Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demian lebih tahu.
Seperti yang dikatakan Sarah, Demian memang mengarahkan mobilnya memasuki kawasan apartemen tempat dia tinggal. Bukan ke kantor sebagaimana alasan Demian kepasa Joseph dan Amber. Sarah yang menyadari itu langsung melayangkan protes tanpa ampun.
"Bapak mau bawa saya kemana?! Turunin saya, Pak!"
"Ssttt ... kau berisik sekali, Sar. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Tenang saja," Demian menjawab dengan santai sambil memasuki parkiran di basement apartemen. Lalu dia berhenti di parkiran VVIP khusus miliknya.
"Terus ngapain kita ke sini??"
"Tenanglah, kau akan tau nanti. Ayo," Demian yang sudah mematikan mesin mobil turun lebih dulu.
Sarah mengikuti dengan hati yang terpaksa. Dia sudah ketakutan duluan. Untuk apa Demian mengajaknya ke apartemen malam-malam? Kan semua keperluan dinas luar kota sudah ada di kantor. Mau ngurusin apa lagi sih? Sarah menggerutu dalam hati. Awas saja kalau Demian punya tujuan lain. Dia tidak akan segan-segan melaporkannya ke pihak keamanan apartemen ini meskipun dia penghuni VVIP di sini.
Saat memasuki loby, para resepsionis dan pegawai perempuan lainnya tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik Demian. Mereka bahkan memuji pria itu sambil berbisik satu sama lain. Sepertinya Demian adalah salah satu penghuni yang kehadirannya cukup dinanti di sini untuk memenuhi kebutuhan Vitamin A mata mereka yang liar itu.
Sebelum drama pernikahan ini terjadi, Sarah juga pernah ke apartemen Demian, satu kali, untuk mengambil dokumen yang ketinggalan di unit pria itu. Saat Sarah masuk tanpa Demian, para pecinta pria itu langsung memandangnya dengan aneh, karena memiliki kartu akses unit idola mereka. Dan malam ini pun tatapan sirik dan iri itu dia rasakan lagi sedang ditujukan padanya.
Demian menekan tombol lift VVIP. Karena hanya sedikit yang menyandang status itu di apartemen ini, lift-nya segera terbuka karena sedang tidak digunakan. Demian masuk disusul Sarah yang mengekor di belakangnya.
Sarah awalnya berdiri di belakang pria itu, namun Demian dengan refleks mundur agar sejajar dengannya.
"Malam ini kau bukan sekretarisku. Jadi jangan berdiri di belakangku," gumam Demian pelan sambil menekan tombol nomor dua-puluh-enam.
Sarah tidak menggubris perkataan Demian. Dia juga tidak merasa perlu menanggapinya karena sekarang dia tidak sedang dalam fungsionalnya sebagai sekretaris. Dia diam saja dengan ketakutan yang masih menggerogoti pikirannya. Bahkan berdoa supaya lift-nya berjalan dengan lambat.
Ting!!
Tak tahunya mereka sudah sampai di lantai unit Demian. Keduanya keluar dan langsung mendapati satu-satunya unit yang ada di sana. Unit apartemen milik Demian. Pria itu membuka pintu dan mempersilahkan Sarah masuk.
Sarah menurut. Dia masuk namun hanya berdiri di ruang tengah, menunggu Demian memberikan instruksi.
"Duduk, Sar," Demian memerintah sambil berlalu menuju kamarnya. Sarah menurut. Dia menjadi lebih pendiam karena belum tahu apa tujuannya di tempat ini sekarang.
Demian keluar beberapa saat kemudian, sudah dengan kaos rumah dan celana kinos pendek se lutut. Dia keluar dengan handphone yang baru saja dimatikan setelah menghubungi seseorang.
Melihat Demian yang mengganti pakaiannya, Sarah menebak-nebak bagaimana dia akan pulang nanti. Apakah Demian akan mengantarnya dengan pakaian seperti itu? Awas saja kalau dia tidak bertanggungjawab memulangkanku! Gerutu Sarah dalam hati.
