan dan ibu Ranti. Sementara nenek Sania, sejak tadi ia duduk diatas tempat tidur.

Beberapa saat kemudian

"Arlan sanjaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Sania Anggara binti Almarhum Martin Anggara dengan mas kawin.... dibayar tunai." Ucap pak penghulu sambil menjabat tangan Arlan, suaranya terdengar sangat jelas.

"Saya terima nikahnya Sania Anggara Binti Martin Anggara dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Arlan sangat bahagia hanya dalam sekali ucap Arlan sudah sah menjadi suami Sania, Arlan tidak melakukan kesalahan saat mengucapkan ijab kabul membuatnya tersenyum senang.

"Bagaimana para saksi sah?" Tanya pak penghulu.

"Sah.." Nenek Sania mengucapkannya paling pertama, ia mengucapkannya dengan penuh semangat. tiba tiba saja ia lupa kalau dirinya sedang sakit.

Pernikahan macam apa ini?

Sania merasa sedih, sejak dulu Sania punya keinginan, jika ia menikah. ia ingin semua teman temannya datang. Sania juga ingin pernikahannya ramai, Pernikahannya saat itu sungguh tidak sesuai harapan Sania.

Pernikahan Sania sepi, bahkan orang tua Arlan tidak datang kepernikahannya. Setelah pernikahannya selesai pak penghulu dan satu orang saksi yang tadi datang bersamanya keluar dari ruangan itu.

"Sania, Arlan. pulanglah kalian pasti cape."

Ibu Ranti tersenyum senang karena anaknya sekarang sudah mempunyai suami, seseorang yang akan melindungi Sania.

"Tapi, aku masih mau disini." Sania seperti tidak mau meninggalkan rumah sakit, ia malas berduaan dirumah bersama Arlan.

"Sani...kamu dan Arlan sebaiknya pulang, istirahat dirumah."

Sama seperti ibu Sania, nenek Sania juga meminta Sania untuk pulang.

Dengan wajah lesu Sania akhirnya pulang bersama Arlan.

"Kenapa kamu ingin buru buru menikah? apa kamu tidak bisa menunggu sampai nenekku pulang dari rumah sakit?" Tanya Sania saat ia baru saja masuk kedalam mobil Arlan.

"Aku sengaja, Mumpung nenekmu ada dirumah sakit. jadi aku punya alasan untuk tidak mengundang siapapun, Sampai sekarang tidak ada yang tahu kalau kita sudah menikah. Teman teman ibu mu dan juga orang orang yang mengenal nenekmu, semua belum ada yang tahu kalau kita sudah menikah."

"Apa menikah denganku adalah suatu aib sampai sampai harus disembunyikan?" Sania kesal.

"Tidak juga, tapi memang pernikahan kita harus disembunyikan jadi saat kita bercerai. orang juga tidak ada yang tahu kalau kamu itu janda." Ucap Arlan tanpa beban.

"Kita baru menikah, kamu sudah mau bercerai?"

"Jadi, kamu tidak mau bercerai? apa kamu sudah mulai jatuh cinta padaku?" Arlan mengusap usap pipi Sania dengan lembut.

Sania memejamkan matanya, ia seakan menikmati sentuhan Arlan. Sania membuka matanya saat ia mendengar perutnya berbunyi.

"Kamu lapar?" Tanya Arlan, ia merasa kesal.

Arlan kesal karena ia hampir saja mencium Sania, tapi gagal. perut Sania berbunyi membuat Arlan tidak jadi melakukannya.

"Kita mampir kerestauran dulu, aku mau makan." Pinta Sania.

"Yang mau makan itu kamu bukan aku. lalu, untuk apa aku ikut kerestaurant? kamu harus ingat Sania, aku bukan supirmu lagi."

"Aku tahu, kamu sekarang suamiku." Sania tersenyum manis, bahkan sangat manis hingga membuat Jantung Arlan berdetak lebih kencang.

"Kalau kamu mau makan, makan saja dirumah." Arlan mengalihkan pembicaraan.

