"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipecat
BRAKKK!
"Maaf, Mbak!"
Rasanya seperti dejavu. Lavanya merasakan sensasi dingin yang merembes di kulitnya. Bedanya, kali ini tumpahan itu mendarat tepat di pahanya.
"Gimana sih, Mas? Tumpah semua, nih! Baju kakak saya jadi kotor!" Bentakan cempreng Vani seketika membuat seisi restoran menoleh ke arah mereka.
"Sudah, Vani. Jangan dibesar-besarkan," lerai Farel tenang. "Lain kali lebih hati-hati ya, Mas."
"Tolong matanya dijaga juga, Mas!" Vani meradang saat menyadari pelayan itu malah menatap paha kakak sepupunya terlalu lama.
Lavanya tersedak. Ia baru sadar tangannya yang sedang membersihkan lelehan es krim di paha menjadi pusat perhatian. Ia mendelik tajam, menggeram dalam hati. Dasar laki-laki cabul!
"Panggil manajer restoran ini. Sekarang!"
Suara berat dan tegas dari arah belakang sukses membuat tubuh Lavanya membeku. Darahnya berdesir hebat. Ia kenal suara itu.
"Mas Leo?" Farel tampak terkejut melihat rekan bisnisnya ada di sana. Namun, ia jauh lebih terkejut melihat apa yang dilakukan Leo selanjutnya.
Pria itu berjongkok di depan Lavanya. Tanpa ragu, Leo melepas jas mahalnya dan mengikatkan lengan jas itu di pinggang Lavanya untuk menutupi pahanya yang terekspos.
Vani ingin mendekat, tapi Farel menahan lengannya. Vani hanya bisa merengut penasaran; sejak kapan kakak sepupunya yang "nggak laku" itu punya hubungan dengan pria seseksi Leo?
"Dua kali kamu membohongi saya dengan alasan yang sama," Leo menatap Lavanya tajam dari posisi berjongkoknya.
Lavanya menunduk. Habis sudah riwayatnya.
Leo berdiri, lalu dengan ujung jarinya ia mengangkat dagu Lavanya. "Harus berapa kali saya bilang: tatap saya saat berbicara, Lavanya."
"M-maaf, Pak. Tapi..."
"Berbohong berarti berkhianat," potong Leo dingin. "Apa hukuman untuk orang yang suka berbohong, hm?"
Lavanya menggigit bibir bawahnya. Atasannya ini sangat berbahaya saat marah. Jangankan murka, dalam kondisi normal saja auranya sudah mengintimidasi.
"Pemecatan," gumam Lavanya pasrah.
Leo berbalik menatap manajer restoran yang baru saja tiba dengan napas tersengal. "Saya ingin pelayan ini dipecat sekarang juga."
"Ba-baik, Sir!" manajer itu mengangguk patuh.
Leo kembali menatap Lavanya, tatapannya menyapu penampilannya dari atas ke bawah. "Dan kamu, pakailah pakaian yang pantas jika tidak mau direndahkan seperti tadi."
Lavanya terdiam. Ia baru sadar gaun favoritnya ini memang memiliki potongan yang cukup berani, apalagi saat duduk, kainnya terangkat hingga 10 cm di atas lutut. Tapi egonya memberontak. Ini Jakarta, Bos! Siapa yang salah? Gue atau mata mereka yang keranjang?
"Cowok itu aja yang mata keranjang, nggak bisa lihat paha kinclong dikit!" celetuk Lavanya tiba-tiba, emosinya tersulut. Ia berdiri, membalas tatapan Leo tak kalah tajam. Ia tak mau dianggap sebagai pemicu pelecehan tersebut.
Leo memberi kode agar manajer restoran pergi. Kini tersisa mereka berempat dalam ketegangan.
"Bapak denger saya nggak, sih?" tantang Lavanya.
"Jangan menambah masalah, Lavanya." Leo melirik jam tangannya. "Masih tersisa 30 menit untuk sampai ke kantor."
Lavanya bingung. "Loh, bukannya saya sudah dipecat? Atau... ah, perjanjian itu!" Ia teringat ancaman Leo tiga hari lalu: terlambat lagi berarti mengundurkan diri.