"Aku baru menghubungi Pak Endru. Kau tunggu sebentar. Kalau mau minum, kau tau dapurnya dimana kan?" ujar Demian sambil mengambil duduk di sofa yang ada di hadapan Sarah. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan dirinya di sandaran sofa. Menyilangkan kedua kakinya dan mendekap tangannya di dada. Kini dia fokus menatap gadis yang sedang duduk dengan gugup di hadapannya.
"Ada perlu apa sampai memanggil pengacara pribadi Bapak ke sini? Bukannya kita mau menyelesaikan urusan kantor sebelum dinas ke Surabaya?"
"Tidak. Aku hanya malas mengobrol terlalu lama dengan Pak Joseph. Dan ini juga jauh lebih penting," Demian masih mengurung Sarah dengan tatapannya yang tidak berkedip sedikit pun.
"Ba ... Bapak mau kasih spoiler nggak ke saya untuk apa Bapak memanggil Pak Endru?" kegugupan Sarah mulai terlihat ketara di mata Demian. Kenapa dia memandangku dengan tatapan begitu? Rutuk Sarah.
Demian hanya menggeleng, "Kalau tidak di kantor, bisakah kau berhenti memanggilku Bapak? Kupingku sakit mendengarnya," Demian tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Maaf, Pak. Sudah terbiasa," aduhh, ini orang bisa nggak sih ngeliatin yang lain aja? Apa gitu? Takut nih ...
"Sini ..."
Apa??? Sini??
Demian menepuk space kosong di sebelahnya dengan dingin. Jantung Sarah mulai berdetak cepat. Suhu tubuhnya naik sekian derajat hanya dengan mendengar satu kata keramat itu. Dia langsung membayangkan hal-hal aneh yang akan dilakukan Demian.
"N ... nggak mau," Sarah menolak dengan cepat. Rasa takutnya tidak bisa dia sembunyikan. Pada akhirnya dia yang memutuskan kontak mata dengan Demian dan mencoba melihat apa pun yang ada di sekelilingnya.
"Atau aku yang ke sana?"
"Ba ... Bapak ma ... mau ngapain? Udah duduk di situ saja kan bisa!"
"Sini ... sayang,"
Lagi-lagi jantung Sarah rasanya mau copot. Untuk pertama kalinya sebutan itu dia dengar keluar dari mulut Demian, bosnya. Rasanya seperti disambar petirnya Thor Odinson. Apalagi pria itu seperti sengaja menekankan pengucapan kata 'sayang' itu. Memberi efek meriang di seluruh tubuh Sarah.
"Aku cuma mau peluk. Capek banget malam ini," kini suara dan tatapan Demian melembut.
Sarah diam-diam meremas pinggiran dress-nya. Demian jelas-jelas mengutarakan keinginannya tanpa peduli gadis itu akan marah atau tidak. Tapi sialnya sekarang dia berada dalam sangkar pria itu. Jika dia menolak, bisa jadi Demian akan berbalik marah dan melakukan kekerasan padanya.
Sarah memilih untuk berada di posisi aman, untuk saat ini.
"Hanya peluk!" tegas Sarah menutupi ketakutannya. Membuat senyum di bibir Demian muncul diiringi anggukan kepala pria itu.
Sarah pun bangkit dari kursinya dan duduk di sebelah Demian.
"Si ... sini ..." dengan gugup, dia mengulurkan kedua tangannya, mempersilahkan Demian untuk masuk ke dalam rangkulannya. Pria itu tersenyum dengan lembut. Mendekati Sarah dan membelah kedua tangan gadis itu. Masuk ke dalam pelukannya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang yang ramping Sarah.
Setelah itu Sarah melemaskan kedua lengannya sehingga terletak di punggung Demian yang sudah meletakkan kepalanya di ceruk leher Sarah.
Sedetik ... dua detik ... tiga detik ... dan hanya beberapa saat saja, detak jantung Sarah yang tadinya ada di ritme cepat, perlahan menurun menjadi normal. Hal itu dikarenakan Demian benar-benar hanya memeluknya, lalu diam. Tidak melakukan gerakan apa pun yang membuat Sarah merasa terancam.
Aroma tubuh dan rambut pria itu memasuki indera penciuman Sarah. Wangi yang begitu segar meskipun pria itu belum mandi sama sekali. Sangat maskulin, sedikit banyak Sarah memuji di dalam hatinya. Pantas saja Amber betah menggandengnya lama-lama. Ah, pasti Demian juga suka meminta Amber memeluknya seperti ini. Buaya kan seperti itu.
