NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Dokter Luna

Terjerat Pesona Dokter Luna

Status: tamat
Genre:Romansa / Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Dokter / Tamat
Popularitas:742.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sensen_se.

Selepas menjadi dokter, Clarissa Aluna Sebastian, atau yang kerap disapa Luna itu, bertugas jauh dari kota kelahiran. Ia menemui banyak sekali karakter manusia. Salah satunya ketua geng motor yang mendadak membuat keributan saat dia sedang dinas di rumah sakit.

Arash Frederic mengalami luka di kepala akibat tawuran tengah malam. Semua anak buahnya bergegas ke rumah sakit, mengamuk agar ketua geng motor itu didahulukan. Tanpa diduga, Dokter muda yang terlihat anggun melawan mereka karena dianggap membuat keributan. Kemampuan bela diri yang mumpuni mampu melumpuhkan para anggota geng motor tersebut. Luna menegaskan, jika ingin diobati harus sesuai prosedur.

Sejak Dokter Luna menanganinya, Arash tidak bisa mengelak pesona dokter cantik yang multitalenta itu. Ia selalu berusaha menarik simpati gadis itu.

Akankah Arash bisa meluluhkannya? Mengingat, Luna berasal dari keluarga terpandang, memiliki saudara kembar yang posesif, ditambah seorang lelaki yang mencintainya sedari dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Terserah!

“Luna, stop!” Xavier menarik tubuh mungil gadis itu susah payah. Ia berhasil memeluk Luna dan membawanya berdiri.

Deru napas Luna masih memburu, kekesalan yang terpendam sedari tadi. Walaupun sebenarnya kesal pada sang kakak, setidaknya Luna bisa melampiaskannya sampai puas. Kesabaran manusia memang ada batasnya.  

“Kamu mengerikan sekali kalau lagi bahagia!” sembur Xavier menyentil kepala Luna lalu menyeretnya keluar dari kamar.

“Lepas! Aku bisa jalan sendiri!” Luna menghempaskan lengan sang kakak dengan kasar, mempercepat langkah kakinya menuju ruang tengah.

Lega setelah menuntaskan kekesalan pada Arash, Luna meringkuk di sofa, memejamkan matanya yang terasa pedih karena semalaman belum tidur sama sekali. Ia juga lelah, bukan hanya fisik tapi juga mental yang dihantam tuduhan sang kakak. Ia tahu betul, karakter lelaki itu tidak bisa diganggu gugat. Percuma, mau protes bagaimana pun, Xavier tidak akan tergoyahkan.

“Lihat saja, Mommy dan Daddy pasti membelaku!” racau gadis itu sebelum akhirnya benar-benar terlelap dalam tidurnya.

Xavier sengaja duduk di dekat Luna, melihat napasnya sudah berembus teratur, ia membelai puncak kepala gadis itu dengan sayang. “Maaf ya, Dek. Ini semua demi kebaikan kita,” tutur Xavier menghela napas pelan.

\=\=\=\=OooO\=\=\=\=

Luna terperanjat dari tidurnya saat merasakan dinginnya sentuhan tangan seseorang di kening dan pipinya. Manik matanya sontak berbinar melihat senyum manis dari ibunya.

“Mommy!” panggil Luna beranjak bangun, sembari memeluk erat wanita separuh baya itu. Menuntaskan kerinduan yang sempat membelenggu.

“Sudah makan, Sayang?” tanya Khansa dengan lembut.

Luna hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Masih bergelayut manja pada sang mama, tanpa melihat sekelilingnya. Semua mata tertuju pada dua wanita beda usia itu.

“Ehm!” Leon berdehem membuyarkan keromantisan ibu dan anak itu. Menegakkan punggung kokohnya, tanpa melirik sedikit pun. Ya, walaupun ekor mata elangnya tetap tertuju pada anak gadisnya.

Luna meregangkan pelukannya, suara yang juga sangat ia rindukan. Gadis itu segera melompat ke kursi Leon, memeluk pria hebat yang menjadi patokan jodohnya kelak. “Daddy,” gumamnya manja menyelusup ke dada bidang sang ayah.

‘Ternyata seperti kelinci kecil kalau sedang bersama orang tuanya. Kalau sendiri, seperti singa betina, apalagi kalau sedang menghadapi musuh-musuhnya. Luar biasa,’ batin Arash berdecak kagum, tak berkedip menatapnya. Bahkan senyum tipis tanpa sadar terbentuk di bibirnya.

“Sudah manja-manjanya. Kedatangan Mommy dan Daddy ke sini untuk menentukan hari pernikahanmu,” serobot Xavier menyela suasana haru pertemuan itu.

DEG!

Luna mematung, ia baru sadar sepenuhnya dan teringat akan masalahnya. Manik matanya bergerak perlahan, napasnya sempat tertahan hingga kini pandangannya jatuh pada Arash yang melebarkan senyum padanya.

“Nikah apanya? Mommy percaya ‘kan sama aku? Dad? Aku sama dia sama sekali tidak ada hubungan apa pun. Tanyakan saja sama Bibi!” sanggah Luna membela diri.

“Luna, aku bersedia bertanggung jawab. Tenang saja.” Arash justru berucap di luar dugaan.

Gadis cantik itu membeliak begitu lebar, bahkan mulutnya kini menganga, “Eh! Apa yang kamu katakan? Arash! Jangan mengada-ada ya!” elaknya tidak terima.

“Tapi sudah terlanjur, Luna. Mau ditutupi bagaimana lagi, kita sudah ketahuan.”