"Secepatnya surat pengunduran diri saya akan ada di meja Bapak," ucap Lavanya ketus. Ia menyambar tasnya, berniat pergi. Mood-nya hancur berantakan.
Ia berjalan cepat keluar restoran dan langsung melambaikan tangan ke arah taksi yang lewat. Namun, baru saja tangannya menyentuh pintu taksi, sebuah tangan kokoh menariknya paksa.
🦁🦁🦁
"Apa lagi?!" desis Lavanya kesal saat Leo menyeretnya menuju parkiran.
"Masuk ke mobil."
"Saya nggak mau! Bapak nggak berhak memaksa saya—Hey! Singa! Lepasin! Gue nggak mau masuk!" Lavanya meronta, bahkan nyaris menjambak rambut Leo saat pria itu menggendongnya paksa masuk ke kursi penumpang.
Klek. Pintu terkunci otomatis.
"Ternyata ini sifat aslimu. Brutal," ucap Leo dingin sambil menatapnya tajam. "Berani memanggil saya singa?"
Lavanya mengatur napasnya yang memburu. "Suka-suka saya! Bapak nggak berhak perintah saya lagi. Saya bukan karyawan Bapak!"
"Kamu pikir dengan mengundurkan diri, kamu bisa bebas dari kesalahanmu? Tak semudah itu, Lavanya."
"Maksud Bapak apa? Memecat pelayan tadi saja mudah, kenapa pengunduran diri saya dipersulit?"
"Restoran tadi milik saya," sahut Leo datar, membuat Lavanya tercekat. Sekaya itu bosnya? "Sedangkan kamu, masih terikat kontrak kerja dengan perusahaan saya."
"Terus kenapa setiap saya telat, Bapak selalu mengancam akan memecat saya?"
Leo mengerutkan kening, tampak heran. "Saya jadi bingung kenapa kamu terobsesi sekali untuk dipecat. Saya tidak pernah mengancammu, Lavanya."
Lavanya senewen. Jelas-jelas pria ini yang meminta surat pengunduran diri tempo hari! Ia meremas jas yang menutupi pahanya, lalu teringat sesuatu. Dengan terburu-buru, ia melepas jas itu.
"Tetap gunakan, Lavanya!" geram Leo menahan tangan gadis itu.
"Kenapa jadi ribet begini, sih? Bapak nggak usah campuri urusan saya. Ini bukan di kantor!" Lavanya melempar jas itu ke pangkuan Leo. "Berhenti muncul di depan saya! Saya nggak mau ada affair sama Bapak. Ingat anak-istri Bapak di rumah!"
Leo bergerak mendekat, mempersempit jarak hingga Lavanya terpojok ke pintu mobil.
"B-bapak mau apa? Ingat dosa, Pak! Saya masih suci—"
"Yang bilang kamu penuh dosa siapa?" Leo kembali melempar jasnya ke pangkuan Lavanya. "Cuci jas saya. Kamu yang membuatnya kotor tadi."
Lavanya mangap, ingin membantah tapi langsung disela.
"Dan ini masih jam kantor. Saya punya wewenang penuh atas kamu."
🦁🦁🦁
Di dalam restoran, Vani memperhatikan adegan di parkiran itu dengan perasaan campur aduk. Ia mempererat genggamannya pada tangan Farel.
"Aku tahu hatimu tak kuat melihat itu, Kak," bisik Vani, seolah tahu apa yang dipikirkan Farel. "Ikhlaskan dia. Dari awal, kalian memang tidak ditakdirkan bersama."
Farel melepaskan tangan Vani perlahan. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan banyak rahasia. "Takdir itu memang kejam, Van."
Farel berdiri, memasukkan tangan ke saku celana, dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
"Tidak untuk kita," gumam Vani tegas, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia segera mengekor di belakang calon suaminya. "Sekarang kita ke toko forever ya, Kak?"
"Kita pulang saja," jawab Farel pendek. "Biar Mama yang ke sana."
🦁🦁🦁
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....