"Tadi ngomongin apa aja sama Pak Joseph?"
"Semuanya."
"Semuanya? Tentang kita juga?"
"Tentang kerjaan maksudnya," ralat Sarah cepat.
"Oh ... gimana Grasian? Kau yakin tidak akan memberitahunya tentang pernikahan kita?"
"Kan sudah dibahas tadi. Kenapa diungkit lagi?"
"Siapa tahu Grasian juga bisa menerimanya seperti Amber."
"Nggak perlu. Aku bisa keep sampai kita pisah."
Demian terdiam. Sesungging senyum menghiasi bibirnya, "Oh, baguslah ... semoga kalian bisa bertahan sampai kita pisah," sahutnya.
"M ..." Sarah hanya menggumam.
Mereka kembali diam. Demian memejamkan matanya sebentar. Dia juga terpesona dengan aroma lembut leher Sarah. Eh, ini kan wangi minyak telon? Tebak Demian.
"Kau pakai minyak telon?"
"Iya, kenapa? Bapak nggak suka?"
"Suka. Cuma aku takut nanti nggak bisa membedakan aroma tubuh anak kita dan ibunya."
"Nggak usah mimpi ketinggian deh, Pak. Saya sama Bapak paling juga udah beres kalau proyeknya selesai. Boro-boro mikirin anak," mulut Sarah memang sangat pedas semenjak haknya dirampas oleh keluarganya. Dia tidak akan berbaik-baik lagi pada Demian kalau bukan di jam kantor.
"Kalau sebelum itu saya bikin kamu hamil, gimana?"
"Awas saja kalau berani!!" mendengar ucapan Demian, Sarah sedikit berang dan dengan cepat melempar tubuh pria itu yang kebetulan tidak siaga dari apa pun. Demian terhempas ke sandaran kursi. Dia tertawa terkekeh.
"Iya, iya. Mana aku berani, Sar. Cuma sebatas perkataan saja sudah menambah tenagamu berlipat ganda sampai bisa melemparku. Apalagi kalau kejadian, hahaha ..."
Sarah yang kesal beranjak dari duduknya dan berpura-pura ke dapur untuk mengambil minuman. Demian sendiri memilih untuk meraih ponselnya lagi untuk menanyakan keberadaan pengacaranya itu. Untung saja dia mendapat jawaban yang memuaskan. Pak Endru sudah di lift menuju lantai unitnya.
Ting tong! Suara bel apartemen berbunyi. Demian langsung bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu bagi Pak Endru. Sarah sudah kembali dari dapur sambil membawa minumannya.
"Selamat malam Ibu Sarah," Pak Endru menyapa setelah sudah berada di ruang tamu.
"Selamat malam Pak Endru ..." Sarah yang kebetulan masih berdiri langsung menyalami pria yang rambutnya mulai didominasi warna putih tersebut.
"Pak Endru mau dibuatkan teh atau kopi, Pak?" jiwa pelayan Sarah otomatis keluar untuk tamu mereka. Saat pria paruh baya itu menjawab pilihannya, Sarah langsung bergerak menuju dapur lagi untuk membuatkannya.
Saat dia kembali, di atas nampan sudah ada dua gelas. Satu gelas untuk Pak Endru dan gelas yang satunya dia sodorkan ke hadapan Demian. Green tea latte. Karena tadi Demian bilang dia capek, maka Sarah kepikiran untuk membuatkan minuman itu padanya.
"Duduk, Sar ..." Demian memerintah Sarah untuk duduk di sebelahnya lagi, sementara Pak Endru ada di seberang mereka. Sarah memilih untuk menurut. Kemungkinan Pak Endru sudah mengetahui pernikahan diam-diam mereka, jadi ada baiknya Sarah tidak bertingkah macam-macam saat ini.
Demian mulai menjelaskan kepada Sarah maksud kehadiran Pak Endru di sana. Intisari yang bisa ditangkap Sarah adalah, pemindahan beberapa aset berharga Demian menjadi atas nama gadis itu. Seperti tanah perkebunan teh seluas dua puluh hektar di Rancabali, lima belas unit villa serta arena bermain di kawasan Lembang. Semuanya ada di Jawa Barat dan Sarah tidak mengerti kenapa Demian melakukannya.