“Hah?” Luna mengusap wajahnya dengan kasar, menyugar rambut panjangnya yang berantakan sembari menghunuskan tatapan tajam pada lelaki itu. “Hahaha! Enggak! Aku enggak mau titik! Dad, aku enggak mau nikah,” rengek Luna memeluk erat lengan ayahnya.

“Kenapa? Bukankah laki-laki ini kekasihmu?” tanya Leon melirik putrinya.

“What?” pekik Luna membelalakkan mata. Benar-benar terkejut akan pernyataan sang daddy. Kepalanya benar-benar mau pecah rasanya.

Satu jam yang lalu, sebelum Luna terbangun, terlibat pembicaraan serius antara Arash, Xavier dan orang tua Luna. Arash tidak ingin terjebak dalam masalah yang rumit, ia mengaku memang mencintai Luna, ingin menikahinya dan bertanggung jawab pada gadis itu. Arash juga mengaku sebatang kara, hanya memiliki sebuah bengkel sebagai sumber penghasilannya.

Pengakuan itulah yang dipercaya oleh Khansa dan Leon, jika sebenarnya Luna malu mengakuinya. Padahal mereka tidak marah jika memang itu benar.

“Dad, jangan bercanda. Aku bahkan tidak mengenalnya! Daddy rela melepas aku sama laki-laki macam dia?” tunjuk Luna pada Arash yang masih terlihat santai.

“Tidak kenal kok tinggal bareng!” cetus Xavier kembali memanas-manasi.

Lelah, Luna mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Memijat keningnya pangkal hidung karena nyeri yang teramat sangat menyerang kepalanya.

“Sayang, enggak apa-apa kok kalau mau menikah muda. Mommy juga dulu menikah muda. Lagian kakakmu juga enggak masalah kamu menikah dulu,” tambah Khansa.

“Benar. Aku setuju. Menikah secepatnya! Sebelum hal-hal tidak diinginkan terjadi,” sambar Xavier memicingkan mata.

“Om, Tante, Kak Xavier, saya janji akan bekerja keras demi membahagiakan Luna,” tutur Arash sangat yakin, sok kenal dan sok akrab.

“Terserah kalian, terserah!” pekik Luna mengacak rambut panjangnya, melenggang ke kamarnya sendiri. Kamar yang sudah lama tidak dia tinggali. Semua memojokkannya.

Tangannya gatal ingin menghubungi Zora, tapi urung saat sadar, Zora tengah sibuk dengan semua penelitian dan berbagai tugas. Sahabatnya itu bahkan sering tinggal di asrama rumah sakit, agar tidak terlalu membuang waktu.

“Luna, mau ke mana? Ini luka-luka Arash diobati dulu. Takutnya infeksi, Sayang,” panggil Khansa saat putrinya semakin menjauh.

“Obati Mommy aja sana!” teriak Luna enggan menoleh. Terus melajukan langkah ke kamarnya.

Leon segera melemparkan tatapan intimidasi pada istrinya, tatapan ancaman jika saja berani melakukannya. Khansa tersenyum simpul, menggenggam jemari suaminya, “Enggak, biar Luna aja.” Paham maksud tatapan sang suami, Khansa segera mengelaknya.

...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...

Xavier memimpin jalannya rencana pernikahan adiknya, usai Khansa dan Leon memberi berbagai petuah dan sedikit ancaman pada calon menantunya itu.

Mereka menegaskan, tidak peduli latar belakang lelaki itu, yang terpenting bertanggung jawab dan mencintai putrinya. Sedikit saja menyakiti Luna, Arash harus menghadapi mereka bertiga, terutama Xavier dan Leon. Yang siap menghilangkan nyawanya jika berani melukai Luna.

“Baiklah, Mommy serahkan padamu, Xavier. Kami mau ke hotel aja. Tinggal terima bersih. Jangan lama-lama ya. Tidak perlu ramai, yang penting sah,” ucap Khansa setelah cukup lama mereka berbincang.

“Iya, Mom.”

Sepeninggal orang tuanya, Xavier segera ke belakang mencari Bibi yang sedari tadi bersembunyi di kamar. “Bi, keluarlah!” perintahnya.

Saat pintu terbuka, Xavier menyerahkan sebuah amplop yang diyakini berisi uang. “Terima kasih kerja samanya,” ucap Xavier meletakkan amplop itu ke tangan Bibi. Ia meminta pada wanita itu agar jangan ikut campur dan tutup mulut.

Pria itu kembali duduk berdampingan dengan Arash. Raut wajahnya terlihat serius. Dua lelaki itu menghirup oksigen di ruangan yang sama, tetapi suasana terasa begitu tegang. Tidak ada suara apa pun yang terdengar.

 

 

Bersambung~

1
nuraeinieni
ceritanya bagus thor
Emy Liana
1 thor
$Neal_1122
kasian axel, sabar ya xel /Sob/
$Neal_1122
/Silent/
$Neal_1122
iya keren
Bukhori Muslim
Good story
StAr 1086
Axel patah hati deh....
StAr 1086
Xavier apa Daddynya...
StAr 1086
Cemen mainnya keroyokan si cobra....
StAr 1086
next
StAr 1086
Ya ada cinta segitiga nih....
StAr 1086
kamu kamu kamu lagi....
StAr 1086
kayaknya seru nih....
Adyta Leogirl
Luar biasa
Adyta Leogirl
ceritanya mirip drakor good doctor
Handa Yani
ayo Luna... tunjukkan pesona mu /Smile/
Siti Nina
Menarik ceritanya 👍
Yuliana Purnomo
yaacch tamat aja thor,, padahal penasaran setelah mereka akur bgmna selanjutnya
Yuliana Purnomo
carlos cuma mantu aja ternyata,, huuuuh dasar tk tau diri
Yuliana Purnomo
dr luna emang spek bidadari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!