Cerita ini sangat panjang dan menakutkan bagiku. Jika ditanya apa penyesalan terbesarku, maka aku akan menjawab tanpa ragu. Aku menyesal meninggalkan Negeri Bintang untuk belajar ilmu kebatinan.
Buruknya, giliran itu semakin mendekat padaku. Aku tak bisa menghindar darinya, karena dia selalu bersamaku. Begitu juga kalian. Dia selalu mengikuti kalian.
Jika cerita ini sampai pada kalian, berarti giliranku telah sampai. Setidaknya, aku bisa memberitahu kepada orang-orang Negeri Bintang, ada seseorang bernama Algol Perseus.
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI KESEMBILAN: KENAPA AKU?
Algol sering mendengar bahwa ia adalah sampah terhormat dari keluarga Perseus.
Ayahnya sering meragukan Algol, entah apa yang dilakukannya. Bahkan, saat Algol masih kecil, dan sanggup mengambil buah mangga dari pohonnya langsung. Ayahnya masih memarahinya. Apalagi saat ayahnya tahu bahwa Algol mengambil mangga itu dari kebun orang lain.
Ibunya juga begitu. Beliau tak pernah mengharapkan apa-apa pada Algol, terutama saat ia menyadari bahwa Algol memiliki wajah yang cantik, meskipun Algol adalah seorang pria. Ibunya yang memiliki kepercayaan diri di atas rata-rata, merasa tersaingi. Padahal Algol hanya mewarisinya dari ibunya sendiri. Namun hanya karena itu, apapun yang Algol lakukan terlihat mengesalkan di mata ibunya.
Sang ibu mengatakan bahwa Algol tak punya kelebihan apapun, selain wajahnya yang cantik dan putih. Kemampuan dan kecantikan ialah suatu keharusan yang diinginkan oleh ibunya sebagai seorang pelatih kepribadian. Jadi, anak sampah seperti Algol, yang hanya bermodalkan penampilan, tak pernah masuk dalam kriteria yang harus ibunya perhatikan.
Terkadang Algol ragu dengan wanita itu, apakah dia benar-benar ibu kandungnya?
Kalau kakaknya, sejak awal hanya terobsesi dengan kaisar Sirius, sehingga orang lain di mata kakaknya hanyalah orang-orangan sawah. Oleh karena itu, kakaknya sering mengatakan pada Algol bahwa seorang pria haruslah seperti kaisar Sirius.
Selama beberapa tahun Algol harus mendengar betapa ia dibanding-bandingkan dengan kaisar Sirius oleh kakaknya sendiri.
Setelah itu, kakaknya diambil oleh kekaisaran sebagai selir dari kaisar Sirius. Hidup Algol menjadi lebih tenang setelah itu. Setidaknya, satu orang yang bermulut sampah sudah jauh dari hidupnya.
Semua perkataan itu sudah Algol terima dari banyak pihak, tetapi baru kali ini ia disebut sebagai pembunuh.
Matanya menatap tak percaya pada Hamal yang kini tengah menyerukan napas-napas terakhirnya. Ia dapat merasakan beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan yang sama bingungnya.
Kenapa aku?
Sadir terbatuk pelan, “Apa maksudnya?”
“Kau bodoh atau apa? Dia bilang kalau si br*ngsek ini pembunuh,” ucap Alphard tanpa basa-basi.
Algol memang perlu mendorong orang itu ke jurang nantinya. Mengapa orang bisa berkata sesuatu tanpa dipikirkan terlebih dahulu seperti Alphard?
“Bisakah kau tutup mulut rendahanmu itu?” ucap Algol dengan cepat.
Namun pelukis mawar berdarah itu hanya terkekeh pelan, “Itulah rasanya saat kau disebut sebagai pembunuh.”
Algol mendecak kesal. Ia tak berniat untuk menyanggah perkataan Alphard, karena Algol sendirilah yang seringkali menuduh Alphard sebagai pembunuh.
“Itu mungkin saja hanya efek dari ketakutan Hamal. Dia telah mengalami banyak hal yang mengerikan,” ucap Sadir prihatin.
“AKHHHHH…”
Jeritan Hamal membuat orang-orang di sekitarnya tersentak. Terutama Mizar yang sedang berjongkok di hadapannya.
Tangan Hamal yang masih utuh tiba-tiba meraih leher Mizar, dan mencekiknya, berusaha untuk mematahkan leher Mizar. Mizar yang terkejut, tak sempat untuk melawan. Mata Mizar membelalak sambil berusaha melepaskan tangan Hamal.
“Ekkhhh,” napas Mizar tersengal-sengal sambil masih berusaha melepaskan tangan Hamal yang kuat.
Akan tetapi, meskipun Hamal telah di ambang batas sadarnya, tangan berototnya masih sanggup untuk melempar jauh seekor b*bi. Jika saja Sadir tidak cepat-cepat menyentuh titik tidur Hamal, mungkin saja leher cantik Mizar akan patah.
“Uhuh..uhukk…”
Mizar tersembab ke rerumputan ketika cekikan di lehernya terlepas. Gadis itu terbatuk-batuk dengan cara yang sangat mengerikan. Algol dapat membayangkan betapa sakitnya cekikan dari Hamal.
Algol berniat untuk membantu Mizar bangkit dari posisi menyedihkannya. Perlahan ia mengulurkan tangannya kepada Mizar.
PLAK
Dengan kasar, Mizar menepis tangan Algol yang sudah terulur. Mengabaikan tatapan tak terima dari Algol, Mizar berusaha bangkit dengan bertompang pada pedang miliknya sendiri. Gadis itu meludah sekali untuk melegakan tenggorokannya yang sakit, lalu menatap tajam pada Hamal yang telah tertidur.