"Saya tidak bersedia, Pak. Bapak ingin melimpahkan pajaknya kepada saya?"
Demian tertawa kecil, "Aku ini suamimu, Sar. Pajaknya tetap aku yang bayar. Anggap saja ini hadiah pernikahan kita," jawabnya santai dan berkharisma.
"Tapi ini terlalu banyak, tidak masuk akal. Saya tidak bersedia menerima pemasukan dari semua itu. Sepeser pun," tegas Sarah kemudian. Dia benar-benar tidak berminat merasakan uang Demian. Sedikit pun. Apalagi jika pemindahan nama itu dilakukan, sudah pasti keuntungan dari perkebunan teh, villa, juga arena bermain itu akan masuk ke rekeningnya. Dan dia tidak mau itu terjadi.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak bersedia menikmati hasilnya. Pak Endru sudah membuatkan rekening bank baru atas namamu. Nanti danannya akan masuk ke sana. Jika kau tidak bersedia memegang kartu ATM-nya, biar pak Endru yang pegang dulu,"
Sarah masih terdiam ...
"Tapi sebagai gantinya, rekening pribadimu sekarang akan kita limit supaya tidak mencurigakan orang pajak," lanjut Demian.
"Maksudnya?"
"Karena sekarang kau akan punya dua rekening atas namamu sendiri. Rekening yang baru sudah pasti akan ada transaksi uang masuk besar-besaran setiap bulan. Jadi sebagai gantinya, rekening pribadimu tidak akan diperbolehkan menerima uang masuk lebih dari dua puluh juta setiap bulan. I mean biar hanya untuk transfer gajimu saja, bagaimana?"
Sarah mencerna penjelasan Demian barusan. Sebenarnya cukup simpel dan mudah dimengerti. Memangnya ada kemungkinan dia akan menerima uang masuk dalam jumlah besar di hari-hari ke depan? Sepertinya tidak ada. Selama ini pun hal tersebut jarang sekali terjadi. Dia hanya menerima gajinya setiap bulan.
"Tapi jika sewaktu-waktu kau ingin memasukkan banyak dana ke sana, kau harus meminta izinku terlebih dahulu. Pihak bank akan butuh tanda tanganku," Demian melanjutkan lagi.
Sarah lagi-lagi curiga dengan rencana Demian. Kenapa harus butuh campur tangannya? Itu kan rekening pribadi Sarah.
"Oh ya, satu lagi. Kau dilarang membuka rekening lain di bank mana pun tanpa seizinku. Namamu sudah terdaftar sebagai istriku dan aku sudah membuat pemberitahuan khusus ke semua bank agar menolak aplikasimu jika kau membuat rekening bank baru."
"Kenapa? Apa tujuan Bapak?? Ini juga termasuk pelanggaran hak asasi saya. Bukan begitu Pak Endru?"
"Maafkan saya, Ibu Sarah. Saya hanya akan mengikuti instruksi Bapak Demian saja," respon Pak Endru membuat Sarah sangat tidak puas.
Demian menunggu jawaban Sarah dengan sabar. Dia harus membuat Sarah menandatangani dengan sendirinya, dengan ikhlas tanpa paksaan. Agar kedepannya gadis itu tidak membuat pemaksaan itu sebagai boomerang jika dia sedang emosi sebagaimana biasanya.
"Saya akan tanda tangan, tapi setelah Pak Endru pergi, Pak Demian harus menjelaskan kepada saya semuanya."
"Siap," jawaban Demian sangat singkat. Dia terlalu senang karena akhirnya rencananya berjalan dengan mulus dan lancar. Meskipun setelah ini dia harus memikirkan alasan yang mungkin bisa diterima Sarah.
Sarah menandatangani dokumen pemindahan nama aset- aset Demian tersebut dengan cepat. Lalu menandatangani juga surat perjanjian bahwa dia bersedia rekening pribadinya diberikan limit transaksi, serta surat perjanjian bahwa dia tidak akan membuka rekening atas nama dirinya sendiri di bank mana pun itu. Saat ini Sarah merasa Demian sudah bertindak terlalu jauh menyentuh ranah pribadinya. Lihat saja, jika setelah ini Demian tidak bersedia menjelaskan semuanya dengan rinci, Sarah akan membuat perhitungan.
