Author: Renata From Indonesia
(NOT MINE)
Riana Lee adalah seorang perempuan yang baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan besar di ibukota berkat kecerdasannya, selain pintar ia juga cantik dan ceria, namun disana ia bertemu dengan seorang remaja laki-laki yang tanpa ia sadari. Laki-laki itu perlahan tapi pasti mengambil tempat terbesar di hatinya.
***
Aldrian Weist seorang remaja laki-laki kaya kelas 3 sekolah menengah atas,dia cerdas, tampan, dan ramah, tetapi di balik kepribadiannya yang karismatik itu, ia juga memiliki aura misterius yang dapat membuat orang di sekitarnya merasa sadar untuk tidak membangunkan sisi lain dalam dirinya itu.
Bagaimana keduanya bisa bertemu dan terikat satu sama lain? Dan bagaimana mereka bisa bersama dengan segala perbedaan yang mereka miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C.Y.J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First Meeting
***
Cuaca hari ini cukup cerah, matahari tidak terhalang oleh awan dan sinarnya menembus masuk ke jendela super besar di ruang tamu keluarga Weist. Ya sekitar sepuluh menit yang lalu orang suruhannya Pak Andrew menjemputku dari kantor dan membawaku kesini untuk bertemu Aldrian, tapi tampaknya Aldrian masih belum pulang dari sekolahnya jadi aku disuruh menunggunya disini.
Setelah sekitar lima belas menit menunggu aku mendengar suara langkah kaki yang sepertinya sedang menuju keruangan ini, karena suaranya semakin lama semakin jelas.
Ceklek..
Seorang pria muda dengan seragam putih abu abu muncul dari balik pintu dan memasuki ruangan, dia berjalan menghampiriku dan kemudian berhenti sekitar satu meter di depanku. Aku memandanginya.... takjub, dia berdiri dengan satu tangan dimasukkan kedalam saku, dan tangan yang satunya memegang tas ransel yang dikaitkan ke sebelah pundaknya, dia terlihat seperti seorang model yang sedang pemotretan untuk pakaian seragam SMA.
"Halo, saya Aldrian." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya yang sebelumnya berada disaku kanan celananya.
"Halo, saya Riana, saya yang akan menjadi guru privat anda." Jawabku sambil menyambut uluran tangannya.
"Senang bertemu anda, jadi... Apa kita mulai pelajarannya sekarang? Atau anda mau melakukan sesi perkenalan dulu?" Tanya Aldrian dengan senyumnya yang terlihat menggoda, memangnya mengajar privat butuh masa orientasi juga apa?.
"Ahaha", aku tertawa canggung, "Apa kita bisa melawatkan sesi perkenalan dan langsung ke pelajaran saja?"
Senyumnya malah terlihat semakin menggoda, "Tentu, sepertinya anda orang yang tidak suka membuang buang waktu, tapi apa aku bisa memanggil anda dengan sebutan yang lebih santai? Agar suasananya tidak terlalu canggung, otakku tidak bisa mencerna dengan baik jika suasana belajar ku tidak nyaman, lagipula.... anda terlihat belum terlalu tua untuk aku panggil Ibu."
Waah... ibu??? Dipanggil ibu oleh orang yang umurnya tidak begitu jauh denganku membuatku merinding, lagipula bagaimana bisa aku lebih dekat dengannya jika dia memanggilku ibu kan??
"Tentu tentu, aku juga tidak mau dipanggil ibu ha ha, panggil saja senyamannya, mau manggil nama juga boleh."
"Ohh padahal tadinya aku mau panggil Kakak, tapi yaaa kalau anda maunya dipanggil nama yasudah, aku panggil Riana saja kalau begitu, Ok Riana?"
Sedikit terkejut aku terdiam mendengar dia memanggil namaku dengan begitu santainya, seakan kita sudah kenal lama, playboy memang beda. Lagipula siapa yang bilang aku maunya cuma dipanggil dengan nama hah?!! itu kan hanya saran.
"Ok, Aldrian." Jawabku pada akhirnya dengan sedikit kesusahan menyebutkan namanya.
"Panggil saja Al, dan ayo kita pindah ke kamarku biar ga ribet soalnya buku bukuku ada di sana."
Cara bicara Aldrian berubah 180°, yang tadinya baku sekarang menjadi nob-baku, dia memang pandai berinteraksi dengan orang sepertinya, jika demikian aku tidak perlu khawatir untuk bisa lebih dekat dengannya.
"Ok Al, ayo kita belajar di kamarmu" Aku tidak mau kalah darinya, aku juga akan bersikap santai dengannya, masa bodo biarpun dia anak konglomerat.