"Dirumah tidak ada makanan." Keluh Sania.

"Cih.. Kalau tidak ada, kamu masak." Arlan merdecak sebal.

"Aku tidak bisa masak."

"Mulai sekarang kamu harus belajar memasak." Ujar Arlan, ia masih tetap fokus menyetir.

"Iya..iya.. aku akan belajar memasak supaya aku bisa masak untuk suamiku." Lagi lagi Sania mengakui Arlan sebagai suaminya membuat hati Arlan senang dan berbunga bunga.

Arlan menghentikan mobilnya karena mereka sudah sampai dirumah. Sania membuka sabuk pengamannya. ia baru saja ingin membuka pintu mobil, tapi tiba tiba Arlan mencegahnya.

"Tunggu." Ucap Arlan, ia tidak ingin Sania keluar dari mobilnya.

"'Ada apa?" Sania menengok kesamping.

"Sabuk pengamanku, kenapa susah dibuka? Sania, bisa bantu aku?" Arlan berusaha membuka sabuk pengaman yang ia pakai, tapi ia tidak bisa.

Sania kemudian mendekatkan dirinya pada Arlan, ia mencoba membuka sabuk pengaman yang Arlan pakai dan ia langsung berhasil membukanya.

"Sudah." Sania menoleh kesamping tanpa sadar wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Arlan.

Sania ingin menjauhkan dirinya dari Arlan, tapi Arlan justru menarik tangannya hingga tubuh Sania jatuh diatas ppangkuan Arlan.

"Apa lagi?" Tanya Sania tanpa melihat Arlan, Sania tahu Arlan sedang menatapnya.

"Kenapa masih bertanya? kita sudah menikah aku bebas melakukan apa saja padamu." Arlan lalu mencium bibir Sania.

Sania memejamkan matanya tidak dapat Sania pungkiri ia menikmati apa yang Arlan lakukan. Arlan memang pria yang tidak konsisten dengan ucapannya.

Arlan sendiri yang mengatakan kalau ia tidak akan mengakui Sania sebagai istrinya, tapi ia juga yang menyentuh Sania seakan akan dirinya mengakui kalau Sania adalah istrinya.

Arlan sudah tidak dapat menahan diri lagi, ia membuka kancing baju Sania satu persatu dan bodohnya Sania hanya diam.

Arlan memang sudah menjadi suami Sania, tapi Sania lupa kalau Arlan tidak mau mengakui Sania sebagai istrinya.

Arlan sangat kesal saat suara ponselnya berdering. tadinya Arlan tidak mau menjawab telphone itu, tapi karena ponselnya terus berbunyi membuat Arlan kesal lalu ia memilih menjawabnya.

Usai menerima telphone Arlan menoleh kesamping ia melihat pintu mobilnya sudah terbuka dan Sania sudah tidak ada disana, Arlan bertambah kesal ia pun langsung memasukan mobilnya kedalam halaman rumah.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Sania berjalan masuk kehalaman rumahnya, Sania terkejut Ketika ia melihat Erika, temannya semasa kuliah dulu.

Saat tuan Martin meminta Arlan dan keluarganya pergi dari kota itu, Erika juga ikut menghilang. orang yang bekerja dirumah Erika mengatakan kalau Erika pergi keluar negeri.

Waktu itu Erika pergi tanpa berpamitan pada Sania padahal hubungan mereka sangat dekat dan Sania sudah menganggap Erika sebagai saudaranya.

"Erika." Sania berlari kecil menghampiri Erika.

Sania sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Erika, Saniapun memeluk Erika sayangnya Erika tampak tidak senang bertemu dengan Sania dengan kasar Erika mendorong Sania.

Sania hampir saja terjatuh, untunglah Arlan memegangi kedua bahu Sania dari belakang. kalau tidak mungkin Sania sudah jatuh.

"Aku datang bukan untuk mencarimu." ucap Erika sinis.

"Lalu, kamu mencari siapa?" Sania tidak mengerti, beberapa tahun tidak bertemu mengapa sikap Erika berubah.