Setelah itu, Mizar menatap pada Algol dengan tajam, “Kau! Bawa temanmu yang s*alan itu. Sebelum aku berniat mengirisnya agar menjadi makanan b*bi.”
Algol mendesah kesal dirinya menjadi tempat Mizar menumpahkan kekesalannya pada Hamal. Namun mereka tak bisa berdebat, karena hari sudah malam.
Penerangan mereka hanyalah obor bambu yang dibawa oleh Sadir, sedangkan Mizar mungkin dengan egosinya berjalan duluan dengan obor lain di tangannya.
Algol juga tak bisa menyalahkan Mizar yang kesal. Siapa yang terima jika dicekik tiba-tiba oleh orang yang susah payah telah ia selamatkan? Jika Algol yang dicekik, maka Algol akan menendang Alphard sebagai gantinya.
Bagaimana pun Algol bukanlah tipe orang yang akan menyiksa orang lemah. Berhubung Alphard ialah kakak sepupu Hamal, berarti tindakan Algol sah-sah saja.
Setelah Sadir menyerahkan obor bambu yang dipegangnya pada Alphard, ia segera memapah Hamal di bagian tangan Hamal yang masih utuh. Algol ingin membantu, tetapi ia yang sekarang menjadi phobia ulat, mendadak tak mau mendekat. Sudah cukup ia melihat ulat-ulat menari pada mayat Carina, ia tak mau melihat itu lagi dari Hamal.
Mereka harus bergerak cepat, sebelum Mizar meninggalkan mereka. Rupanya gadis itu telah kehilangan toleransinya terhadap rombongan mereka. Melihat bagaimana Sadir kesusahan membawa Hamal yang bertubuh besar, Algol pun bergantian dengannya.
Namun hanya lima langkah saja, Algol sudah hampir ambruk bersama Hamal.
“Bukankah kau sangat lemah?” ejek Alphard yang saat itu sedang mengunyah akar ilalang.
“Silahkan kau coba sendiri,” tantang Algol.
Alphard mendecak, “Hamal itu orang yang hanya tumbuh di badan saja. Otaknya tak sebaik badannya. Jadi, aku tak mau. Jika orang itu sadar, ia akan mencekik salah satu dari kalian lagi.”
Alni menepuk lengan Sadir, meminta Sadir untuk menghentikan perdebatan baru yang akan dimulai oleh kedua orang itu. Sadir nyaris ingin mengangkat tangannya menyerah, namun mereka saat ini masih berada di hutan. Mereka tak boleh berlama-lama ada di sana.
“Biarkan aku yang membawanya,” dengan berat hati, Sadir mengambil alih lagi tubuh Hamal yang tak berdaya.
Alphard tiba-tiba berlari ke depan mereka. Dengan riang Alphard memainkan obor di tangannya untuk menarik perhatian yang lainnya.
“Aku punya ide.”
Algol mengerutkan keningnya heran menatap Alphard yang bertindak ajaib, tetapi ia tak berniat untuk menyanggah pelukis mawar berdarah itu. Algol lebih memilih untuk bernapas, daripada mengurusi orang gila semacam Alphard ini.
“Jika nanti ada binatang buas, kita umpankan saja orang itu,” usul Alphard dengan wajah penuh kebahagiaan.
Sadir mendadak memahami betapa Algol membenci orang gila di hadapan mereka ini. Alphard itu layaknya orang yang cenderung bertindak sesuai dengan logikanya sendiri, tetapi ukuran logika Alphard setara dengan otak sapi.
“Ha.. ha.. ha, jika tubuh Hamal sudah habis, kau umpan selanjutnya,” sarkas Algol.
Alphard melambai-lambaikan tangannya, meremehkan, “Dasar tidak lucu.”
“Kau yang….”
Srettt… Takkk.. Takk..
Udara di sekitar Algol terasa berat. Mata Algol terpaku saat menyadari ada yang salah dengan suasana di sekitarnya. Dengan gemetar Algol menoleh ke sampingnya, dan mendapati sepasang mata merah besar tepat di hadapannya.
Ini bohong kan?
Tak hanya mata itu saja yang membuat Algol ketakutan. Ia menjadi tak berdaya saat menyadari bahwa pemilik mata merah yang besar itu, juga memiliki kaki yang besar. Buruknya lagi, Algol sekarang berada tepat di antara kedua kaki makhluk yang berkaki besar dan panjang.
Makhluk besar itu mengulurkan jari-jarinya yang bengkok seperti ranting kayu ke wajah Algol yang memucat.
Aku masih bisa hidup sampai esok hari kan?
***
Selamat membaca :D
Tinggalkan jejak anda di kolom komentar dan sempatkan diri untuk like. Ayo yang sudah baca dari chapter 1 angkat tangan!
Terima kasih karena tidak jenuh dengan cerita ajaib saya.
Jika kalian sedang banyak poin, tinggalkan vote secukupnya. Agar penulisnya tambah semangat.
Juga, terima kasih buat yang mampir ke story absurd milik saya. Bahkan sempat-sempat untuk meletakkan like, komen, dan vote.
Mari bertemu lagi di chapter selanjutnya. Jangan lupa absen kehadiran kalian, dan tetap semangat. Semoga pembaca saya selalu diberikan kesehatan, dan semua masalah yang membebani jadi hilang.
Adhios~
penggambaran setiap karakternya menunjukkan tingkat depresi yang sangat tinggi dalam kehidupan mereka sebagai bangsawan, dimana keidealisan hidup sejatinya memang sulit dicapai.
mungkin akan diadu domba nantinya agar saling membunuh satu sama lain.
Aku balik lagi..
Baca lagi, meski dengan akun baru karena akun lamaku gx bisa login
Cerita yg menarik, bikin penasaran, & seru
👍👍👍👍
😍😍😍😍😍