Kami pun berjalan beriringan menuju kamar Aldrian, kamarnya ada di lantai atas jadi kami harus berjalan melewati ruang utama untuk menaiki tangga, sambil berjalan aku melihat lihat sekeliling rumah, semua perabot dan design nya sangat mewah, simple tapi elegan,.
Ada dua foto keluarga dengan ukuran besar yang dipajang di ruang utama, yang satu berisikan lima orang dengan satu wanita dan satu anak laki-laki, aku mengenali wajah Pak Andrew di potret itu meskipun dia terlihat jauh lebih muda dan anak kecil itu mirip dengan Aldrian, di sebelahnya ada satu foto keluarga yang hanya berisikan tiga orang, Pak Andrew, Aldrian dan satu orang pria tua yang juga ada difoto yang satunya dan tidak salah lagi, beliau adalah orang pertama yang mendirikan Weist Corporation, Benjamin Weist.
Lantas siapa foto pria dan wanita yang ada di potret sebelumnya? Kenapa mereka tidak ada pada potret yang kedua?.
Sepertinya aku memandangi foto itu terlalu lama dan tidak sadar kalau Aldrian sudah berada cukup jauh dariku, aku bergegas sedikit berlari untuk menyamakan kembali langkah kami.
"Kau tampak terpukau dengan foto keluargaku?" Tanya Aldrian tanpa menoleh padaku ataupun menghentikan langkahnya.
"Tentu, ini pertama kalinya aku melihat wajah dari pendiri Weist Corporation, dan beliau benar benar sangat karismatik."
"Ppfftttt.... Karismatik?? Ah iya wajah Kakek memang karismatik, siapa yang akan menyangka kalau dia orang yang humoris."
Aku cukup terkejut mendengar perkataannya, Benjamin Weist yang terkenal dingin dan tegas itu ternyata aslinya humoris?.Eeyy tentu bisa jadi beliau juga humoris, tapi mungkin hanya terhadap anggota keluarganya saja.
Aku tidak mau menimpali ucapannya tentang kakeknya, aku hanya penasaran dengan dua sosok yang tidak muncul di potret yang kedua.
"Kalau dua orang yang hanya ada di potret yang pertama itu siapa?"
Aldrian menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu, dia melihat ke arahku dan berkata, "Orang tuaku."
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Aldrian kembali menggerakkan tangannya untuk membuka pintu kamar dan kemudian masuk kedalam, sedangkan aku hanya diam ditempat, aku baru sadar dengan kesalahan yang sudah kubuat. Harusnya aku sudah menduga jika mereka adalah ayah dan ibunya Aldrian, tapi kenapa mereka tidak ada di potret yang kedua tentu ada alasannya, apapun itu pastinya itu bukan alasan yang baik dan seharusnya aku tidak bertanya.
Perlahan aku memasuki kamar Aldrian, tapi dia tidak ada di sana, kemana perginya? Jelas jelas aku melihatnya masuk tadi. Aku masuk lebih dalam dan menemukan sebuah pintu dilamarnya, aku menempelkan kupingku di pintu tapi tidak ada suara apapun yang terdengar dari dalam, Aku mengetuknya perlahan sambil memanggil nama Aldrian, dan masih tidak ada sahutan.
Penasaran, aku mencoba membuka pintu itu dan ternyata tidak dikunci, aku membuka pintunya lebih lebar dan terkesima dengan apa yang aku lihat, sebuah toko pakaian ada didalam sebuah kamar. Aku berjalan memasuki ruangan itu dengan telapak tanganku menempel di mulut, takut ada lalat yang masuk karena mulutku tidak berhenti menganga setiap aku melihat brand yang tertera di pakaian pakaian itu, dan aku yakin seratus persen bahwa semuanya original.
Saking asyiknya aku melihat lihat isi dari lemari lemari kaca itu, aku jadi tidak sadar dengan kehadiran Aldrian dari balik rentetan lemari dibelakangku.
"Kau sedang apa" Ucapnya sambil menepuk pundak ku.
"WHHAAA"
Aku yang kaget berbalik kearahnya terlalu cepat dan terpeleset, tapi untungnya Aldrian berhasil menangkap pinggangku dan aku berhasil meraih pundak Aldrian dan melingkarkan tanganku disana, aku tidak jadi terjatuh tapi kami berakhir dengan posisi yang canggung, seperti halnya yang sering terjadi di film film romantis.
author menggambarkan Riana yg menunduk trus Aldrian melihat airmata Riana dan Aldrian merasa dadanya sakit.. yaa Allah thor sampe kerasa banget sampe ke hatiku