"Aku mau bertemu Arlan, calon suamiku. aku ini pacarnya Arlan, sebentar lagi kita akan menikah."

Tubuh Sania sedikit bergetar, ia tidak percaya dengan apa yang Erika katakan.

"Tidak, itu tidak mungkin. tidak mungkin Arlan menikah denganmu, Arlan itu sudah menikah dan aku ini istrinya." ucap Sania, matanya mulai berkaca kaca.

"Aku tahu. Sania, kamu engga usah bangga karena Arlan menikahi kamu. Arlan bilang, dia itu terpaksa menikah denganmu. Arlan cuma kasihan sama nenek kamu. biarpun kamu itu istrinya, tapi Arlan tidak mau mengakui kamu. kamu itu cuma istri simpanan." Erika nerocos terus membuat Sania hilang kesabaran.

"Jaga bicara kamu." Sania merasa tidak terima.

"Apa yang dikatakan Erika itu benar, Erika itu pacarku dan hanya Erika yang akan aku anggap sebagai istriku." Sambung Arlan membuat hati Sania sakit.

Sania berharap Arlan membelanya tapi ternyata ia salah, Arlan lebih membela Erika.

"Terserah kalian mau bilang apa, tapi yang jelas aku ini sudah sah menjadi seorang istri. lebih baik aku jadi istri yang tidak anggap dari pada aku harus jadi pelakor." Kata kata menohok Sania membuat Arlan dan Erika melongo.

"Sayang, kamu dengarkan? Sania menghina aku." Erika melingkarkan satu tangannya dilengan Arlan.

Karena tidak bisa membalas ucapan Sania, Erika sengaja memanas manasi Sania dengan bersikap manja pada Arlan.

"Biarin aja sayang, sebentar lagi kita nikah. nanti kalau kita sudah nikah, cuma kamu yang akan aku anggap sebagai istri. aku akan buat pesta pernikahan yang meriah supaya orang orang tahu kalau kamu itu istriku." Arlan mencoba menghibur Erika.

"Sayang, aku lapar. dari pada kita disini, ribut ribut sama istri simpanan kamu itu. gimana kalau kita makan diluar?" Erika tersenyum mencibir sambil memandang kearah Sania.

Sania yang mulai jengah akhirnya memilih untuk berjalan pergi dari tempat itu, Sania masuk kedalam kamarnya.

Sania menutup pintu kamarnya, baru saja ia merebahkan tubuhnya diatas kasur seseorang sudah mengetuk pintu kamarnya.

Sania menyeka air matanya, lalu ia membuka pintu kamarnya, Sania melihat Arlan dan Erika yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya.

"Mau apa kalian?" Sania memutar bola matanya malas.

"Rumah ini rumahku jadi suka suka aku mau ngapain." Nada suara Arlan terdengar santai, namun membuat hati Sania terasa tercubit.

"Aku cuma mau tanya, Apa kamu punya tas baru? tas yang belum pernah kamu pakai?" Tanya Arlan, ia berdiri sambil merangkul Erika.

"Punya, kenapa?" Meski kesal Sania tetap menjawab pertanyaan Arlan.

"Ambil sekarang." Perintah Arlan.

"Buat apa?"

"Udah engga usah banyak tanya, ambil saja tasnya." Arlan mengulangi perintahnya.

Dengan wajah cemberut Sania kemudian mengambil sebuah tas dari lemarinya.

"Ini, belinya udah lama. tapi belum pernah aku pakai." Sania memberikan tas itu pada Arlan.

"Sayang coba kamu lihat tas ini." Arlan memberikan tas yang sudah ia pegang pada Erika.

"Wah... bagus tasnya." Puji Erika.

"Iya dong bagus, itu limitid edision. belinya juga jauh diparis." Karena kesal Sania jadi bersikap angkuh pada Erika.

"Kamu suka?" Tanya Arlan pada Erika ia tidak menggubris ucapan sombong Sania.