Setelah semua urusannya selesai, Pak Endru berpamitan dari tempat itu. Kini tinggallah Sarah dan Demian di posisi mereka masing-masing. Demian bisa melihat Sarah sudah seperti sangat ingin menerkamnya.
"Jelaskan!" satu kata yang dirasa Sarah sangat cukup untuk meminta Demian menjelaskan semua yang ia rencanakan.
"Aku ingin menjagamu dari orang-orang yang ingin mencelakaimu. Itu saja."
"Apa hubungannya dengan menyentuh privasiku di rekening bank?"
"Karena kau terlalu polos untuk dimanfaatkan orang lain. Jadi aku akan menjadi back up agar orang itu tidak bisa sembarangan menafaatkanmu."
"Siapa yang Bapak maksud? Apa mungkin orang lain mengotak-atik rekeningku? Lucu sekali."
"Sayangnya dia sedang melakukannya dan kalau kukatakan dia siapa, kau tidak akan percaya, Sarah."
"Siapa!? Katakan saja, urusan percaya atau tidak itu tergantung bukti yang Bapak punya," nada suara Sarah masih ketus dan dingin. Kesabarannya mulai habis.
"Kekasihmu."
Wajah Sarah seketika memucat. Grasian? Kenapa Demian bisa berpikir Grasian akan mencelakainya? Apa dasarnya?
"Bohong! Bapak jangan sembarangan!" emosi Sarah bertambah, naik ke level siaga.
"Aku punya bukti, Sarah. Tapi aku belum bisa mengatakannya kepadamu. Kau kira kenapa aku harus menikahimu seperti pria tidak laku yang kebelet menikah? Aku tidak se putus asa itu hanya demi sebuah tender. Lagian seperti yang kau katakan, banyak wanita di luar sana yang sebenarnya bisa ku pilih," Demian menjawab dengan malas sambil meneguk green tea latte nya. Tatapan matanya seakan sama tajamnya dengan kata-katanya barusan. Sama-sama berhasil menusuk hingga ke dalam hati wanita itu. Jadi selama ini Sarah yang terlalu tinggi hati, mengira Demian sangat terobsesi pada tender itu.
"Kedua orangtuamu juga tahu tentang Grasian. Makanya mereka merestui pernikahan ini. Jika kau masih tidak percaya, silahkan tanya Om Martin dan Tante Yola. Atau mungkin kau bisa tanya Grasian. Atau mungkin ke selingkuhannya itu. Siapa namanya? Desty?"
"Jangan sembarangan menuduh, Pak! Grasian tidak selingkuh!" Sarah sejujurnya cukup kaget Demian sampai tahu soal Desty.
"Buktinya dia dan Grasian sedang ada di apartemen ini sekarang. Lebih tepatnya di unit Desty. Aku tahu nomor unitnya. Kau mau kita menggerebek mereka?"
Sarah sudah semakin pucat. Apa-apaan ini? Mengapa Demian seakan-akan lebih tahu bayak tentang Grasian ketimbang dirinya? Benarkah semua yang diucapkan Demian itu? Tidak mungkin Grasian selingkuh dan tidak mungkin pria itu punya niat buruk atas dirinya. Grasian sangat mencintainya.
"Bapak terlalu banyak bicara. Saya pulang dulu," Sarah sedang memendam emosi yang sangat besar. Di kepalanya berputar-putar cerita yang baru dilontarkan Demian. Yang sangat ingin dia enyahkan dari pikirannya karena sebenarnya dia tidak percaya. Dia justru ingin memaki Demian, tapi dia akan kelelahan. Dia meraih tasnya dan keluar secepat mungkin dari apartemen sialan itu.
Sementara Demian, dia membiarkan Sarah pergi begitu saja. Dia tidak berniat mengejarnya walau tadinya dia sudah berencana akan mengantar gadis itu pulang. Tapi Sarah si keras kepala itu pasti tahu apa yang harus dia lakukan. Namanya saja Sarah Cleverly Nugraha.
*****