Erika menganguk, sikapnya yang sok imut membuat Sania muak.

"Ya udah kalau kamu suka, kamu ambil saja. tas itu buat kamu sayang. itu hadiah dari aku."

Arlan mengelus elus kepala Erika dengan mudahnya ia memberikan tas milik Sania pada Erika, Arlan seperti laki laki yang tidak tahu malu.

"Heh... Arlan bodoh! kalau kamu mau kasih hadiah buat pelakor ini, yaa kamu beli sendiri. jangan ambil tas aku." Sania mulai emosi.

Sania tidak mengira kalau Arlan akan memberikan tasnya pada Erika, dengan kesal Sania merebut tas yang dipegang Erika.

"Ih... kembaliin tas aku." Erika ingin menarik tas yang dipegang Sania

"Ini tasku." Sania menahan tasnya agar tidak diambil Erika. Alhasil mereka jadi saling tarik menarik tas yang dipegang erat oleh Sania.

"Cukup Sania!" Suara keras Arlan membuat Sania dan Erika berhenti rebutan tas.

"Sania, kamu seperti anak kecil. cuma tas aja kamu pelit, berikan tas itu pada Erika atau aku akan mengusirmu dari rumah ini." Hardik Arlan

Bagai teriris pisau hati Sania sangat sakit. Sungguh Sania tidak menyangka, demi Erika Arlan tega mengusirnya. karena shock Tas yang Sania pegang terlepas dari genggaman tangan Sania.

Tanpa mengeluarkan satu patah katapun Sania menutup pintu kamarnya, Sania meninggalkan Arlan dan Erika yang masih berdiri mematung didepan pintu kamarnya.

Usai menutup pintu kamar Sania langsung menguncinya Sania tidak ingin Arlan atau Erika masuk kedalam kamarnya.

1
Ika Rahmawati
bikin cerita baru lagi dong
Myra Myra
semoga diorang bahagia x ada org kcu...
Nety Purbasari: Iya, udah happy ending 😊
total 1 replies
Jelita
thor kapan up date lagi, udah lama engga up date up date
Myra Myra
kerana Sania baik PD semua org wlpn org to sakitkan hati Ae terlalu fatal...nenek lampir
Myra Myra
Sania mesti murka Ngan ibu arlan wat report polis Sania...ambik balik ank MU Arsy n dava... tinggalkn arlan...biar dia karma diorang akan dtg...
Nety Purbasari: Udah ditinggalin, tapi ketemu lagi. ketemu lagi 😊
total 1 replies
Hartanti Linda Tofani
seru
Dian Denelle
Thor cepetan dong up date lagi
Nety Purbasari: Aku udah up
total 1 replies
Lastri diah
up date lagi dong thor
Jelita
Up date nya kelamaan
Alenaya faraza
Lanjut thor
sandi Gelau
Arlan tu bodoh...tmbah kesal Sania nnti..
Myra Myra
kali niey Sania tegas..jjr Jew ibu MU yg jht paksa AQ BG ank AQ kat dia...lawan jgn jdi lemah...kamu layak tuntut diorang Sania...
Myra Myra
to karma tok MU... ibu MU ssh hrp jgn dia ambik dava sudah Ae...arlan mulut MU jht sgt....MCM ibu dia...geram polak
Ika Rahmawati
kapan up date lagi
Nety Purbasari: Ditunggu ya
total 1 replies
Jelita
Thor up date lagi dong
Nety Purbasari: aku udah up date
total 1 replies
Hartanti Linda Tofani
Semangat thor, up lagi lama amat engga up
Myra Myra
yg slh ma MU bkn slh Sania...ma MU smpy tekan2 dia....bila ank MU tahu... kebenaran Ae...
Nety Purbasari: Makasih, masih setia baca novel aku 💕
total 1 replies
Lastri diah
Akhrinya up date juga
Lastri diah
udah lama authot enggaup date
Myra Myra
bkn slh Sania tapi slh ibu MU arlan...kamu ttp melakukan kesalahan fatal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!